
Seorang wanita duduk sembari bersandar di kursi kebesarannya, dengan tangan dilipat di bagian dada, dan satu kakinya menyilang keatas bertumpu pada kaki lainnya.
Dia adalah Zivana Fidelja Eldione, pemilik NJL group, wanita yang selalu tampak begitu elegan dan tenang, namun berbeda dengan saat ini, ia justru tengah dilanda rasa gelisah ketika menanti seseorang yang belakangan selalu saja mengusik pikirannya.
Bahkan, sebenarnya ia baru saja pulang dari luar Negeri, namun rasa penasarannya lebih mendominasi, hingga Zivana langsung mengarahkan Briana sang sekretaris untuk mengosongkan jadwalnya, hanya karena ingin bertemu Shasyania.
Layaknya magnet yang terus menarik, ada sesuatu hal yang mesti ia ketahui tentang sosok itu. Dan seorang Zivana menyakini bahwasanya apapun yang terjadi disekitarnya tidak selalu berlangsung karena sebuah kebetulan semata, semua pasti memiliki makna dan arti, yang perlu ia gali.
Sampai pintu itu terbuka, dan pandangannya perlahan-lahan menghunus menatap sosok yang terlihat menyapanya, seraya membungkukkan badan.
"Selamat siang Mrs Zivana, saya Shasyania, saya datang untuk memenuhi panggilan anda...."
"Silahkan duduk!" titahnya, "sangat menarik!" batin Zivana, ia terus mengunci pandangannya pada sosok yang kini sudah duduk dihadapannya.
Sebetulnya Zivana ingin memulai obrolan mereka dengan sedikit berbasa-basi, namun ketika menyadari keadaan Shasyania saat ini, ia malah mengucapkan sesuatu hal yang tidak biasanya orang gunakan untuk memulai sebuah obrolan, "Kamu memiliki masalah?"
Pertanyaan tersebut sontak membuat Shasyania mendongak, hingga terjadi kontak mata diantara mereka berdua, dan hal itu membuat Shasyania kembali menunduk, menghindari tatapan Zivana.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanyanya lagi, untuk memastikan keadaan Shasyania, "pertanyaan saya tadi bukan tanpa alasan... hanya saja, dari mimik wajah kamu saat ini, saya merasa sesuatu tengah mengusik pikiranmu.... Apa saya salah? ups sorry... pasti rahasia bukan? mhhh baiklah, saya tidak akan memaksa agar kamu mau bercerita, jadi jangan anggap pertanyaan saya tadi seperti perintah yang harus kamu jawab, oke __, siapa namamu tadi? aaah ya! Shasyania, yaaa.. kamu bisa keluar dari ruangan saya, selesaikan masalahmu, dan setelah itu baru temui saya lagi!"
"Maafkan saya, Mrs Zivana. Harusnya saya lebih bisa mengontrol diri! Ini bisa saya atasi...."
"Umh baiklah!" sahutnya, seraya menyodorkan sebotol air pada Shasyania, "apa masalah keluarga?"
"Tidak Mrs Zivana, bukan itu."
"Pacar?"
"Mhh, iyaa Mrs Zivana."
Sebenarnya Shasyania heran kenapa atasannya menanyakan hal seperti itu, yang terkesan pribadi, namun ia juga tidak berani untuk balik bertanya, kecuali hanya menjawab sejujurnya.
"Come on Shasyania, gadis sepertimu dibuat menangis sampai sesedih ini? BIG NO! ehh ehh... kalau dipikir-pikir wajar juga sih menangis akibat bucin... karena saat saya seumuran denganmu, terkadang juga saya menangis karena cinta ahaha! tapi tangisan saya enggak sia-sia loh, buktinya sekarang dia menjadi milik saya! Karena akan rugi namanya, jika yang ditangisi tidak berujung dimiliki! Lebih baik sekarang kamu hapus kesedihanmu, dan perbaiki masalah kalian, semua bisa dibicarakan, kecuali... per-se-ling-ku-han!" tegasnya di akhir kata, sambil menunjuk Shasyania, "jika alasanmu menangisinya karena dia selingkuh, maka saran saya tinggalkan dia sekarang! tidak ada pengecualian untuk hal itu Shasyania! Sekali saja kamu memaafkannya karena kesalahan tersebut, maka itu sama halnya seperti kamu membuka pintu lain untuknya melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari! Selingkuh tidak ada obatnya Shasyania, kerena itu sebuah kebiasaan yang sulit untuk diubah, percayalah!"
