
Matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya yang Agung. Cahaya kuning keemasan yang selalu mampu menghangatkan suhu Bumi itu, kini perlahan mulai naik di ufuk timur.
Dan di sini, di tepi jalanan yang masih sepi oleh hiruk pikuk kesibukan, namun lain halnya dengan sosok Shasyania yang sudah terlihat begitu bersemangat, ia berlari memacu batas kecepatannya, hingga tiba dengan nafas memburu di sebuah halte bus.
Shasyania menengang dadanya yang naik turun, ia berusaha mengontrol nafasnya agar kembali normal, "Benar! ini adalah keputusan yang paling benar!" gumamnya, dengan segala kemungkinan yang sudah ia pikirkan.
Dari raut wajah gadis itu terlihat jelas jika ia sedang mengindari kedatangan seorang Atom. Shasyania tidak mau lagi di jemput hingga di ajak kembali ke kediaman Eldione, sampai di paksa untuk berangkat bersama Nevan, bukan tanpa sebab ia hanya takut menimbulkan malapetaka, jadi sebaiknya ia menghindar saja.
Karena selelah-lelahnya belajar akan lebih melelahkan lagi ketika kita ingin mengeyam pendidikan namun terhalang keadaan.
...****************...
Di tempat yang berbeda Smartphone yang tengah berada di dalam saku celana bergetar. Hingga sang empunya menatap layar pipih itu sembari mendengus sebal, ketika melihat siapa yang tengah memanggilnya.
"Iya Kek?"
"Nevan!!!" laki-laki yang sedang diteriaki namanya seketika menjauhkan benda canggih itu dari area kupingnya, dan bergegas mengecek indera pendengarannya sebelum suara dari seberang sana kembali membuatnya kesal.
"Kenapa Shasyania tidak ada di rumahnya hah? dan kenapa juga dia seolah-olah menghindari kedatangan Atom? apa yang kamu perbuat Nevan? Bukannya Atom sudah memberitahumu, jika kalian harus berangkat ke sekolah bersama!" protes Toreno, yang terus menghujani cucunya dengan segala macam pertanyaan.
"Yaelah Kakek..., mana Nevan tahu Kek! seharusnya Kakek tanyakan itu pada orangnya langsung!! dia maunya apa, dan kenapa, bukan ke Nevan, Kek!"
"Ck, kamu jangan berdalih mencari pembenaran Nevan! Jelas-jelas sesuatu pasti telah terjadi! apa kemarin kalian berangkat bersama?"
"Iya Kek..., kami berangkat bersama, dia ke sekolah dengan keadaan sehat walfiat, tanpa cacat sedikitpun!!!" jelas Nevan, seraya mengacak-acak rambutnya yang tebal.
"Nevan dengar! Kakek bisa saja menyuruh seseorang untuk memantau kalian, tapi Kakek tidak melakukannya karena Kakek percaya padamu! Kamu tidak mungkin melukai seorang wanita, apalagi keluarga kita berhutang jasa pada keluarganya!" tutur Toreno penuh penekanan, "mungkin saat ini kamu masih belum menerima Shasyania, tapi Kakek mohon jagalah dia untuk Kakek. Itu tidak sulit bukan?"
Nevan mengepal tangannya kuat, kini ia berusaha mengontrol luapan emosi, yang mulai menjalar ke sekujur tubuhnya, "Iya Kek, Nevan mengerti!"
Panggilan itupun berakhir, lalu terdengar suara gertakan gigi yang berasal dari dalam mulut Nevan, samar-samar urat di wajahnya juga terlihat mengeras, hal itu menandakan betapa kesalnya ia saat ini.
"Cih! apa saja yang sudah gadis itu katakan, hingga ia dengan mudahnya mampu meracuni pikiran Kakek? Sial! ini pertama kali Kakek memaksaku untuk melakukan sesuatu yang sudah jelas-jelas aku tolak!"
Sebal, kesal, dan rasa tidak terima kini memenuhi pikiran Nevan, ingin rasanya ia memutar waktu, dan jika itu terjadi mungkin rasa sakitnya tidak akan sedalam ini, "Shasyania... lo benar-benar pandai bersilat lidah! Sok polos! Gak akan lagi gue biarin lo leluasa untuk berdrama! Tidak lagi!!!"
Saking kesalnya ia bahkan kembali melewatkan sarapan paginya.
Bruuuaaaks!
Nevan memundurkan kursi cukup keras, hingga kursi tersebut terpelanting jauh, dan menghasilkan suara nyaring yang mampu membuat beberapa pelayan terperanjat kaget.
...****************...
Brooms!
.
.
.
Broooms!!
Brooomms!!!
Dengan leluasa Nevan memilih tempat untuk memarkirkan mobil sport mewahnya, karena memang suasana di area sekolah masih sangat sepi akan kehadiran siswa lainnya.
