
"Ketua dan wakil silahkan maju ke depan lalu bagikan semua lampiran soal ini ke teman-teman kalian!"
Ririn menatap kertas putih itu dengan pandangan tidak percaya, pupil matanya terlihat semakin membesar saat ia semakin fokus memperhatikan isi yang tertulis di dalam kertas tersebut.
" Pak Rivat gak lagi ngelawak kan? Apa-apaan ini!" batinnya. Ekspresi kepanikan Ririn tertangkap pandangan mata seorang Nita hingga ia bertanya menggunakan bahasa isyarat.
Gelengan kepala Ririn seperti mencabut roh dalam tubuh Nita, perasaan resah gelisah pasrah beserta tetesan keringat menjawab betapa paniknya ia sekarang.
"Terus untuk murid pindahan hari ini, kalian tetap mengikuti ulangan Bapak sebagimana mestinya, tidak ada toleransi bagi kalian karena materi di kelas ini sama dengan materi di kelas kalian sebelumnya."
"Sial! gue tahu Pak Rivat bakal ngadain ulangan tapi gue gak tahu bakal hari ini! mana gak ada Anjas lagi! gue juga gak ada persiapan! nyontek di mana dong?" keluh Wilkan, kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan.
Wilkan Pratama Adhiga siswa yang tergolong pintar di kelas bahkan ia selalu masuk rangking Lima terbesar namun kelemahan laki-laki itu adalah dia termasuk orang yang belajar dan menghafal terlebih dahulu dan jika keadaannya mendadak seperti ini maka ia akan kesusahan.
"Yang jelas kita salah hari buat pindah kelas!" pungkas Miko, "Gem... sssttttt Gem...Gemmi!" Remasan kertas bulat jatuh dari udara dan membentur punggung lebar seorang Gemdominic.
"Apaan?"
"Ulangan gimana nih?"
"Ya buatlah!"
"Gue tahu tapi gimana caranya?"
"Di tulis DODOL!"
"Udah jangan nanya ke dia!" Wilkan memperingati seraya menyiku lengan Miko.
Pak Rivat yang awalnya duduk santai sekarang terlihat berdiri, "Pembagian soal di sana ada dua jenis yaitu genap dan ganjil jadi bagi kalian yang absennya genap maka kerjakan soal genap dan bagi kalian absen ganjil kerjakan soal yang ganjil, paham?" Guru itu sengaja menjeda ucapannya, "pahamlah masak enggak! Bapak kasih waktu sampai jam pelajaran ini selesai. Kerjakan yang tertib dan jangan ribut!" jelasnya dengan intonasi di tekan.
"Gue sih gak masalah mau genap ataupun ganjil yang terpenting absen kita samaan Ron!"
"Lo seneng tapi gue yang mikir!"
"Elehh! lagian buat apa juga tuh otak kalau gak buat mikir!"
"Terus kegunaan otak lo buat apa?"
"Buat mikirin cewek!"
"Jian lo bisa Fisika enggak?" tanya Megan.
"Otak gue beku soal hitungan!"
"Ternyata kita bertiga sama-sama bego!" batin Megan.
"Ini ni yang paling gue gak suka kalau ulangan make absen segala! Gak punya temen gue!" sentak Rissa ia menyalahkan keadaan.
Saat kebanyakan murid di dalam sana merasakan kegelisahan namun berbeda dengan seorang Gemdominic ia malah terlihat santai melukis. Tangannya bergerak lincah seraya beberapakali mencuri-curi pandang. Senyum tipis menghiasi wajah Gemmi saat karyanya sebentar lagi akan selesai.
Sudut mata Shasyania memberi sinyal ke otaknya jika ia sedang di perhantikan namun gadis itu memilih acuh tak acuh, ia terlalu cuek untuk melirik si pelaku.
"Shaa... Shasya lo absen berapa?" Nita sampai membalikkan badannya kebelakang bertujuan untuk mendapat perhatian dari gadis yang tengah ia panggil.
"32 Nit"
"Berarti kita sama-sama genap! Shaa...," kali ini Nita berusaha memperlihatkan puppy eyes miliknya, ia sangat berharap Shasyania menjelma sebagai Dewi penolong, "kasih tahu jawaban nomer satu pleasee...," rengekannya sampai mengatupkan kedua tangan.
"Iyaa Nit..., mandi dulu ya."
"Haahh mandi?"
"Nanti," ralat Shasyania.
Pandangan Shasyania kembali fokus ke lembaran jawaban yang tengah ia kerjakan. Bulu matanya yang lentik, panjang dan lebat bergerak naik turun ketika matanya mulai terbuka dan tertutup hingga berhasil mengundang perhatian bagi seseorang Gemdominic yang masih setia memperhatikannya.
"Di mana lo dapet jawaban Ko?"
"Dari Anjas, nanti kita patungan bayar dia!"
"Gampang!"
Sekian detik memandang layar handphone lalu sepersekian detik kemudian mereka mengkopi apa yang mereka liat ke sebuah lembaran kertas double polio, sangat fokus sampai benda pipih yang di pegang Miko bergetar memperlihatkan sebuah notifikasi masuk.
Gemmi : Kirim jawaban!
Miko : Gambar terkirim
Tangan Wilkan yang sedari tadi asik menyalin tiba-tiba terhenti, "Ko..., emang sekarang absen kita sama Gemmi sama-sama ganjil ya?"
Mendengar itu membuat Miko refleks memukul meja, "Lah dia kan genap!" dengan kecepatan kilat Miko membuka aplikasi berwarna hijau.
Miko : Gem jangan salin jawabannya! itu untuk absen ganjil dan sekarang lo absen genap!
"Kampret!" umpat Gemmi yang langsung mendapat lirikan dari Shasyania. Tatapan mereka bertemu hingga Shasyania kembali membuat muka.
