Mine ?

Mine ?
113 : Badut yang bisu



"Aunty!"


Teriakan lantang tersebut berasal dari seorang remaja laki-laki yang sudah tampak cemas dari ekspresi wajahnya.


"Bagaimana keadaan Nevan, Aunty? Ck! dia selalu saja bermain di tempat seperti itu! Dan inilah yang terjadi!" sungutnya, sembari duduk di samping Zivana, hingga netra mata itu menatap keberadaan Shasyania.


"Lo!" pekiknya heran, sambil memperlihatkan ekspresi terkejut.


"Kalian berdua saling mengenal?" tanya Zivana, bersama manik mata yang bergantian menatap kedua remaja di samping kiri dan kanannya.


"No, tapi aku tahu dia Aunty. Dan yang lebih penting dari itu.... bukannya Uncle Deron memberi kabar jika Nevan akan segera bertunangan? jadi? e'eem sorry, maksudku adalah... apa Aunty merestui hubungan Nevan dengan calon tunangannya?"


"Tentu saja Guilio! kenapa tidak!"


"Lalu.. kenapa gadis ini berada di sini, Aunty? Oh ayolah... Come on! wait... apa sekarang Aunty berencana mempunyai dua menantu? Waoooh that's cool!! Aku senang dengan pemikiran seperti itu!"


"Jangan sembarang Guilio! It is not funny!"


"Sure, I didn't laugh but I was surprised! aku hanya menebak situasi yang terlihat di depan mataku, just that...."


"Buang jauh-jauh pikiran buruk mu itu Guilio! Dan belajarlah untuk menghargai seorang wanita, jika kamu ingin mengetahui apa itu cinta yang sesungguhnya!" tutur Zivana, karena ia tahu betul sifat Guilio yang suka bermain wanita di umurnya yang masih muda.


Bukannya mendengar Guilio malah membuang muka, ia malas mendapat nasehat, hingga fokusnya kembali teralih pada gadis seusianya, "Nama lo Shasyania kan? murid SMA MERPATI yang sering ngadain acara di alun-alun kota?" ia bertanya sambil menaikkan satu alisnya.


Gadis yang awalnya tidak memperdulikan kehadiran Guilio kini mulai melirik bersama kerutan tipis di dahinya, ia masih heran kenapa sosok pecicilan seperti itu bisa mengetahui nama beserta aktivitas yang sering ia lakukan dulu, rasa penasaran membuatnya langsung menjawab, "Iyaa," sahut Shasyania, hingga sejurus kemudian ia merasa tak asing dengan wajah itu.


Mendengar pembenaran atas pertanyaannya membuat Guilio tersenyum tipis lalu tertawa senang, ia menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke depan dan ke belakang sampai di detik itu juga ia menatap Zivana, "Aunty ingat? hal yang paling sering dilakukan Nevan dulu, sampai membuatnya lupa waktu? Ya.. yaitu bermain di hutan bersama sahabat berbulu nya itu.... Si Sarimin ahahaha! Dan Aunty tahu, apa yang akhirnya membuat Nevan perlahan-lahan mengurangi kegiatannya tersebut?" pancing Guilio, ia seperti sengaja memainkan emosi lawan bicaranya.


Hingga Zivana menghela nafas jenuh, ia sangat tidak suka bila ditarik-ulur seperti ini, terlebih lagi jika sudah menyangkut putranya, "Langsung jelaskan Guilio! jangan membuat kami menunggu!"


Laki-laki itu pikir Zivana akan sedikit melunak, tapi ternyata tidak, sampai Guilio mengerucutkan bibirnya kebawah lalu tersenyum jahil, hingga mata elang Zivana membuatnya segan, "Itu karena cinta Aunty! C I N T A! The power of love! Yaa, karena Nevan mencintai gadis ini, gadis yang membuatnya melupakan Si Sarimin, beserta habitatnya ahahaha!" guraunya.


"Hem!"


"Sorry...sorry Aunty, aku kelepasan tadi! Mari kita bahas lagi... yaa setelah cinta itu tumbuh Nevan memang tidak lagi menghabiskan harinya di hutan, tapi kini di pinggir jalan! ahahahah!!"


"Eehem!"


"Hehe.... Nevan sering membuang-buang waktunya hanya untuk menunggu gadis ini! Sepupuku sayang, sepupuku yang malang! dia digandrungi banyak gadis tapi sekalinya jatuh cinta malah seperti anak ayam yang kehilangan induknya!"


"Guilio...," tekan Zivana.


"Alright, now I'm serious! Apa Aunty masih ingat.. kenapa dulu aku sering sekali kesal karena liburanku yang selalu gagal? Itu karena Nevan juga melibatkan ku, Aunty! Dan saat aku mengetahui alasannya, maka di saat itu pula aku langsung mengejek Nevan habis-habisan, dia kesal hingga kami beradu mulut, lalu aku mengajaknya taruhan! Aku mengatakan siapapun akan bertekuk lutut padanya, itu mudah! Very easy! apalagi jika orang tersebut mengetahui siapa dirinya, tapi Nevan dengan lantang mengatakan jika dia bisa membuat gadis ini jatuh hati, tanpa memandang materi! and then.. dia bertindak konyol Aunty, sangat-sangat konyol!! Mungkin akibat pergaulannya bersama sahabat berbulu ya itu! Nevan berpura-pura menjadi seorang badut bisu hanya untuk lebih dekat dengan Shasyania! ahahah ide macam apa itu ahahah!!!"


