
"Makasi yaaaa... atas hadiah dan juga tumpangan gratisannya," guraunya sambil mengulum senyum.
"Ck, seperti orang asing!" sungut Nevan, ia tahu itu hanya sekedar gurauan semata, saat mereka sudah berada di gang perumahan Shasyania setelah menghabiskan waktu seharian.
"Bercanda sayaang bercanda, ihhh gemes banget siihhh!" tangan itu menjulur dan menyentuh pipi Nevan hingga sekali-kali mencubit lalu menariknya lembut.
"Sakit?"
"Enggaklah yank!"
Dan setelah usai dengan aksinya itu, ia terlihat menunduk dengan manik mata menatap sesuatu, "Umhhh, ini benar-benar indah Geonevan," mata Shasyania bahkan sampai berkaca-kaca ketika masih melirik benda berkilau yang kini menggantung indah menghiasi lehernya, lalu tangannya mengusap-usap permukaan cincin yang menjadi liontin sebuah kalung dari mas putih tersebut.
"Suka?"
"Tentu!"
"Suka aja atauuuu suka sekali?"
Netra matanya mengunci lekat menatap laki-laki dihadapannya, "Sukaaaaaaa sekaliiiiii, bahkan berkali-kali-kali-kali-kali-kali lipaaaaat sukaaa!!!"
Tangan Shasyania membentuk bulatan besar, ia ingin memvisualisasikan sebagaimana besarnya rasa suka yang tengah menyeruak masuk ke dalam dirinya saat ini, dan aksinya tersebut mengundang tawa sekaligus rasa bangga bagi seorang Geonevan, saat usahanya berbuah manis dan berhasil membuat gadisnya senang.
Yaa, karena setelah berpamitan dari sahabatnya, Nevan tidak bersungguh-sungguh untuk memesan ruangan baru, ia justru mengajak Shasyania ke sebuah gedung yang terkenal dengan penjualan perhiasan terbaik di kota J. Nevan membeli kalung sekaligus cincin pasangan sebagai tanda kepemilikan diantara mereka berdua.
"Di jaga yaa... jangan sampai hilang!"
Shasyania merenggut, "Kalau hilang gimana?"
Nevan terlebih dahulu menarik nafas dan sengaja mengeluarkannya dengan kesan berat, "Haaaahh! yaaa pastinya akan aku belikan yang baru lagi sayang! Tapi bukankah akan lebih bagus lagi kalau yang ini kamu jaga, itukan bentuk dari perasaan aku yaaaaank," Nevan menatap sendu, layaknya seorang anak kecil yang tak diindahkan perkataannya.
"Manis sekali...."
Melihat reaksi tersebut membuat Shasyania menjulurkan tangan, mengisyaratkan agar Nevan lebih mendekat.
Klik!
Tanpa menunggu lebih lama lagi Seat belt yang sedari tadi menyilang di bagian tubuhnya terlepas, dan setelahnya ia mencondongkan tubuh untuk lebih mendekat, hingga disambung kalungan tangan yang kini mengitari leher Nevan, "Pasti, pasti akan aku jaga sepenuh hati, kedua barang ini begitu berharga, terimakasih Geonevan!"
Cup!
Satu kecupan pun berhasil mendarat di pipi Nevan, hingga membuatnya berseri-seri dengan matanya yang begitu indah.
"Ohhh Tuhan rasanya jantung ini mau meledak!"
"Aku mencintaimu..., sangat-sangat mencintaimu!!!"
Awalnya Shasyania tersenyum, namun perlahan-lahan ia juga ingin mempertanyakan kesungguhan dari ucapan Nevan yang selalu sukses membuat hatinya berdebar, "Kok tiba-tiba cinta?" dan pertanyaan tersebut berhasil memancing ekspresi tak biasa dari wajah Nevan.
"Bukan tiba-tiba sayang, malahan perasaan ini udah lama aku rasain!"
"Ohh yaa? kapan?"
"Pokoknya lama! Kamu percaya cinta pada pandangan pertama?"
"Percaya...."
"Nah, seperti itulah aku, saat pertamakali melihatmu!"
Shasyania menyelidik, mencari kebohongan di mata laki-laki yang jaraknya sangat dekat dengannya, bahkan hidung mereka beberapakali berbenturan, saking inginnya ia memastikan, "Pas makan malam di rumah Kakek?" tanyanya.
"Makan malam?"
"Tuh! ini saja dia lupa jadi bagaimana mungkin cinta pada pandangan pertama! Geonevan ini benar-benar!!!" batin Shasyania, ia mulai ragu dan kesal untuk menanggapi ucapan Nevan, "Iyaa, saat kamu turun dari tangga, dengan pandangan mata mendelik, melotot, yaaa pokoknya gitu!! dan kamu bilang itu cinta pada pandangan pertama? bohong!!! Kamu berbohong! bahkan aku masih ingat jelas Geonevan, betapa enggak sukanya kamu ketika melihat aku di meja makan itu! Dan bodohnya aku, malah langsung terkesima saat pertamakali melihatmu!"
