
"Shasya... kamu beneran gak mau nginep di sini aja? Oma bisa loh siapin keperluan kamu buat sekolah besok...."
"Enggak Oma, terimakasih... Shasya pulang ajaa," tolaknya, dengan sedikit menundukkan kepala.
"Mhhh... baiklah, tapi janji yaa lain kali kamu mesti nginep di sini!" ucap Raimar sembari merentangkan tangan, agar Shasyania kembali mendekat lalu menerima pelukannya, "makasi yaa gadis kecilku... dan kamu tahu?pertambahan umur Oma jadi lebih bermakna karena kehadiran kamu di sini!"
"Sama-sama Oma, Shasya juga bahagia bisa mengenal sosok Oma!"
"Oh iya... apa Oma boleh menanyakan sesuatu?"
"Tentu saja Oma, Oma tidak perlu meminta izin untuk itu!"
"Mmhh, apa dulu kamu pernah mengganti namamu gadis kecil? maksud Oma umhhh...," tanyanya penasaran, hingga di kalimat selanjutnya ia sedikit menjeda, takut jika itu malah membuat Shasyania tidak nyaman.
"Iya... waktu Shasya kecil, tapi bagaimana bisa Oma tahu tentang hal itu?"
"Mhhh... itu karena__, pertama-tama Oma tidak bermaksud jahat ya!! hanya saja Oma ingin tahu, bukan! lebih tepatnya.... Mhhh, janji dulu kamu tidak akan takut atau marah ya gadis kecil?"
"Iyaa Oma, Shasya janji! Shasyania percaya dengan Oma!"
"Semua berawal karena... kamu ingat kejadian pas kamu dan Geime di serang? yaa... setelah malam itu Oma mengerahkan beberapa orang untuk mencari si pelaku, tapi sampai saat ini mereka belum juga di ketemukan, sangat aneh bukan? Dan dari jejaknya mereka juga bukanlah musuh dari keluarga Zail, mungkin memang benar jika mereka hanya komplotan begal, tapi menghilangnya mereka tanpa jejak membuat Oma merasa was-was, sampai akhirnya Oma mencari tahu tentang masa lalu mu, Oma hanya takut keluargamu memiliki musuh, tapi jujur Oma tidak mendapat apapun, kecuali namamu yang sempat dirubah..., Jangan khawatir dulu gadis kecil, kamu tenang saja..., kamu tak perlu takut! tidak akan terjadi apapun denganmu! Oma pastikan itu!!!"
"Iyaa Oma, Shasya mengerti...."
"Tapi... Oma masih penasaran kenapa nama kamu sampai di rubah? Dinesshena Shasyaliona menjadi Dinesclara Shasyania, yaa... kedua nama itu sama bagusnya sih!"
"Itu karena alasan kesehatan Oma."
"Ohh ya...ya, Oma paham! trend semacam itu juga sempat marak dulu! dan terbukti juga yaa, kamu tumbuh menjadi gadis cantik, pintar, dan juga sangat memukau sekarang...."
Dan dari arah pintu seseorang mulai ikut menampakkan diri, bahkan juga terdengar sedang mengomel kesal, "Wah...wah! badan gue sampai bentol-bentol nungguin, ehh yang bersangkutan malah asik-asik kan lanjut ngobrol santai!" keluh Gemmi, saat menyadari jika Raimar dan Shasyania kembali larut dalam perbincangan mereka.
"Ck! alasan kamu Geime!" sergah Raimar, "bilang saja... kalau kamu mau menghabiskan waktu bersama Shasyania kan? dasar gak sabaran!"
"Gemmi serius Oma! ini... lihat nih! nih!! nyamuk-nyamuk itu menggigit ku! dan bensin motorku juga mau sekarat karena nungguin gadis kecil Oma itu!"
"Yasudah, kalau gitu Shasya pamit dulu ya Oma...."
"Baiklah Dear, dan kamu Geime! antar gadis kecilku selamat sampai rumah!! jangan ngebut!"
"Siap Big Bos!"
...****************...
Sepulang dari kediaman keluarga Zail, kini Shasyania merasa lelah, tubuhnya pegal-pegal dan tanpa bisa ia cegah rasa kantuk itu mulai menyerang hingga membuatnya terlelap, dan ketika mata itu kembali terbuka Sang Surya sudah menyambutnya dari ufuk timur.
"Geonevan!" gumamnya, sembari meregangkan otot tubuhnya.
.
.
.
Dan saat menuju SMA GUARDIANS, pikiran Shasyania selalu dipenuhi oleh laki-laki itu, ia berharap Nevan tidak akan salah paham, mengenai dirinya yang tak memberi kabar sedikitpun.
Namun entah perasaanya atau bagaimana, rasanya sangat sulit untuknya mendapat waktu bersama Nevan, ada saja hambatan, dimulai dari jam istirahat pertama, laki-laki itu sudah tak ada di dalam kelas, padahal Shasyania berniat mengajaknya untuk makan bersama, lalu di jam istirahat kedua mereka memang berada di ruangan yang sama untuk pengarahan olimpiade sains, namun Nevan selalu menjauh ketika Shasyania ingin mengatakan sesuatu diluar topik pembelajaran mereka.
.
.
.
Greb!
"Geonevan, aku ingin bicara!" tegas Shasyania ketika dirinya mencegah Nevan di koridor sekolah.
"Udah bel masuk," sahu Nevan, sembari melepas pelan tangan yang masih memegang lengannya, lalu ia kembali berjalan melewati Shasyania.