Laki-laki itu kembali melirik namun sekarang bukan wajah yang menjadi objek pandangannya melainkan lembaran jawaban yang terlihat hampir selesai tersebut, dengan suara lembut ia mulai berbasa-basi, "Ehh lo absen genap kan?"
"Iyaa."
"Kasih nyontek dong! gue dodol nih pelajaran Fisika," keluhnya mengiba.
Ia pikir akan sulit untuk membujuk gadis itu namun siapa sangka tanpa di duga Shasyania menggeser lembar jawabannya.
"Sama-sama nyontek aja belagu lo!" cela Gemmi, "kasih dulu gue foto setelah itu baru lo ambil kertasnya!"
"Yasudah cepat!"
"Sabar janc*k!" umpat Gemmi, "Shasya kasih gue foto ya," ijinnya padahal sedari tadi Shasyania sudah memberi ijin namun tetap saja laki-laki itu kembali berkata.
"Oh ya dan lo jangan sampai nyalin semuanya! gimanapun itu hasil otaknya Shasyania! nilai kita gak boleh sama persis kayak dia!" sekarang Ririn memperingati, setidaknya ia sadar diri untuk tidak mencontek secara keseluruhan.
"Yang di contek aja gak heboh jadi kenapa lo berdua yang sewot?"
"Karena kita harus menghargai!"
"Koar-koar menghargai tapi tetap mencari keuntungan!"
"Pokoknya lo ga__,"
"Iya...iya cerewet!"
"Nah gitu dong!"
Arah jarum jam terus berputar hingga menunjukkan menit-menit mendekati pergantian jam pelajaran. Pak Rivat yang menyadari itu langsung membuka mulutnya, "Waktunya tinggal 10 menit lagi!"
"Aduh gimana nih mana belum selesai gue!" lirih Baru, "Dri... Andri foto jawaban nomer Lima!" tidak mendapat respon membuat Baru mengumpat kesal, "Sialan berlagak tuli lo sekarang!"
"Lo mending udah jawab nomer Empat nah gue mentok di nomer Satu!" sentak Dino, ia merasa temannya terlalu berlebihan padahal masih ada orang yang lebih membutuhkan jawaban.
Mendekati detik-detik terakhir semakin terlihat kepanikan, ada yang sampai berdiri, berteriak kecil bahkan turun dari bangku.
"KAMU ngapain turun dari bangku? kalau mau kumpul bawa kesini!"
"Maaf Pak saya cuma mau minjam Tipe-X," elak Rissa mencari alasan.
"Waktunya sudah lewat cepat kalian kumpul atau Bapak tinggal!" ancaman dari Pak Rivat tidak main-main, Guru itu benar-benar terlihat melangkahkan kakinya keluar.
"Pak...Pak ini Pak!"
Layaknya sedang berolahraga beberapa murid mengerahkan seluruh tenaga untuk mengejar Pak Rivat yang sudah sampai di tangga.
"Asem banget ulangan kali ini!"
"Udahlah gak usah di ambil pusing lagian dunia gak bakal runtuh hanya karena nilai lo kecil!" jelas Baru sembari menunjuk handphone Dino ia ingin temannya segera login untuk bermain game online.
"Enteng banget tuh mulut nyerocos! lo enak udah jawab sampai nomer Lima nah gue? cuma sampai nomer Dua itupun baru setengah jadi!"
"Shaa..., nanti malem lo dateng ke rumah Dariel kan?"
"Enggak tahu Rin"
"Emang lo ada kesibukan ya? atau ada acara keluarga?" kali ini Nita yang bertanya.
"Ngapain ke rumah si..., siapa tadi?" sela Gemmi.
"Dariel!"
"Nah itu kenapa kalian ke rumah dia?"
"Pesta ulang tahun! seisi kelas di undang."
"Berarti gue juga dong?"
"Ehhh siapa lo? lagian lo gak ingat tadi pagi kalian adu bacot? punya muka banget lo kalau sampai dateng!"
"Kita kan sekelas sekarang!"
Nita dengan beraninya menarik telinga Gemmi hingga laki-laki itu meringis kesakitan.
"Sialan lo!"
Hanya seorang Nita yang berani memperlakukan ketua Geng PS seperti itu, bukan tanpa alasan karena ia merupakan adik dari Darwis Qiolin ketua Geng Venom yang bersarang di SMA GANDAPATI. Jauh sebelum bersekolah di SMA GUARDIANS Nita sudah terlebih dahulu mengenal sosok Gemmi, laki-laki itu cukup sering mengabiskan waktu di rumahnya bersama sang Kakak mulai dari latihan bela diri, Game bahkan menjalankan salah satu hobi mereka yaitu Mural.
"Van nanti malem pakai setelan biru dongker ya?" pinta Dariel.
"Mau ngapain lo?"
"Mau ngadain acara ulang tahun!"
"Gue tahu BEGO! tapi ngapain lo nyuruh gue make setelan itu?"
"Biar lo gue sama Eron samaan!"
"Ogah!"
"Gue juga ogah!" pungkas Eron tangannya aktif bermain game online. "Sial meleset!" mendengar tanggapan dari sahabatnya membuat tangan Dariel secara sengaja menekan-nekan layar pipih milik Eron.
"Bren*sek jadi kalah gue!
Geonevan hanya tertawa saat kedua sahabatnya beradu pukul sampai pandangannya teralih ketika Shasyania berjalan melewati bangkunya.
Kaki panjang itu mampu menyalip langkah Shasyania. dengan gerakan cepat ia memutar haluan kebelakang meskipun jarak yang ia tempuh akan terasa lebih jauh namun pikirannya lebih tenang di bandingkan ia harus berjalan berdekatan dengan seorang Geonevan.