Mine ?

Mine ?
35 : Sebuah hukuman



Shasyania berdiri sendiri di tempat yang begitu sunyi. Kabut di depan sana mulai terkikis hingga memperlihatkan Satu sosok yang terlihat berdiri tegap membelakanginya. Gadis itu berniat mendekat dan ingin bertanya di mana gerangan ia berada sekarang.


Belum sempat Shasyania menyentuh dan bertanya, punggung itu tiba-tiba berbalik menghadapnya, "MENJAUH LO! SATU LANGKAH LAGI MENDEKAT MAKA IBU LO AKAN SEMAKIN MENDERITA! LO PIKIR ANCAMAN GUE HANYA OMONG KOSONG? LIHAT ITU!" perintahnya seraya menunjuk wanita paruh baya yang tengah di terikat di sebuah pohon besar.


"Ibuuuuuu!" Shasyania ingin berlari menyelamatkan Liliana namun kakinya seperti terikat kuat, semua tenaga sudah ia kerahkan tapi hasilnya tetap sama kakinya bahkan tak beranjak sedikitpun.


"Aku mohon Geonevan lepaskan Ibuku..., dia tidak bersalah jangan libatkan dia..., aku mohon...," penuh pengharapan Shasyania memohon di hadapan laki-laki yang semakin menatapnya penuh cemooh.


"Lo pikir gue bakalan mengampuni lo? TIDAK! semua sudah terlambat!" suara bentakan yang di susul dengan dorongan tangan itu mengakibatkan tubuh Shasyania terjerumus ke dasar jurang yang gelap.


"TIDAAAAAKK!"


.


.


.


.


.


.


JGEEEEEERRRRR!


Rasa nyelekit menghantam dada hingga detak jantung berdenyut tak beraturan terasa begitu nyata, hingga suara guntur menolongnya untuk terbangun dari mimpi buruk yang beberapa hari ini selalu menghantuinya dengan perasaan mencekam, cemas dan berujung ketakutan.


"Ahhh...aaah...aahh," nafasnya masih terengah-engah, butiran-butiran keringat mulai menetes dari dahi menuju leher, "semua hanya mimpi," gumamnya yang semakin sadar jika itu benar-benar hanya sebuah bunga tidur.


Masih terbaring menetralkan kondisi hingga berpikir segelas air akan mampu membuatnya lebih tenang, dan saat satu kaki Shasyania menjulur kebawah ia merasakan keanehan, ubin kamarnya terasa lebih meninggi dan tak sekeras biasanya.


Kedua bola mata Shasyania membulat tidak percaya dengan apa yang ia saksikan sekarang. Ada seseorang di bawah sana yang sedang tergeletak tidak sadarkan diri.


Saat pandangannya menyelidik tajam saat itu juga kepingan-kepingan puzzle mulai tersusun rapi di dalam memori otaknya. Ia sudah mengingat semuanya.


"Geonevan"


Sang empunya tubuh seperti sadar jika ia sedang di panggil namun tubuh itu hanya bergerak sedikit untuk memperbaiki posisi tidurnya. Begitu nyenyak padahal ia tidak menggunakan alas tidur.


Laki-laki yang biasanya terlihat selalu berada di atas dalam segala sisi sekarang justru terlihat di bawah dan tampak sangat menikmati suasana tersebut tanpa rasa jijik sedikitpun. laki-laki yang begitu terlihat angkuh dan pemarah sekarang menjelma sebagai sosok yang begitu lemah dengan mata tertutup.


Dan sekarang bukan waktunya untuk melihat kelemahan Geonevan. Mari kembali lagi pada sosok Shasyania. Gadis itu yakin betul kemarin ia meninggalkan Nevan di ruang tamu namun kenapa sekarang laki-laki itu malah berada di dalam kamarnya?


Tak!


Satu tepukan jidat mendarat di dahi Shasyania. Jangan suudzon dulu karena bukan Geonevan pelakunya, laki-laki itu masih terlelap nyenyak.


