Mine ?

Mine ?
81 : (POV NEVAN) Berpisah?



(Mode flashback yaaa)


Kemarin aku dan Zia berhasil menghindari komplotan penjahat, dan kini sudah dua malam kami lewatkan bersama, walaupun belum ada tanda-tanda pertolongan, namun aku malah merasa, jika aku bisa terus seperti ini asal Zia bersamaku. 


Hujan dimalam itu juga memberi berkah, meskipun cukup sulit untuk kami mencari pohon rindang untuk berteduh, namun kabar baiknya adalah aku bisa menyimpan pasokan air, agar cairan dalam tubuh kami tidak mengering. Dan beberapa kali kami juga memanfaatkan daging burung sebagai makanan.


Dan seperti biasa, ketika Bumi mulai terang, maka kami akan kembali menyibukkan diri untuk terus tertawa.


"Vanvan, kamu tidak boleh seperti itu! ketuk pintu jika ingin bertamu, maka aku akan membukanya!" keluh Zia, sembari berdecak bibir, ia terus saja mengomel saat kami bermain rumah-rumahan menggunakan batu, tanah, dan ranting, sebagai benda hidup. Ia selalu protes ketika aku langsung masuk rumahnya tanpa prosedur yang benar.


"Iyaa...iya, dan ini kenapa mobilmu banyak sekali Zia? posisinya mepet lagi! kalau mobil di ujung sana mau keluar, bagaimana caranya Ziaaaaa?"


"Yaa...tinggal di angkat Vanvan...."


"Laaaahh, sama aja bohong dong!"


"Tidak! tapi kamu tetap tidak boleh main loncat-loncat masuk rumahku, mau bertamu ketuk pintu!"


"Rumahmu kan tipe outdoor, jadi aku bisa masuk dari mana saja!"


"Ihhhh..., ini ceritanya ada tembok setinggi ini tahuuu...! dan juga ada atapnya! Pokoknya ada, bayangkan saja!"


"Iyaaa...iya."


"Tapi kenapa rumahmu ada dua?"


"Ini rumah Nona Zia, dan ini rumah Shasya!"


"Shasya siapa?"


"Aku!"


"Maksudmu?"


"Ahh tidak-tidak, aku hanya bergurau haha, itu rumah pembantu, yaa pembantu! Kamu mau makan apa Vanvan? minumnya apa? duduk di sana ya, setelah itu kita kerjakan tugas sekolah!"


"Duduk? berdiri atau tiduran kali? mana bisa menekuk kaki, bahkan aku tidak tahu mana kaki, tangan, dan juga muka!"


"Yaa terserah, pokoknya di ruang tamu!"


"Ruang tamu mu yang mana?"


"Itu di sebelah Wc!"


"Mana aku tahu Zia, semua tampak sama, hanya ada batu dan dedaunan! Oohh..ohh tapi aku tahu kamarmu yang mana, karena di sana tertata seperti ada guling dan juga bantal hahaha, meskipun terbuat dari tanah hahaha!"


"Banyak protes kamu Vanvan, udah sekarang kamu mau makan apa?"


"Aku mau spaghetti, pizza dan juga ayam pop! minumannya soda gembira!"


"Baiklah sahabatku, tunggu sebentar yaaa...."


"Memang ada ya sahabat seramah itu ketika diminta banyak hal?"


"Anggap saja begitu Vanvan!"


"Baiklah-baiklah...."


"Selesai, semua hidangan sudah selesai..., kita makan bersama sahabat!"


"Loh...loh kenapa tanganmu yang asli yang membawa makanannya? harusnya rating pohon itu dong!"


"Ihh mana bisa Vanvan! imajinasi mu rendah sekali ya!"


"Khayalan mu yang mengada-ada ---- aaawwww ya...ya maaf, jangan main cubit-cubit gitu dong!"


"Maaf ya sahabat karena menunggu lama...."


"Lama apaan..., padahal belum semenit aku meminta, kamu sudah selesai memasak, aku curiga masakan ini tidak enak!" cela ku diselingi tawa, "dan ini lagi, makanannya lebih besar dari orang-orangan ku! mana sama semua lagi bentukannya!"


Zia seperti enggan menjawab, ia malah mengalihkan topik, "Bagaimana? makanannya enak?"


"Aku tidak mau mencobanya, lagian semua sama! Batu! dan jika aku mules, itukan masalah besar, karena aku tidak tahu lubang pa.tatku di mana!"


"Isssssss...! ohh ya, bagaimana kalau setelah ini kita berenang di kolam baruku Vanvan?"


"Katanya setelah makan belajar, kok malah berenang? kamu lupa rentetan alur yang kamu buat ya?"


