
Nevan menghempaskan diri kebelakang jok kemudi, bahkan tangannya beberapakali terselip di antara helaian rambut, hingga sejurus kemudian menariknya dengan ekspresi kesal.
Sudut bibirnya pun memperlihatkan kegetiran yang terus-menerus menghujam dada, sampai menghasilkan rasa sesak yang berusaha ia keluarkan melalui hembusan nafas.
Tak kuasa menahan, hingga ia menelungkupkan wajah di sela-sela lipatan tangan, matanya perlahan meredup seakan memberikan jalan untuk kenangan masa lalunya menguasai diri.
Flashback: Nevan POV
"HEEEIII...! LEPASKAN DIA! ATAU KALIAN AKAN MERASAKAN LASERKU INI!" seperti potongan adegan yang baru saja ku tonton, kali ini aku mengikutinya dengan versiku sendiri, berlari kesana-kemari, melompat-lompat hingga berguling layaknya pasukan handal.
Saat berusia Enam tahun tokoh superhero menjadi kegemaranku. Kuat, tangguh, tak terkalahkan, itulah bagian terbaiknya, dan bisa memiliki koleksi terlangka mereka merupakan suatu pencapaian terbesar yang mampu membuatku tersenyum bahagia.
Untungnya aku terlahir dari keluarga Eldione, yang artinya apapun bisa kudapatkan dengan begitu mudah, tidak perlu menangis, merengek, bahkan merajuk.
Sampai diusia 11 tahun, kegemaranku itu malah semakin bersarang, namun tidak lagi dengan tingkah bocah yang harus berlari kesana-kemari mencari musuh, yang sebenarnya hanya sebuah tumpukan kardus yang sengaja ku susun sendiri.
Karena saat ini aku lebih memilih untuk menonton tanpa memperagakan aksinya, namun sialnya waktu sepuluh menitku justru terbuang sia-sia, serial hari liburku belum juga memenuhi layar kaca, malah terdapat tulisan di jeda, akibat acara sampah yang tengah berlangsung tersebut.
"Apa-apaan nih!" sungutku kesal, "sial! kenapa menyiarkan acara pembodohan!" niat hati ingin memencet tombol merah seketika terhenti, ketika ku lihat yang berdiri di sana seorang gadis seusiaku dengan bagian mata tertutup poni.
Jelas! dan jelas, aku tahu siapa dia! Namun bukan berarti aku penggemarnya, itu karena dia selalu saja berhasil menjadi buah bibir di manapun aku berada.
"Cih, idola seperti ini?" entah kenapa meskipun diselimuti kekesalan, tapi rasanya begitu susah untukku beranjak, ini pertama kali aku betah melihatnya, mataku masih tetap menatap layar kaca, walupun cibiran masih terus ku layangkan padanya.
Garis bawahi! Aku bukan penggemarnya, tetapi kehebohan tentangnya cukup membuatku tahu siapa sosoknya.
Yaa, dia Zia, Bralinzhea, idola yang selalu menjadi sorotan utama dengan berbagai karyanya. Namun tetap ku yakini semua itu tidak lepas dari campur tangan keluarganya.
Dia bisa membeli ketenaran, simpati publik, dibawah naungan keluarganya, dan dia juga beruntung, karena wajahnya pun mendukung.
Dan sekali lagi terbukti, baru saja dipersilahkan untuk bernyanyi gadis itu terlihat amatiran, prestasinya selama ini patut dipertanyakan! Dia tidak bisa menipuku, aku melihat segala kesalahan di sana, meskipun aku tidak begitu paham tentang dunia permusikan, tapi aku yakin saat ini dia tengah lipsing. Memang tidak salah, hanya saja citranya yang begitu di kagumi membuat nilai minus tersendiri, apalagi dia seperti lupa akan lirik dari lagunya sendiri. Sungguh faktor keluarga.
