Mine ?

Mine ?
18 : Adu otot



Tidak ada tolak ukur usia atau gender untuk menjadikan kopi sebagai minuman favorit, terlebih lagi di jaman seperti sekarang ini, begitu banyak varian rasa kopi yang bisa kita jumpai di setiap tempat, tidak lagi monoton dengan rasanya yang pahit, berwarna hitam, ataupun harus di sajikan dalam keadaan panas, kini biji kopi sudah bertranformasi menjadi olahan berbagai versi rasa, dengan jenis toping beraneka ragam, hingga hal tersebut menjadi kegemaran bagi para generasi milenial yang mulai menjadikan olahan kopi masuk dalam list favorit mereka. Dan tentunya kebiasaan meminum kopi seolah-olah sudah menjadi wariskan dari generasi ke generasi.


Begitupun bagi seorang Freyeron Azigar Osmond, atau yang biasa di sapa Yeron, dia adalah penikmat kopi kelas akut, dan varian espresso selalu menjadi pilihannya.


Menikmati hidangan itu dikala penat menyergap, diselingi obrolan ringan bersama para sahabatnya, "Jadi, lo nyerah nih?" tanya Eron, sembari menyeruput kembali minuman itu penuh kenikmatan.


"Ck! sembarangan! gue bukan tipe orang yang mudah menyerah, Ron! Catat itu!" tekan Dariel, seraya menyendok kue red velvet yang menjadi makanan favoritnya, lalu melahap kue itu dengan gerakan sarkas sembari menatap tajam manik mata lawan bicaranya.


Dalam ruangan ber-AC tersebut dua orang anak remaja terlihat sedang berbincang santai di sebuah Cafe yang terletak di tengah-tengah pusat Kota J. Mereka asik menikmati berbagai jenis cemilan sambil diselingi gelak tawa, yang terkadang lolos dari mulut mereka, namun kini obrolannya tersebut perlahan-lahan berubah menjadi sedikit serius.


"Terus? bukannya lo pernah bilang.. kalau Jiana itu orangnya kurang menarik, dan tadi, di sekolah lo juga mengatakan, kalau lo itu gak suka sama si Shasya, berarti... secara gak langsung gue boleh dong narik kesimpulan kalau lo itu udah... m-e-n-y-e-r-a-h!"


Kini Dariel memalingkan pandangannya kearah Nevan, laki-laki yang sudah terlihat semakin mendekat menuju kearah mereka.


"Camkan ini Ron! selama mulut gue belum secara gamblang mengatakan kata menyerah, maka sampai kapanpun gue gak akan pernah mundur!" tekannya.


Eron yang mendengar itu sekilas menggelengkan kepala, ia menganggap sahabatnya ini terlalu memaksakan diri.


Srrrttt!


Sampai tarikan kursi terdengar, ketika Nevan mulai mendaratkan bokongnya dan bergabung diantara para sahabatnya, "Weekend ini kalian jadi ikutkan?" tanpa menatap lawan bicaranya Nevan bertanya, karena ia masih sibuk untuk menancapkan sebuah sedotan ke dalam minuman.


"Yaapp! kalau Zia bener-bener hadir, maka seratus persen yooi...yoiii duuung!! gue pasti ikutlah Van!" sahut Dariel penuh antusias.


"Ck! alasan klasik!"


"Lahhh! gue udah ngebet banget kali Van, pengen liat Zia!! Apalagi gue sempet gagal ketemu idola gue.... Cuma gara-gara bocah edan gak tahu diri ini!"


Seketika si tersangka tersentil mentalnya, hingga mulai tersenyum mengejek, "Yaelaaaah Riel, jadi lo masih marah nih, karena gagal ke acara meet and great nya si Zia?" goda Eron, ia malah terkesan sengaja untuk membuat sahabatnya kembali kesal.


"Sialan.. diem lo! Gak usah sok gak tahu diri segala! kalau lo masih ada otak pasti lo sadar! Karena semua gara-gara pantat lo yang gak tahu diri itu! Gak bisa di ajak kompromi, Njirrr!" cetusnya.


Melihat interaksi kedua sahabatnya membuat Nevan langsung bertindak, ia tidak mau jika kedua orang itu malah semakin rusuh, "Chill bro! Dan lo tenang aja Riel.. dia pasti hadir kok. Nih lo liat!" ucapnya, seraya menyodorkan smartphone miliknya yang dimana di sana tertera sebuah informasi.


Hingga senyum terukir di sudut bibir Dariel, laki-laki berparas manis dengan bentuk bibir tipis itu langsung berseru, "Nah kalau udah kayak gini, yaaa jelaslah gue pasti ikut!" tegasnya, "kalau lo gimana Ron?" imbuhnya bertanya.


