
Arvin sudah masuk terlebih dulu ke dalam mobil yang terparkir di tempat parkir khusus. Dia duduk di jok belakang sambil menyandarkan punggung pada sandaran jok, tidak lupa ia juga menutup sebagian wajahnya menggunakan lengah kanannya.
"Kelihatannya lo ngantuk banget, emang lo nggak tidur selama di Jepang kemarin?" tanya Vano yang baru saja ikut masuk ke dalam mobil. Dia mendaratkan bokongnya pada kursi kemudi.
"Jetlag gua, hampir seminggu tidur gua nggak nyenyak. Mana kepikiran sama Ira lagi," jawab Arvin dengan mata yang tetap terpejam.
"Memang kenapa lagi sama dia? Bukannya permasalahannya cuma ada di artukel itukan?"
"Gak ada masalah apa-apa sih. Masalahnya cuma satu, gue kangen banget sama dia. Kemarin itu dia sibuk karena ujian semester dan gue sibuk sama pekerjaan gue. Susah banget nyari waktu luang buat teleponan. Saat dia telepon gue, gue lagi meeting atau lagi ngerjain pekerjaan lain. Giliran gue nggak sibuk, dianya yang sibuk. Ditambah dengan artikel sialan itu. Menurut lo, dia bakalan marah nggak sih kalau dia baca artikel itu?" Arvin tiba-tiba membuka matanya.
"Mana gue tahu, dia kan cewek lo. Lo pasti lebih tahulah hal-hal apa saja yang bikin dia cemburu," jawab Vano.
"Mungkin kalau nggak ada foto pelukan itu, dia gak bakalan cemburu. Masalahnya di artikel itu kan ada foto gua yang meluk Nadin. Orang yang nggak berada di situ mana tahu kalau pelukan itu hanya pelukan buat nenangin dia yang hampir dilecehkan sama orang. Apalagi isi artikelnya nggak sesuai fakta lagi. Siapa sih yang sengaja bikin artikel hoax kayak gitu?"
"Itu urusan lo sama cewek lo, gue nggak mau ikutan pusing mikirin percintaan lo. Nasib percintaan gue sama Queen saja belum kelihatan hilalnya," cicit Vano.
"Dan makin nggak akan kelihatan hilalnya kalau lo nggak nemuin si pembuat berita hoax itu!" ancam Arvin.
"Dasar ya mentang-mentang lo kakaknya si Queen, lo berani ngencem gue."
"Kenapa? Mau bilang nggak takut?" Arvin berlagak melotot kearah sahabatnya itu.
"Takut sih, apalagi lo bos gue," jawab Vano dengan cengiran kudanya.
"Gue mau mejemin mata bentar. Ntar kalau udah nyampai rumah lu bangunin gue!"
"Ya udah sono tidur! Jangan khawatir gue pasti akan nemuin si pembuat artikel itu dalam minggu-minggu ini."
"Thank." Setelah mengatakan itu Arvin kembali menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi. Dengan tangan dilipat di depan dada, ia mulai memejamkan mata.
Mobil mercedes benz berwarna merah itu mulai keluar dari area parkir dan berjalan membelah jalanan ibu kota. Meski tidak sepadat siang tadi tetap masih banyak kendaraan yang hilir mudik.
Vano melihat keadaan bosnya melalui kaca spion yang terletak di atas dashbourd. Wajah kelelahan dan kurang istirahat terlihat jelas di gurat wajahnya. Dia menghembuskan napas panjangnya. "Semoga percintaan lo kali ini baik-baik saja," desisnya.
Vano tahu betul kisah asmara bosnya sebelum bersama Ira. Terutama dengan Nadin, wanita itu adalah cinta pertama dari bosnya tersebut. Butuh perjuangan dan usaha keras bagi Arvin untuk mendapatkan cinta Nadin, sayangnya ternyata wanita itu malah menduakan cintanya. Meski terlihat baik-baik saja, tetapi Vano tahu masih ada ketakutan di hati Arvin akan kehilangan kekasih sekali lagi. Apalagi kali ini cinta Arvin terhadap Ira melebihi perasaan cintanya terhadap Nadin dulu.
