
Lampu gantung yang bertata layaknya ribuan berlian itu kini menjadi saksi bisu, ketika dua orang suami istri tengah berbagi selimut di ruang tamu, sambil menonton acara komedi yang menjadi kesukaan mereka.
Triing!
Sampai suara notifikasi dari notebook milik Zivana terdengar, hingga membuat wanita itu bergegas menyibak kain berbulu dari atas tubuhnya, lalu beranjak meraih benda tersebut.
Deg!
Bulu matanya yang lentik kian terangkat, ketika kelopak mata itu terbuka lebar, dan Zivana terlihat tersenyum getir kala menyaksikan sebuah kenyataan yang semakin membuat hatinya tersayat pilu, hingga situasi tersebut disadari oleh Deron suaminya.
"Ada apa honey?" tanyanya cemas.
Tanpa suara Zivana melirik Deron, ia hanya menyodorkan benda pipih tersebut pada suaminya, lalu kembali tertunduk dengan satu tangan menutupi mata.
Dan Deron, pria itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah layar, sampai sejurus kemudian rasa penasarannya akhirnya terjawab, hingga garis rahangnya samar-samar mengeras, kuku di tangannya pun mulai memutih saat cengkeramannya semakin kuat, "Crrrzt! apa kepintaran keluarga Zeiqueen yang begitu melegenda itu mulai terkikis? terutama Jazlan!! Aku mulai ragu dengan kemampuannya!" serunya, sembari sesaat memalingkan wajah, "liat, bahkan jika disandingkan seperti ini, maka Shasyania lah yang lebih mirip dengannya! bahkan manik matanya persis seperti milik Jazlan! sedangkan Zia, mata birunya adalah turunan dari Meiriam. Wah, Jazlan... kenapa kau sampai tak menyadari ini hah? apa hatimu tak bergetar saat melihatnya? Aku bahkan tak perlu bukti lagi untuk menyatakan jika Shasyania adalah darah daging mu sendiri, karena hanya dengan selembar foto ini, aku sudah yakin dengan penglihatan ku sendiri!" tegasnya, yang masih terus menatap dua orang gadis kecil yang berada di dalam foto tersebut.
Zivana, ia menjadi semakin larut dalam kesedihannya, tak bisa ia bayangkan seperti apa yang dirasakan Shasyania semasa kecilnya, menjadi pelayan untuk keluarga Zeiqueen, yang notabenenya adalah keluarganya sendiri, "Katakanlah aku egois honey, tapi aku tidak ingin putriku mengetahui fakta ini, akan sehancur apa lagi hatinya nanti.... Meskipun keluarga Zeiqueen bisa saja berdalih dengan asalan tidak mengetahui kebenaran, tapi itu tidak akan bisa menutupi fakta, jika saat Shasyania hilang, mereka sama sekali tidak melakukan pencarian! Bahkan atas dasar kemanusiaan pun tidak! Dan sama seperti Ibu dan ayah Shasyania, Aku pun juga sama.. ingin menjaga perasan putriku, dan menjauhkannya dari keluarga itu!"
Deron paham betul perasaan sang istri, hingga ia menggeser posisi duduknya, untuk bisa mendekap Zivana, "Aku paham honey, aku paham, tapi kita tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi. Shasyania berhak tahu! dan sama seperti yang sering kau yakini, bahwasanya apapun yang terjadi disekitaran mu, tidak selalu berlangsung karena sebuah kebetulan semata, semua pasti memiliki makna dan arti yang perlu digali dan dikuak kebenarannya, maka sama seperti itu, fakta ini harus mereka ketahui, tapi bukan berarti mereka bisa mengambil Shasyania dari sisi kita, aku hanya ingin memberi Jazlan sebuah kenyataan.... Yang akan ia sesali nantinya!" pungkas Deron, ia mengatakan kalimat terakhir penuh keyakinan hingga pandangannya langsung mendelik, menghunus ke depan.
Perlu waktu untuk Zivana setuju, sampai akhirnya ia mengangguk untuk mematuhi usulan suaminya, "Jazlan, dia selalu saja membangga-banggakan putrinya Zia, tanpa ia ketahui jika diluar sana putrinya yang lain juga tidak kalah memukau, bahkan di situasi yang tidak menguntungkan, Shasyania selalu bisa bersinar dengan caranya sendiri! Dan tidak bisa dipungkiri juga, jika darah Zeiqueen juga mengalir deras di dalam tubuh Shasyania, ia pintar dan berkharisma, bahkan putra kita Nevan, sempat beberapa kali kalah dalam hal akademik dengannya!"
"Dan bisa kau bayangkan honey, ketika nanti Nevan bersanding dengan Shasyania, maka mereka akan menghasilkan bibit terunggul, yang akan membawa kejayaan keluarga Eldione semakin memuncak!" gurau Deron, bermaksud untuk mendinginkan suasana hati sang istri.
