Mine ?

Mine ?
115 : Tanda tanya?



"Aaaaaa.. satu sendok lagi...."


"Yank...," protesnya, sembari menggeleng kepala sebagai tanda penolakan.


"Ini yang terakhir sayang, jadi.... Aaaaaaaa!"


Nevan tidak langsung percaya, oleh sebab itu ia memiringkan pandangannya kesamping untuk melirik isi mangkuk yang sengaja di sembunyikan oleh Shasyania, hingga sejurus kemudian laki-laki itu memicingkan mata ketika menatap lekat gadis dihadapannya.


"Ini udah yang kesepuluh kalinya.. dan kamu selalu mengulangi kalimat yang sama, sayaaang!"


"Kamu hitung?"


"Iyaaaa."


"Issshh... tapi kali ini beneran kok.. nihh liat aja.. cuma sisa satu suap lagi... benarkan? jadi ayo cepetan buka mulutnya!"


Dengan tatapan maut Nevan mengunci pandangan mereka, bahkan tidak hanya itu, kini salah satu tangannya sudah bergerak mengait di pinggang Shasyania. Ia menarik gadis itu lebih mendekat hingga hampir saja kedua wajah mereka berbenturan.


Srrrt!


"Kalau suapan ini masuk ke mulutku, emmm.. setelahnya aku dapat apa dong?" pancingnya, sambil menaikan sebelah alis, dan hal tersebut sukses mengahasilkan ekspresi kikuk yang terpancar dari wajah Shasyania.


"Hmmm.. ituu... yaaa tentu saja asupan gizi dalam tubuh kamu jadi tercukupi, biar gak lemes lagi...."


Nevan tersentak karena tidak terima, hingga membuatnya langsung meluncurkan segala protes yang sudah tersusun di dalam otaknya, "Lemes? Waaaahh... gak bisa dibiarin nih pemikiran seperti ini! bahkan yaaa yank, aku masih sanggup untuk menggendong kamu keliling rumah sakit! Sepuluh kali? itu gampang!! Dan ini... nih! ini hanya luka biasa sayaang, jahitannya pun gak seberapa!" paparnya, sembari menyingkap baju untuk memperlihatkan area yang terluka.


Seketika itu Shasyania dibuat gemas, karena tidak hanya dengan suara namun Nevan juga menjelaskannya dibarengi gerakan tubuh, saking gemasnya hingga membuat Shasyania langsung menjulurkan tangannya untuk menangkup pipi Nevan, bahkan ia juga menekan-nekan pipi laki-laki itu hingga bibir Nevan mengerucut ke depan.


"Iiyum...."


Shasyania mengerti arti dari ucapan tersebut, namun ia justru menjawabnya dengan menggeleng kepala, lalu kembali melanjutkan aksinya dengan mencubit pipi Nevan.


"Aturannya itu di cium sayang, bukannya dicubit-cubit begini!"


"Memangnya gak boleh?"


"Bukan begitu, tapi aku lebih suka jika kamu...."


Cup!


"Seperti itu!" jelasnnya, saat Nevan berhasil mengecup bibir Shasyania.


"Iyaaa sayang iyaa, tapi sekarang makan dulu!"


Wajah sumringah Nevan tiba-tiba berganti cemberut, bahkan dibarengi gerakan tangan yang bergegas menutupi mulut, "Cukup yank, cukup.. perut aku rasanya mau meledak...."


"Gak bisa gitu! ini pokoknya harus habis, titik! cuma tinggal satu suap lagi jugaan! Biar kamu kuat!"


"Biar kuat?" tekannya di kata terakhir dengan ekspresi yang diabuat- buat marah, "wahhh... bahkan sekarang kamu juga meragukan kemampuan aku, yank?"


Menyadari sebuah kejahilan yang sebentar lagi akan dilancarkan Nevan, membuat Shasyania langsung membungkukkan badan, sebisa mungkin ia berusaha untuk menghindar dari gelitikan Nevan, "Upssss ampun... maaf.. ahaha maaf atas kelancangan hamba yang sudah meragukan kemampuan Tuan Baginda.... Sang Raja hutan belantara ahahaha!"


"Wow okeee!! kamu yang memulainya sayang! maka tidak akan ada kata ampun! dan bersiaplah menerima hukuman dari penguasa hutan. Dan inilah kekuatan setrum listrik manual dari jari tangan sang Raja," sahutnya, bersama gerakan jari yang sudah menggerayangi di area pinggang Shasyania.


"Ahahahaa sayang stop... stop! Atau aku akan mengadukan ini pada Nyitnyit, dan kembali bersekutu dengannya! Kamu akan kalah seperti dulu Vanvan ahahahaa!"


Deg!


Seluruh perhatian Nevan semakin terpusat pada gadis dihadapannya itu. Ia seperti tersihir ketika melihat Shasyania tertawa lepas, bahkan dirasanya kebahagian dunia telah berada dalam genggaman tangannya.


