
Mobil sedan berwarna hitam terlihat terparkir di depan gerbang SMA GUARDIANS.
Ceklek!
"Kak kali ini antar Shasya ke Rumah Sakit XXX yaa," pinta Shasyania yang sudah terlihat duduk di jok bagian belakang mobil.
"Mau jenguk siapa Dik?" tanya Ningrum penasaran, lalu matanya sedikit membesar, "apa kamu sakit? atau jangan-jangan kerena efek kejadian kemarin?" selidiknya tajam dengan raut wajah cemas.
"Tidak Kak, aku baik-baik aja, ke sana mau jenguk temen."
"Temen?"
"Iya Kak, dia Gemmi laki-laki yang aku ceritakan ke Kakak tadi pagi dan dia juga yang bersamaku saat peristiwa kemarin."
"Ohhh Gemmi," ulang Ningrum dengan anggukan kepala.
Shasyania mengeluarkan botol minuman dalam tas lalu ia meneguk habis isinya, "Ohh iyaa Kak nanti Kakak langsung pulang aja yaa karena Shasya balik bareng temen-temen."
"Kamu nyuruh Kakak balik bukan karena rasa gak enakan lagi kan?" protes Ningrum, karena beberapa kali Shasyania seperti malu-malu untuk meminta bantuan darinya.
"Enggak kok Kak."
"Baguslah tapi kalau terjadi apa-apa langsung hubungi Kakak yaa? karena Kakak perlu list perjalanan kamu selama 24 jam agar tugas Kakak lancar," jelas Ningrum yang masih berkonsentrasi menatap jalanan di depan sana.
"Baik Kak."
Saat mobil sedan itu memasuki kawasan Rumah Sakit sebuah mobil ambulance justru terlihat keluar dan membunyikan sirine khas hingga membuat para pengendara lainnya menepi memberi jalan.
"Hati-hati ya Kak," ujar Shasyania ketika ia hendak membuka pintu mobil.
"Siap kamu juga hati-hati yaa dan ingat...," sahut Ningrum seraya menggerakkan tangan layaknya sebuah telepon. Ia memberi Isyarat agar Shasyania terus ingat akan pesannya.
"Siaapp!" Gerakan tangan Shasyania tak kalah energik, dia berlagak seperti seorang prajurit yang sedang memberi hormat kepada atasannya, hingga mobil yang di kendarai Ningrum sudah terlihat menjauh meninggalkan Shasyania yang masih berdiri dan berusaha mengeluarkan handphone miliknya dari dalam tas.
Tak lama waktu yang Shasyania butuhkan untuk mencari keberadaan temannya karena dari arah timur sebuah mobil sport sudah terlihat memasuki area parkir. Dan yaa kendaraan itu milik Geonevan, laki-laki itu begitu gagah memegang stir kemudi dan tak lupa juga ia mengenakan kaca mata hitam yang mampu menambah kadar kegantengannya berkali-kali lipat.
Sepertinya tidak hanya Nevan yang berada di dalam mobil tersebut karena pintu sebelah kiri dan belakang juga terbuka dan memperlihatkan dua sosok laki-laki yang tak kalah gagahnya. Mereka adalah Eron dan Dariel.
Berjalan sejajar layaknya aktor film yang sedang beraksi memancarkan pesona hingga mampu menyilaukan siapa saja yang tengah memandang sosok mereka. Nevan, Dariel dan Eron ketiganya sukses menyita beberapa pasang mata yang mencuri-curi pandang.
Berselang beberapa menit dari adegan berjalan penuh drama itu sebuah teriakan yang begitu familiar terdengar di telinga Shasyania.
"Shaasyaaa...,"
Hmmmm..., suara siapa lagi kalau bukan si cempreng Nita, bahkan gadis itu berteriak saat ia masih di dalam mobil dan dengan sengaja membuka jendela hingga mengeluarkan kepala.
"Woiiii... Nitaaa masukin lagi kepala lo!" bentak Baru yang sekarang sedang berperan sebagai supir untuk beberapa temannya.
"Biarin aja Bar! tingkah dia mengingatkan gue sama si moly!" cela Dino.
"Moly bukannya anjing lo?" tanya Baru ketika ia merasa tidak asing dengan nama itu.
"Betul! anjing gue juga suka ngeluarin kepala di kaca mobil!" cela Dino, ia sengaja memancing reaksi gadis yang tengah ia sindir.
