
"Selamat sore Nyonya," sambut para pelayan sembari menunduk hormat.
"Iya sore," sahut seorang wanita berpenampilan glamor seraya tersenyum jail, "yang rajin kalian kerjanya jangan makan gaji buta!" Perkataan yang membuatnya tertawa cekikikan namun di telinga para pelayan itu bagaikan sebuah peringatan keras hingga mereka bergidik ngeri.
Postur tubuh layaknya model, rambut panjang menjuntai dengan model classic waves sungguh sangat elegan dengan apapun yang ia kenakan, bahkan kerutan di wajahnya tak terlihat sedikitpun meski usianya sudah menginjak kepala Empat. Wajahnya yang cantik alami tanpa oplas sana sini mampu membuat Ibu-ibu tukang gosip menatap iri hingga berakhir ketar-ketir menjaga suami mereka agar tidak khilaf secara sengaja.
"Nevan sudah pulang?"
"Sudah Nyonya, Tiga Puluh menit yang lalu, dan sekarang Tuan Muda sedang berada di kamarnya," jawab tegas Monika yang merupakan Kepala pelayan di kediaman utama keluarga Eldione.
Zivana menaikkan sebelah alisnya, "Benarkan Tiga Puluh menit yang lalu? hitungan mu sudah akurat?" seperti di interogasi hingga keringat dingin mulai muncul di pori-pori wajahnya.
"Bu...butuh Nyonya."
"Butuh?"
"Ehh maaf Nyonya maksud saya betuh!" rasa grogi semakin meningkat, apalagi saat kedua bola mata Zivana masih menatapnya tajam, "maaf Nyonya... betul! ia betul! maksud saya betul Nyonya!" tegas Monika begitu bersemangat.
"Baiklah!" jawab Zivana enteng lalu ia membalikkan badan kearah tangga, "ohh iyaa..., buatkan saya jus pomegranate! Betulkan Monika?"
"Betul Nyonya!"
"Apanya yang betul?"
"Membuatkan Nyonya jus pomgranat!"
"Pom apa? Granat? kamu mau meledakkan saya Monika?"
Menjahili Monika adalah salah satu kesukaan Zivana. Ia tahu Kepala pelayan itu memiliki rasa grogi yang berlebihan hingga membuat pikiran Monika seketika bingung dan menjadi pelupa.
"Maaf Nyonya maaf...."
"Saya tahu kamu pasti mengerti dengan apa yang saya maksud, jadi bawakan secepatnya!"
"Tentu saja Nyonya!" semakin Zivana menjauh dari jarak pandang Monika maka semakin lancar sistem peredaran darah dalam tubuhnya, hingga ia mampu menyalurkan oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh kemudian menghasilkan karbondioksida yang di keluarkan dari setiap hembusan nafasnya, "huuuuuuuhhhh!" seperti seekor naga menyemburkan api begitulah Monika mengeluarkan CO2 nya.
"Nih minum dulu!" pinta Murti yang langsung menyodorkan segelas air putih.
"Delima! iya buah delima! Nyonya menginginkan jus itu!" serunya yang membuat Murti kaget, "saya ini pintar loh! bahkan kalian tahukan saya ini lulusan perguruan tinggi! Tapi kenapa setiap saya berhadapan dengan Nyonya selalu saja seperti orang bodoh! sesal Monika, ia begitu malu karena terus bersikap linglung.
"Iyaa kami tahu dan kami sangat paham kenapa kamu bisa begitu! hal itu biasa terjadi ketika kamu merasa tegang! makanya lain kali kontrol diri!" sentak Murti.
"Iya! lain kali saya harus menunjukkan kepintaran saya! jangan sampai Nyonya berpikir untuk menggantikan posisi saya!" pungkasnya dengan kepalan tangan di udara.
Tok!
Tok!
Tok!
Belum sempat laki-laki di dalam sana bersuara tunggu, tiba-tiba pintu kamarnya sudah terbuka lebar.
"MOMMY...!" Nevan terperanjat kaget ketika Zivana menerobos masuk, sedangkan keadaan Nevan saat itu hanya mengenakan kolor berwarna hijau.
"Apa sih sayang kamu bikin Mommy kaget saja!"
"Yang berhak kaget itu aku bukannya Mommy!"
"Kenapa kamu kaget?" tanpa rasa bersalah Zivana merebahkan bokongnya di kursi gaming berwarna keemasan tersebut.
"YAA KARENA AKU BELUM SIAP! AKU HANYA MEMAKAI KOLOR MOM! DAN MOMMY TIBA-TIBA MASUK TANPA DIUNDANG!" protesnya dari balik walk in closet.
Zivana terkekeh mendengar jawaban putranya, "Ohh jadi kamu merasa malu nih? Anak Mommy sudah besar ya?"
Nevan yang sudah terlihat dari radar pandangan Zivana hanya menatap malas, ia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan klasik yang keluar dari mulut Mommy nya.
"Kenapa kamu malu sayang? tubuh kamu sangat bagus loh! bahkan Daddy mu saja tidak seHOT itu saat seusia mu!"
"Mom stop it! dan langsung saja katakan alasan di balik kedatangan Mommy sekarang!"
Zivana berdecak bibir, "Apa harus ada alasan untuk seorang Ibu menemui anaknya?"
