Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Bapak harus bertanggung jawab



"Pak Arvin, kenapa Bapak di sini?" tanya Ira.


"Seharusnya aku yang tanya sama kamu, kemana saja kamu? Bukannya aku hanya memberimu izin sampai jam istirahat selesai? Kenapa kamu malah baru pulang sekarang?" tanya Arvin dengan tatapan dinginnya.


"Maafkan aku, Pak. Aku gak sengaja," jawab Ira sambil menundukkan kepala. "Kalau Bapak mau memotong gajiku karena ini gak apa-apa kok, Pak. Aku ikhlas." Ira memasang wajah memelasnya dihadapan bosnya itu.


"Kapan aku pernah memotong gajimu?"


Ira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya sih tidak pernah. Tapi, siapa tahu kali ini Bapak mau memotong gajiku."


"Baik kalau itu yang kamu mau, aku akan potong gajimu seteng.... "


"Bapak kok plin plan sih? Katanya gak pernah mau motong gajiku, kenapa sekarang malah mau motong?" sela Ira.


"Kan barusan kamu sendiri yang menyuruhku buat motong gajimu," ujar Arvin.


"Tapi, masa Pak Arvin tega sih motong gajiku yang kecil itu? Pak Arvin kan kaya, masa iya gaji kecil karyawannya masih mau dimakan," cerocos Ira yang membuat kepala Arvin pusing.


"Sudah-sudah. Gak akan ada pemotongan gaji, tenang saja. Tapi inget, lain kali kalau mau keluar lama kabarin kek. Jangan bikin orang khawatir."


Ira menatap bosnya itu. "Bapak mengkhawatirkan aku?" tanya Ira sambil tersenyum. Dia tidak menyangkan kalau bosnya masih memiliki hati untuk mengkhawatirkannya.


"Tentu saja. Kamu itu ke sini bareng aku, kalau tiba-tiba kamu ilang di sini, pasti aku yang akan disalahkan. Aku tidak mau berurusan dengan polisi," jawab Arvin.


"Kenapa harus berurusan dengan polisi?"


"Ih, Pak Arvin tega banget, doain aku yang jelek-jelek," protes Ira setelah mendengar perkataan bosnya itu.


"Aku bilang kan misal. Makanya jangan pergi jauh-jauh dari villa ini."


"Tetep saja, itu namanya Bapak doain aku yang jelek-jelek. Awas saja kalau doa Pak Arvin sampai terjadi, aku bakalan minta pertanggung jawaban sama Bapak!" balas Ira.


"Eh, apa maksudnya?"


"Kalau aku diculik, pokoknya Pak Arvin harus nyari aku sampai ketemu. Awas saja kalau enggak!" Ira memberikan tatapan tajamnya kepada Arvin.


"Enggak akan ada yang nyulik kamu. Kamu itu berisik, cerewet, dan ceroboh. Mereka pasti bakalan cepet ketangkep polisi kalau sampai nyulik kamu," jawab Arvin lagi.


"Nggak peduli, pokoknya kalau suatu saat nanti ada yang nyulik aku, terus aku dibunuh, Pak Arvin harus balas membunuh mereka. Dan kalau aku diperkosa, Pak Arvin yang harus tanggung jawab karena Pak Arvin gak bisa jagain aku sebagai karyawan Bapak."


"Ih, apa-apaan sih kamu? Omongan kamu ngaco tahu. Tadi aku kan becanda, kenapa kamu serius?" Arvin malah takut sendiri saat Ira mengatakan hal-hal buruk kepadanya.


"Aku juga becanda kok, Pak. Yuk, masuk! Aku laper!" Ira berjalan mendahului bosnya itu masuk ke dalam villa.


Arvin bergidik ngeri saat membayangkan ucapannya menjadi kenyataan. "Amit-amit. Ampuni aku ya Tuhan, semoga hal buruk yang aku katakan tadi tidak menjadi kenyataan," Arvin berdoa dalam hati. "Aku lebih milih dirusuhin tuh cewek seumur hidup dari pada hal buruk itu terjadi," lanjutnya.


"Pak Arvin, ayo masuk!" panggil Ira yang berdiri diambang pintu.


"Iya-iya." Arvin pun segera menyusul Ira masuk ke dalam villa.