Shasyania mematung, sampai kejadian tersebut disaksikan oleh dua orang di belakangnya, "Shaaaa!" tegur Nita.
"Masuk yuk, Pak Rivat udah sampai tangga tuh!" ujar Ririn menimpali.
"Semua perlu waktu Sha, dan lo mesti ingat! usaha tidak mungkin mengkhianati hasil!" pungkas Nita memberi semangat.
Namun lagi dan lagi, saat jam pulang sekolah pun Nevan meninggalkannya terlebih dahulu ke area parkir, hingga membuat Shasyania kembali bergegas untuk mengejarnya.
"GEONEVAN!"
Teriakan kencang itu membuat Nevan membalikkan badan, namun baru juga Shasyania mendekat, Gemmi sudah berada di antara mereka.
"Hei, gadis kecilnya Oma! jangan lari-larian dong! nanti gue yang dimarahi Oma kalau lo sampai terluka! Dan ini... Oma ngasih sesuatu untuk lo!" terang Gemmi, seraya menyerahkan sebuah kotak.
Shasyania langsung menerima pemberian tersebut, dan memasukkannya ke dalam tas, namun saat matanya kembali menatap ke depan, ia sudah tidak menemukan keberadaan Nevan.
"Nyari siapa lo?"
Gemmi menggerakkan-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Shasyania, "Gue tanya lo lagi nyari siapa? kenapa muka lo panik gitu? Hai Shasyania! jangan bikin gue takut napa!" sergah Gemmi.
"Maaf Gem! aku balik duluan! dan titip makasi juga ke Oma!" kini Shasyania mempercepat langkahnya ke luar gerbang, dan mencari keberadaan Ningrum.
"Kak, antar aku ke rumah Kakek ya!"
"Siap, laksanakan!"
...----------------...
Tidak semulus yang ia pikirkan, karena sekarang mereka malah terjebak kemacetan karena sebuah peristiwa yang tengah terjadi di depan sana, beberapa menit pun tersita hingga di menit tigapuluh barulah ia tiba di kediaman Eldione, namun Shasyania sudah diperlihatkan sebuah fakta jika Nevan akan bepergian lengkap dengan balutan jeans di tubuhnya.
"Geonevan...."
Berjarak satu meter Shasyania berdiri, dengan satu tangan yang terlihat meremas jaket yang ia kenakan. Bukan tanpa alasan, semua karena aura dingin yang mulai terpancar dari sosok di depannya tersebut.
"A...aku mau bicara...."
"Besok aja!"
"Kamu mau kemana?" tidak ada sahutan dari Nevan, hingga membuat Shasyania mengangguk paham, "mhh, baiklah... aku pulang," ucapnya, sembari membalikkan badan menuju pintu keluar.
Ketika langkahnya semakin menjauh, Nevan langsung menangkap tangan Shasyania, lalu menuntunnya untuk menuju lantai paling atas.
Pintu kamar terbuka, lalu Nevan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Shasyania masih berdiri dengan mata menatap Nevan yang sesekali menghela nafasnya penuh penekanan.
Sampai akhirnya badan itu mulai bangun dan duduk di pinggir kasur, sekarang tangannya mulai terlentang. Shasyania yang mengerti akan maksud dari gerakan itu mulai mendekatkan diri dan mendekap tubuh Nevan.
Wajah Nevan bersandar di area perut Shasyania, dengan kedua tangan memeluk erat pinggang tersebut, "Jangan lagi pergi tanpa kabar, mungkin aku akan berpikir yang tidak-tidak..., seperti kamu meninggalkan ku!" ucapnya, bahkan rasanya masih tercekat jika mengingat bagaimana harinya kemarin yang dipenuhi dengan prasangka buruk.
"Kemarin, handphone aku hilang Geonevan, dan di Mall, beberapa orang mengira jika aku ini Zia, hingga aku harus pargi dan Gemmi menolongku, lalu kemarin juga ulang tahun Oma, tidak mungkin aku menolaknya, dan setelah pulang aku langsung tertidur. Salahku memang karena tidak mengabari mu Geonevan..."
"Jangan ulangi lagi yank, jangan...." lirihnya, seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Iyaa tidak akan," sahut Shasyania, dengan satu tangan mengelus-elus lembut rambut tebal milik Nevan.
"Tadi kamu nanya aku mau ke mana kan?"
"Iyaa, dan kamu gak jawab!"
"Tadi aku masih kesal sayaaang! Baiklah sekarang aku jawab! Ibu nelpon, dia mau aku ke toko, Ibu bilang dia punya varian rasa baru di rotinya. Katanya aku harus nyobain sebelum nanti di buat lebih banyak lagi...."
"Loh, kok Ibu gak ngabarin aku juga?"
"Pendapatku lebih penting mungkin!" guraunya.
"Ihhh... gak bisa gitu dong!"
"Bisa dong! aku ini kan menantu kesayangan!" seru Nevan, lalu tangannya mengisyaratkan agar Shasyania duduk di sebelahnya, "sayang cium!"
Shasyania mengalungkan kedua tangannya di leher Nevan, dan memperdalam ciuman mereka.
"Aku menyayangi mu...."
"Aku juga...," sahut Shasyania, yang langsung membuat Nevan menghentikan aksi bibirnya, dan kini laki-laki itu mulai menghujani Shasyania dengan ciuman di pipi, hidung, dahi, dagu, sebelum akhirnya berlabuh kembali ke bibir milik Shasyania.