"Ya aku ingat kemarin aku meninggalkannya begitu saja di ruang tamu tanpa memberinya bantal dan bahkan tidak memberinya selimut! pantas saja dia kesini pasti dinginnya malam menusuk tulangnya dan serangan nyamuk mengusik tidurnya!" lirih Shasyania menerka-nerka.


Damai satu kata yang bisa menggambarkan wajah Nevan saat ini. Laki-laki yang biasanya hanya memperlihatkan wajah kesalnya pada Shasyania sekarang terlihat begitu berbeda.


"Tidak...tidak bukan hanya wajahnya yang terlihat berbeda namun tingkah lakunya juga berbeda kemarin!" Lebih tepatnya saat Nevan menjelma sebagai sosok pahlawan yang tiba-tiba muncul saat Shasyania kehilangan harapan untuk selamat.


Cukup lama gadis itu berkutat dengan pemikirannya tentang Nevan sampai akhirnya rasa kantuk mulai menyerangnya kembali dan membuat ia terpejam di tepi kasur.


...----------------...


"Di mana dia?"


"Sepuluh menit yang lalu ada seorang Ibu-ibu yang mencari keberadaan Nona, katanya dia perlu bantuan Nona untuk membuat anak-anaknya mau bersekolah Tuan muda," jelas seorang pelayan yang sengaja di utus Nevan untuk membawakan segala keperluannya.


"Pertolongan macam apa itu!" gumamnya, "aku akan mandi dan siapkan sarapanku di sini!"


"Baik Tuan muda."


Cukup lama Nevan memberikan diri, meskipun kondisi kamar mandi itu sangat berbeda dengan apa yang ia miliki di dalam rumahnya namun tidak sedikitpun membuat laki-laki itu kesulitan. Keadaan ini jauh lebih mendingan daripada saat ia memberikan diri di sungai atau saat ia meminjam WC umum warga ketika sedang menjalani salah satu hobinya yaitu menjelajahi alam bebas.


"Dia belum balik juga?" tanya Nevan yang sudah terlihat rapi menggunakan seragam sekolah.


Mendengar itu Nevan hanya mengangguk-angguk paham seraya menyendok oatmeal dengan topping buah-buahan yang menjadi menu sarapannya di pagi hari.


Pukul 06.30 pagi, seperti biasa Nevan menjadi orang pertama yang memarkirkan mobil mewahnya di kawasan SMA GUARDIANS. Sama seperti hari biasa juga, suasana koridor itu masih sangat sepi hingga langkah kaki itu memasuki ruangan kelas dan menampakkan seseorang gadis yang sudah duduk manis di bangku nomer Dua di sebelah Utara.


Perlahan-lahan suasana sepi itu mulai sirna tergantikan dengan suara-suara bising dari beberapa murid yang mulai meramaikan kelas.


"SHAASYAAA...!" suara lantang Dariel mengentikan mulut Nita yang berniat untuk mengucapkan hal yang sama, "gue denger kemarin lo sama Gemmi di serang! Lo baik-baik aja kan? bisa lo ceritain gimana awal mulanya? gue bener-bener penasaran!" pertanyaan menggebu-gebu terus meluncur dari mulut Dariel itu menandakan betapa rasa ingin tahu menyeruak masuk ke dalam dirinya.


"Aku baik-baik aja dan kejadian kemarin begitu cepat terjadi sampai sekarang rasanya masih tidak percaya."


"Gemmi seperti sosok pahlawan! Dia rela menjadi samsak demi menyelamatkan lo Sha! gue salut sama dia!" puji Ririn, tidak kalah hebohnya.


"Gue malah mikir dia itu BEGO!" cetus Nita yang langsung di setujui oleh Dariel, "ngapain dia isi keluar dari mobil? harusnya dia tetep di dalem sana atau kabur kek atau minta bantuan kek! bukannya malah sok jago!"