Shasyania tertegun mendengar penuturan Zivana, namun ia juga tidak bisa mengikuti saran tersebut, "Terimakasih atas sarannya Mrs Zivana, tapi sebetulnya.. masalah ini terjadi kerena saya, saya yang bersalah.. saya menghindarinya, padahal dia sudah berusaha untuk memperbaiki keadaan.. saya yang salah! Dia orang yang baik, penyayang, selalu menjaga saya.. dan sekarang___," tarikan nafas beratnya membuat Shasyania tak lagi mampu untuk melanjutkan ucapannya, ia semakin terpuruk dan menunduk, dengan air mata membasahi pipi, yang sebisa mungkin ia seka menggunakan tangannya sendiri.
Melihat hal tersebut membuat Zivana tergerak untuk beranjak dari tempat duduknya, dan berdiri menghampiri Shasyania, "Tidak apa-apa... tidak apa-apa, yang terpenting kamu telah menyadari kesalahanmu bukan? dan berniat untuk memperbaikinya.... Berusahalah! tapi sekarang tenangkan dirimu dulu, kamu tidak akan bisa menyelesaikan masalah jika dirimu sendiri masih dirundung kecemasan," ucapnya, seraya merentangkan tangan, hingga terbesit keinginan untuk memeluk gadis itu, "apa kamu tahu Shasyania? dari dulu saya ingin sekali memiliki seorang putri, dan entah kenapa, kamu membuat saya merasa jika saya adalah seorang Ibu yang harus melindungi putrinya ini, dan memastikan keadaannya baik-baik saja," imbuhnya, yang terdengar begitu tulus.
"Terimakasih Mrs Zivana." Posisi Shasyania masih duduk sambil memeluk Zivana yang berdiri di sampingnya.
"Aku merasakan kerapuhan yang teramat mendalam dari sosok ini, apa dia memiliki trauma?" batin Zivana bertanya-tanya, karena ia tidak asing dengan keadaan seperti ini, dan itu membuatnya semakin mengeratkan pelukannya sembari menepuk-nepuk bahu Shasyania.
...----------------...
30 menit kemudian....
"Kamu suka makanan apa Shasyania?"
"Saya suka seafood Mrs Zivana."
"Wahh berarti kita sama! Briana, tolong antar kami ke restoran xxx, citarasa seafood di sana begitu khas, dan saya yakin kamu juga pasti menyukainya Shasyania!"
Mobil BMW itupun melesat membelah jalanan, karena setelah memastikan keadaan Shasyania membaik, Zivana langsung mengajaknya keluar untuk mencari udara segar, ia ingin memperbaiki suasana hati gadis itu, dan berniat mengajaknya makan terlebih dahulu.
"Ohh yaa Shasyania, apa sebelumnya kamu mengenal saya?"
"Iyaa Mrs Zivana, di hari pertama saya bergabung dengan NJL, saya melihat poster dan foto anda, lalu kak Marline menjelaskan jika anda adalah pemiliknya."
"Ohhh... seperti itu, jadi Marline yang merekrut mu. Dan yaa... apa ini kali pertama kita bertemu secara langsung, mhhh? saya cuma merasa pernah melihatmu sebelumnya, apa saya salah?"
"Anda benar Mrs Zivana, kita memang pernah bertemu, lebih tepatnya berpapasan.. saat itu saya bersama Oma Raimar, beberapa bulan yang lalu di restoran xxx."
Zivana berusaha untuk mengingat, sampai akhirnya ia mengangguk paham, kini kejadian itu mulai tersusun di memori otaknya, "Ohhh iyaaa..ya...ya, saya mengingatnya sekarang! Pantas saja saya seperti pernah melihatmu! ternyata itu..." serunya, namun setelahnya ia malah kembali terdiam, seakan masih ada yang mengganjal, "ehhh tidak-tidak! ada hal lain lagi Shasyania, ada sesuatu yang lain lagi, yang membuat saya seperti pernah melihat wajahmu ini! tapi apaa yaaa...."
Zivana kembali mengingat-ingat, sembari sesekali melirik Shasyania, sampai sejurus kemudian ia menyadari akan sesuatu hal tersebut.
Dan di sisi lainnya, Shasyania mulai menebak jika Zivana pasti akan mengatakan bahwasanya dirinya mirip dengan Zia, namun ternyata tebakannya meleset ketika wanita itu justru berkata.
