
Rintik hujan terus berjatuhan menimpa helm sport milik laki-laki berjaket hitam dengan tulisan GOODBOY tersebut. Ia memutar tuas gas motor Ninja hitamnya hingga membuat laju motor itu kencang tak terkira.
Namun perlahan laju kuda besi itu tak lagi menantang maut ketika pandangannya menangkap sosok yang sedari tadi menjadi incarannya. Senyum tipis menghiasi wajah laki-laki itu, entah rencana apa yang sedang ia rencanakan hingga tiba-tiba mencondongkan badannya ke samping dan mengakibatkan motor yang tengah ia kendari tak lagi seimbang.
"Braaaaakkk..." Suara benturan terdengar hingga membuat Shasyania terkejut karena memang situasi itu berlangsung di depannya.
Dengan tubuh bergetar Shasyania menghampiri laki-laki yang terlihat terkapar di tengah jalan, "Heii...hei kamu tidak apa-apa?" tanyanya ragu.
"Ia gue gak apa-apa seandainya lo gak nyebrang sembarangan!" bentaknya.
"Maaf...," lirih Shasyania sambil berusaha membantu laki-laki itu untuk berdiri.
"Pokoknya lo harus tanggung jawab!"
Belum sempat Shasyania membantu, laki-laki itu sudah terlihat berdiri tanpa memperlihatkan rasa sakit sedikitpun dan ia malah melangkahkan kakinya mendekat ke sebuah motor yang terlihat tergeletak dengan keadaan masih menyala.
"Naik lo!" titahnya.
"Kemana?"
"Tanggung jawab! atau lo mau gue laporin polisi?"
"Maaf..., tapi ini tidak sepenuhnya kesalahanku, karena kamu sendiri juga ngebut dan tidak memperhatikan keadaan sekitar!"
"Wah bener-bener gak mau tanggung jawab! lo pikirin ya! kalau seandainya lo gak nyebrang di situasi hujan kayak gini gue gak bakalan JATUH tahu!" protesnya, "jadi buruan lo naik!"
"Aku akan ganti rugi! Berapa harga yang mesti aku bayar?"
Laki-laki itu berdecak, "Gue gak butuh uang lo! gue hanya perlu rasa tanggung jawab lo sebagai tersangka! buruan naik!" ucapnya sambil menepuk-nepuk jok motor bagian belakang.
Dengan sangat terpaksa Shasyania menaiki motor itu hingga membuat seorang Gemmi tersenyum puas. Ia sadar betul untuk dapat menjebak seorang seperti Shasyania maka diperlukan sebuah rencana yang brilian.
Gerimis hujan masih menemani mereka membelah jalanan yang masih sepi itu, rasa dingin mulai menyeruak ke dalam tubuh karena setiap tetes air hujan sudah menembus lapisan baju yang tengah mereka gunakan.
"Kita mau kemana?" tanya Shasyania.
Pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban, mungkin karena pantulan hujan dan hembusan angin hingga membuat Gemmi tidak mendengar ucapan gadis itu.
"KITA MAU KEMANA?" Kali ini Shasyania mengerahkan seluruh otot mulut untuk terbuka lebih lebar hingga membuat suaranya lebih terdengar keras.
Usahanya berhasil namun bukan hanya Gemmi yang mampu mendengar ucapannya bahkan beberapa pengendara lain yang terlihat tengah berhenti karena lampu merah juga ikut mendongakkan kepala.
"Nanyanya biasa aja kali gak usah teriak-teriak gitu! malu tuh di lihatin orang," godanya. Tampaknya Gemmi sengaja mengerjai Shasyania.
"Sekarang udah dengarkan? makanya jawab!"
"Mau kemana ya? ohh gimana kalau kita makan?"
Shasyania melotot tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, "Turunkan aku sekarang!" perintahnya tajam, "turun atau aku lompat!" ancamannya kali ini membuat Gemmi terkekeh.
"Terus kalau lo jatuh dari motor gue yang jadi tersangka dan korban siapa dong? apa kita saling lapor aja ya? kayaknya seru tuh nambah kerjaan polisi!" candanya yang membuat Shasyania kembali kesal.
"Mau kamu apa sih?"
"Mau gue lo tanggung jawab! masak dari tadi di jelasin gak ngerti-ngerti juga? bukannya yang terbentur pala gue kenapa jadi lo yang lola?"
"MENYEBALKAN!"
"Jadi cewek bicaranya yang manis!" Gemmi kembali menggoda Shasyania, "yasudah kita makan di sana."
Itu sebuah ajakan atau perintah? karena tanpa menunggu jawaban dari Shasyania, Gemmi sudah menghentikan laju motornya di salah satu tempat parkir.
