
"Ini apanya yang aneh?" tanya Arga lagi.
"Kamu lihat sendiri aja itu!" Ira menyuruh Arga untuk melihat ponselnya.
"Ponselmu mati, apanya yang mau dilihat?" Arga menyerahkan kembali ponsel milik Ira kepada pemiliknya.
"Eh, kenapa bisa mati?" Ira melihat kembali layar ponsel miliknya, dia juga menekan tombol yang ada di sisi kanan ponselnya itu.
"Ponselmu mati karena kehabisan daya mungkin," jawab Arga asal.
"Perasaan barusan masih nyala kenapa tiba-tiba mati sih," keluh Ira.
"Kamu bisa carger ponselm dulu!"
"Carger pakai apaan?"
"Memang kamu nggak bawa power bank?"
Ira menggeleng. "Kan aku nggak tahu kalau aku bakalan pergi agak jauh dari villa."
"Coba kamu cari di laci dashboard, perasaan aku menaruh power bank ku di sana!" suruh Arga.
"Naruh powerbank aja pakai perasaan apalagi naruh hati," celetuk Ira.
"Kalau hati wajiblah pakai perasaan," jawab Arga.
Ira mencari powerbank di tempat yang Arga maksud. Setelah menemukannya dia segera menyambungkan kabel powerbank dengan ponsel miliknya.
"Kamu mau ku panggil Qilla atau Ira?" Arga menoleh kearah wanita yang duduk di sebelahnya.
"Tersetah kamu. Yang penting saat di depan Pak Arvin kamu tetap panggil aku Ira," jawab Ira.
"Daripada nanti aku keceplosan lebih baik aku panggil kamu Ira aja deh."
Ira hanya tersenyum. Ira melihat keluar ketika mobil yang dikendrai Arga melewati sebuah kampus.
"Kenapa? Kamu merindukan kampusmu?" tanya Arga.
Ira hanya tersenyum tipis. "Bagaimana aku bisa merindukan kampus, orang kuliah saja enggak."
Mendengar hal tersebut, Arga langsung mengerem mobilnya
"Maksud kamu, kamu nggak kuliah?"
Ira mengangguk.
"Aku belum menemukan alasan untuk kuliah," jawab Ira. "Segala hal yang aku inginkan bisa aku dapatkan tanpa aku harus meminta. Jadi, ku pikir untuk apa aku kuliah."
"Apa Mommy dan Daddy-mu sudah tahu soal ini?" tanya Arga sambil menatap ke arah Ira.
"Belum."
"Memang mereka tidak pernah menanyakan kuliahmu?"
"Tidak. Mereka percaya kalau aku nggak akan mungkin ngecewain mereka, makanya mereka tidak curiga." Terlihat raut penyesalan di wajah Ira.
"Bagaimana jika mereka tiba-tiba tahu? Apa kamu kira mereka nggak akan kecewa sama kamu?"
Ira menghela napas panjangnya. "Dulu aku tidak pernah memikirkan itu. Tapi sekarang, aku jadi memikirkannya."
"Ya sudah, lupakan itu sekarang. Kita bersenang dulu hari ini. Siapa tahu besok kamu berubah pikiran dan ingin kuliah." Arga mencoba mengalihkan pembicaraan. Setidaknya saat ini, dia ingin bisa bersenang-senang dengan Ira tanpa memikirkan apa pun.
***
Sementara itu di kediaman keluarga Sebastian. Dion terlihat marah saat mengetahui bahwa ternyata putri kesayangannya tidak melanjutkan kuliah. Hal itu baru ia ketahui hari ini setelah dia mendatangi kampus. Awalnya Dion datang ke kampus itu untuk meminta izin cuti bagi putrinya. Namun siapa sangka, justru dia menemukan fakta yang tak pernah ia duga sebelumnya sang putri ternyata tidak pernah sekali pun tercatat sebagai mahasiswa di kampus tersebut.
"Ada apa, Mas?" tanya Mikha ketika dia baru saja pulang dari rumah sakit.
"Ini kesalahanmu sebagai ibu!" tiba-tiba saja Dion menyalahkan istrinya.
"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Mikha bingung.
"Apa kamu tahu, kalau ternyata selama ini putri kita membohongi kita?"
"Maksudmu Qilla berbohong sama kita? Soal apa? Tidak mungkin putri kita membohongi kita, Mas?" tanya Mikha, dia tidak percaya kalau putri tercintanya tega membohongi mereka.
"Ternyata selama dua tahun ini, putri kita tidak pernah sekali pun kuliah. Dia tidak terdaftar sebagai mahasiswa di kampus mana pun," jawab Dion.
Mikha shock mendengarnya. Selama ini, dia memang tidak pernah menanyakan perihal kuliah putrinya itu. Mikha melakukannya karena dia sangat mempercayai putrinya.
"Kali ini aku akan bertindak tegas kepadanya. Mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus menerima perjodohan itu. Siapa tahu dengan menikah dia bisa berubah menjadi anak yang bertanggung jawab."
"Tapi, Mas.... "
"Aku tidak akan mengubah keputusanku kali ini," sela Dion.
Dion segera mengambil ponsel dari dalam sakunya, dia menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan putrinya dan menyuruh mereka untuk membawanya pulang, meskipun dengan cara paksa.