"Lo bilang tingkah gue kayak anjing tapi kenapa mukak lo yang mirip anjing tetangga gue?" sahut Nita tak mau kalah.
"Gue punya kucing gak ada yang mau bahas tentang kucing nih?" Ririn berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Enggak!" jawab para peserta yang tadi bersitegang.
"Woi ini kita mau syukuran ya? banyak banget bawa pasukan!" sentak Dariel saat melihat belasan orang berkumpul ingin menjenguk Gemmi.
"Kita giliran aja masuknya jangan rame-rame kayak gini entar di kira demo lagi!"
"Betul gue setuju sama usul Yeron! kita bagi Lima orang pertama yang duluan masuk!" ucap Andri sang Ketua kelas.
"Eeehh...ehhh tahu gak? gak tahu kenapa ya tapi kalian sama gak kayak gue? sama-sama merasa excited gitu kalau lagi jenguk orang sakit apalagi sampai ke Rumah Sakit!" seru Nita begitu berapi-api karena memang ia terlihat sangat bersemangat.
Beberapa orang di sana menatap Nita dengan raut wajah cemas bahkan Dariel sampai mengernyitkan alis dengan kepala sedikit mundur.
"Usul gue gimana kalau lo sekalian training di sini siapa tau jadi penghuni tetap!" kelakar Baru.
"Sialan lo!" cela Nita, "susah emang kalau ngomong sama orang-orang yang beda circle!"
"Terus lo merasa satu circle sama siapa?" pertanyaan Dariel menyudutkan Nita hingga gadis itu menatap Ririn, "wahh...wah liat tuh si Ririn buang muka! dia gak mau tuh satu circle sama lo! GAJE SIH!" tawa Dariel menggema bahkan yang lainnya juga ikut terbawa.
"Awas lo Rin!" gerutu Nita, ia langsung mendekati Shasyania, "Shaaa lo kan pinter pasti ngerti kan sama jokes gue?" gadis itu kembali memperlihatkan puppy eyes miliknya.
"Jangan meracuni pikiran bening Shasyania!" tandas Baru.
"Kenapa malah ngomongin hal gak penting sih! dan bodohnya gue juga ikut diem!" cetus Nevan, yang merasa dirinya mulai ikut ke dalam aliran menyesatkan pikiran.
"Sudah-sudah sekarang Lima orang siapa nih yang duluan masuk?"
Nita langsung mengacungkan tangan, "Gue, Ririn sama Shasya terus lagi dua orang terserah bisa siapa aja!"
"Lah gak bisa gitu dong! kita juga bertiga, Gue, Nevan sama Eron! Gak bisa dipisah karena kita Satu mobil!" tandas Dariel tidak terima.
"Kita juga berempat satu mobil!"
"Oke-oke untuk kalian berenam aja yang masuk tapi jangan lama-lama!" kata Andri memperingati.
Nevan langsung mendesis, "Ngapain juga lama paling nongol bentar langsung cabut!" setelah mengatakan itu ia langsung berjalan hingga yang lainnya ikut menyusul.
......................
"Gadis kecilku...!" Raimar bersorak saat pengawal membuka pintu kamar Gemmi dan memperlihatkan sosok Shasyania, "kamu tahu Shasya..., saat Gemmi sadar hal pertama yang ia katakan adalah menanyakan kabarmu!" tuturnya.
"Siapa?" cicit Dariel.
"Neneknya!"
"Kok lo tahu?"
"Dari mukanya juga kelihatan jika dia Neneknya!"
"Tapi kenapa bisa akrab sa__,"
"Banyak bacot lo! cepat jalan yang lain udah dorong-dorongan gue nih dari belakang!" cibir Eron yang terlihat kesal.
Merasa belum mendapat jawaban dari rasa penasarannya membuat Dariel beralih mendekati Nevan yang tengah asik dengan smartphone miliknya, "Van kenapa tuh Nenek-nenek kenal sama si Shasya ya?"
"Gak tahu!" Dariel berdecak bibir mendengar jawaban Nevan hingga ia berusaha bertanya kepada Nita, ia yakin sekali gadis itu pasti tahu jawabannya.
"Nit lo kan lambeturah nih! pasti lo tahukan kenapa Shasya bisa akrab sama Neneknya Gemmi?"
"Gue juga kaget!" Jawaban Nita membuat Dariel menatap dengan mulut terbuka, ia merasa segala usahanya sia-sia.
