
Hana jatuh terkapar dengan bersimbah darah. Dengan sigap Arvin segera memeluk Ira dan menutup mata kekasihnya tersebut menggunakan telapak tangan.
"Tidak apa-apa, jangan takut! Semua sudah selesai," ujar Arvin yang berusaha menenangkan kembali kekasihnya.
Iya, suara tembakan itu berasal dari senjata api milik polisi. Salah seorang polisi yang saat itu melihat Hana merebut senjata api dari rekannya, dengan sigap menembak Hana. Polisi itu terpaksa melakukannya karena Hana sudah membahayakan nyawa orang lain.
"Maaf, Ndan. Saya terpaksa menembaknya tadi karena situasinya sudah membahayakan korban." Polisi tersebut meminta maaf kepada atasannya.
"Saya mengerti, nanti kamu tulis saja semua laporan lengkapnya," jawab polisi yang dipanggil dengan sebutan Ndan.
"Baik."
***
"Minum ini," ujar Arvin sambil memberikan air mineral kepada Ira begitu mereka tiba di kantor polisi setempat.
"Terima kasih, Pak," jawab Ira sambil menerima botol air mineral dari Sang Calon Suami.
"Apa masih takut?" tanya Arvin saat melihat tangan Ira yang masih bergetar.
"Sedikit," jawab Ira.
Arvin menggenggam tangan kekasihnya. "Wajar kalau kamu masih takut, kamu memang sering melihat darah di rumah sakit. Tapi, aku yakin ini pasti pertama kalinya kamu melihat orang tertembak dan bersimbah darah di depan matamu sendiri," ucapnya. "Tapi, aku yakin dengan berjalannya waktu kamu pasti akan bisa melupakan kejadian yang mengerikan ini."
"Iya, kamu benar. Aku memang sering melihat darah saat merawat orang di rumah sakit dan memang ini pertama kalinya aku melihat seseorang mati tertembak di depan mataku, itu benar-benar membuatku syok. Apalagi, dia adalah orang yang pernah menjadi kawan baikku," jawab Ira dengan air mata mengembang di kedua bola matanya.
Arvin menarik kekasihnya kedalam pelukan. "Aku yakin, kamu pasti bisa melewati ini," ucapnya sambil mengusap pundak kekasihnya.
"Ohya, bagaimana keadaan Queen? Jika bukan karena aku, dia pasti tidak akan mengalami hal buruk seperti ini?" tanya Ira, dia mendongak menatap wajah kekasihnya.
"Maafkan aku karena aku tidak bisa menjaganya waktu itu," ucap Ira penuh penyesalan.
"Aku yakin kamu pasti sudah berusaha keras untuk mencegahnya. Kita doakan saja semoga kondisi psikis dan kesehatan Queen segera membaik." Kembali Arvin mengusap pundak kekasihnya.
Tidak lama Dion dan seorang anggota kepolisian keluar dari ruang pemeriksaan.
"Terima kasih, Tuan Dion atas kerja samanya," ucap polisi itu sambil menjabat tangan Dion.
"Sama-sama, Pak," ucap Dion.
Dion adalah orang terakhir setelah Arvin dan Ira dimintai keterangan oleh pihak berwajib.
Polisi tersebut kemudian menemui Ira dan Arvin. "Nona Qilla, Tuan Arvin, kalian sudah diizinkan untuk pulang, nanti jika kami membutuhkan keterangan tambahan, kami akan memanggil Anda berdua," ucapnya memberitahu.
"Baik, Pak. Terima kasih. Kapan pun kami siap untuk dimintai keterangan," jawab Arvin.
Arvin dan Ira berdiri, keduanya kemudian menjabat tangan polisi tersebut. Sebelum akhirnya meninggalkan polres bersama dengan Dion.
***
"Ohya, Pak Arvin. Kira-kira bagaimana reaksi mama-papanya Hana ya, jika mengetahui Hana akhirnya meregang nyawa?" tanya Ira ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku yakin mereka pasti sedih, tapi mau bagaiama lagi. Takdir seseorang tidak ada yang tahu dan semua ini juga terjadi karena kesalahan Hana sendiri," jawab Arvin. Walau sebenarnya hatinya sedikit gundah, karena sebelum menyusul Ira, ia sudah berjanji tidak akan melukai Hana kepada kedua orangtua Hana. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya Hana tertembak dan akhirnya meninggal. Arvin hanya berdoa semoga kedua orangtua Hana tidak menyalahkannya atas hal itu.
"Pak Arvin kok tiba-tiba bengong?" tanya Ira saat melihat kekasihnya tiba-tiba terdiam.
"Tidak apa-apa," jawab Arvin. Dia mengeratkan pelukannya dan berkali-kali mencium pucuk kepala kekasihnya tersebut.