
Pesta pernikahan anatar Arvin, Ira, Queen, dan Vano telah disepakati akan digelar dua minggu lagi sesuai rencana awal. Kedua keluarga sudah mulai mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak ada kendala di hari H.
Dan sambil menunggu hari bahagia itu tiba, Ira yang memang tidak bisa diam, memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah sakit milik keluarganya sendiri sambil mengasah kemampuan. Selama ini Ira ditugaskan untuk membantu Dokter Alesha di ruang IGD. Dokter Alesha adalah Dokter spesialis emergency dia selalu menjadi garda terdepan bagi pasien yang datang sebelum meyalurkannya ke dokter spesialis lainnya.
Hari itu ada kejadian tak terduga yang terjadi di rumah sakit milik keluarganya tersebut. Salah.seorang anggota keluarga dari keluarga pasien tiba-tiba menyandera Dokter Alesha dan meminta dokter itu untuk segera mengoperasi istrinya yang terkena gagal ginjal, namun tidak memiliki biaya untuk operasi.
"Pak, jangan melakukan tindakan bodoh! Bapak jangan khawatir, istri Bapak pasti akan segera dioperasi setelah mendapatkan donor ginjal yang sesui," ujar Ira. Dia berusaha membujuk pria itu agar tidak berbuat nekat menyakiti dokter Alesha.
"Tapi, kapan? Dokter bilang dua ginjal istriku sudah tidak bisa berfungsi. Jika dia tidak segera mendapatkan donor, istriku bisa meninggal, Dok. Tapi, sampai sekarang belum ada orang yang mau menyumbangkan ginjalnya untuk istriku. Kalau begini terus kapan istriku bisa sembuh. Dua anak kami masih sangat kecil jika harus kehilangan ibunya. Jadi, tolong, Dok selamatkan istriku, tolong selamatkan dia!" Laki-laki yang memiliki usia sekitar 40 tahun itu memohon sambil menodongkan pisaunya di leher Dokter Alesha.
"Meski kamu melakukan tindakan kriminal seperti ini, jika istrimu belum mendapatkan ginjal yang cocok tetap tidak akan bisa dioperasi. Justru tindakanmu ini bisa merugikan dirimu sendiri." Perkataan dokter Alesha tersebut semakin menyulut emosi dari laki-laki itu. Dia hampir saja menggoreskan pisau di tangannya di leher Dokter Alesha.
"Pak, tolong hentikan!" suruh Ira. "Percuma Bapak menyandera dokter itu karena dokter itu hanya bekerja di sini, dia tidak memiliki kuasa apa pun di rumah sakit ini. Jika Bapak mau, Bapak bisa menyanderaku. Aku adalah cucu dari pemilik rumah sakit ini, aku yakin keinginan Bapak akan cepat terpenuhi jika Bapak menyanderaku." Ira meminta laki-laki itu mengganti sanderanya.
"Kamu cucu pemilik rumah sakit ini?" tanya pria itu.
"Benar. Kalau Bapak tidak percaya silakan tanyakan pada semua pegawai di rumah sakit ini, mereka pasti akan membenarkan ucapanku," ucap Ira.
Laki-laki tersebut akhirnya mau melepaskan Dokter Alesha dan mengganti dengan dirinya.
"Cepat hubungi kakek nenekmu agar mereka bisa secepatnya mendapatkan ginjal untuk istriku!" suruh laki-laki itu.
*
Kabar tentang Ira yang disandera oleh keluarga pasien sampai juga di telinga Arvin. Tak mau hal buruk terjadi lagi kepada calon istrinya Arvin segera menuju ke rumah sakit tempat Ira di sandera.
Arvin memarkirkan mobilnya sembarangan. Laki-laki yang memikiki paras yang menawan itu langsung keluar dari mobil. Dia berlari secepat mungkin untuk menuju ke tempat dimana Ira sedang sandera.
"Dimana pria brengsek itu membawa Ira?" tanya Arvin kepada dokter dan pegawai rumah sakit lainnya.
"Itu di dalam ruang rawat itu," jawab salah seorang perawat sambil menunjuk ruangan di salah satu ruang rawat yang ada di sana.
"Kalian sudah menelepon polisi?" tanya Arvin lagi.
"Sudah. Sebentar lagi polisi pasti akan segera sampai."
"Kalian berjaga-jagalah di sini, saya kan coba masuk melalui jendela luar." Suruh Arvin.
Dengan sangat berhati-hati, Arvin merayap naik ke lantai dua melalui teralis besi yang dipasang sebagai pengaman. Dia mulai mengintip melalui jendela untuk melihat hal yang sedang dilakukan oleh penyandera itu kepada Ira. Namun, mata Arvin membulat ketika melihat hal yang terjadi di dalam sana. Berkali-kali ia mengedipkan matanya untuk memastikan jika ia memang tidak salah melihat.