Sampai akhirnya kedua orang itu larut dalam tawa mereka, hingga sejurus kemudian sebuah panggilan telepon dari Toreno membuat mereka langsung memasang wajah serius.
.
.
.
"Apa yang dikatakan Papa, honey?" tanya Zivana.
"Papa bilang beliau akan memperkenalkan Nevan pada anggota dewan di perusahaan pusat, Papa ingin membuat mereka percaya dengan kemampuan putra kita kedepannya! Dan menurutku itu merupakan sesuatu yang sangat bagus, peluang untuk mencari relasi akan semakin kuat, untuk perusahaan ataupun untuk Nevan sendiri!"
"Jadi?"
"Besok aku dan Nevan akan berangkat ke London, dan yaaa... sebaiknya kita rahasiakan dulu kebenaran tentang Shasyania dari putra kita, jangan sampai Nevan menolak kesempatan ini, bagaimanapun juga ini semua untuk masa depan mereka," ucap Deron, sambil memegangi pundak istrinya, "dan tugasmu di sini... persiapkanlah keperluan pesta, karena dihari kedatangan kami, aku ingin beberapa harinya lagi Nevan melangsungkan pertunangannya bersama Shasyania, kamu setuju kan?"
"Aku sangat setuju honey! tapi kalian tidak akan lama kan di sana?"
Deron tersenyum, menatap Zivana, "Tidak sampai seminggu, lagian kami akan menggunakan jet pribadi. Kamu tenang saja honey, aku pastikan diakhir pekan kami sudah berada di sini!"
...****************...
Dan berkilo-kilo meter dari kediaman Zivana dan juga Deron, kini di sebuah ruangan temaram dengan pencahayaan minim, seorang remaja terlihat begitu menikmati suguhan film yang tengah berlangsung dramatis tersebut.
Matanya terus menatap layar besar dihadapannya, bahkan sesekali emosinya juga ikut ditarik-ulur ketika pemeran utama difilm tersebut menangis pilu.
Namun berbeda dari Shasyania, Nevan justru sibuk menikmati pop corn yang ia bawa, tangan kanan ia gunakan untuk memasukkan cemilan itu kedalam mulutnya, sedangkan tangan kiri ia gunakan untuk merangkul bahu Shasyania yang tengah asik bersandar di dadanya.
"Kasian banget ceweknya!"
"Bodoh sih!" cela Nevan, yang membuat Shasyania langsung melebarkan pandangannya, lalu tangannya yang sedari tadi melingkar di pinggang Nevan ia gunakan untuk mencubit perut laki-laki itu.
"Awww!"
"Nikmatin dulu alurnya yank, padahal ini lagi sedih loh!"
"Baru diawal sayaaang... nanti juga kembali sama pacarnya, inikan masih konflik!"
"Ck! dari awal sampai pertengahan... konfliknya selingkuh mulu! kayak gak ada yang lain aja!"
"Karena memang tema selingkuh selalu bikin gregetan!"
"Iyaa oke, tapi ini selingkuhnya udah berkali-kali loh! sama orang berbeda-beda pula! Bodoh gak ketulungan tuh cewek! dia korban, tapi dia juga yang ngemis-ngemis cinta! Cari baru bisa kali!"
Shasyania jengah, hingga menghela nafas, ia rasa berdebat dengan Nevan karena film tidak akan ada gunanya, "Iyaa sayang iya, besok-besok kita nonton film kesukaan kamu ajaaaa, yaaa?" ajaknya.
"Aku suka film horor, tapi kalau nontonnya sama kamu, aku lebih milih film romantis! No selingkuh-selingkuh! biar kamu gak terpengaruh! Dan tentunya harus happy ending, bila perlu sampai punya anak!" tutur Nevan penuh antusias, "mhhh, tujuh anak seru tuh!" imbuhnya dengan tatapan jahil.
"Tujuh?"
"Iyaaaa.. tujuh! kenapa? masih kurang? baiklah-baiklah!! kalau gitu nanti kita punya anak sepuluh!"
"Loh kok malah kita? bukannya tadi bahas film?"
"Awalnya iyaa, tapi setelah menjurus ke anak, berarti udah jadi urusan kita itu ahahaha!"
"Ihhhhh kamu yaaaa!"
"Nanti sayang, nanti.... Aku gak bilang sekarang kok ahahaha!" godanya, "tapi kalau kamu maunya sekarang.. aku siap kok ahaha!"