"OMG! bisa-bisanya saya tidak menyadarinya.. yaaa! pantas saja seperti tidak asing!! bentuk wajah dan matamu ini mirip dengannya Shasyania!" Zivana terus menunjuk-nunjuk kearah lawan bicaranya, ada raut kekaguman yang tengah menyeruak di dalam benaknya, "tapi kamu jangan tersinggung yaaa, jujur... kamu itu mirip dengan mertua saya, Shasyania! Saya pernah melihat fotonya sewaktu remaja! Wahhh kenapa saya bisa lupa! Kalian cukup mirip, terlebih lagi bentuk dagumu! Dan yaaa, tidak bisa dipungkiri juga jika kamu itu juga mirip dengan Zia, artis muda yang tengah digandrungi banyak remaja, cumaaa... bentuk dagu dan mata kalian berbeda! dan di bagian itu kamu lebih mirip dengan mertua saya ahaha!"
Nyatanya tebakan Shasyania tidak sepenuhnya meleset, kerena tetap saja, ketika orang baru melihatnya maka akan selalu mengatakan jika ia mirip dengan Bralinzhea.
"Dan yaa, saya juga dengar.. katanya kamu menolak untuk menjadi model utama produk NJL, kenapa? Saya ingin mengetahui alasannya...."
Kini Shasyania mulai berprasangka, jika alasan dibalik Zivana mengajaknya keluar adalah untuk membujuknya menjadi model utama NJL, dan tentunya hal tersebut tidak mungkin ia sepakati. Karena terlalu beresiko, Shasyania tidak ingin lagi keluarga Zeiqueen kembali mengusiknya.
"Itu karena saya tidak terlalu serius untuk menggeluti dunia entertain, Mrs Zivana...."
Zivana tersenyum tipis, "Saya hargai keputusanmu... dan saya harap apapun yang menjadi tujuanmu kedepannya, kamu akan berhasil dalam hal tersebut, kalau tidak... kamu pasti akan menyesal sempat menolak peluang emas seperti ini, hanya karena kamu menganggap diri kamu sendiri tidak serius akan hal itu!"
"Saya akan berusaha sebaik mungkin Mrs Zivana."
.
.
.
Perbincangan mereka berlangsung lama, sampai tak terasa akhirnya mereka tiba di sebuah restoran, dan saat akan memesan meja terdengar sebuah suara yang tengah menyapa Zivana.
"Ohh.. Mrs Zivana? waahh... ternyata memang benar anda! Beruntung sekali saya bisa berjumpa dengan anda di sini...."
Zivana menatapnya, dan mulai mengenali sosok yang terlihat begitu antusias dengan kehadirannya, "Dokter Jenni?" tebaknya.
"Iyaaa, anda benar! saya Jenni! saya tidak menyangka anda masih mengingat saya.... Terimakasih Mrs Zivana."
"Tentu saja Dokter Jenni! saya tidak mungkin melupakan orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup saya!" sahutnya, jelas sekali Zivana masih mengingat sosok Jenni, Psikiater yang memiliki peranan penting dalam kesembuhan Nevan.
"Saya benar-benar merasa tersanjung! dan ya Mrs Zivana.. perkenalkan ini adalah Violin sahabat saya, dan Violin... beliau inilah Mrs Zivana, perancang busana yang sangat terkenal itu!" ucap Jenni, pada sahabat di sampingnya.
Dengan senyum merekah wanita itu langsung menjulurkan tangan, "Saya Violin, Mrs Zivana... suatu kehormatan bisa mengenal anda secara langsung! dan tentunya saya mengetahui anda! Apalagi Mrs Zivana ini merupakan roll model saya!"
"Kamu pintar memuji Violin," sahut Zivana, membuat orang di depannya langsung terkekeh, "apa kalian satu profesi?"
"Iyaa Mrs Zivana, kami ini sahabatan dari kecil, sama-sama berasal dari Kota B, dan kini membuka praktik di sini, sekitar tiga tahun yang lalu! Kami ingin mencoba peruntungan baru, apalagi setelah saya pernah bekerja di keluarga anda, itu sangat menunjang jenjang karir saya Mrs Zivana...."
"Kamu layak atas itu, pertahankan dan semangat untuk kalian berdua!"
Violin dan Jenni mengangguk setuju, sampai di detik berikutnya Violin seperti tidak asing dengan sosok di samping Zivana, hingga ia berucap, "Shasya?"
Zivana melirik, menatap bergantian kedua orang yang terlihat saling mengenal itu.
"Kamu Shasyaliona kan?" ucapnya kembali bertanya, dan kali ini Violin lebih menegaskan nama masa kecil Shasyania.