Ku lihat Zia menghembuskan nafas, "Maaf ya sahabat aku lupa haha...," ujarnya, namun dari ekspresi wajah dia tidak terlihat seperti sedang tertawa.


"Zia, kenapa setiap berbicara orang-orangan mu itu bergerak seperti sedang menahan kencing?"


"Aaahhh....Vanvan!"


"Iya...iya maaf...."


"Rumahmu mana Vanvan? aku juga mau main ke sana!"


Duugg!


"Ini rumahku!" aku mengangkat batu hitam seukuran kepalan tangan, dan meletakkannya di samping rumah-rumahan Zia.


"Aaaiiissss..., ini? kamu tidak kreatif sekali!"


"Aku praktis Zia! dapur, kamar, wc, aku jadikan satu gak perlu kayak kamu tuh, wc sampai ada dua, dan jarak dari kamar pun sangat-sangat mmmmm.... meresahkan!"


"Ini rumah besar tahu!"


"Iyaa..iya!"


"Mobilmu mana?"


"Pinjam mobilmu saja, lagian aku mau ke mana? orang tinggal loncat sana, loncat sani udah sampai! Jarak rumah kita pun dekat gak lebih dari sejengkal tuh!"


"Isssss..., kamu sungguh tidak menghayati!" cibirnya, lalu Zia tampak kesal ketika kedatangan sesosok penghancur, "Nyitnyit! jangan rusak rumahku!"


"Hahaha..., moster Nyitnyit menyerang! tapi dia tidak akan bisa merusak rumahku hahaha, ini tahan banting Zia, uuuuuuwwwwweeek!" ejek ku, sembari menjulurkan lidah.


"Batu jelek! Nyitnyit ambil rumah Vanvan, lalu lempar yang jauh!"


"Silahkan, lagian jenis rumah ku yang lain masih banyak tuuuhh..., Hahaha!"


"Vanvan nakal!"


"Zia...."


"Ziiiaaaa...."


"Iyaa, kenapa?"


"Suatu hari nanti aku akan menjemputmu menggunakan mobil, dan setelah itu kita akan menaiki helikopter..., aku akan mengajakmu kemanapun kau mau!"


"Jangan berkhayal Vanvan, aku tidak masalah jika kamu datang membawa sepeda! Asal kamu ingat membawa sesuatu!"


"Apa?"


"Mawar putih!"


"Kamu suka mawar putih?"


"Iya, sangat!"


"Baiklah aku akan membawa sebuket besar untukmu!"


"Ditunggu, asal jangan dari hasil curian yaa? Hahaha!"


"Tidaklah mana mungkin!!!" sergahku, "jangan sampai saat hari itu tiba, kamu malah tidak mengenalku Zia, aku akan sangat kecewa!"


"Aku akan mengingatmu Vanvan! meskipun kamu mengganti topeng, aku akan tetap mengingatmu...! Vanvan si anak tampan..., Hahaha!" ujarnya, sembari tersenyum lalu, "malah aku yang justru ragu, apa kamu benar-benar mengingatku, siapa aku terlepas dari nama yang kamu tahu sekarang. Jika aku tidak memakai pakaian mewah, dan tidak di jaga pengawal, apa kamu masih bisa mengenali siapa gadis yang kamu ajak menghabiskan malam di hutan, Vanvan? Dan jika saja aku bukan Zia, dan kita bertemu dengan keadaanku yang sebenarnya, apa kamu masih mengingatku Vanvan?"


Jujur aku tidak mengerti dengan apa yang Zia katakan, hingga raut bingungku membuatnya tersenyum tipis, dan malah beralih bermain bersama Nyitnyit.


Waktu terus berlalu, hari-hariku bersama Zia selalu dipenuhi canda tawa, malamnya kami selalu menghitung bintang, hingga terlelap di keheningan malam.


.


.


.


.


Bahkan ikan yang aku panggang tidak lagi sedap, rasanya hambar atau memang indra perasa ku yang mulai rusak, aku cukup takut dengan keadaan tersebut, bagaimana caraku menjaga Zia, jika diriku sendiri seperti ini.  


Dan terbukti, keesokan harinya aku terbangun dengan mulut tertutup kain, bisa kulihat Zia dalam dekapan laki-laki bertato, ia terus menyeret Zia untuk menjauh bersamanya, tapi Zia terus memberontak.


Hatiku teriris melihat kejadian itu, dan sialnya aku tidak cukup kuat untuk segera melepas ikatan, namun aku terus mencoba hingga berhasil.


"Le...lepaskan dia!"


"Cuuiiihhh! Bocah k.parat! Kau pendusta! Mati kau sekarang!" salah satu komplotan menendang perutku keras, hingga aku terpelanting jauh membentur-bentur tanah.