Apa para penggemarnya hanya kumpulan orang bodoh? yang hanya memikirkan tampang tanpa memperdulikan kwalitas? Sungguh miris! Dan lihatlah sekarang, dia kembali dengan aksinya yang nyeleneh, mukanya bahkan hampir ia sembunyikan secara total, jika saja garis rahangnya juga tertutup, dan dia tidak memakai pakaian mewah, maka orang-orang akan berpikir jika dia bukanlah Zia. Atau memang penampilannya selalu begitu? ditutupi untuk apa? ingin terkesan misterius? bukannya semua orang sudah tahu wajahnya seperti apa, Entahlah! yang jelas performanya kali ini benar-benar dibawah rata-rata.
Namun semakin lama aku melihatnya bukannya tambah kesal aku justru menatapnya kasian, tangannya yang selalu ia tautkan membuat hati ku bergetar, entah kenapa terbesit niat untuk membawanya kabur dari atas panggung tersebut. Aneh bukan? ya! bahkan aku sendiri menggerutui pikiran bodohku.
Kepalanya masih tertunduk, seperti tak memiliki kepercayaan diri untuk menatap ribuan pasang mata yang meneriakinya kagum, jari-jemarinya pun bergerak gelisah, Kenapa? apa dia sakit?
"Cih..., hanya karena menyenangkan hati para penggemarmu, kau sampai melupakan kesehatanmu sendiri. Untukku itu tindakan bodoh Zia! Turunlah! bukannya kau sudah kaya raya!"
Emosiku terus dimainkan olehnya, yang awalnya kesal kini menjadi kasihan, aku berbicara sendiri, meremas jemari, dan sesekali menyipitkan mata lalu membuang muka, ada rasa takut ketika melihatnya gelisah, hingga berujung kekhawatiran yang menyelimuti hatiku, saat pikiranku terus tertuju padanya.
Sampai sebuah pergerakan dibelakang membuatku berbalik badan.
"Aaa...aanu Tuan Muda, i...ini ada telepon...."
Suara seorang pelayan terbata-bata, mungkin karena ia melihat reaksiku.
Lalu dengan gerakan kepala aku menyuruhnya menjauh, dan setelah itu, satu kata mulai terucap dari bibir ini.
"Hallo?"
"Hallo Nevan! ini Paman Charlee!"
"Ohh iya, kenapa Paman?"
"Kamu jadi ikut berkemah?"
"Kemah?"
"Yaaa! bukannya waktu itu kamu mengatakan mau ikut? sekarang Paman dan teman-teman yang lain akan berkemah, kali ini tempatnya benar-benar dihutan! jadi bagaimana, kamu ikut?"
Mendengar kata hutan seketika adrenalinku membuncah, rasa ragu dan penasaran menjadi satu, keinginan dan juga ketakutan bercampur di sana, aku tidak bisa memutuskannya sekarang, karena selain dari keinginan sendiri, izin dari keluarga juga penting untukku.
"Kapan Paman?"
"Minggu depan, dan pas sekali Nevan, bukannya kamu sudah mulai libur semesteran, jadi bagaimana?"
"Hari kamis, yaa hari kamis aku beritahu keputusanku Paman."
"Mmmhh..., baiklah Nevan. Tapi besar keinginan Paman kamu ikut bergabung, dan percayalah..., alam bebas lebih menantang, berbagai hal bisa kamu lihat di sana!"
Selepas dari obrolan tersebut, pikiranku tak lagi teralih pada Zia, aku mulai mempersiapkan kata-kata agar kedua orang tuaku mengizinkanku berkemah. Untuk Daddy aku yakin dia pasti mengizinkan, namun Mommy? aku ragu!
.
.
.
Menghabiskan waktu di rumah merupakan hal biasa untukku, bukan berarti aku tidak memiliki teman, hanya saja aku merasa pikiranku dengan mereka tidak pernah sejalan.
Aku memiliki sahabat? tentu iya, mereka adalah Yeron dan Dariel, namun sudah tiga hari ini mereka terpisah benua dariku, itu karena liburan keluarga.