Shasyania mengunci pandangan mereka, lalu berkata, "Sepertinya kita perlu membahas soal ini," ucapnya serius, untuk memulai suatu obrolan, "menikah sama kamu... jelas aku mau! Aku sangat berharap kamu yang menjadi pasangan aku nantinya!! tapi, aku ingin pernikahan itu terjadi enam atau tujuh tahun lagi, tidak dalam waktu dekat ini sayang..... Bagaimanapun juga kita harus mengutamakan pendidikan dan karier, ada banyak hal yang perlu kita lalui sebelum nantinya melepas masa lajang, aku mau menikmati itu semua, agar nanti.. ketika aku menjadi orang tua, aku bisa menceritakan banyak hal pada anak-anak kita, memberi mereka pengalaman dari kisah hidupku, termasuk kegagalan dan keberhasilan yang sempat singgah, kamu mengerti kan sayang?"
Nevan menangkup wajah Shasyania, dan mencium bibir itu penuh kelembutan, "Iyaa sayang, aku mengerti! aku pun akan berusaha menjadi sosok yang membanggakan bagi kamu! Sebelum nantinya aku pantas untuk membawamu ke jenjang yang lebih serius! Tapi tak bisa aku pungkiri juga, jika angan untuk menikah bersamamu juga selalu hadir dalam pikiranku, apalagi menjelang tidur! Bahkan, aku sudah mempersiapkan nama untuk anak-anak kita! apa terdengar lucu? tapi itulah hal-hal kecil yang selalu membuat aku bahagia, ketika memikirkan hidup bersamamu!"
...****************...
"Jav, gue ada info menarik nih!" ucap Lucky, saat anggota geng Trigger berada di markas mereka.
"Apaan?"
"Anak SMA GUARDIANS, mereka ada kegiatan alam minggu depan, gimana kalau kita beraksi di sana?" ajaknya.
Seperti tersiram air dikala tandus, segar dan fresh hingga hal tersebut membuat senyum di bibir Javier melengkung, ia yang memang sedari minggu lalu selalu gagal dengan aksinya, kini mulai mendapat secercah harapan untuk mengeksekusi rival abadinya.
Tapi belum sempat ia tertawa dengan susunan rencana yang akan ia lontarkan, Lucky kembali bersuara, "Tapi geng PS gak ikut dalam kegia__," belum sempat anggotanya menjelaskan, Javier terlebih dahulu tersulut emosinya, dan menendang sebuah meja.
BRAAAAK!
"Kalau si keparat itu gak ikut.. terus ngapain lo bilang jika itu informasi menarik BAAAA.GS.T!" bentaknya, bahkan ia mulai melampiaskan kekesalannya dengan mencengkram salah satu kerah baju anggota geng Trigger, Javier sudah sangat murka, akibat rencananya yang selalu gagal.
"Tenang dulu Jav! bukannya dari awal niatan kita mau mengusik ketakutan Gemmi?" ucapnya, berusaha membuat Javier kembali ke rencana semula, "Shasyania, lo ingatkan? gadis di dalam gambar yang pernah lo tunjukkin ke Gemmi! dia perangkap yang pas.. untuk membuat si busuk Gemmi bertekuk lutut pada kekuasaan kita! Makanya, sesuai informasi yang gue dapat tadi, jika gadis itu ikut dalam kegiatan tersebut!" jelas Lucky, seraya menaikkan sebelah alisnya, "jadi, bukankah itu terdengar sangat menarik? Jauh dari sekolah, dan tentunya kita bisa bermain petak umpat di hutan belantara, membuat gadis itu gemetaran, hingga memaksa Gemmi untuk turun tangan! Seru bukan?"
Seketika tawa menggema terdengar diruang tersebut, Javier yang merasa adrenalin nya semakin membuncah membuatnya senang bukan kepalang, bahkan hanya membayangkan saja sudah membuatnya merasa menang.
"Tapi, di sana gak ada Geonevan kan? gue gak mau lagi terlibat masalah sama dia! meskipun Geonevan gak pernah ikut campur dalam urusan geng sekolah, tapi ngeri aja, jika tiba-tiba dia terusik akan aksi kita terhadap salah satu temannya!"
"Semua terkendali!"
Javier ingin mematikan semua aman, agar tidak sampai mengusik ketentraman seorang Geonevan, apalagi setelah kebrutalan Nevan yang dulu sempat mengajarnya secara membabi-buta, hingga sampai saat ini Javier masih bergidik ngeri setiap kali mengingat peristiwa tersebut, bahkan sekilas menatap bayangan Nevan sudah mampu membuatnya gemetaran.
Kekuasaan Geonevan Akhilenzyn Eldione begitu mencekam untuk seorang Javier, selain hantamannya yang begitu keras, posisi keluarganya juga bisa seketika terancam dari dunia bisnis, makanya sebisa mungkin Javier akan selalu menghindar dari apapun yang berhubungan dengan Geonevan.