"Kamu tadi menyebutnya Shasyaliona? saya pikir kamu salah orang, dia ini Shasyania!" ralat Zivana.
Sanggahan tersebut membuat Violin merasa jika dirinya sudah bersikap lancang, hingga ia meminta maaf, akan tetapi Violin juga masih yakin, jika dirinya tidak mungkin salah tebak. Apalagi ketika ditelisik dari mimik wajah Shasyania, namun Violin kembali teringat akan nilai-nilai kedokterannya, yang tidak mungkin membeberkan riwayat mantan pasiennya.
Di sana Zivana memang terlihat begitu tenang namun bukan berarti dia akan diam, karena justru rasa penasarannya terhadap sosok Shasyania kian bertambah berkali-kali lipat, "Tebakanku benar!! jika dia memang pernah memiliki sebuah trauma, aku sangat hafal dengan reaksi itu, cara dia memeluk dan menangis ketika memiliki masalah seperti terbalut rasa takut yang menjadi cambuk untuknya! Apa itu Shasyania? Sesuatu mengerikan seperti apa yang pernah kamu alami?" batin Zivana, dan sebelum ia pergi, terlebih dahulu Zivana meminta nomer Violin, untuk nantinya ia tanyakan sesuatu.
.
.
.
"Shasyania, kamu pesan apapun yang kamu suka, saya mau menghubungi suami saya dulu. Kamu tidak keberatan kan, jika saya mengundang suami saya untuk makan bersama kita?"
"Tentu saja tidak Mrs Zivana...."
"Baiklah."
Setelah keluar ruangan Zivana bergegas menghubungi Deron.
"Iyaa, hello honey...."
"Kamu berada di rumahkan sayang?"
"Tentu saja honey, bukannya kamu sendiri yang memintaku untuk mengosongkan jadwalku! Maka seharian penuh.. aku akan berada di rumah honey!"
"Wahh penurut sekali suami tercinta ku ini... baiklah honey sekarang juga kamu ke sini yaa, alamatnya akan aku kirim! ohh yaa honey, apa Nevan juga di rumah?"
"Karena aku mencintaimu sayang! Nevan? Iyaaa... putra tampanmu itu juga di rumah, dia baru bangun!"
Zivana tersenyum, namun juga merenggut ketika mengingat tingkah Nevan, "Dia bilang tidak menginginkan Zia, tapi sendirinya berkunjung ke rumah Zeiqueen, pulang dini hari, dan sekarang dia baru bangun! heh, siapa yang mengajarinya seperti itu?"
"Kamu hahaha... tapi honey, aku rasa Nevan ke sana bukan untuk mencari Zia, dan saranku... jangan lagi mengatakan jika Nevan menemui gadis lain, karena putramu itu bisa sangat marah honey, dia menjunjung tinggi status pertunangannya!"
"Tunangan? apa Nevan serius akan hal tersebut? bukannya dulu dia menolak keputusan Papa? kenapa sekarang dia bisa berubah seperti ini? Dan kita juga belum pernah bertemu dengan gadisnya!"
"Aku juga heran honey, awalnya aku pikir itu hanya bercandaannya saja, tapi semakin ke sini, aku rasa putra kita itu serius!" jelas Deron, "secepatnya kita harus bertemu dengan gadis pilihan Papa itu! bagaimanapun juga kita perlu memastikan semuanya, aku tidak ingin jika Nevan merencanakan sesuatu!"
Deron takut jika ini hanyalah taktik putranya untuk menghancurkan gadis itu, hingga Nevan berpura-pura menerimanya untuk memuluskan aksinya, apalagi Deron masih ingat betul, betapa kesalnya Nevan saat dirinya dipaksa menjalin hubungan yang diputuskan sepihak oleh Toreno. Maka wajar saja jika Deron curiga dan perlu memastikan semuanya.
"Aku setuju honey! kita akan mengurusnya nanti! tapi sekarang kamu ke sini dulu.. alamatnya sudah aku kirim! aku akan mengenalkan mu pada seseorang, aku yakin kamu akan terkejut melihatnya! Dan yaaa, ajak Nevan sekalian! katakan urusan bisnis, agar dia mau ikut!"
"Keinginanmu adalah perintah untukku honey, I love youuu"
"I love you more than anything!"
Panggilan itupun pun berakhir, dan Zivana kembali memasuki keruangan yang khusus ia pesan untuk jamuan makannya bersama Shasyania, yang sebentar lagi juga akan bertambah pesertanya.