Meskipun begitu pesan, dan telepon tidak pernah absen memenuhi handphoneku, ada saja yang mengajak keluar dan menghabiskan waktu bersama, namun sekarang aku telah menjadi seseorang yang pilah-pilih dalam setiap hal, itu kerena beberapakali aku sempat dimanfaatkan oleh orang-orang yang ku percaya. Relasi bisnis dan keuntungan pribadi, aku sangat kenyang dengan maksud terselubung itu.
Hingga detik berubah menit, menit berputar menjadi satuan waktu, lalu waktu berlalu berganti hari, dan hari-hari terlewat hampir sepekan, dan di sinilah aku sekarang, di ruang tamu keluarga.
"Tidak! Mommy tidak mengizinkanmu sayang!"
"Biarkan saja Honey..., lagian Charlee temanku, dia pasti menjaga Nevan!"
"Tapi Honey..., alam bebas itu sangat berbahaya!"
"Nevan, kamu sudah meminta izin pada Kakek?" Daddy bertanya padaku, tanpa menjawab kegelisahan Mommy.
"Sudah, aku sudah menelepon Kakek kemarin, dan dia memberi izin, asalkan...."
"Asalkan apa sayang?" dari suara Mommy aku bisa merasakan jika ia masih berharap aku mundur dari keinginanku ini.
"Asalkan aku membawa pengawal," sahutku malas, lalu sedetik kemudian aku kembali mengeluarkan tatapan memelas pada Daddy, "Nevan mohon Dad, ini kegiatan yang sudah Nevan tunggu-tunggu, bicaralah pada Kakek, katakan Nevan tidak perlu pengawal, atau katakan saja Nevan sudah membawanya, lagian Kakek di luar Negeri, Mommy dan Daddy juga berangkat besok, Nevan akan sangat kesepian jika terus di rumah."
Entah apa yang Daddy bicarakan pada Mommy, hingga akhirnya ia ikut setuju dan memberiku izin, kepalan tangan keatas lalu kebawah mengisyaratkan betapa senangnya aku sekarang.
......................
Dengan semangat berapi-api aku mulai menjinjing tas berisi keperluan selama di hutan, bahkan aku sudah berencana membuat video di sana, aku harap alam bebas menyambut ku ramah, dengan segala pesona yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Namun ekpektasi tak seindah realita, belum juga satu malam di alam bebas, perasaan kesal sudah mulai muncul, ingin rasanya aku pergi dari rombongan tersebut, dan menyusuri rimbunnya hutan sendirian, itu dikarenakan omongan si penjilat Charlee beberapa menit yang lalu.
Mereka kira aku terlelap, hingga berbicara tanpa takut aku mendengarnya.
"Tenanglah kawan, tenang! kau tahu siapa dia?"
"Memangnya siapa? anak dari simpananmu?"
"Sialan kau! anak itu adalah calon pewaris tunggal keluarga Eldione__,"
"Benarkah? dia? bocah itu?"
"Iyaa! dengarkan dulu, jangan memotong pembicaraanku! jika kita bisa dekat apalagi menarik simpati nya, maka itu sebuah investasi besar di masa depan! Jadi..., mau tidak mau aku harus mendapatkan hatinya, meskipun menyusahkan, tapi kita harus berpikir untuk jangka panjang bukan?"
"Wah..., sekarang aku mengerti jalan pikiranmu Charlee! Dasar serigala!"
Gelak tawa mereka semakin membuatku geram! lagi dan lagi aku merasa dimanfaatkan, hingga di tengah malam aku mengendap-endap keluar dari dalam tenda, dan membawa perlengkapan yang sekiranya membantuku untuk menyusuri hutan. Aku ingin mereka mendapat ganjaran, jika mereka tahu aku menghilang, maka sudah dipastikan rasa ketar-ketir menjalar ditubuh mereka semua. Namun baru berpuluh-puluh meter dari kumpulan serigala itu, sayup-sayup ku dengar suara derap kaki mendekat.
Drap!
.
.
.
Drap!
Gerakkan ku cukup lincah untuk bersembunyi di balik pohon. Gelapnya malam yang hanya di bantu cahaya bulan mampu memperlihatkan enam sosok bertubuh besar, yang tengah tergesa-gesa menyusuri hutan, dengan satu karung beras yang sedang digendong oleh salah satunya.
