
Dion menjabat tangan Arvin dan untuk melafalkan kalimat ijab.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Arvin Narendra bin Alvin Narendra dengan anak saya yang bernama Aqilla Ashira Putri Sebastian dengan maskawinnya berupa uang sebesar satu juta seratus dua belas ribu dua puluh dollar (1.11.2022) dan cincin berlian seberat 10 karat, tunai.”
"Saya terima nikah dan kawinnya Aqilla Ashira Putri Sebastian binti Dion Sebastian dengan mas kawin uang sebesar satu juta seratus dua belas ribu dua puluh dua dollar (1.11.2022 $) dan cincin berlian seberat 10 karat dibayar tunai." Arvin berhasil melafalkan kalimat kabul dengan satu tarikan napas secara lantang.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah."
"Sah."
Semua keluarga yang hadir ikut merasakan kebahagiaan tersebut. Akhirnya Ira dan Arvin sudah sah menjadi suami istri baik secara hukum agama dan negara. Tidak lama berselang, giliran prosesi ijab kabul antara Queen dan Vano. Tak jauh berbeda dengan Arvin, Vano pun bisa melafalkan kalimat kabulnya dengan lancar.
Setelah selesai dengan semua prosesi tersebut, acara pun dilanjutkan dengan acara resepsi. Rencananya mereka akan mengadakan pesta resepsi di dua tempat yang berbeda. Resepsi yang sekarang digelar adalah resepsi indoor yang dilakukan didalam gedung tersebut. Dan resepsi kedua akan diselanggaran secara outdoor di puncak Bogor di villa milik Keluarga Wijaya seminggu setelah ini.
Sementara untuk bulan madu, Arvin dan Ira terpaksa menundanya karena saat ini Ira sedang dalam masa koas. Arvin tidak ingin mengganggu Ira untuk segera mencapai cita-citanya.
Pesta resepsi malam itu berakhir sekitar pukul dua belas malam, semua saudara, kerabat, teman dekat, dan kolega yang mendapatkan undangan khusus sudah masuk ke kamar masing-masing. Ada sekitar 200 lebih kamar yang diperuntukkan untuk tamu yang disedikan oleh kedua keluarga mempelai. Kedua keluarga besar terbut berharap tamu-tamu itu bisa ikut merasakan kebahagian yang dirasakan oleh mereka juga.
"Kakiku pegal sekali," keluh Ira saat berada di salah satu suit room yang memang disedikan untuknya dan Arvin.
"Sayang, kalau mau tidur mandi dulu, ganti baju yang nyaman biar kamu enak tidurnya," tegur Arvin saat melihat istrinya langsung naik ke atas tempat tidur masih dengan gaun pengantin lengkap berikut hellsnya.
"Aku capek banget. Ini lebih capek dari ngerjain tugas kuliah yang setumpuk itu," jawab Ira dengan mata terpejam.
Arvin menggeleng, dia menghampiri Ira dan duduk di tepi ranjang dimana wanita yang kini berstatus istrinya itu membaringkan diri.
"Tapi, tidur dengan pakaian kayak gini juga nggak nyaman, Sayang," tutur Arvin sekali lagi. Dia membantu melepaskan sepatu high hells yang dipakai oleh Ira.
"Terima kasih," jawab Ira dengan mata terpejam.
"Sekarang mandi yuk! Biar kamu nyaman!" ajak Arvin dengan lembut.
"Tapi, aku capek banget. Malas jalan ke kamar mandinya," jawab Ira yang masih dengan posisi yang sama.
Ira membuka matanya, dia kemudian bangun dari posisinya dan menatap laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Ini bukan modus, kan?" tanya Ira.
"Astaghfirullah, Sayang. Modus pun kan nggak apa-apa sekarang. Kita kan sudah sah," jawab Arvin sambil menaik turunkan alisnya.
"Tapi, aku capek banget, kalau mau macam-macam besok saja ya," ucap Ira.
"Iya, kamu tenang saja, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kalau kamu memang lagi capek," jawab Arvin.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang ayo gendong aku ke kamar mandi!" Ira merentangkan tangannya kedua tanganya.
Arvin membopong tubuh istrinya ala brydal style dan membawanya ke kamar mandi. Setelah tiba di samping bath up, ia menurunkan tubuh Ira dari gendongannya.
"Mau aku bantuin lepas gaunnya juga nggak?" tawar Arvin.
"Nggak. Sekarang Bapak keluar dulu," jawab Ira.
"Benar, nggak mau dibantu?" tanya Arvin sekali lagi.
"Nggak mau, aku bisa sendiri kok," jawab Ira.
"Bagaimana kalau aku memaksa ingin membantumu?" tanya Arvin.
"Ngapain? Kan aku sudah bilang sama Bapak. Malam ini aku capek. Jadi, aku mau tidur cepet," jawab Ira.
Arvin tidak mengatakan apa pun lagi, dia hanya berjalan memdekati istrinya. Satu langkah Arvin mendekat, satu langkah juga Ira mundur. Ira semakin deg-degan saat Arvin mengulurkan tangan ke arahnya.
"Pak... aku... aku..... "
🍂🍂🍂
Hayo lho apa yang akan dilakukan oleh Arvin ke istrinya?