"Aaarrrrggghhh!"


Aku meringis sembari memegangi perutku, ini sangat menyakitkan tapi tak sebanding dengan rasa sakit ketika mataku melihat Zia semakin menjauh. 


"ZIIIIIIAAAAAAA...."


"AKU AKAN MENYELAMATKANMU! JANGAN TAKUT!


"ZIIAAAA, KAMU TIDAK SENDIRI! KAMU AMAN!"


"Bocah ini, sudah mau mati tapi masih terus berlagak kuat! Mau jadi pahlawan kau ba.gsat!"


Aku tidak menghiraukan ucapan mereka, aku tetap berusaha berlari mendekati Zia, air mataku mulai menetes tapi itu malah semakin membuatku susah untuk menatap Zia, yang sebentar lagi akan termakan jarak.


Buuuuggg!


Satu pukulan menghantam wajahku, hingga berhasil mengeluarkan darah segar, aku yang sudah terhuyung mulai memikirkan rencana, hingga batu besar di sampingku ku gunakan sebagai senjata, untuk membuat para penjahat kesakitan.


Bug!


.


.


.


Bug!


Bug!


Ketiga lemparan ku mengenai sasaran, mereka meringis, merangsek memegangi kepala.


Situasi itupun aku gunakan untuk mengejar Zia, dan melihat sebuah balok kayu besar aku bergegas mengambilnya, ini adalah senjata selanjutnya yang akan aku persembahkan pada pria bertato, yang sudah sangat lancang membuat Zia ku menangis. 


Buuuugggs!


.


.


.


Buuuuuggggs!


.


.


.


Bruuuuaaakkks!


"Aaaaaaaaaaaaaa!!!"


Pria itu tersungkur, hingga melepaskan Zia dalam dekapannya.


"Kamu tak apa-apa kan Zia?"


"Iyaaa..., tapi wajahmu Vanvan!"


"Aku baik-baik saja, ini luka biasa," bohongku.


"VANVAN AWAAAAAASSS!"


Dooooor!


.


.


.


Untungnya Zia memberi isyarat, hingga aku masih selamat, namun situasi malam semakin mencekam, ketika dari dua sisi kami mulai di kurung. Pria bertato itupun sudah berdiri sembari menodongkan pistol.


Tak ingin mereka senang, apalagi sampai tertawa, aku berpikir selangkah lebih cepat untuk melempar balok kayu hingga membentur muka pria bertato itu, wajahnya terluka parah ia sampai terkapar-kapar memegangi wajah.


Namun anggotanya yang lain merasa tidak terima, dan langsung bertindak, mereka mulai membabi buta melayangkan satu-persatu timah panasnya.


Door!


.


Door!


Door!


Niatku melindungi Zia berakhir menyengat, ketika rasa perih itu menjalar dari lengan kananku, lalu membuatnya mati rasa.


"VANVAN...!!!"


"Lari Zia! LARIIIIIIII!"


"TIDAK!"


"LARIIII! aku akan menahan mereka, kita akan selamat! berlari lah turun, ikuti arus air ini!"


Door!


.


Door!


"Aku mohon lari Zia, lari! Cari bantuan di bawah sana, aku akan menunggumu!"


"Berjanjilah padaku, kamu pasti akan selamat Vanvan!"


"Lari Zia larii!!!"


Dia menuruti perintahku, meski wajahnya sesekali melirik ke belakang. Niat hati memandangnya lebih lama seketika sirna, saat tangan kokoh mencengkram keras bahuku.  


"Kalian kejar gadis itu! Bocah ini biar jadi urusanku!"


Plak!


.


.


Plak!


"BUNUH BOCAH SIALAN ITU!"


DOOOORRR!!!


"AAAAAAAAAAAAAA....ZIIIIAAAAAAA!!!"


Aku berteriak bukan karena timah itu bersarang dalam tubuhku, tapi karena rasa terkejut mendengar ledakan yang membengkakkan telinga, dan ketika membuka mata.


"Tuan Muda, Tuan Muda..., apa anda baik-baik saja?"


Para pengawal mulai mengepung area, mereka melumpuhkan dua penjahat.


Dua?


"Kalian...kalian cepat berlari ke sana, bantu sahabatku! Dia pasti sedang di kejar penjahat lainnya! Mereka masih ada! Bantu Zia! Akuuu...mohon...aku...mohon, bantu Ziaaaa," ucapku dengan nafas tercekat, hingga perlahan-lahan mata ini terasa semakin berat, aku tidak bisa lagi menahan untuk tetap terjaga.


"Zi...Ziiiaaaa...."