Tunggu, tunggu! satu karung beras? tapi kenapa makin lama karung itu justru bergerak-gerak, hingga berselang beberapa menit mulai ku dengar jeritan mengiba.
"Toooolloong..., to....tolong le..lepaskan aku, to...loooong...."
Gerak-gerik mereka cukup membuatku paham jika situasinya bukan lagi menikmati malam di tengah rimbunnya hutan, namun kejadian ini sudah tergolong dalam tindakan kriminal. Yaitu penculikan!
"Tidak-tidak..., aku tidak boleh terlibat! aku harus pergi, ini benar-benar berbahaya!" dengan netra bergetar aku sampai menutup mulut. Aku takut mereka menyadari keberadaan ku.
Cukup lama aku terdiam sambil menekuk kaki, sampai akhirnya ku putuskan untuk pergi, namun jeritan-jeritan memohon pertolongan masih terdengar. Suaranya bergetar, aku ragu bisa meninggalkannya. Apalagi faktor film yang sering ku tonton, dimana menjadi pahlawan super merupakan tindakan terpuji, tapi aku tidaklah sekuat mereka! tidak memiliki kekuatan istimewa, aku hanya seorang bocah yang berhasil menggalahkan tumpukan kardus. Di tambah lagi kemampuan beladiri ku yang masih tergolong menengah kebawah.
Aku berlari berlawanan arah dari para penjahat, memacu batas kecepatanku sebagai seorang pelari, nafasku tak beraturan, sesekali aku menengok kebelakang, namun saat itu juga aku tersandung akar pohon, hingga tubuhku mulai tersungkur ke tanah.
"Brrrruuugggg!!!"
Aku meremas dedaunan kering. Aku menangis bukan karena sakit, baru kali ini aku merasa tak berdaya, ada perang yang tengah berlangsung di dalam diriku, hingga ku putuskan untuk mengikuti kata hati.
Aku akan menolongnya! walaupun harus menjadi pahlawan super tanpa strategi matang. Setidaknya saat diriku di temukan dalam keadaan apapun, aku yakin namaku akan terkenang sebagai bocah laki-laki pemberani. Namun aku tetap berharap selamat dengan raga utuh tanpa cacat sedikitpun.
Dan kini, hanya bermodal cahaya senter aku berjalan maju, aku mencari semak-semak bekas pijakan, agar aku tahu kemana mereka melangkah, sampai kulihat sebuah gubuk yang dikelilingi beberapa obor api sebagai penerang.
"Sial! ini sungguh menakutkan!" lirihku, dan kembali rasa ingin kabur bersemayam di dada, namun teriakannya kembali memukulku mundur untuk tetap meyakini tujuan awalku. Yaitu sebagai pahlawan kemalaman untuknya.
"Bagaimana ini? tidak, tidak! aku tidak bisa membawa tas ini, terlalu berat untukku berlari jika saja nanti ketahuan! Baiklah aku taruh saja di sini!" bermonolog sendiri sembari berpikir cara instan selalu ku lakukan. Ragu? jelas! tapi ini sudah setengah jalan.
Aku mencari-cari barang yang sekiranya dibutuhkan untuk menolongnya, dan saat merogoh tas kutemukan sebuah topeng yang cukup berguna untuk menutupi wajahku. Masih sempat-sempatnya di keadaan seperti ini aku berpikir jika diriku sedang berlaga di film action. Ya tidak apa-apa! setidaknya dengan itu aku lebih percaya diri untuk tetap maju.
Merangkak hati-hati, memastikan mereka lengah, dan ketika aku mendengar suara tangisan, aku yakini dia ada di dalam sana, dan tanpa pikir panjang aku mulai berdiri dan sedikit berlari, lalu mengintip dari celah mambu yang memperlihatkan keadaan di dalam ruangan tersebut.
"Heeii, cepat bernyanyi gadis sialan! kami butuh hiburan!"
"Bocah ini yaaa! disuruh nyanyi malah nangis! mau ku telanjangi kau hah!