Untuk kesekian kalinya Nevan mengeluarkan tatapan malas, bahkan ia sampai menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tak gatal, "Kotak yang Mom bawa sudah mengisyaratkan jika ada alasan terselubung dari kedatangan Mommy ke sini," tunjuk laki-laki itu pada paper bag yang berisi kotak dengan ukiran NJL.
Tebakan dari putranya membuat Zivana tersenyum sumringah, "Kepintaran anak Mommy memang tidak bisa di ragukan lagi!" ungkapnya yang terkesan seperti sebuah pujian, namun sepersekian detik kemudian, "tapi baru-baru ini Mommy mendapat kabar jika anak kesayangan Mommy mulai mendapatkan saingan! apa betul Nevan? Dan Mommy rasa itu hal yang bagus setidaknya dengan kamu memiliki saingan maka itu akan membuat kamu menjadi orang yang lebih waspada dan tentunya lebih teliti!"
Tampaknya hasil ulangan minggu lalu juga di kirim Pak Gunar ke Zivana hingga wanita itu membahasnya sekarang.
"Mom aku masih menunggu jawaban atas pertanyaan ku! dan jangan menumpuk pertanyaan di atas pertanyaan! apalagi jika Mommy sudah mengetahui jawabannya!" tekan Nevan, laki-laki itu terlihat berjalan kearah pintu, karena dari arah luar terdengar sebuah ketokan.
"Bawa sini Bik!" seru Zivana, "Monika sudah tenang?"
"Sudah Nyonya."
"Mmmhh baiklah. Dan yaa..., katakan padanya jika saya akan mengetes kemampuannya!" perintah yang langsung di balas anggukan kepala, hingga Zivana langsung mengisyaratkan Murti untuk keluar dengan gerakan tangan.
Wanita itu benar-benar sedang membutuhkan hiburan sampai niatnya kembali muncul untuk mengerjai Monika.
Suasana kembali hening, Nevan yang masih menunggu jawaban terlihat duduk tegap dengan kedua tangan bertumpu di paha.
"Kamu itu yaa sama Mommy sendiri aja serius begitu apalagi sama orang lain! Kapan kamu bisa santai?" celotehnya yang di selipkan sedikit ceramah, "baiklah...baiklah kamu benar sayang, Mommy kesini dengan suatu alasan dan Mommy yakin kamu pasti tahu..., karena nanti malam merupakan peresmian dari rancangan terbaru Mommy! Mommy mau kamu ikut serta meramaikan acara tersebut dan ini adalah setelan yang sudah Mommy siapkan untukmu," jelas Zivana seraya menjulurkan paper bag kepada Nevan.
"Dan ya nanti malam Mommy jemput, kita akan berangkat bersama Daddy!"
Nevan hanya terdiam karena sudah pasti ia tidak bisa menolak apalagi ia tidak memiliki alasan yang cukup kuat.
"Jawab Nevan jangan hanya diam!" keluh Zivana.
"Aku pasti ikut Mom."
"Bagus..., dan sekarang Mommy masih memiliki Dua jam untuk beristirahat! jadi mari kita bermain vidio game!" serunya, "Mommy yakin sekarang dapat mengalahkan mu! karena Daddy sudah mengajari Mommy semalaman!"
"Mommy pasti memaksa Daddy!"
"Sembarangan kamu! Daddy mu itu sangat mencintai Mommy jadi tidak ada pemaksaan di antara kami!"
"Apa Mommy mengalahkan Daddy?"
"Tentu saja! bahkan secara beruntun dengan kemenangan K.O!"
"Daddy pasti sengaja mengalah!"
"Jaga ucapan mu Nevan! Mommy mu ini tidak selemah itu!"
"Iya tetapi Daddy yang selemah itu karena cinta!"
"Mulutmu pedas sekali ya?"
"Turunan, Mom."
"Benar! gen Mommy lebih dominan daripada Daddy!"
"Aku mengatakan turunan Mom untuk menjelaskan jika ini memang benar terjadi karena faktor keturunan tapi aku tidak sepenuhnya mengatakan jika ini mutlak turunan dari Mommy saja!"
"Jangan buat Mommy mu pusing! sudah kita mulai saja!"
"Jika Mom kalah maka aku akan mendapat apapun yang aku minta! setuju?"
"Apa yang kamu minta sayang?"
"Nanti akan aku katakan setelah permainan selesai!"
"Kamu pasti pesimis untuk menang yakan?"
"Tidak!"
"Kalau begitu katakan saja! toh juga Mommy bakalan tahu!"
"Bersikap jumawa tidak baik!"
"Tapi kamu sering bersikap seperti itu Nevan!"
"Come on mom! jika kita terus berbicara maka permainannya akan terganggu!"
"Jangan serius-serius kali ah ini hanya permainan!" Zivana terus memancing kekesalan putranya, karena melihat Nevan seperti ini merupakan salah satu yang menyejukkan hatinya.
"Jangan memainkan rambutku Mom!"
"Rambutmu lebat sekali ya..., gimana kalau sekali-kali kita gundul?"
"Jangan bercanda!"
"Mommy serius!"
*terimakasih untuk segala bentuk dukungan dari para pembaca, dukungan kalian sangat berpengaruh dalam cerita ini, sekali lagi makasii yaa😊*