"Ayok!" Seperti seekor kerbau yang di cocok hidungnya, Shasyania mengekor di belakang Gemmi.
"Mau pesan apa?"
"Paket Tiga!"
"Wow... makannya banyak juga yaa!"
Gemmi terus bersuara dan Shasyania hanya menjawab seadanya. Awalnya Shasyania berpikir jika laki-laki di hadapannya tengah menjebaknya dengan motif mentraktir makan. Namun saat proses transaksi berlangsung justru Gemmi yang membayar semua.
"Habis ini kita ke Toko sebelah ya?"
"Beli baju, lo mau seharian make baju basah kayak gitu?" tunjuk Gemmi kearah tubuh Shasyania hingga membuatnya refleks menutupi badan menggunakan kedua tangan.
"Malu ya? udah terlambat dari tadi juga udah gue liatin!"
Ingin sekali rasanya Shasyania mencabik-cabik laki-laki itu, ia begitu kesal dan hanya mampu meluapkannya dengan menghentakkan kaki.
Dan tanpa Gemmi sadari sedari tadi Shasyania sudah merekam semua percakapan mereka dan dia juga sudah mengrimkan lokasinya pada Anggi dan Wiwin.
Gemmi memanggil beberapa karyawan toko untuk memilihkan baju.
"Ini sangat pas untuk gadis itu," ujar ramah salah satu karyawan.
"Nih cobain!" ucap Gemmi sambil menyerahkan dua pasang baju.
"Kamu saja yang beli aku tidak perlu."
"Coba!" suara Gemmi terdengar tidak mau di bantah hingga Shasyania menurut pasrah.
"Aduh ini pasti mahal, mana harus bayarin baju dia juga lagi..., gimana nih?" gerutu Shasyania di balik ruang ganti sampai akhirnya sebuah jalan keluar terpikirkan dalam otaknya.
"Kak ini...," ucap shasyania kepada salah satu karyawan, "saya belum mencobanya, jadi kakak bisa periksa sendiri," ucapnya
"Maaf Nona tolong gunakan kembali karena saya di perintahkan untuk memastikan nona keluar dengan mengenakan salah satu dari pakaian ini."
"Harganya terlalu mahal, uang saya tidak cukup."
"Semua sudah di bayar Nona."
Lagi-lagi tebakan Shasyania yang menganggap jika laki-laki itu akan menyuruhnya untuk membayar pakaian meleset. Ia semakin pusing jika terus memikirkan alasan di balik semua ini.
"Suka?" tanya Gemmi saat Shasyania sudah mendekatinya. tidak ada jawaban dari gadis itu hingga membuat Gemmi menarik tangan Shasyania untuk kembali mengikuti langkahnya.
"Lepasin!" Shasyania menepis tangan Gemmi. bukannya kesal Gemmi justru tersenyum dan langsung minta maaf.
"Alamat rumah lo di mana?"
"Jalan xxx."
Motor itu kembali melaju membelah jalanan hitam pekat yang masih terlihat licin karena aliran air hujan.
"Terus apa yang harus aku pertanggung jawaban?"
"Rasa tanggung jawab! dan semua sudah terbayar!"
Shasyania mengernyit bingung, karena ia tidak merasa telah membayarkan sesuatu untuk laki-laki itu.
Dari pantulan kaca spion Gemmi bisa melihat bagaimana ekspresi bingung yang menghiasi wajah gadis itu.
"Lo udah ngasih waktu lo ke gue! dan itu cukup!"
Sebenarnya Shasyania ingin kembali bertanya namun inderanya yang lain merasa jika ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Dan benar saja saat ia mengalihkan pandangan ke samping ia melihat sosok Geonevan tengah menatapnya.
Hingga lampu hijau kembali menyala baru saat itu pandangan mereka terputus karena Gemmi sudah melajukan kendaraannya meninggalkan mobil Geonevan.
Seharusnya Shasyania tidak perlu merasa bersalah namun entah kenapa hatinya merasa seperti seseorang yang tengah tertangkap basah sedang selingkuh.
"Kenapa? lo masih mau jalan-jalan?" ujar Gemmi sambil menepuk lutut Shasyania.
"Ehhh...ehh."
"Di tanyain malah ehh...ehh! Turun udah sampai nih!"
"Ohh iya makasih."
Tanpa basa-basi lagi Gemmi sudah terlihat menjauh dan hanya menyisakan Shasyania yang masih berdiri mematung.
Sosok Gemmi memang ANEH namun bukan itu yang menjadi belenggu dalam pikirannya sekarang.
Geonevan sosok itulah yang mengusik pikirannya.