"Woi jaga ucapanmu, kita diperintahkan untuk menyekapnya, bukan untuk tindakan yang lain!"
"Cuiiiihh...!" ku lihat satu orang tengah meludah sembarangan, "main-main sedikit bisalah..., lagian gadis ini meskipun masih kecil tapi tubuhnya sungguh menakjubkan! ditambah lagi dia sangat cantik! aahh..., aku tidak janji bisa menahannya!"
"Jangan main-main kau!"
Plak!
.
.
Plak!
"Kubilang nyanyi ya nyanyi! hibur kami bocah kep.rat!!!"
Kakiku luruh menyentuh tanah, aku begitu takut melihat keadaan tersebut, gadis itu diikat di sebuah kursi dengan orang-orang yang mengelilinginya seraya meneguk miras, lalu dengan pongahnya memukulnya secara kasar.
Bayang-bayangan kekerasan mulai menghantuiku, ketakutan mulai menjadi-jadi, aku ingin pergi meninggalkan misi yang sempat aku rencanakan. Namun....
"Masih mau diam? Hei bocah! bukannya kau begitu energik di atas panggung, tapi kenapa sekarang seperti anak ayam kehilangan induk? Takut? tidak perlu sayang..., kami tidak akan menggigit mu, jika kamu mau mematuhi kami!"
"Bralinzhea bla...bla...blaa..., aku lupa nama panjangmu yang susah itu! tapi aku ingat kau keluarga siapa! Iyaa! Kau tahu kenapa? karena keluargamu cukup untuk membuat kami kaya raya!!! HAHAHAHA...!"
Belum usai rasa terkejut mendengar namanya, aku kembali dikagetkan dengan sebuah tamparan keras, yang pastinya tengah dialaminya.
PLAAAAK!!!
"Mau dipukul lagi atau bernyanyi bocah sialan!"
Beberapakali suara tamparan dan pecahan botol terdengar, nyawaku seperti tercabut, kesadaranku mulai goyah, namun dibandingkan aku yang berada di luar, bagaimana nasib dia yang tengah mengalaminya? Aku bingung, hingga cegukan tiba-tiba melanda.
Ku tutup mulut rapat-rapat, berusaha tidak menarik perhatian mereka, dan saat ada kesempatan, aku mulai merangkak menuju tasku, lalu mengambil botol minuman dan menenggak isinya sampai habis.
"Bagaimana ini? bagaimana? aku harus apa? Apa pergi saja?" berulangkali aku mondar-mandir dengan posisi merangkak layaknya balita, dan lagi-lagi rasa kasian ku terhadapnya lebih dominan, hingga ku putuskan untuk kembali ke gubuk tersebut.
Tak ada lagi pria bertubuh besar disekelilingnya, kini tinggal sosoknya yang masih menunduk dengan tubuh bergetar, tangan dan kakinya masih terikat, rambutnya panjang tergerai acak-acakan, ia begitu menyedihkan, membuatku ikut merasakan pedih yang mencekam dada.
"Berpikir Nevan! berpikir! ya...ya, jangan membuatnya takut! yaaa jangan membuatnya semakin takut!" gumamku, seraya menelisik ke segala arah, berharap ada celah untukku mendekatinya.
Menyelip di antara susunan mambu, hingga berhasil masuk, aku ingin memastikan dia tidak terkejut dengan kehadiranku, "Hei kamu! hei! husssst...huuusssstt! lagi main petak umpat ya? ikut satu dong! Jangan takut...aku anak baik kok!" seruku dengan suara pelan, aku yakin dia mendengar, namun entah kenapa ia diam, seakan enggan merespon ucapanku.
Wajahnya masih tertutup poni hingga membuatku sulit untuk mengetahui reaksinya, tapi yang jelas, area basah di garis rahang membuatku sadar jika ia tetap menangis dalam keadaan diam.
Belum sempat aku mendekatinya, tiba-tiba pintu kembali terbuka, dan menampakkan beberapa orang dengan tatapan sangar.
"Wahhh...! mangsa kita bertambah satu!"
Deg!