"Gue mah ayo ayo aja!"


"Oh yaa.. gue juga ada rencana buat mendaki dalam waktu dekat ini, kalian mau ikut gak?"


Nevan bertanya penuh antusias, bukan tanpa alasan karena laki-laki itu memang begitu mencintai apapun yang berbau dengan alam bebas, seperti ada magnet yang selalu menariknya untuk terus kembali merasakan sejuknya suasana damai tersebut.


Namun berbeda halnya dengan kedua sahabatnya itu, bahkan Eron langsung memegangi tengkuk lehernya, ketika ia berusaha mencari alasan untuk menolak ajakan Nevan, "Umhhh, kalau ii...tu... gue pikir-pikir dulu deh Van," jawabnya ragu.


"Kalau gue mmhh__,"


"Yaaa..ya! gue tahu kalian gak minat!" potong Nevan.


Penolakan dari kedua sahabatnya bukan tanpa alasan, karena berdasarkan dari pengalaman sebelumnya, di sepanjang perjalanan kedua orang itu terus saja mengeluh dan memaksa untuk beristirahat, penat dan muntah-muntah tiba-tiba melanda, hingga situasi itulah yang menjadi tolak ukur mereka untuk tidak lagi mengulang kejadian yang sama.


.


.


.


"Van, lo itukan gak suka makanan atau minuman yang manis, tapi kenapa lo bisa suka banget sama cream?" tanya Dariel, saat mengingat Nevan selalu saja memesan minuman dengan ekstra cream.


"Karena gue suka!" Penjelasan singkat, padat, dan jelas terlontar dari mulut seorang Geonevan, hingga membuat Dariel menyesal telah bertanya.


Sampai tak terasa jika perputaran waktu terus bergerak ke kanan, dan dari arah pintu masuk kini terlihat gerombolan anak laki-laki dengan jaket senada yang tengah mencari tempat duduk.


"Jav, cobak lo liat kearah sana, itu anak-anak GUARDIANS gak sih?" ucap Lucky, salah satu anggota Geng Trigger.


Dia yang merasa punggungnya di tepuk langsung menoleh kearah objek yang ditunjuk, sampai manik mata itu menghasilkan kilatan pemburu, saat menatap mangsanya penuh kemenangan.


"Santapan empuk!" pungkas Javier, yang merupakan ketua dari Geng Trigger.


Gerombolan itupun berkerumun seperti rayap, dengan senyum mengejek mereka mendekat kearah tiga sekawan yang tengah asik berbincang. Dan jika ditelisik dari gerak-geriknya maka akan terlihat jelas jika mereka berniat untuk memancing keributan.


"Wah! Wahh!! anak-anak GUARDIANS kelihatannya lagi bersantai nih!" ucap Javier, yang terdengar meremehkan, lalu ia mengisyaratkan agar anggotanya itu untuk segera mengepung dari berbagai sisi, hingga membuat Nevan berdecak kesal.


"Ketua Geng Force, atau yang sekarang sudah berganti nama dengan sebutan PS! Dia sekolah di tempat kalian kan?" begitu sengaja ia bertanya, meskipun sudah mengetahui jawabannya, "dengar!! Gue mau kalian tanyakan pada sang ketua itu, kenapa dia dan para gengnya gak pernah lagi menyambut ajakan GENG TRIGGER! Cih!!! Penakut! Semenjak ganti Ketua.. mereka seolah-olah berubah menjadi perkumpulan para ba.ci! Apa mereka takut aahh? atau... Jangan-jangan benar adanya, jika isi sekolah kalian itu... hanya sekumpulan kaum pengecut!!!" cela nya tajam, dan begitu menyulut emosi.


"WOI KAMPRET! KETUA GUE LAGI NANYA TUH, JAWAB! JANGAN DIEM AJA, PUNYA CONGOR KAN?" bentak Lucky sambil menggebrak meja, hingga beberapa pengunjung dan karyawan di sana menatap heran.


Menanggapi hal tersebut maka dengan santainya Nevan berdiri, dan berseru, "Untuk kalian para pengunjung lainnya mohon dengan sangat agar kalian segera keluar dari sini! dan untuk karyawan cafe... jangan khawatir, gue akan tanggung semua biaya kerusakan beserta total pendapatan hari ini! Full! Karena sampah tidak pantas berserakan!!!" suara lantangnya bergema, hingga Geng Trigger membuang muka tidak percaya.


"BRENG.EK! PUNYA NYALI JUGA LO!!!"


Belum sempat Javier menarik kerah baju Nevan, terlebih dahulu laki-laki itu memelintir tangan Javier kearah belakang hingga membuatnya meringis kesakitan.