Deg!


"Aa?"


Guilio menepuk-nepuk pahanya, begitu bahagianya ia sampai tertawa terpingkal-pingkal, "Yaaa..., kalian menyebutnya Aa! Dan kekonyolan Nevan belum berakhir sampai di sana! Karena di saat dia mengetahui jika lo suka kota Paris! maka saat itu pula Nevan langsung merencakan kejutan romantis! Bahkan sebelum lo kenal dia, tapi sepupu gue itu malah dengan PD nya memberi suprise! namun sungguh malang, kisah cintanya kandas terhalang restu, dia di jodohkan Shasyania.. hingga membuatnya terpaksa melepas lo!" ucap Guilio, yang dengan sengaja memasang wajah sendu, "tapi apa-apaan ini sekarang? lo di sini! Mhh, mungkinkah ini arti jika kalian akhirnya bersatu? dan lo bersedia menjadi yang kedua? Wah..wah wah! Nevan harus bersikap adil nih! Tenang... gue yang akan aja___,"


Krrrrrrt!


"Aaaaawwww!! sakit Aunty sakiiiiiitt!!!"


"Sakit? itu terlalu dini Guilio! karena Aunty berencana membuat telingamu sebesar gajah! sampai kamu belajar cara untuk lebih bisa mengontrol ucapanmu!"


"Ampun.... jangan seperti ini Aunty! Jika para gadis melihat telingaku merah, maka itu hanya akan membuat harga diriku menjadi turun drastis!!!"


"Biarkan... itu malah lebih bagus! setidaknya para gadis akan berpikir ulang untuk menyukaimu!"


"Tolong jangan seperti ini Aunty! jangan bersikap kejam layaknya ibu-ibu sosialita di sinetron ikan terbang! Malu Aunty maluuuu!"


"Sinetron ikan terbang? tahu apa kamu Guilio! Sekolah yang benar di luar Negeri! bukannya sibuk mencari berita trending!"


"Iyaaa...iya Aunty! tapi tolong lepaskan ini...."


Setelah laki-laki itu merengek ampun berulangkali sambil terus berucap janji untuk tidak lagi berkata sesuka hati, barulah Zivana melepas tarikan tangannya dari telinga Guilio, dan beralih merangkul bahu Shasyania, hingga mengabaikan keponakannya yang masih meringis kesakitan.


"Kejam! padahal aku merindukan kasih sayang seorang Ibu yang sudah bertahun-tahun ini hilang dari hidupku!"


"Guilio?" lirih Zivana, seketika rasa bersalah timbul di benaknya dan ia berniat untuk memeluk laki-laki itu.


"Bercanda Aunty bercanda ahaha! aku tidak semenyedihkan itu ahahaha!"


Krrrttt!


"Ampuuuuuuuuun!!!"


......................


Malam panjang itupun berlalu, dan kini matahari mulai terbit di balik celah-celah awan yang menggumpal, sinarnya tidak seterang biasanya karena mendung juga ikut menghiasi langit di Kota B.


Dan di dalam ruangan yang di dominasi oleh warna putih susu, tampak seorang remaja yang terbaring di atas bed mulai membuka kelopak mata, sebenarnya ia sudah sadar dari beberapa jam yang lalu namun mata itu terasa berat untuk sepenuhnya terbuka hingga membuat remaja itu kembali tertidur sampai akhirnya kini kesadarannya pun berangsur-angsur pulih.


"Shasyania...," kata pertama yang ia ucapkan, saat sekelebat bayangan terlintas di memori ingatannya.


"Nevan.... Hei jangan bangun dulu nak, berbaringlah! Katakan, katakan apa yang kamu inginkan? biar Daddy yang ambilkan!!"


"Shasyania? ohhh iyaa, dia lagi sarapan bersama Mommy!" sahut Deron, ia bergerak lebih mendekat bermaksud untuk kambali membaringkan tubuh Nevan.


Greb!


"Tidak Daddy tidak!" Nevan mencengkram kuat tangan Deron yang memegangi pundaknya, "aku harus bertemu dengannya sekarang juga! Aku harus memastikan keadaannya! apa dia baik-baik saja? Dia baik-baik saja kan, Daddy?"


"Iyaa Nevan iyaaa, Shasyania baik-baik saja, bahkan kemarin dia tidur di sini, menemanimu! jadi tenanglah!!"


Nevan menggeleng-gelengkan kepala, "Sebelum aku melihatnya langsung.. maka aku tidak akan percaya! Tidak lagi!! jadi tolong panggilkan dia untukku Daddy! aku mohon...."


"Baiklah."


