Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Ingin ke toilet



"Maaf, Pak," jawab Ira dengan disertai cengiran kudanya.


"Kenapa?" tanya Arvin lagi.


"Itu, Pak, anu.... "


"Katakan saja!"


"Aku belum pesan taksinya, Pak," jawab Ira dengan sangat hati-hati.


Arvin mengesah kesal. Dia hanya bisa menggeleng dengan kecerobohan asistennya itu.


"Sekali lagi maaf ya, Pak." Arvin hanya memutar bola malas.


"Buruan pesan!" suruh Arvin.


"Iya, Pak, iya," jawab Ira lagi. Dia segera mencari aplikasi taksi anline pada layar ponselnya dan segera melakukan hal yang diperintahkan oleh bosnya itu.


"Ada apa lagi?" tanya Arvin saat melihat Ira kebingungan.


"Pak, tujuan kita ke mana ya?" Arvin tidak menjawab, dia hanya mengambil ponsel milik asistennya itu.


"Pak ponselku mau diapain?"


Setelah mengetikkan sesuatu di sana, Arvin segera mengembalikan ponsel milik Ira tersebut. Tidak lama sebuah mobil berwarna putih berjenis hatback berhenti di depan mereka.


"Kamu bawa tasku ke bagasi!" suruh Arvin pada Ira.


"Tapi, Pak.... "


"Cepat!" seru Arvin lagi. Pria itu bahkan tidak memberi kesempatan kepada Ira untuk menjawab. Tanpa membantah lagi, Ira melakukan hal yang diperintahkan kepadanya.


Taksi yang ditumpamgi Arvin dan Ira akhirnya tiba di sebuah restoran mewah yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat mereka tinggal semalam. Keduanya langsung masuk ke restoran tersebut dan mencari rekan kerja yang dimaksud. Namun, mata Ira kembali membulat ketika tahu rekan kerja yang akan ditemui oleh Arvin. Ternyata orang yang akan ditemui oleh Arvin adalah paman dari Ira, Tama.


"Kenapa berhenti?" tanya Arvin saat melihat asiaten pribadinya itu tiba-tiba berhenti.


"Beneran kamu sakit perut?" tanya Arvin dengan tatapan tidak percaya.


"Bener, Pak," jawab Ira sambil memasang wajah meringisnya. Dia harus terlihat benar-benar sakit agar bos barunya itu tidak mencurigai dirinya.


"Aduh, Pak, saya udah nggak tahan nih, saya benar-benar harus ke toiket sekarang," ucap Ira lagi sambil memegangi perutnya.


"Kamu tidak sedang membohongiku kan?" kembali Arvin menatap Ira.


"Pak untuk apa saya berbohong kepada Bapak? Perut saya beneran sakit, tapi, kalau Bapak tidk percaya ya sudah saya ikut Bapak. Tapi, jangan salahkan saya kalau saya membuat malu Bapaj di depan rekan Bapak nantinya," jawab Ira. Dia memperhatikan wajah Arvin. Ira berharap bosnya itu akan mempercayai alasannya.


"Ya udah, ayo Pak, kita temui dia sekarang!" ajak Ira, dia berjalan mendahului Arvin sambil tetap memegang perutnya.


"Tunggu!" Arvin menahan tangan Ira. "Sudah sana katanya mau ke toilet!"


"Bukannya Bapak tidak percaya kalau perut saya sakit?"


"Kapan saya bilang tidak percaya?"


"Bapak memang tidak mengatakannya, tapi cara Bapak menatap saya tadi membuktikan kalau Bapak tidak mempercayai saya."


Sebenarnya Arvin memang tidak percaya kalau asistennya itu sakit perut. Entah kenapa dia merasa yakin kalau ada yang sedang dihindari oleh asistennya itu.


"Tuh kan Bapak tidak mempercayai saya. Ya udah ayo kita temui rekan Bapak itu saja." Kembali Ira berbicara, dia juga kembali berpura-pura meringis sambil memegang perutnya.


"Sudah sana kalau kamu mau ke toilet! Aku gak mau kamu malah bikin ulah pas kami sedang berdiskusi!" Ira begitu lega mendengar perkataan Arvin.


"Beneran Pak saya boleh pergi ke toilet sekarang?"


"Iya, sana pergi!"


Ira akhirnya lega karena bisa menghindari pertemuannya dengan pamannya itu.