Krrrrrr!


"Awww!"


"EH BA.GSAT! LO PIKIR GUE MANGSA AHH? MAKA LIAT SEKARANG... GUE BUAT LO MENGEMIS AMPUN!!!" Seringai menakutkan terpancar dari wajah Geonevan, tampaknya ia akan meregangkan otot-ototnya yang kaku.


Greb!


Nevan membalik tubuh Javier dengan cepat, gerakannya tak terbaca mata, hingga tanpa aba-aba ia sudah mendorong kuat tubuh Javier kearah samping, bahkan belum sempat tubuh itu membentur ubin, Nevan sudah berhasil melesatkan tendangan keras tepat di bagian pinggang, hingga membuat Javier terpelanting dan berkali-kali membentur kursi ataupun meja yang berada di sana.


BRAK!


BRAK!


.


BRAAAK


.


.


BRUAAAAK!


Benturan-benturan tersebut membuat beberapa furniture di Cafe itu menjadi rusak berkeping-keping, pecahan kayu dan kaca berserakan di mana-mana, namun tak sedikitpun membuat Nevan berhenti dari aksinya.


Bahkan anggota geng Trigger lainnya tidak memiliki kesempatan untuk menolong Ketuanya, mereka begitu terkejut menyaksikan kejadian yang berlangsung begitu cepat di hadapan mereka.


"Kenapa kalian hanya diam? CEPAT HAJAR DIA SIAL.N!!" bentak Javier sambil meringis kesakitan, meskipun begitu ia masih berusaha untuk kembali berdiri.


Mendengar Nevan akan diserang membuat Eron dan Dariel juga tidak mau kalah untuk ikut ambil bagian dalam aksi adu jotos tersebut.


Dariel mencengkram salah satu anggota geng Trigger yang bertubuh tinggi, kakinya ia tekuk untuk segera membenturkan lutut itu kebagian vital mangsanya.


"Lo belum nikahkan? Tapi sayang... pabrik lo otw gak berkerja lagi...."


BUGG!


"Aarrrghh!!!


"STOP RIEL! STOP! JANGAN LAGI SERANG BAGIAN SANA! KARENA SECARA TIDAK LANGSUNG TINDAKAN LO ITU AKAN MERUSAK SDM KEDEPANNYA!!!" seru Eron, sembari menangkis serangan lawan di hadapannya.


Dariel tampak berpikir, menimang-nimang ucapan sahabatnya, lalu ia bergegas mengambil isi dompetnya, "Nih... ambil, bawa berobat! Gue gak mau menekan angka kelahiran!!!" ujarnya, sembari kembali mencari lawan baru.


Dan kembali ke Eron, yang masih menikmati pertikaiannya, "Lo pilih kiri rumah sakit atau kanan puskesmas?" Bisa-bisanya laki-laki itu bertanya saat lawannya sudah bersiap untuk memukul.


Greeeb!


Tangkisan Eron lebih cepat daripada pukulan tersebut, "Cih gak tahu sopan santun lo yaa! Di tanya bukannya jawab malah mukul! Oke Fine! rasakan ini, tendangan situbasaaah!!!"


BUUUGH!


Tiga lawan sepuluh memang tidak adil, namun bukan berarti tiga sekawan itu akan kalah tanding, karena faktanya Geonevan cs yang menjadi pemenang dalam pertarungan ini.


Namun seakan tidak puas, luapan emosi Nevan masih belum surut juga, hingga ia kembali menghampiri Javier yang sudah terlihat berdiri.


Sssssrrrrt!


Pukulan Nevan kali ini mampu di tepis oleh lawannya, namun Javier tidak menyangka jika kepalan tangan Nevan kembali melesat dari arah bawah.


BUGH!


.


BUGHH!


Tidak lagi bisa di hindari, kini pukulan demi pukulan membentur tepat mengenai sasaran, hingga Javier tersungkur memegangi setiap luka yang sudah ditorehkan oleh Nevan.


Niat hati menghindar, namun Nevan seakan tidak kehabisan akal, ia melirik benda di sekitarnya dan kembali menguji kekuatan lemparannya.


"BRUAAK!"


Suara kursi mengenai tubuh Javier, dan kini dengan kaki panjangnya Nevan sudah berada di hadapan ketua geng tersebut, tangannya langsung meraih tubuh itu dan memaksanya kembali berdiri.


Secara membabi-buta Nevan menghajar tubuh Javier, seakan tidak puas ia terus menjadikan tubuh itu sebagai samsak nya.