Perasaan kesalnya lebih menjadi-jadi saat Nevan hanya diam bahkan dengan senyum menghiasi wajahnya, "Aku serius Geonevan dan aku gak suka dengan kebohongan seperti ini! lebih baik kamu jujur daripada berkata manis tapi nyatanya hanya pemanis yang kamu rekayasa!!!" Shasyania langsung melepas jeratan tangan Nevan, lalu ia memberi jarak diantara mereka berdua, "mulut kamu terlalu manis Geonevan, hingga ucapanmu juga tak kalah manisnya!" sungutnya lebih kesal.
"Lohh... sayang, bukan begitu heii, lihat sini dulu... sayaaaang...."
Shasyania berbalik kearah Nevan dengan tatapan tidak ramah, "Bukan begitu apa? mau ngaku kalau yang tadi itu cuma bohong? ck! benar-benar yaa!!!"
Glek!
Jakun Nevan terlihat menurun, ia menelan ludah akibat terkejut, "Kenapa seperti ini? kenapa Shasyania marah?" ohh tidak... ini bahkan lebih menakutkan dari amarahnya Mommy!" batin Nevan.
"Sayang dengerin dulu, bahkan yaa... saat itu aku sebenarnya menahan diriku mati-matian! maksudnya aku gak sengaja bereaksi seperti itu yank! Iyaaa gak sengaja! aku hanya berusaha untuk membentengi diri! Dan percayalah... itu bukan pertama kali aku melihatmu yank! Ka...kamu masih ingat dengan kisah cinta kedua aku? yaaa kisah itu!! yang aku bilang semua murni kesalahanku? iyaa benar kisah itu! Aku kecewa berpikir jika kamu datang hanya untuk memanfaatkan posisiku sebagai keluarga Eldione. Kamu tahukan betapa enggak sukanya aku dengan rasa dimanfaatkan, aku takut dengan kata dimanfaatkan yank, makanya reaksi ku seperti itu!"
"Iyaa awalnya, tapi sekarang enggak lagi sayang, Aku minta maaf jika itu melukai mu, tapi tolong jangan seperti ini...."
Shasyania tampak larut dalam kegelisahannya, "Berpikirlah yang jernih Shasyania jangan biarkan emosimu mengambil alih semua, mungkin karena Geonevan belum mengetahui peristiwa dibalik semuanya! Iyaa pasti begitu," batinnya, yang masih berusaha untuk tidak berprasangka buruk.
"Apa kamu tahu jika Ayahku berkerja untuk keluarga Eldione?
Nevan terjebak dalam ketakutannya, "Oh tidak! bahkan sampai sekarang aku tidak berani membahas tentang Paman Danes, tapi jika aku mengelak dari pertanyaan ini, maka sama saja situasi akan lebih tak terkendali lagi! Aku harus menyelesaikannya!"
"Iyaaa, aku tahu! bahkan aku mengenal Paman Danes!"
"Mengenal?"
"Kami cukup dekat, Ayahmu selalu menemaniku berkeliling."
"Jadi yang diceritakan Ayah itu Geonevan?"
Flashback on....
"Shasyania puteri tercantik Ayah!! Satu-satunya anak gadis tercantik yang pernah Ayah lihat, selamat ulang tahun yaa sayang... Ayah sangat menyayangimu!"
"Ohh iyaa Sha, ini juga hadiah untukmu...."
"Wah Ayah, banyak sekali hadiah untuk Shasya. Hadiah yang tadi Ayah kasih aja sudah lebih dari cukup Yah!"
"Yang ini dari majikan Ayah, dia ngucapin selamat ulangtahun, dan ini titipan hadiah untuk kamu nak...."
"Majikan?"
"Iyaa, akhir-akhir ini Ayah selalu menemaninya, kami bercerita banyak hal, termasuk ulang tahun putri Ayah ahahaa. Dia tampan sekali...."
Flashback off....
"Jadi yang dimaksud Ayah benar-benar Geonevan? Tidak! bahkan setelah mengenal Ayahku dia bisa berprasangka seperti itu! Apa-apaan ini Geonevan? Ayah sering bercerita banyak hal tentang kedekatannya denganmu! tapi kenapa? apa karena Ayah ku hanya seorang supir? dan setelah mendengar pertunangan itu membuat harga dirimu terluka? tega sekali kamu menuduh kami!"
Rasa tak percaya dengan segala prasangka buruk dalam dirinya mulai mengambil alih pikiran Shasyania, hingga manik matanya bergetar, "Apa kamu juga tahu tentang kecelakaan yang...," Shasyania tak mampu melanjutkan ucapannya, dan ia sengaja membuang muka kearah samping membelakangi Nevan, rasanya tak sanggup untuknya melanjutkan perdebatan yang akan menyakiti hatinya tersebut.