Vano mulai mengurangi laju mobilnya saat memasuki halaman parkir rumah Arvin. Dia langsung membangunkan bosnya yang masih tertidur.
"Ar, bangun woy! Ini sudah sampai di depan rumah lo! Arvin!" panggil Vano.
"Berisik!"
Tidak lama seorang gadis yang memang dirindukan oleh Vano keluar dari rumah. Dengan sedikit berlari gadis itu mendekat ke arah mobil yang sudah berhenti tersebut.
"Kak Vano, Kak Arvin mana?"
"Kak Arvin mabuk? Ya Tuhan kalau bunda dan ayah tahu bisa gawat," pekik Queen yang mengira kakaknya masih tidur karena mabuk.
"Nggak, Queen! Kakak lo nggak..... "
"Sebentar aku ambilkan air mineral buat ngeredain mabuknya," sela Queen sebelum Vano selesai memberikan jawaban. "Kak Vano tolong bawa Kak Arvin ke kamarnya ya!"
Gadis berambut panjang itu kembali masuk ke dalam rumah.
"Ar, bangun, woy! Tuh adik lo ngira lo mabuk." Sekali lagi Vano mencoba membangunkan Arvin.
Arvin menggeliatkan tubuhnya sambil menguap.
"Ya udah sana kamu susul Queen, paling dia pergi ke dapur buat ngambil air. Gue ke kamar gue sendiri," jawab Arvin dengan entengnya. "Ingat ya, meski gue udah ngasih lampu hijau buat lo ngedeketin adik gue, gue akan tetap ngawasin lo!"
Arvin langsung melenggang masuk ke dalam rumah rumah dan langsung menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Sementara Vano masih terpaku di dekat mobil. Dia bingung antara ingin menemui Queen atau langsung pulang ke rumahnya.
"Sebaiknya gue cabut aja deh, takut ada fitnah. Apa lagi ini sudah malam." Vano melihat ke arah jam tangannya. Jam yang melingkar di pergelangan tangannya tersebut menunjuk pukul sepuluh malam. Rasanya memang tidak pantas jika dia bertamu di jam segitu.
Vano berbalik untuk menuju ke pintu kemudi, namun tiba-tiba....
Byurr. Baju tang ia pakai basah terkena air.
"Maaf-maaf, Kak. Aku nggak sengaja," ucap Queen sambil mencoba membersihkan kemeja yang dipakai oleh Vano. "Lho Kak Arvin mana?"
"Kakakmu sudah masuk ke kamar. Kamu tenang saja, dia nggak mabuk kok. Dia cuma kelelahan karena kurang tidur." Vano langsung memberikan penjelasan tanpa Queen minta.
"Kamu juga masuk gih sudah malam nggak baik cewek jam segini masih di luar!" suruh Vano.
"Tapi, baju Kakak.... "
"Nggak apa-apa, cuma air segelas. Untung gak seember."
"Sekali lagi maaf ya, Kak," ucap Queen.
Vano mengangguk. "Aku pulang sekarang ya. Sudah sana masuk!" suruh Vano lagi. Sebelum masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja dia mengusap rambut adik bosnya itu. "Ingat kamu juga harus langsung tidur." Setelah mengatakan itu, Vano langsung masuk ke dalam mobil. Dia melambaikan tangan sebelum akhirnya melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah bosnya tersebut.
"Apa yang terjadi denganku? Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar seperti ini?" batin Queen, satu tangannya memegang dadanya sendiri sambil menatap kepergian Vano.
πΊπΊπΊ
Gais, otor minta maaf ya karena sering nggak update. Nggak tahu kenapa bulan ini tuh bulan penuh kemalasan buat otor. Padahal otor pen kaya, tapi males nulis. Astagaaa kapan otor kaya ya Tuhan π€π€