
Suasana pengunungan yang sejuk dengan panorama alam membentang luas menyambut kedatangan Geonevan dan Shasyania, mereka yang baru saja keluar dari dalam mobil langsung disuguhkan aroma wedang layang, yang menjadi ciri khas wilayah tersebut.
Dibalut jaket hoodie yang di beri Nevan, Shasyania tampil menawan apalagi rambutnya yang hitam legam bergaya layer tergerai indah, memanjakan siapa saja yang menatapnya betah.
"Hi my brother!"
"Akhirnya setelah sekian purnama Geonevan kembali datang!"
"Kabar baik bro?"
"Lo kenapa gak dateng waktu sparing kemarin?"
Beberapa orang langsung menyambut kedatangannya dengan berbagai-macam pertanyaan, cukup lama ia menjawab, sampai akhirnya berucap pamit untuk bergabung ke inti acara.
"Geonevan, itu di sana ada acara apa?" ucap Shasyania penasaran, sembari menunjuk perkumpulan remaja yang tengah asik menikmati lagu, yang dinyanyikan oleh beberapa orang pemusik di atas panggung bambu.
"Acara seru-seruan yank, kita juga akan bergabung di sana, dan mereka adalah teman-temanku di klub basket," jelasnya, sambil menggenggam erat tangan Shasyania.
Melihat gadisnya hanya manggut-manggut, membuat Nevan kembali bercerita seraya menuntun jalan, "Bakteri, nama klub basket yang sudah lima tahun ini aku bergabung di sana, berawal menjadi anggota, sampai akhirnya sekarang menjadi kapten mereka. Selain basket adalah hobiku, di sini kami juga sering mengadakan acara bersama, seperti kemah, mendaki, touring, dan apapun berbau alam, aku menyukai itu! Karena alam membuatku tenang."
"Dariel dan Eron?"
Nevan tersentak lalu tertawa, menganggapi pertanyaan Shasyania, "Sayang..., kamu menyebutkan nama mereka setelah kalimat terakhirku, itu seperti menyatakan jika mereka berdua juga bagian dari ketenanganku. Tapi tenang, aku mengerti maksud dari pernyataanmu yank, dan dalam hal ini kami tidak selaras, kegemaran kami berbeda."
Dan tak jauh dari tempat mereka berdiri, beberapa pasang mata menatap tidak suka, bahkan dibumbui dengan bisikan-bisikan tidak terima.
"Wah..., sepertinya kali ini lo tertampar kenyataan Han!" seorang wanita mengelus punggung sahabatnya, sambil tertawa mengejek.
"Sia-sia lo dandan dari sore, tapi sebentar lagi malah luntur tuh makeup kerena banjir air mata!"
"Mana pawangnya Geonevan cantik banget lagi! tinggi, putih, mulus! Aaaa.jai..., gue yang notabenenya cewek aja doyan liatin tuh perempuan!"
"Kok kayak gak asiiiing yaa?"
"Kalian bisa diem gak sih!" sentak Hana, gadis yang memiliki peranan vital, dalam keanggotaan cheerleader.
"Yasudah-sudah..., ketimbang lo makin makan hati, mending lo gait aja tuh si Abi, dilihat-lihat dia oke juga tuh!"
"Waduh dari Geonevan turun ke Abi, bakal gamon tuh!"
"Gagal move-on yeeee kaaann!!" Begitu asik mereka menertawai kepedihan yang semakin menggerogoti isi hati seorang Hanandia Pramuktiwijaja.
"Dingin yank?"
"Enggak kok," sahut Shasyania, ketika mereka sudah berada di depan panggung menikmati alunan lagu yang dibawakan oleh seorang laki-laki berjaket hitam, dengan petikan gitar akustik yang bertumpu di kedua pahanya.
"Bilang aja dingin sayang, biar bisa aku peluk...."