"Aku tahu, aku tahu tentang hal itu! bahkan sebelum jamuan makan malam berlangsung! Aku mendengar semuanya saat aku baru sampai rumah, setelah perjalanan jauhku dari Paris!" ucap Nevan, ia tahu kemana arah dari pertanyaan tersebut, "yaank?"
Meskipun membelakanginya namun Nevan tahu Shasyania tengah menyeka air mata, punggungnya pun terlihat bergetar hingga sejurus kemudian gadis itu kembali membalikkan badan, "Bahkan setelah kamu mengetahuinya, tapi kamu masih tetap berpikir seperti itu? kamu pikir aku dan Ibuku sengaja memanfaatkan musibah yang kami alami begitu? kamu pik... aaaaahh, kamu pikir setelah kehilangan sosok Ayah maka kami bisa berencana untuk memanfaatkan keluargamu? Aku sadar, aku sangat-sangat sadar jika status sosial kami memang jauh dibawah mu Geonevan, tapi bukan berarti kami akan menghalalkan segala cara, termasuk membuat kematian Ayahku sebagai alasan untukku menjerat keluarga mu! KAMI TIDAK SERENDAH ITU GEONEVAN!!!"
Bentakan Shasyania itu membuat Nevan tersulut untuk membela diri.
"AKU HANYA TAKUT DIMANFAATKAN SHASYANIA, APA KAMU MENGERTI? jadi apa salahnya dari reaksiku itu haah? terlebih lagi saat aku mengetahui jika kamu putrinya Paman Danes! PIKIRANKU KACAU!!!"
Dan jawaban Nevan semakin mematik amarah Shasyania, ia menangkap maksud lain dari setiap ucapan tersebut, hingga membuatnya semakin larut dalam perselisihan mereka, "Baiklah, maka sekarang juga.... Jagalah hartamu sebaik mungkin Geonevan! dan tolong jangan lagi libatkan aku dalam hidupmu!!!" derai air mata terus menetes dari mata Shasyania, ia kini menatap hampa sosok dihadapannya.
Greb!
Nevan memegang lengan itu begitu erat, rahangnya mengeras, "SHASYANIA APA YANG BARUSAN KAMU KATAKAN HAAH?" bentaknya lagi.
"LEPAS! aku mau keluar! aku mohon buka pintunya!!!" sergahnya, "serendah itu kamu berpikir tentang keluarga ku Geonevan, bahkan sekarang aku mulai mempertanyakan tentang sikapmu yang tiba-tiba berubah! LEPAASSS!!!"
"Ohh... jadi sekarang kamu malah meragukan perasanku? kamu pikir aku bersandiwara? TIDAK! Kenapa reaksi mu jadi berlebihan seperti ini Shasyania? arah pembicaraan mu juga menyimpang ke mana-mana!" tegas Nevan dengan suaranya yang meninggi.
"Berlebihan katamu? bahkan setelah aku kehilangan Ayahku, kamu masih bisa berpikir yang tidak-tidak terhadap kami! jadi apa yang bisa aku harapkan dari sosok seperti itu? Kamu juga tega mengancam ku menggunakan Ibu! kamu anggap itu berlebihan? Ji... jika saja Ayahku tidak bekerja di sana maka mungkin saja dia masih hidup sampai sekarang!"
"Itu musibah Shasyania! hal yang tak bisa kita hindari! jadi stop membahasnya!! ini akan semakin memperkeruh suasana!!!"
"Egois! kamu pikir aku rela kehilangan Ayahku haah? kamu pikir aku rela kehilangan sosok penting dalam hidupku hanya untuk menjadi pendamping mu? sedikitpun tidak Geonevan!!! Jika kamu tahu... bahkan waktu itu rasanya aku tidak memiliki ruang untukku bernafas lega!!! Aku dituntut tanpa memiliki celah untuk menolak! Aku diam bukan berarti aku setuju, aku diam karena aku takut! IYAAA KARENA AKU TAKUT GEONEVAN! aku takut untuk menyuarakan pendapatku yang mungkin saja membuat Ibuku semakin terpuruk! bahkan dalam mimpi pun aku takut! aku harus membiasakan diri untuk situasi baru!!! Dan jika sekarang aku memiliki pilihan untuk membuat Ayahku kembali, maka aku lebih memilih hal itu daripada aku harus BERTUNANGAN DENGANMU!!!"
Braaak!
Nevan memukul keras dasboard mobilnya dengan tatapan mendelik, ia meluapkan amarah bahkan tangannya sampai mengeluarkan darah, dan di saat bersamaan smartphone miliknya berdering menandakan sebuah panggilan masuk.
Drrrtt!
Drrrtt!
.
.
Drrrrtt!