"Bukan seperti itu Nit!" ralat Shasyania, "pertama mobil Gemmi terlebih dahulu di tabrak dari arah samping dan untungnya Gemmi masih mampu mengendalikan mobil tersebut walaupun harus kembali terbentur di pembatas jalan, dan efek dari benturan-benturan itu mengakibatkan mobilnya mati! dan kita gak minta bantuan lewat telephon karena posisi handphone kita sama-sama mati terus alasan kenapa Gemmi sampai keluar karena orang-orang itu mengancam akan membakar kita hidup-hidup."


Penjelasan Shasyania membuat para pendengar menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.


"OMG! gue berdosa banget nyalahin Gemmi, mana gue udah memaki-maki dia dari tadi pagi lagi! Gue tarik ucapan gue dan gue juga setuju jika Gemmi adalah sosok pahlawan!" seru Nita.


"Begitulah peran netizen menyimpulkan terlebih dahulu sebelum tahu fakta yang sebenarnya seperti apa! dan pas ketahuan salah ya hanya berlagak bego aja!" sindir Wilkan.


"Shaa..., lo tahu orang-orang yang nyerang lo kemarin siapa?" tanya Dariel.


"Mungkin komplotan begal!"


Dariel memalingkan pandangannya kearah Wilkan dan Miko, "Apa ini penyerangan antar Geng?"


"Bukan!" sahut Dua laki-laki itu secara bersamaan, "dan tadi pagi gue udah dapet kabar jika Gemmi udah siuman, Ketua Geng gue itu emang tahan banting!" imbuh Miko penuh kebanggaan.


"Kita jenguk Gemmi pas pulang sekolah ya?" ajak Ririn.


"Gue setuju! gue yakin Gemmi pasti kesepian!" cetus Nita.


"Ehh sembarangan lo ngomong! Mana mungkin Ketua Geng PS kesepian! anggota kita bakal ramai-ramai jenguk dia!" bentak Miko, ia tidak terima jika ada yang meragukan solidaritas yang terjalin erat di dalam Gengnya.


"Iyaa...ya gue tarik kembali ucapan gue! Gemmi mungkin gak kesepian tapi bisa aja dia malah kebisingan!" sahut Nita dengan mimik muka nyengir penuh ejekan.


"Sudah-sudah kita duduk di bangku masing-masing! bel udah bunyi tuh!" tukas Ririn.


"Van kemarin lo baik-baik aja kan?" tanya Eron.


"Iya."


"Maaf kemarin gue gak ngabarin lo habisnya setelah gue bawa Gemmi ke Rumah Sakit, keluarganya minta tolong agar gue mau jadi saksi di kantor polisi."


"Iya santai aja."


...----------------...


Jam pelajaran berlangsung dan terlihat Pak Damar menjelaskan materi mengunakan power point. Badannya menghadap kearah papan tulis dengan tangan sibuk memberi tanda dan menjelaskan cara untuk menyelesaikan soal.


"WAH...WAH KELIHATANYA ADA YANG ASIK TIDUR! DI PIKIR BAPAK SEDANG MENDONGENG KALI YA!" Sindiran Pak Damar sukses membuat para murid mengedarkan pandangan mereka untuk mencari siapa yang tengah Guru itu maksud.


Setelah Pak Damar mengetahui nama murid tersebut, ia langsung menarik nafas agar suaranya terdengar lebih keras.


"Sial kenapa har__," lirihan Nita terpotong karena suara Pak Damar sudah mulai terdengar.


"GEONEVAN! SHASYANIA!"


Sang pemilik nama langsung terbangun dari tidur nyenyak nya.


"KALIAN PIKIR INI HOTEL? KELUAR KALIAN DARI KELAS BAPAK! DAN BERDIRI HORMAT DI LAPANGAN UPACARA SAMPAI JAM PELAJARAN INI SELESAI!"


Kedua tersangka itu menurut patuh, mereka sadar betul akan kesalahan yang mereka perbuat hingga berlapang dada menerima sebuah hukuman. Dan di sinilah mereka sekarang berdiri tegap dengan ujung jari menempel di pelipis. Tanpa interaksi namun kedua orang itu sama-sama tersenyum simpul.