"Gak aku jawab gitu juga tangan kamu udah kayak gini," sahutnya, seraya melirik kedua tangan Nevan yang sudah melingkar indah di pinggang Shasyania. Begitu posesif laki-laki itu memeluknya dari arah belakang.
Nevan hanya terkekeh, seraya terus menghujani ciumannya di pundak Shasyania.
"Gila-gila! dia beneran Geonevan? Wow emjiiiiing! kek orang berbeda SUMPAH! di sana cair di sini memanas! PANAAAASS!"
"Lo liat dulu tuh perempuannya kayak gimana! Jelaslah Geonevan sesayang itu, mereka serasi dari segi visual!"
"Bener juga sih!"
"Yank, nanti setelah live musiknya selesai, kembang api akan bertaburan di atas sana, terus lampu-lampu di area sini bakalan padam, dan itu sangat indah!"
"Sering ngadain acara seperti ini?"
"Seminggu sekali, dan terakhir aku ke sini sepertinya dua bulan yang lalu."
"Sendirian?"
"Iyaa, biasanya aku datang saat acara kembang api berlangsung, dan momen paling aku suka adalah saat lampu padam, karena di ketinggian ini, kita bisa menyaksikan taburan bintang yang seperti menyatu dengan permukiman warga di bawah sana," tuturnya antusias, "dan sekarang akan terasa berbeda, karena adanya kamu di sini! Dan apa kamu tahu, aku selalu ingin menikmati musik dengan seseorang yang bisa kupeluk seperti ini."
"Sebelumnya tidak pernah?"
"Mmhh pernah, tapi dengan suasana berbeda."
"Ohhh...."
"Tenang sayang, kejadian itu sudah sangat lama, waktu aku kecil dulu."
"Kamu semasih kecil aja udah pandai meluk-meluk orang ya...."
"Bukan seperti itu sayang..., saat itu karena keadaan," jelasnnya berusaha memperbaiki citra diri, "yank?"
"Iyaa...ya percaya!"
"Percaya lah! orang aku jujur!" tegasnya kembali, "ohh ya, mau minum itu gak?" sambungnya menawarkan sesuatu yang dapat menghangatkan badan.
"Mau?" tanyanya kembali, karena Shasyania terlihat menimang-nimang.
"Boleh, tapi satu aja yaa, takutnya aku gak suka."
"Baiklah! mau ikut ke sana apa gimana?"
"Aku tunggu di sini aja ya?"
"Oke sayang, dan jangan ke mana-mana!" ucap Nevan, sebelum ia benar-benar beranjak menjauh.
Baru saja punggung tegap itu menghilang, beberapa menit kemudian seseorang laki-laki secara tak sengaja membentur tubuh Shasyania.
Bruuuuks!
"Ma...maaf-maaf..., gue gak sengaja," ucapnya menyesal, sembari memperhatikan wajah gadis yang ia tabrak.
"Shasya?"
Shasyania menatap si tersangka, yang sempat membuat tubuhnya terhuyung kebelakang.
"Keinal?"
Jelas saja Shasyania ingat, orang setiap minggu laki-laki itu selalu mengirimkannya pesan lewat media sosial.
"Bisa aja ni si kenyal! barusan nabrak dan sekarang ternyata saling kenal! Modus lo!" tuduh laki-laki bertubuh gempal, yang sedari tadi terus berbicara hingga memplesetkan nama sahabatnya.
Seakan tak mau diganggu, ia memilih mengabaikan suara sumbang di sampingnya, dan tetap terfokus menatap Shasyania, "Lo sering ke sini? Ehh...ehh..., maksudnya, kamu sering ke sini? tapi kenapa aku gak pernah liat ya? maaf ya Shasya, seharusnya aku lebih peka sama kehadiranmu! ini mutlak kesalahanku!"
Shasyania mengernyit geli, ternyata masih sama seperti dulu, laki-laki itu terus berbicara sesuatu yang selalu saja ia lebih-lebihkan, "Gak, ini pertama kali."