Dan lebih dari apapun, Nevan ingin selalu menyayangi Shasyania, menghilangkan segala kesedihan dan hanya akan memberinya sejuta tawa, hingga tangannya yang sedari tadi sibuk menggelitik kini ia naikkan ke atas untuk meraih tengkuk leher Shasyania.


Cup!


"Kamu mengingat semuanya?"


"Umm.. tentu saja! kenangan itu akan terus melekat dalam ingatanku! Suara-suara mu dulu.. masih jelas teringat! Dan suara itu pula yang selalu terngiang-ngiang di pikiranku, terlebih lagi saat aku berada dalam masalah, maka suaramu akan muncul untuk meyakinkan hatiku jika semuanya akan baik-baik saja! Membuatku lebih tenang, dan merasa nyaman," lirih Shasyania, dengan suara yang perlahan menghilang.


"Bahkan dari dulu sampai sekarang... kamu selalu menjadi pahlawan untukku Geonevan! Aku begitu lega karena kini aku bisa mencurahkan segala perasaanku padamu, menggenggam dan memelukmu kapanpun aku mau, tapi.. andaikan saja aku menyadarinya lebih awal, jika sosok Vanvan adalah dirimu, mungkin akan lebih indah jadinya...."


"Heii... jangan menunduk, biarkan aku menghapus air matamu yank," pinta Nevan, seraya menaikkan dagu Shasyania, "liat aku.... Yaaa, awalnya aku pun berpikir begitu, sama sepertimu.. tapi sekarang mari kita coba untuk berpikir dari sudut yang berbeda, oke?" ajaknya, dengan suara yang begitu menyejukkan.


"Mhhhh.. memang, di posisi seperti sekarang ini.. di saat kita sama-sama tahu, rasanya akan mudah sekali bukan jika rahasia itu terbongkar? dengan berbagai skenario yang mulai kita bayangkan, kamu yang bukan Zia, dan aku yang ternyata Vanvan, tapi sayang... sebelumnya siapa yang menyangka, kerena bukankah dulu kita juga sama-sama mengenalkan diri dengan identitas berbeda. Jadi jangan lagi berandai, oke? dan sekarang mari kita belajar untuk lebih menghargai satu sama lainnya, dan menikmati setiap waktu dengan penuh kasih sayang, setuju? Yaaa, walaupun nanti.. bisa saja rasa sedih ataupun perselisihan pendapat juga sesekali terselip di hubungan kita, tapi yang jelas.. aku pastikan jika diriku akan selalu menemani mu di setiap langkah, dan aku berani berjanji untuk hal ini.. jika aku akan terus mencintaimu seumur hidupku! Percayalah!"


Shasyania mengangguk haru dengan mata terpejam, sembari menggenggam tangan Nevan yang masih menempel di pipinya.


"Seribu kali pun rasanya belum cukup untuk berucap syukur! Karena aku benar-benar bahagia ketika mengetahui jika gadis yang begitu aku cintai ini.. dia adalah gadis yang sama, yang dulu menjadi sahabat kecilku. Seakan takdir telah mengikat kita untuk bersama.. berpisah lalu bertemu! Aaahhh bahkan di setiap detiknya terasa berharga yank! Katakanlah aku gombal, tapi aku hanya ingin menjelaskan rasaku lewat kata-kata! Aku begitu mencintaimu Dinesclara Shasyania, dan akan terus mencintaimu...."


Alunan kata tersebut seperti mendayu-dayu indah di telinga Shasyania, ia merasa begitu diinginkan dengan cara termanis yang dilakukan oleh Nevan, karena tidak hanya sekedar ucapan laki-laki itu juga memperlihatkannya lewat tindakan.


"Kata-kata mu teramat manis Geonevan... dan aku suka."


Nevan menaikkan sebelah alisnya, bukan karena ia tidak suka dengan pujian tersebut, hanya saja Nevan tengah menunggu jawaban lainnya, namun ketika akan melayangkan protes, rona merah di wajah Shasyania membuatnya mengerti.


Menyadari jika dirinya tengah diperhatikan dalam jarak yang begitu dekat membuat gadis itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah lain, sembari berucap, "Jangan menatapku seperti ituuuuu!"


"Kenapa? aku suka!"


"Geonevaaan...."


"Kamu malu yank? mhhh baiklah, begini saja... jika kamu bingung mendeskripsikannya secara lisan, kamu bisa melakukannya dengan tindakan, sayaang," godanya, dengan arti yang tentunya sangat ia sukai.


"Iyaaa, contohnya seperti___," Nevan sengaja menjeda ucapannya, lalu melanjutkan maksud terselubungnya itu lewat isyarat dagu.


Shasyania mengerti dan sangat paham tentang maksud yang diinginkan Nevan, namun bukannya menyambut keinginan tersebut, Shasyania malah kembali mengambil mangkuk yang berada di sebelahnya, dan menyendok kembali sisa makanan itu lalu mengarahkannya ke mulut Nevan.


"Aaaaa, ini beneran yang terakhir loh, jadi ayoo buka mulutnya.... Aaaaaa!"


Hap!