Ditambah lagi, berangkat pagi merupakan suatu kebiasaan bagi seorang Geonevan. Hal itu ia lakukan untuk menghindari kebisingan dari suara-suara tidak penting yang bisa merusak moodnya.
Tulisan XI IPA 1 terpampang jelas di sebuah mini board yang tertempel di atas pintu kelas. Dan dari kejauhan mata tajam Nevan sudah melihat jika pintu kelas tersebut telah terbuka lebar.
Alisnya bertaut memikirkan sesuatu, "Siapa yang lebih awal dari gue?" gumamnya, seraya terus mengayunkan kaki.
Dan kini pandangannya menghunus menatap lurus gadis yang menjadi alasan kenapa ia melewatkan sarapan pagi, dan ketika ia berusaha untuk melupakan itu, justru orang pertama yang ia lihat adalah sosoknya.
Mitos atau fakta, menghindari sesuatu hanya akan membuat kita menjadi semakin dekat, seperti halnya Nevan, ia selalu berusaha untuk tidak bersinggungan langsung dengan Shasyania, namun semesta seperti memiliki niatannya tersendiri, untuk selalu mempertemukan mereka.
Dan sekarang dua pasang mata itu saling bertatapan, saling mengunci tanpa terelakkan. Tak ada hal romantis di sana, ini justru lebih terlihat seperti dua kubu yang saling bersitegang. Satunya dengan tatapan penuh amarah dan satunya lagi tatapan yang menyiratkan kebingungan.
Hingga salah satu di antara mereka mulai bersuara, "Lo!! kenapa duduk di sebelah gue lagi? pindah! gue gak mau sebangku samaaaa P A R A S I T!" bentak Nevan, yang menggema di seluruh sudut ruangan berukuran 9×8meter tersebut.
Gadis itu tidak menyahut namun hanya bertindak. Itulah yang di lakukan Shasyania, ia menjauh dari tempat itu dan mendekat ke arah mading yang berisikan tata letak tempat duduk. Matanya mengedar dengan jari telunjuk menelisik letak meja yang masih kosong.
.
.
.
Hingga jarum jam terus berputar menghasilkan perubahan waktu, yang perlahan-lahan membuat suasana sepi kian terkikis, saat kehadiran beberapa murid mulai meramaikan ruangan kelas.
"Ehh... si Shasya kok duduk di sana ya?" ujar Baru penasaran.
"Di usir Geonevan pasti!"
"Duh!! kenapa harus berurusan sama laki-laki pemarah itu sih? baru juga mau gue jadiin gebetan!" sentaknya.
"Yaelah... segitu aja lo menyerah! kalau beneran suka di perjuangin dong!!!" tantang Dino.
"Lo juga awalnya tertarik kan sama si Shasya? terus kenapa sekarang lo malah sok acuh tak acuh? takut sama Geonevan juga kan?"
Dino terkekeh dengan pertanyaan Baru, "Iyaa juga sih...," jawabnya sambil tertawa geli, "soalnya gue males berurusan sama penguasa kegelapan, takut jalan gue terhambat! Lebih-lebih lagi kalau usaha keluarga gue jadi ikut terseret! Ihh amit-amit!!!" imbuhnya melebih-lebihkan.
.
.
.
"Van, kenapa lo kayak gak suka banget sama anak baru yang namanya Shasyania itu?" tanya Dariel, pandangannya terus mengarah ke depan menatap manik mata sahabatnya.
"Emang semua perlu alasan?"
"Gak gitu juga... tapi semua kan__," ucapan Dariel terhenti, ketika Nevan tiba-tiba berdiri.
"Gue muak bahas dia! Gue gak suka dia ada dipikirkan gue terus! jadi, jika lo masih membahas tentang dia, maka jangan pernah bertanya sama gue lagi!"
Dan tidak jauh dari sana, Jiana, Rissa dan juga Megan terlihat bahagia mendengar setiap perkataan yang terlontar dari mulut Nevan. Hingga membuat mereka tersenyum penuh kemenangan.
"Wah... kalian denger tadi ucapan Geonevan? Ck! kayaknya si Shasyania bikin masalah besar tuh!" tebak Rissa.
"Ya jelaslah! gue juga bakalan ilfil kalau digituin!" ujar Jiana, seakan sengaja mengundang rasa penasaran dari dua orang yang berada di hadapannya untuk kembali bertanya.
"Maksud lo Jian?"
Umpan termakan, begitulah reaksi yang terlihat dari gestur tubuh Rissa dan Megan. Mereka begitu penasaran hingga menyodorkan tubuhnya lebih mendekat.
Dan dengan sudut bibir terangkat ke atas, Jiana mulai mengarang cerita, "Nevan kemarin cerita ke gue, kalau cewek itu maksa-maksa dia buat jadi pacarnya, bahkan sampai ngemis, dan parahnya lagi tuh cewek sampai berlutut segala tahu! Dan alasan dia pindah sekolah juga karena mau ngintilin si Nevan!"
