Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Senjata andalan



"Ku kira Uncle tidak mengenaliku karena diam saja tadi," ucap Ira sambil memasang cengiran kudanya.


"Bagaimana aku tidak mengenali keponakanku sendiri? Kamu ini aneh-aneh saja." Kembali Ira tersenyum.


"Uncle, jangan kasih tahu daddy dan mommy ya kalau Uncle ketemu Qilla di sini. Qilla masih ingin mencari identitas Qilla sendiri. Selama ini Qilla tidak pernah tahu apa yang sebenarnya Qilla inginkan. Qilla hanya menjalani hal-hal yang udah disiapkan mommy dan daddy. Jadi, tolong ya Uncle rahasiakan pertemuan kita ini dari mereka!" pinta Qilla sambil mengatupkan kedua tangannya dan memasang wajah puppy eyes.


"Ckckck. Dasar kamu ini!" Tama menyentil kening keponakannya tersebut. "Baiklah, tapi, kamu harus janji sama Uncle, kalau kamu butuh bantuan, kamu akan menghubungi Uncle. Uncle tidak akan tenang kalau kamu berada di luar rumah tanpa uang," ujar Tama.


"Uncle tenang saja, soal uang insya allah aku gak akan kekurangan karena aku sudah mendapatkan pekerjaan sebagai asisten pribadi dari Pak Arvin."


"Memangnya kamu tidak kesulitan menghadapi dia? Aku dengar dia orang terlalu perfectionis, dia tidak mau menerima kesalahan sekecil apapun."


"Aku tahu. Tapi, Uncle tenang saja aku punya senjata untuk menaklukan pria itu kok," jawab Ira penuh percaya diri. Dia seratus persen yakin kalau Arvin tidak akan memberinya masalah besar. Karena bagaimana pun pria itu masih membutuhkan dirinya untuk dijadikan tameng dari mantan kekasih pria itu.


"Baguslah." Qilla tersenyum sambil menatap pamannya.


"Lho Pak Tama masih berada di sini?" tanya Arvin setelah selesai berbicara dengan seseorang di dalam telpon.


"Iya, Pak Arvin. Tadi saya cuma memastikan kepada sekretaris Anda mengenai beberapa hal," jawab Tama berbohong.


"Memastikan apa, Pak? Apa ini soal kontrak kerjasma kita besok?"


Tama melirik ke arah keponakannya itu sebentar.


"Iya, Pak Arvin. Dan apa pun isi dari kontrak itu saya menyetujuinya, jadi Pak Arvin tinggal menandatangani kontrak itu saja."


"Benarkah, Pak Tama?" mata Arvin berbinar. Dia begitu senang karena bisa bekerja sama dengan salah satu anak dari pemilik perushaan Wijaya Grup. Apa lagi menurut kabar yang dia dengar, anak dari Rangga Wijaya itu paling sulit untuk diajak kerja sama. Namun, kali ini tanpa dia memaksa, Tama sudah menerima kerjasama mereka.


"Tentu saja. Bila perlu saya akan tanda tangani sekarang juga."


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi ya Pak Arvin." Tama berjalan meninggalkan tempat itu.


"Tadi kamu bicara apa saja sama Pak Tama. Sepertinya setelah pembicaraan kalian tadi, dia semakin yakin untuk bekerjasama denganku?" tanya Arvin kepada Ira. Dia ingat, meski setuju untuk bekerjasama masih ada keraguan pada diri Tama tadi. Namun barusan pria dingin itu langsung menyetujui kontrak kerjasma mereka tanpa melihat kontraknya lebih dulu.


"Tidak ada, Pak. Mungkin karena wajahku mirip dengan keponakannya makanya dia langsung setuju tanpa melihat surat kontrak itu," jawab Ira yang kembali berbohong.


"Benarkah? Memang kamu sudah pernah bertemu dengan keponakannya Pak Tama?" tanya Arvin sambil menatap wajah dari asisten pribadinya itu.


"Sial! kenapa aku harus menjawab itu sih. Kan selama ini Qilla tidak pernah muncul di majalah atau media sosial mana pun?" batin Ira yang menyesalai jawabannya sendiri.


"Ira!" panggil Arvin ketika melihat asistennya itu masih diam saja.


"Iya, Pak."


"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi lho."


"Pertanyaan yang mana, Pak?" tanya Ira yang berpura-pura tidak tahu.


"Yang ta.... "


"Maaf, Pak, yuk kita ke villa Bapak sekarang! Semakin siang biasanya jalanan akan macet," sela Ira sebelum Arvin menyelesaikan kalimatnya.


Arvin melihat jam tangannya kembali. Benar apa kata Ira, hari sudah semakin siang. Mereka harus tiba di villa itu secepatnya agar segera bisa membahas kontrak kerjasma yang akan dibuatnya besok pagi.


"Ya udah, ayo kita keluar sekarang! Pasti pengemudi taksi itu masih menunggu di luar sekarang.


Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan seseorang tiba-tiba memeluk Arvin.