Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Pertunangan



Ira tersentak, matanya membulat mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Suara yang sejak pagi sudah membuatnya sangat gelisah.


"Bisakah kita mulai tukar cincinnya sekarang?" suara itu kembali bertanya.


Ira menoleh ke sumber suara dan benar suara tersebut adalah suara dari orang yang sejak pagi ia cari.


"Pak Arvin. Bagaimana bisa Bapak di sini?" tanya Ira, ia masih tidak percaya jika sang pemilik hati ada dihadapannya sekarang.


"Masa sih sayang penampilanku sudah keren begini kamu masih bertanya bagaimana aku bisa ada di sini? Memangnya kamu tidak suka aku ada di sini? Ya sudah deh aku balik sajs, sepertinya kekasihku ini lebih suka bertunangan sama orang lain daripada sama aku." Arvin berpura-pura memasang wajah sedihnya.


"Ish, dasar. Gitu saja ngambek! Harusnya aku dong yang ngambek karena Pak Arvin udah bikin aku gak tenang sejak pagi tadi. Pak Arvin bahkan tega nggak jawab teleponku apalagi balas pesan dariku," gerutu Ira.


"Kalau aku jawab nggak surprise dong sayang." Arvin menunjukan senyum menawannya.


"Bagaimana, Nak, kamu masih mau menolak pertunangan ini? Kalau kamu nolak, daddy bisa kok ngebatalin itu sekarang?" goda Dion.


Ira menatap mata kedua orangtuanya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak pernah menyangka kalau mommy dan daddy-nya akan memberikan kejutan ini. Ira memeluk mommy dan daddy-nya dengan sangat erat.


"Terima kasih, Mom, terima kasih, Dad. Qilla sayang sama kalian, Qilla janji kali ini Qilla pasti akan kuliah dengan sungguh-sungguh. Qilla nggak akan ngebohongi kalian lagi," ucap Ira. "Tapi, Mom, Dad, sejak kapan kalian merencanakan ini? Bukankah calon tunanganku waktu itu bukan Pak Arvin?"


Ira kembali menatap wajah kedua orang tuanya. Dia ingat sebelumnya sang daddy ingin menjodohkannya dengan orang lain dan itu bukan Arvin.


"Arga?" Ada sedikit rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak di hati Ira, bukan karena dia mencintai Arga. Bukan. Tetapi, lebih ke perasaan bersalah karena secara tidak langsung Ira-lah yang membuat hati Arga terluka. "Apa Arga sekarang ada di sini?"


"Tidak. Dia masih di Jogja. Arga cuma berpesan supaya kamu tidak merasa bersalah kepadanya," jawab Dion.


"Kenapa? Kamu menyesal karena nggak jadi bertunangan sama bos restoran itu?" tanya Arvin yang ikut ke dalam pembicaraan ayah dan anak tersebut.


"Bukan menyesal karena itu sih, Pak. Aku hanya menyesal kenapa orang sebaik Arga harus patah hati karena aku," jawab Ira.


"Jadi kamu lebih suka akulah yang patah hati karena kamu?"


"Ish, Pak Arvin mah selalu saja begitu, marah gak jelas. Ingat, Pak, kita baru mau tunangan jangan sampai pertunangan kita gagal hanya karena kita berantem gak jelas."


Dion dan Mikha saling tatap dan tersenyum, mereka ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh putri mereka saat ini.


Acara tukar cincin pun dimulai, Arvin dan Ira mulai memasangkan cincin di jari manis pasangan mereka, sebuah cincin berlian dengan inisial nama mereka. Sebenarnya, Arvin ingin langsung menikahi pujaan hatinya tersebut, namun belum diperbolehkan oleh Dion. Dion baru akan mengizinkan mereka menikah setelah Ira menyelesaikan kuliahnya.


🌺🌺🌺


Gengs, ini belum berakhir ya karena ujian cinta mereka baru akan dimulai setelah ini.