Lucky yang tak tega melihat ketuanya di hajar, langsung berniat untuk menyerang, namun pergerakannya sudah terbaca oleh penglihatan Nevan. Seperti mata elang, ia mampu menganalisa setiap pergerakan yang akan mendekat.


Wussssshh!


.


.


PLAAKS!


Kaki kiri Nevan berayun ke udara mengenai kepala Lucky, hingga membuat laki-laki itu terpelanting tidak sadarkan diri.


Dan kini, mata Nevan kembali mendelik menatap Javier, "LO! jangan pernah mengusik kedamaian hidup gue lagi dengan pertanyaan-pertanyaan gak penting dari mulut sampah lo itu MENGERTI!!!" bentaknya, sembari mencengkram kerah Javier.


"VAN! udah Van! cukuppp!!!" bujuk Dariel, ia berusaha untuk mengentikan keganasan Nevan yang sudah mencapai titik didih tertinggi.


Bukannya patuh Nevan justru mendorong tubuh Dariel, lalu ia kembali mendekati Javier.


"BANG.SAT! HABIS LO DI TANGAN GUE!" teriakan Nevan membuat Eron segera bertindak, ia langsung menahan tubuh Nevan, karena ia tahu Nevan tidak akan berhenti sampai lawannya tumbang tidak sadarkan diri.


"RIELL... BANTUIN GUE! INI ANAK TENAGANYA KAYAK BANTENG!!!" sentak Eron.


Bahkan karyawan Cafe juga ikut serta menghentikan keberingasan seorang Geonevan, beberapa kali mereka mencoba hingga akhirnya Nevan kembali tenang. Itupun setelah puluhan orang yang menjadi korbannya.


...****************...


Kediaman utama keluarga Eldione...


"Selamat sore Nyonya Zivana," sapa beberapa pelayan yang kebetulan berpapasan dengan Nyonya mereka.


"Nevan mana?"


"Tuan muda di kamarnya Nyonya," jawab Murti.


Saking cemasnya Zivana tidak lagi menaiki anak tangga satu persatu, ia melangkah lebar menggunakan kaki jenjangnya.


"Sayang...," lirihnya sendu, ketika menghampiri putranya di tempat tidur, "apa ada yang sakit? mana-mana biar Mommy obati!" cecar Zivana, tanpa memberi putranya kesempatan untuk bicara.


"Nevan baik-baik saja Mommy."


"Benarkah? mhhh baiklah sayang! dan.. Mommy juga sudah melihat dari pantauan CCTV, mereka mengganggu mu terlebih dahulu! Mommy akan memberi perhitungan untuk anak-anak berandalan itu, bahkan orang tua mereka juga harus mendapat ganjarannya!" sergah Zivana, ia begitu tidak terima akan kejadian yang menimpa putranya.


"Gak usah Mom, pukulan Nevan sudah membuat mereka jera! jadi... tak usah diperpanjang lagi," jelasnya, sembari mengerjap-ngerjapkan mata berusaha sepenuhnya sadar, "apa Briana yang memberi tahu Mommy?" imbuhnya bertanya, dan Briana adalah sekertaris Zivana.


"Iyaa sayang, dan selain itu Mommy juga mendapat pemberitahuan tentang transaksi yang sedang kamu lakukan, tidak biasanya kamu mengeluarkan uang pribadimu sebanyak itu, Mommy cuma takut kamu mendapat kesulitan sayang!"


"Mom, Briana hanya memberitahukan ini ke Mommy saja kan?" tanya Nevan ragu-ragu.


"Iya sayang, kamu tenang saja, Kakek tidak akan tahu masalah ini. Tapi Mommy mohon... jangan seperti ini lagi, kita bisa menyelesaikannya dengan cara lain, Mommy takut kamu kelepasan Nevan! Mommy tidak ingin lagi melihatmu berakhir di rumah sakit!" tegasnya, lalu kembali mengelus kepala Nevan, "apa bayangan itu masih menghantui mu, sampai membuatmu bertidak seperti ini sayang?"


Nevan menghela nafas lega, ia sangat takut jika kejadian tadi sampai terdengar di telinga Kakeknya. Bukan masalah uang yang ia keluarkan, tapi ini tentang perkelahian yang ia lakukan.


Dan sebelum menjawab pernyataan Zivana, terlebih dahulu Nevan bangun dari posisi tidurnya, "Tidak Mom...."


Zivana dan Deron pasti selalu memihak pada Nevan, namun belum tentu Toreno selaku kakeknya berbuat hal yang sama, maka dari itu Nevan merasa was-was apalagi posisinya sebagai pewaris keluarga Eldione saat ini masih dalam masa pertimbangan.


.


.


.


.


.


*Jangan lupa tinggalkan jejak untuk cerita ini! okehh? 😊*