"Ohh pantes! udah yakin sih, aku gak mungkin gak menyadari kehadiranmu!" perasaan ser-ser an, itulah yang di rasakan oleh laki-laki bernama lengkap Keinal Putra Wirangun, ia tak ingin pembicaraan ini berakhir, namun ia juga bingung harus berbicara apa lagi. Perasaan grogi mendominasi, sampai gerak-gerik tidak karuan menguasai diri. Remaja hiperaktif, itulah yang dapat disematkan untuknya.
"Kayak cacing kepanasan aja lo!"
"Ohh ya Bom, kenalin dia ini Shasyania..., orang yang paling deket sama gue semasa SMP dulu! karena kita itu sefrekuensi, terus-terus dia juga yang gue bilang mirip sama si Zia! benarkan kata gue? secara langsung malah lebih mirip ketimbang cuma difoto! Kita dulu sering bareng, dulu tahu gak? dia juga sempet mentraktir gue waktu gue lupa bawa uang jajan, meskipun besoknya gue ganti lebih banyak dua puluh ribu, masih ingatkan Shasya? pokoknya kita sohib parah yaa kan Shasya?"
"Kok kelihatannya enggak ya?" cibir Bombom dengan tatapan ragu.
"Bacot lo! gak usah banyak komen cukup dengerin aja! oh ya Shasya..., kamu udah nyoba jagung bakar di sini? rasanya itu enak parah tahu! kalau kamu nyobain..., yakin deh bakalan nagih, aku aja sering ke sini cuma buat beli jagung itu! pokoknya bestlah!"
"Geonevan!"
Plak!
Nevan menipis jari-jemari yang tiba-tiba saja memegang erat pergelangan tangannya.
"Jaga sikap lo!"
"Ma...maaf gak sengaja...."
"Minggir!"
"Ta...tapi...."
"Hana, udahlah! jangan nyakitin diri lo lebih dari ini!" pinta salah satu sahabatnya yang sudah menarik gadis itu untuk menepi.
"Enggak! gue gak bisa, gue udah bertahun-tahun suka sama dia, kali ini gue harus lebih berani!"
"Tapi gak dengan cara lo merendahkan diri!"
"Lo tahu gimana rasanya suka sama seseorang, sampai orang itu terus berputar-putar diotak lo! enggak kan? nyesek tahu! setiap hari gue selalu berharap suatu hari nanti bisa ngabisin waktu sama dia! dan sekarang gue mencoba untuk lebih berani!"
Greeb!
Sepasang tangan membekap mulut Hana, lalu tangan-tangan yang lain mulai berusaha mengikat pergelangan kaki dan tangannya.
"Bantu woi! jangan diliatin aja! Kalian mau ni cewek ngerusak acara kita? enggak kan? ketimbang makin gaduh mending bawa ni sahabat kalian jauh-jauh!" titah laki-laki bernama Abi, dan orang-orang yang tengah menyaksikan kejadian tersebut merasa itu adalah bagian dari acara yang tengah berlangsung di sana.
"Tenang-tenang itu hanyalah bagian dari skenario pewayangan, jadi gak usah khawatir semua aman terkendali! mereka hanya pemain figuran yang hanya sekedar lewat memperpanjang durasi cerita!" ucap seorang perempuan.
Kembali ke Nevan, ia mendapati Shasyania tengah berbincang, bersama orang yang tak asing di memori ingatannya.
"Hem!"
Keinal menelisik ke sumber suara, "Geonevan?" ucapnya bingung, tidak biasanya Nevan menghampirinya duluan, hingga tiba-tiba terbesit dalam pikirannya mungkin saja ini karena kehadiran Shasyania.
"Oh tidak...tidak! Shasya tidak boleh terlalu mengenal Geonevan! bisa-bisa mereka malah jadi akrab!" Keinal membatin, sembari mencari ide agar bisa mengajak Shasyania menjauh.