Suapan itupun langsung bersarang dalam mulut Nevan, ia menguyah sambil terus menatap Shasyania.


"Yank...."


"Sekarang airnya di minum dulu...."


Lagi dan lagi Shasyania begitu telaten melayani kekasih manjanya itu, tersirat perhatian begitu tulus di setiap sentuhan yang ia berikan, hingga tak terkira lagi bagaimana Nevan harus menggambarkan kebahagiaannya.


Sampai manik matanya tidak bisa lepas dari sosok Shasyania, seluruh perhatiannya terpusat pada gadis itu, bahkan saat Shasyania tengah menaruh perabotan kotor ke atas meja troli, hingga kemudian mendorong benda tersebut untuk ditaruh diluar pintu, semuanya tak luput dari jarak pandang seorang Geonevan.


Hingga pandangan mereka kembali bertemu ketika Shasyania duduk di sisi kasur dengan kedua tangan bergerak menggantung di leher Nevan.


"Sekarang tutup matanya...."


"Emmm, kenapa harus tutup mata?" selidiknya, sembari menggesek-gesekan hidung mereka, dan aksi Nevan itu membuat Shasyania menghela napas pelan.


"Pokonya tutuuup!"


"Katakan dulu alasannya apa sayang, harus ada penjelasannya dong!"


"Hemmm... kamu mainin aku yaa?"


Bukannya menjawab Nevan justru kembali memulai aksi jahilnya dengan sengaja mengecup lembut kedua pipi Shasyania, lalu setelahnya ia berbisik, "Kenapa harus tutup mata, sayaaang?"


Pertanyaan yang terus diulang tersebut kini tidak lagi memberinya celah untuk menghindar, dan sekarang Shasyania harus berucap sesuatu yang pastinya akan membuatnya malu, "Mau nyium ini," sahutnya lirih, sambil menyentuh area bibir Nevan.


Mendapati apa yang ia inginkan membuat senyum merekah langsung terpancar, Nevan senang bukan kepalang, "Ohhh... mau nyium ini?" ucapnya enteng, seraya mengetuk-ngetuk bibir.


"Geonevaaaaan!"


Nevan begitu menikmati ekspresi kesal Shasyania, hingga tawanya lepas tanpa bisa ia tahan lagi, "Gemes banget sih kamu yank! udah cantik, pintar... puteri sekolah lagi.... Uhhh! kamu itu paket komplit sayang! Beruntungnya aku bisa dicintai oleh orang seperti mu, hari-hariku menjadi semakin berwarna dan berharga.. di setiap kali aku mengingat jika kamu itu adalah milikku!" ucapnya jujur, dan di kata terakhir Nevan mengatakannya sambil memejamkan mata.


Shasyania menjawab lewat tindakan seperti yang diinginkan Nevan, ia mulai mengecup sekilas bibir itu, sebelum akhirnya kembali menyapu lembut bibir laki-laki yang juga ikut bergerak untuk menciptakan getaran memabukkan hingga mereka sama-sama tenggelam dalam rasa yang sulit untuk dijabarkan.


Dan, di saat mata Nevan masih terpejam, lain halnya dengan Shasyania, ia perlahan terlihat membuka mata untuk merasakan betapa dekatnya kehadiran laki-laki yang teramat ia cintai itu, bahkan tangannya yang sedari tadi melingkar di leher Nevan kini beralih mengelus pipi dan sesekali bergerak untuk mencubit-cubit gemas lalu sejurus kemudian kembali mengelus lembut.


"Aku mencintaimu, Vanvan."


...----------------...



Cklek!


.


.


Blaag!


Semua mata terlihat menatap segan, ketika mereka menyadari kehadiran keluarga yang paling berpengaruh di Kota tersebut, bahkan staf dan para pekerja di rumah sakit itu langsung tergopoh-gopoh ingin menyambut kedatangan mereka penuh sukacita.


Bahkan sang Manajer yang langsung turun tangan untuk menghantar keluarga Zeiqueen menuju ruangan tempat di mana Nevan di rawat.


.


.


.


Dan meninggalkan mereka yang masih dalam perjalanan, kini di dalam ruangan terlihat Shasyania yang tengah memapah lengan Nevan menuju kamar mandi, meskipun sebenarnya laki-laki itu cukup mampu untuk berjalan sendiri, namun Nevan selalu ingin melibatkan Shasyania dalam segala urusannya.


"Gak sekalian ikut masuk yank?"


"Isssh enggak, udah sana masuk, katanya mau buang air kecil!"


"Makanya sini masuk, bantuin bukaaa___,"


"Ihhh Geonevaaaan!!!"


"Hahaha, tapi kamu jangan kemana-mana yaaa! tungguin aku!"


"Iyaaa sayang, udah sana!" ucapnya, sembari mengerakkan tangan agar Nevan segera menuntaskan sesuatu yang sudah seharusnya dikeluarkan.


Dan berselang beberapa menit ketika Shasyania menunggu, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu, yang membuat gadis itu bergegas untuk membukanya.


Cklek!


Deg!