Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Kalung bagian 2



Arvin bersiap meluncur ke lokasi yang dikirim oleh calon mertuanya. Sebelum pergi dia menyuruh Vano untuk tetap tinggal di rumah menjaga Queen.


"Gue titip adik gue sama lo."


"Tapi, Ar, di rumah lo sudah banyak penjaga dan ada kedua orangtua lo. In Syaa Allah gue yakin Queen aman. Justru gue yang khawatir sama lo kalau lo sendirian yang pergi ke sana. Vin, gue temenin lo aja ya?" tanya Vano.


"Nggak bisa, Van. Memang ada nyokap bokap gue di rumah, tapi mereka lagi nggak bisa berpikir jernih melihat kondisi Queen. Seenggaknya, misal terjadi sesuatu sama gue pas nyelametin Ira ada lo yang bisa gantiin gue buat jagain Queen dan kedua ortu gue."


"Lo ngomong apaan sih, Ar. Lo bikin gue takut tahu nggak."


"Udah intinya lo nggak perlu ikut gue, urusan Ira biar menjadi tanggung jawab gue. Yang paling penting berjanjilah sama gue kalau lo bakalan terus jagain mereka semua," pinta Arvin sekali lagi.


Arvin memang tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Tetapi, entah kenapa kali ini dia memiliki firasat buruk tentang dirinya sendiri. Jika memang dalam proses pencariannya mencari keberadaan Ira, ia harus meregang nyawa setidaknya masih ada orang yang bisa dipercaya untuk menjaga keluarganya terutama Queen. Arvin memang belum mengetahui dengan pasti hal yang menimpa adiknya ketika masih dalam penyekapan. Tetapi, ia berharap apa pun itu tidak akan merampas kebahagiaan adiknya. Arvin ingin agar Queen kembali ceria seperti dulu sebelum peristiwa penculikan tersebut terjadi.


"Ar, gue ikut lo ya!" rengek Vano.


"Cih, sejak kapan lo jadi cengeng kayak gini?" Arvin mencebik. "Gue nggak mau debat lagi sama lo soal ini. Gue.cabut ya, Van. Titip adek gue."


Setelah mengatakan hal.tersebut, Arvin segera meninggalkan rumahnya. Dia harus bisa sampai ke lokasi sebelum para penjahat itu membawa Ira kabur semakin jauh.


***


Di sebuah gudang kosong di dekat pelabuhan, Ira masih dikurung di sana dengan tangan dan kedua kaki diikat, serta mulutnya dilakban.


Makanan yang sedari tadi disiapkan oleh orang-orang itu sama sekali tidak disentuh olehnya. Ira menolak untuk makan meski orang-orang itu sudah berusaha untuk menyuapinya. Gadis yang memiliki sifat ceroboh itu hanya ingin mengetahui keadaan calon adik iparnya, Queen.


"Ayo makan! Bos menyuruh kami untuk memastikanmu makan." Penajahat itu melepas lakban dari mulut Ira. Dia juga membawa makanan baru untuk Ira karena makanan yang tadi pagi sudah ditendang oleh Ira hingga berserakan di lantai.


"Aku bilang tidak mau. Aku ingin tahu apa kesalahanku pada bos kalian? Kenapa kalian mengurungku seperti ini? Dan Queen? Kenapa kalian kejam sama dia? Katakan apa yang sudah kalian lakukan pada Queen?" Ira terus menolak makanan yang akan di jejalkan ke mulutnya. Dia bahkan sengaja membuat makanan itu kembali tumpah.


"Hei, gadis tidak tahu diri. Kalau bukan karena bosku menginginkan keselamatanmu sudah kubuang kamu ke laut." Penjahat itu mencengkram rahang Ira dengan sangat kuat. "Menyusahkan saja!"


"Kau!" Hampir saja penjahat tersebut menggampar Ira, namun penjahat itu urung melakukannya karena mendapat telepon dari bosnya.


"Iya, Bos, ada apa?"


" ... "


"Kalung?" Penjahat itu memperhatikan kalung dengan permata warna biru di leher Ira. "Iya, Bos. Kalung itu memiliki permata berwarna biru."


" ... "


"Apa?! Kami harus segera membawa gadis itu pergi dari sini?"


" .... "


"Baik. Kami akan lakukan sekarang," jawab penjahat itu kemudian menutup sambungan teleponnya. Dia kembali melihat kalung yang ada di leher Ira, lalu menariknya hingga putus.


"Ternyata ada chips di kalung ini, hebat juga orang tuamu," puji penjahat itu.


"Jo, cepat kita harus pergi dari sini sebelum orang-orang dari dari keluarga Sebastian itu tiba di tempat ini!"


Orang yang dipanggil Jo itu masuk. "Oke, Jack. Aku sudah suruh orang menyiapkan kapal untuk kita pergi dari sini. Dalam sepuluh menit kapal itu akan segera siap," Jo memberitahu Jack. "Lalu cewek itu?" tanya Jo.


"Lo lakban lagi mulutnya, lalu periksa ikatan tangan dan kakinya. Jangan sampai ia lepas!" surih Jack.


"Baik."


Jack keluar dari ruangan itu dan membiarkan Jo untuk memeriksa ikatan tali Ira.