"Ohh kamu bukannya anak yang kemarin menolong cucu saya ya?"
"Ohh i...ituu aaa__,"
"Iyaa benar kamu kan?"
"Iiiyaa...."
"Tuh kan ingatan ini masih sangat paten! jadi gak usah mengelak lagian yang kamu lakukan itu adalah hal yang mulia!" tutur Raimar, "sekali lagi terimakasih yaa? ohh ya nama kamu siapa?"
"Yeron Ne...."
"Panggil Oma saja!"
"Iyaa Oma."
Dariel yang melihat interaksi itu semakin di buat pusing, ada banyak pertanyaan yang bersarang di benaknya. Tatapannya jelas memancarkan aura kesal, ia sangat tidak terima jika Eron menutupi sesuatu darinya.
Saat asik berbincang-bincang beberapa pelayan mengenakan seragam hitam masuk membawakan beberapa makanan yang menggugah selera.
"Silahkan-silahkan di makan," tawar Raimar.
"Ini kita beneran di Rumah Sakit kan dan gak lagi syukuran?" pertanyaan Nita itu benar-benar janggal di telinga Ririn.
"Lo gimana sih Nit kita kan lagi di hotel!" cetus Ririn.
"Ahh yang bener lo?"
"Sumpah malu banget gue punya kenalan kayak lo!"
"Gak guna lo!" ketus Nita.
"Oma...Oma..., kasih Gemmi satu potongan pizza!"
"Ehhh bocah edan kamu kan lagi sakit kok minta makanan seperti itu!"
"Yaelah Oma..., Gemmi ini bukan lagi demam!"
"Apapun itu asal sudah masuk sini berarti sakit! jadi makanannya juga sesuai dengan anjurkan Rumah Sakit!" Gak boleh sembarangan! benarkan Shasya?"
"Aaah... iyaa."
"Tapi Gemmi lapar!" keluhnya dengan tatapan malas ketika melihat teman-temannya terlihat lahap menyantap makanan lezat itu sedangkan ia malah berkutat dengan makanan hambar.
Raimar tersenyum penuh arti, sepertinya ada sesuatu yang sedang ia rencanakan, "Ohh iyaa Oma lupa! Oma harus mengecek proposal dari James! kalau begitu Oma tinggal dulu ya dan yaa Shasya...," kali ini wanita tua itu berlagak tidak berdaya dengan tatapan memohon, "tolong kamu suapi Gemmi ya? kamu lihat kan tangannya terpasang gips."
"Aaaku Oma?" tanya Shasyania menunjuk dirinya.
"Iya dan Oma yakin jika kamu yang menyuapi Gemmi dia pasti cepat pulih!"
"Uuuuhuukkk!" makanan yang masuk ke dalam mulut Dariel tiba-tiba muncrat keluar, ia tersedak bahkan matanya sampai memerah.
"Gak makan berapa hari lo sampai rakus gitu?" sentak Nita yang langsung memberi Dariel minuman.
Ada perasaan ragu untuk Shasyania menerima permintaan Raimar namun wanita tua itu terus memaksanya hingga ia setuju dan mulai menyodokkan sesendok makanan ke mulut Gemmi.
"Suapi nya yang ikhlas dong biar langsung terjun bebas nih ke sistem pencernaan gue!" goda Gemmi seraya mengedipkan satu matanya.
"Masukin sampai sendok-sendok nya Sha..., biar dia langsung sembuh dan di mandikan bersama!" pungkas Nita.
"Ssstttt gak boleh ngomong gitu Nit! ingat Gemmi itu pahlawan!"
"Ohh iyaa yaa lupa gue Rin! suapi yang ikhlas Sha..., biar Gemmi cepat sembuh!"
"Akhirnya kalian para budak belajar juga cara menyenangi hati baginda!" jawab Gemmi sumringah.
"Dih sialan nyesel gue!" umpat Nita.
"Udah 30 menit nih waktunya kita balik!" ajak Eron yang sudah terlihat berdiri dan berpamitan.
"Shaa..., lo tunggu di sini ya? gue butuh lo!" pinta Gemmi dengan tangan kiri menarik jaket Shasyania.
Beberapa pasang mata terdiam menyaksikan kejadian itu dan beberapa pasang kaki lainnya juga terlihat tetap mengayun keluar.
*tinggalkan jejak setelah membaca ya😄 agar mood nulis semakin meningkat, terimakasih*