Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Akting Neng Ira keren!



Ira menatap ke sekeliling villa, rasanya begitu berat meninggalkan villa tersebut terlebih sebelum dirinya bisa berpamitan dengan Arvin secara langsung.


"Ayo Nona kita ke Bandara sekarang!" suruh salah seorang laki-laki dengan badan tegap berjas hitam yang baru saja datang ke villa itu tiga puluh menit yang lalu. Mereka adalah pengawal yang sengaja dikirim oleh Dion untuk menbawa putrinya tersebut kembali ke Jakarta.


"Iya, ini juga aku lagi berkemas," jawab Ira. Ia sedikit kesal karena sang daddy tidak memberinya kesempatan untuk menunggu kedatangan Arvin.


"Pak Arvin, kenapa gak jawab atau pun membalas pesanku sih?" keluh Ira. Sudah berkali-kali gadis berambut panjang dengan mata sedikit kecoklatan tersebut mengirim pesan dan menghubungi sang kekasih. Namun, semua pesan dan panggilannya seolah diabaikan olehnya.


"Apa Pak Arvin nggak pegang hapenya ya?" Ira hanya bisa menduga-duga hal apa yang membuat kekasihnya tersebut belum merespon pesan ataupun panggilannya.


"Nona, sudah waktunya Anda ke bandara." Suara dari salah satu pengawal yang dikirim oleh daddynya membuat Ira terpaksa memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas slempang yang ia pakai.


"Iya, Pak. Ini juga mau jalan," jawab Ira dengan nada kesal.


"Semoga saja setelah membaca pesan dariku, Pak Arvin segera mentusulku ke Jakarta," batin Ira.


"Nona biar kopernya saya yang bawa!" satu dari dua pengawal tadi mengambil alih koper yang ada di tangan kanan Ira. Ira tidak melawan, dia pun mengikuti langkah dua orang berjas hitam suruhan dari daddynya tersebut.


"Lho Neng Ira, ini siapa?" tanya penjaga villa yang kebetulan baru saja datang ke villa tersebut. "Astaghfirullah, Neng. Bapak nggak nyangka kalau Neng Ira ini pemakai," ujar penjaga villa seraya beriatighfar. Laki-laki yang memiliki kumis lebat yang mirip seperti suami dari penyanyi yang dikenal dengan goyang ngebornya itu menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Dia tidak percaya kalau Ira yang dikenalnya baik hati dan ceroboh itu ternyata seorang pemakai.


Ira mengerjapkan matanya mencerna hal yang baru saja diucapkan oleg Pak berkumis di depannya.


"Eh, maksud Bapak dengan pemakai itu pemakai narkoba ya?" tanya Ira yang ingin memastikan kalau ia tidak salah mencerna perkataan Pak penjaga villa.


"Bapak makin ngaco ya kalau ngomong. Siapa yang pakai narkoba karena diputusin sama Pak Arvin? Aku?" Ira menunjuk hidungnya sendiri.


"Ya iyalah, Neng, masa Bapak. Bapak ini masih waras, Bapak bukan kaum pelangi yang suka sama sesama jenis, Bapak masih normal, masih mencintai istri Bapak meski gak cantik. Jadi untuk apa saya pakai narkoba."


"Omongan Bapak makin ngaco, gak ada ya yang pakai barang begituan. Lagian siapa juga yang putus sama Pak Arvin. Hubunganku sama Pak Arvin baik-baik saja lho, Pak, ya meski hari ini aku pengen maki dia karena gak balas pesan atau pun menjawab teleponku," Ira membela diri.


"Terus dua orang ini siapa kalau bukan polisi?" tanya Bapak penjaga villa sambil menunjuk dua orang berjas hitam yang berdiri di samping kanan-kiri Ira.


"Mereka orang suruhan ayahku, Pak. Aku disuruh balik ke Jakarta sekarang," jawab Ira.


"Ternyata Neng Ira sama seperti Pak Arvin ya orang kaya? Wah berarti akting Neng Ira selama ini keren," puji Pak penjaga villa sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Akting? Akting apaan, Pak?" tanya Ira yang bingung dengan perkataan penjaga villa di hadapannya.


"Setahu saya orang kaya itu pendidikannya tinggi, dia juga selalu cekatan dalam bertindak dan berpikir. Dan Neng Ira pinter banget akting jadi orang yang kadang rada-rada telat mikir gitu. Neng Ira keren!"


Sekali lagi Ira mencoba mencerna perkataan penjaga villa barusan. "Maksud Bapak aku.... " Ira tidak melanjutkan perkataannya, dia hanya melotot sambil menatap penjaga villa.


Menyadari ucapannya barusan salah Pak penjaga villa langsung mengambil langkah seribu.