"Shasya kita harus pergi dari sini, laki-laki ini berbahaya!" bisiknya, diselingi senyum canggung yang ia perlihatkan pada Nevan, "Shasya, kita jadi makan kan? Ayo!" ia menarik tangan Shasyania, seraya mengedip mata memberi kode, lalu tatapannya mengarah pada Nevan, "Permisi Geonevan, kami mau makan sebentar."
"Lepasin!" bentak Shasyania.
Shasyania langsung menarik jaket yang dikenakan Nevan, dan menepis tangan yang sempat menariknya paksa. Keinal merasa tindakan Shasyania itu tidak disengaja, hingga ia segera menunduk, "Ma...maaf-maaf..., dia pasti gak sengaja Geonevan, di sini hawanya sangat dingin dan itu sebabnya sahabat gue ini menarik jaket lo, iya kan Shasya?"
"Bener gak sengaja?" tanya Nevan, sembari mencondongkan tubuhnya kearah Shasyania.
"Iya Geonevan! dia pasti gak sengaja, maafkan dia! Shasya ayok jalan..., keburu tutup tuh warung...," Keinal benar-benar takut jika Nevan sampai murka, saat sesuatu dalam dirinya di pegang tanpa seizinnya.
Nevan menelan ludah, sampai jakunnya perlahan menurun.
"Jangan marah...," pinta Shasyania, seraya meremas pelan jaket berwarna hitam tersebut.
"Aku gak marah sayang..., cuma tangan-tanganku terasa kebas, hingga perlu sedikit peregangan seperti memberi beberapa pukulan pada orang yang sudah lancang menarik mu paksa bahkan di hadapanku!" tegas Nevan, yang sengaja menekan ucapannya di bagian akhir.
"Sayang?" cicit Keinal, "oh tidak!" dan kali ini justru dia yang terlihat menatap nanar dengan jakun naik turun.
Belum juga Nevan beraksi, Keinal sudah bersimpuh layaknya prajurit yang telah lalai menjalankan tugas, hingga mengakibatkan sang paduka raja marah besar.
"Geonevan... Geonevan, de...dengerin dulu, gi...gigi gue ba...baru saja di...behel, ji...jika lo to...tonjok, ma..maka itu akan sangat sakit," sendunya terbata-bata, "dan Shasya, di...dia kenalan gue semasa SMP, ka...kami baru ketemu dan itu yang bu...buat gue seneng, dan mengenai ma...makan, sum...sumpah gue gak tahu ji...jika dia cewek lo, gue cuma gak mau dia kena amarah lo, ma...makanya gue ngajak dia menjauh! Shasya please bantu aku...," imbuhnya memohon belas kasihan.
Laki-laki gempal bernama Bombom tidak lagi kelihatan, semenjak ia mencium aroma pembantaian hal itu membuatnya berlari kencang meninggalkan sahabatnya yang bodoh bernama Keinal. Ia masih waras untuk menjaga nasib keluarga, dan aset berharganya.
"Geonevan...," lirih Shasyania.
"Iya...ya sayang," sahutnya, sembari mengacak-acak ujung kepala Shasyania, setelah itu ia sendiri yang merapikannya, "dan untuk lo! pergi!"
"Baaa...baik!"
Nevan cukup mengenal Keinal, laki-laki yang sudah dua tahun belakangan ini menjadi defense dalam team basketnya, laki-laki yang juga suka berbicara dengan ke sok tahuannya terhadap sesuatu, hingga acap kali menjadi bahan tertawaan atas semua lontarkan kata yang sempat ia ucapkan.
"Ini wedangnya?"
"Iya, tapi kita duduk di sana dulu ya," ajak Nevan, seraya menautkan tangan mereka lalu melangkah beriringan.
"Enak?"
"Mmmhh iyaa...."
"Sepertinya tidak?"
"Mungkin karena belum terbiasa, tapi ini membantu menghangatkan badanku."
"Baguslah...," sahutnya, seraya mengusap-usap telapak tangan Shasyania.