"Whaatttt!" teriak Rissa dan Megan bersamaan.
"Parah banget tuh cewek, kayak stalker aja! pantes si Geonevan jadi risih gitu!" cibir Megan, ia bahkan sampai memukul meja.
"Sial! Dia pikir baru cantik gitu, terus bisa maksa cowok buat dijadiin pacar gitu? Cuihh!!!" seru Rissa.
"Kampret... ketipu casing gue!"
"Untung Geonevan cerita sama lo Jian! jadinya kita tahu siapa Shasyania sebenarnya!! Gue jadi nyesel... pernah kasian sama dia!" ucap Megan, yang membuat Jiana berada di puncak kemenangan, setelah drama yang ia buat dipercayai begitu saja.
"Pokoknya ini gak bisa di biarin nihh! kalau udah menyangkut ketentraman pangeran SMA GUARDIANS, kita mesti bertindak!" seru Rissa.
Gosip itu menyebar luas, hingga memiliki berbagai versi terburuk mengenai karakter yang di miliki Shasyania. Gadis itu seketika di benci oleh seluruh siswa dan siswi garis keras Geonevan.
.
.
.
"OHH... JADI INI NIH ORANGNYA?"
"BERASA CANTIK BANGET LO YA!"
"SOK CANTIK NAJIS!!!"
"MUKANYA SIH EMANG LUAR BIASA, TAPI SAYANGNYA..., HATI SAMA PIKIRAN KAYAK SAMPAH!!!"
Sindiran demi sindiran tertuju pada Shasyania, ketika ia akan menuju toilet.
"HEIII... BERANI BANGET LO YA... GANGGUIN KEBANGGAN SEKOLAH INI!"
"CIH..., SOK TULI LO? APA UDAH TEBAL ITU MUKA!"
Shasyania berusaha acuh tak acuh dengan situasi sekitar, meskipun sangat sakit di perlakukan tidak adil.
Hingga sebuah kaki sengaja membuatnya tersungkur ke bawah.
"SYUKURIN!"
"MAMPUS LO!"
"ITU BALASAN UNTUK ORANG YANG SOK KECENTILAN!"
"MUKANYA ASLI GAK TUH? JANGAN-JANGAN HASIL OPLAS LAGI! KAN DUITNYA BANYAK!"
Tidak lagi diam, ia mulai menyuarakan isi hatinya, "MASALAH KALIAN APA SAMPAI MEMPERLAKUKANKU SEPERTI INI?" Shasyania berusaha berdiri, dan mengeluarkan suara yang mampu membuat beberapa orang di sana semakin geram.
"WAH!!! BERANI JUGA LO YA?" seru seorang siswi yang semakin mendekat.
"KITA KAYAK GINI... KARENA LO PARASIT!" bentak Jiana dari arah belakang.
"NAH KAN UDAH TERSINDIR, MAKANYA LO DIEM?" kali ini Rissa yang bertanya, sampai mendorong bahu Shasyania.
"KALIAN INI APA-APAAN SIH? TAHUNYA HANYA MENGHAKIMI!" sentak Shasyania.
"SIAL.... BESAR JUGA NYALI NIH CEWEK!"
"JELAS!!! KARENA AKU TIDAK SAMA SEPERTI KALIAN! YANG BERNYALI KECIL... HINGGA BERANINYA HANYA MENYERANG SECARA BERKELOMPOK! RIBUT GAK JELAS!!!"
Setelah ungkapannya tersebut, dari arah samping dua tangan langsung mencengkram kuat lengan Shasyania. Gadis itu di seret menuju kamar mandi, lalu dari atas guyuran air dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya, dan tidak hanya itu, ia bahkan langsung di kunci dari arah luar.
"Ibuk...," Tak sanggup lagi menahan sakit dihatinya, hingga ia berucap lirih sembari menangis, dan tuas ingatannya berputar di saat ia bersama sang Ayah, lalu beralih ketika ia bersama sahabatnya di SMA MERPATI.
Sakit di bagian lututnya juga mulai terasa, dan ketika ia melirik kearah rasa sakit itu, ia melihat darah yang mulai keluar dari sobekan luka. Sampai tangannya berusaha mengambil gayung di sebelah kiri, dan membilas luka itu secara perlahan. Tidak hanya sampai di situ ia juga baru menyadari jika sesuatu telah hilang.
"Sepatuku?"
Rasa sakit kembali menghujam ketika ia mengingat sepatu tersebut merupakan pemberian Ibunya, sebagai tanda keberuntungan di sekolah baru. Tapi apa yang ia terima, justru diperlakukan tidak adil.
Lama Shasyania terdiam, hingga suara bel pulang sekolah mulai berbunyi, namun sampai saat ini tidak ada satupun yang mencari keberadaannya. Hingga Shasyania tertidur dan saat ia bangun pintu toilet sudah dalam keadaan terbuka.