Ketakutan jelas tergambar dari raut wajah Nevan, netra matanya bergetar dengan isi pikirannya yang sulit untuk di gambarkan, sampai membuat Deron bergerak cepat untuk menghubungi istrinya.


Tut!


Tut!


Panggilan tak tersambung, dan Nevan yang menyadari itu dibuat semakin tak terkendali, "Lagi dan lagi aku melepas tangannya! aku melepaskannya lagi Daddy!! Aku mengulangi kesalahan yang sama!"


"Nevan jangan turun nak! Infus mu masih terpasang! Kamu akan terluka jika melepasnya secara paksa! Nevan!!!"


Brug!


Deron mendorong dan menahan bahu putranya agar tetap diam, namun itu tidak cukup berhasil untuk membuat Nevan menyerah, ia masih saja melawan bahkan selang infus yang terpasang di punggung tangannya sudah terlepas.


Srrrrrrt!


Hingga pintu di ruangan itu terbuka, dan memperlihatkan Zivana dan juga Shasyania yang tengah memasuki ruangan.


"Ke...kenapa? ada apa ini honey?"


Deron tak memiliki cukup waktu untuk menjawab pertanyaan istrinya, karena kini pandangannya teralih menatap Shasyania.


"Liat Nevan liat, itu Shasyania! sudah Daddy katakan jika dia baik-baik saja, jadi kamu tenanglah!"


Matanya langsung berair menatap kehadiran gadis itu, hingga Nevan menggerakkan jari-jari tangannya mengisyaratkan agar Shasyania mendekat.


Posisinya masih duduk di sisi bed, dengan Shasyania yang kini berdiri di hadapannya, "Kamu baik-baik saja kan?" Nevan bertanya, seraya menyentuh pipi Shasyania.


Hanya anggukan kepala sebagai jawaban, Shasyania merasa tercekat ketika melihat keadaan Nevan, laki-laki yang biasanya selalu tampil necis, kini justru terlihat sedikit berantakan apalagi di bagian rambutnya.


"Ka..kamu ingat aku kan, mhhh? tidak melupakanku kan? iyakan?"


"E'emm."


Lagi-lagi Shasyania menggunakan bahasa isyarat untuk menjawab pertanyaan Nevan, sampai sejurus kemudian ia menyisir rambut itu menggunakan jari-jari tangannya.


"Aku mencintaimu Shasyania...."


"Aku juga mencintaimu sayang...."


Menyadari cairan bening mulai turun dari sudut mata Nevan, membuat Shasyania sigap untuk menghapus air mata itu dengan penuh perasaan.


Nevan memejamkan mata sembari sedikit menghindar, ia tidak ingin terlihat lemah, namun sekuat apapun ia menahan, rasanya sangat sulit untuk tidak menangis, bahkan sesekali terdengar suara isakan yang lolos dari dalam mulutnya.


"Aa...aku, mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu! Tolong berikan aku pelukan, dan jangan pergi, temani aku di sini!"


Shasyania langsung menuruti keinginan tersebut, ia dekap erat tubuh yang berada di hadapannya itu sambil mengelus-elus kepala Nevan.


Hingga beberapa menit berlalu sampai terdengar hembusan nafas teratur dari dalam diri Nevan, yang menandakan jika laki-laki itu sudah terlelap tidur, dan di saat itu pula seorang perawat memasuki ruangan tersebut untuk memasang kembali infus yang sempat terlepas.


"Shasyania, sebaiknya kamu ikut berbaring di samping Nevan, takutnya nanti pas dia bangun malah histeris lagi, kamu temani dia yaa, sayang" pinta Zivana.


"Baik Mommy."


Dan benar saja, baru dibaringkan mata itu kembali terbuka, namun saat menyadari keberadaan Shasyania di sampingnya membuat Nevan kembali terlelap sambil mencondongkan kepala untuk lebih mendekat kearah Shasyania.


.


.


.


"Sebaiknya kita keluar honey," ajak Deron, yang langsung disetujui oleh Zivana.


"Honey?"


"Iyaa? kenapa?"


"Panggil Dokter Jenni, aku rasa kita membutuhkan jasanya lagi! Nevan belum sepenuhnya sembuh, kecemasan dan rasa takut yang berlebihan itu masih melekat pada dirinya honey, meskipun Shasyania ada di sampingnya, akan tetapi tetap saja kita harus mengonsultasikan masalah itu! Begitupun untuk Shasyania! aku tidak ingin mereka berdua masih terbelenggu dari kenangan buruk di masa lalu!"


"Iyaa aku setuju honey, dan memang benar, jika dampak dari peristiwa itu membuat Nevan mudah marah. Ketika dia tersulut emosinya maka dia akan langsung menghajar musuhnya tanpa belas kasihan, seakan melampiaskan rasa gagalnya di masa lalu dengan cara membabi-buta! Kita memang harus mengatasi emosinya! Dan dengan kehadiran Shasyania sekarang, maka akan memudahkan kita untuk membujuk Nevan, begitupun sebaliknya! Dan selaku orang tua kita akan selalu mendampingi mereka berdua honey!"


"Tentu saja!"