Mine ?

Mine ?
02 : Mengejutkan



"Cihhh! Rencana gue rusak gara-gara keluarga sialan itu! Kalian menginginkan harta kan? maka bersiaplah menerima tantangan!!! Jangan harap setelah ini kalian bisa tersenyum senang! Bre.gseeeek!!!"


Nevan begitu emosional setelah kedatangannya dari Paris, terlebih lagi saat ia baru menginjakkan kaki di kediaman Eldione, ia yang lelah fisik dan juga pikiran berniat untuk beristirahat, namun siapa sangka dirinya justru mendengar sesuatu yang mampu membuatnya berubah menjadi sosok yang penuh dendam.


...****************...


"Apa tidak ada pilihan lain lagi Pak?" tanya Shasyania pada Atom, ketika mereka berbincang di ruang tamu sederhana itu.


"Maaf Nona, semua atas perintah Tuan Toreno, jadi ini mutlak!" Walaupun Atom berkata tegas namun ia tetap bersikap ramah.


Shasyania langsung menatap Ibunya, ada raut keraguan yang terpancar dari wajah gadis itu, ia menganggap semua ini terlalu mendadak karena baginya untuk membiasakan diri di lingkungan baru bukanlah hal yang mudah. 


Ia dituntut agar segera pindah sekolah, dan itu merupakan keputusan yang sangat berat untuknya saat ini, namun Atom selalu saja meyakinkan jika Shasyania akan dipindahkan ke Sekolah paling elit di Kota J.


Pria itu terlihat kekeh dan tidak menyerah, ketika melihat Shasyania diam maka bujuk rayu terus Atom lontarkan, berharap dengan itu Shasyania akan luluh dan setuju.


Karena bukan tentang bagus atau tidaknya suatu tempat, tapi ini tentang kenyamanan, sebab sebagus apapun itu, jika hati tak merasa nyaman maka semua akan tetap terasa asing dan menyesakkan.


"Nona Shasya hanya perlu setuju, dan semua sudah kami urus, pikirkan sekali lagi Nona..., kesempatan ini sangat bagus untuk masa depan Nona... jadi terimalah!"


"Mmmhh...."


"Jika Nona berkenan maka izinkan saya untuk memberi saran, jangan pernah mensia-siakan kesempatan yang belum tentu didapatkan untuk kedua kalinya, dan maaf juga jika saya harus membahas mengenai Ayah Nona, tapi kenyataannya beliau sudah tiada, dan uang pendidikan dari keluarga Eldione adalah pilihan terbaik untuk keluarga Nona sekarang...." 


Demi kebaikan, demi masa depan, semua di tangung tuntas hingga jenjang paling tinggi dalam hidupnya, kalimat itu terus-menerus Atom ulangi, hingga mau tidak mau Shasyania harus menerima keputusan tersebut, begitupun Ibunya, karena lagi dan lagi ekonomi keluarga membuat kedua orang itu menyerah, untuk mempertahankan keinginan mereka.


"Jadi Nona setuju?"


"Iyaaa."


"Baiklah! karena semua sudah setuju, maka saya akan segera mengurus surat-surat yang di perlukan, dan satu hal lagi Nona, Tuan Toreno juga mengundang kalian berdua untuk makan malam di rumahnya, dan segala keperluannya juga sudah saya persiapkan!" jelas Atom, lalu  ia terlihat menoleh kesamping.


"MASUK!" suara lantang Atom membuat beberapa orang tiba-tiba menerobos ke dalam rumah Shasyania, dengan berbagai macam perlengkapan yang menggantung di tangan mereka.   


"Lakukan sebaik mungkin, saya menginginkan hasil terbaik!" perintah Atom.


Bukannya takut, salah satu di antara mereka justru langsung mendekati Atom, dengan gayanya yang kecentilan.


"Tenang saja Atomku sayang, my letup-letup lovely..., hasilnya akan sangat sempurna, apalagi model hari ini sudah sangat cantik paripurna... Aarrrrrrhhggg!" ujar Marline, pria kemayu yang begitu mengagumi seorang Atom Andaves.


"JANGAN SENTUH SAYA! atau saya akan potong sosis kurang gizi mu itu!" ancam Atom, ketika tangan Marline berusaha mengelus dagunya.


"Iiiss....iisss...iss, jangan gitu dong ayang..., Arlin marah nih, ngambek nih, gak mau lagi nurutin yang atomku suruh," godanya manja, sembari mengedipkan mata centilnya.


Bulu kuduk Atom seketika berdiri, tampaknya pria kemayu itu lebih menakutkan dari pada setan, pikirnya.


"Asliiii menjijikkan!" hardik Atom, "tapi yaa..., bagus juga kalau kamu tidak bersedia maka saya akan dengan sangat senang hati melaporkan semua ini pada Tuan Toreno, dan saya pastikan karirmu segera berakhir bersama keluarga Eldione!" sambungnya, dengan tatapan tidak suka.


Jika saja Marline bukan asisten andalan Zivana, dan juga bukan tata rias hingga busana keluarga Eldione, rasanya Atom sangat malas berurusan dengan pria yang selalu membuat bulu kuduknya berdiri was-was. Takut di terkam secara buas.


Dan seandainya juga Marline pria tulen, maka Atom akan mendapatkan celah untuk memberinya pelajaran, bisa dengan adu jotos atupun adu gulat, namun sayangnya Marline tidak seperti itu, dan Atom tidak memiliki keahlian dalam aksi jambak menjambak.


"Ihhh gitu deh, selaluuuuu... aja ngancamnya kayak gitu! My lovely letup-letup duarrrr!" rengek Marline. 


"Lakukan SEKARANG!" bentak Atom.


Marline yang juga takut akan ancaman tersebut hanya mampu mengerucutkan bibir, lalu melaksanakan tugas sesuai perintah sang pujaan hati.


Bekerja sama dengan keluarga Eldione bisa membuatnya bergelimang harta, namun mengakhiri kerja sama dengan keluarga itu juga mampu membuatnya menjadi seonggok sampah.


...----------------...



Dan kini berbalut dress pendek perpaduan dari warna biru dan juga abu-abu, Shasyania terlihat begitu menawan, meskipun masih sangat remaja, namun bentuk tubuhnya sudah terlihat bak model papan atas, apapun yang ia kenakan akan selalu terlihat sempurna, di tambah lagi dengan wajahnya yang sudah cantik luar biasa, hingga mampu membuat siapa saja bertekuk lutut di waktu yang sama. 


Bahkan Marline seseorang yang sudah membinasakan rasa sukanya pada lawan jenis, laki-laki yang sudah tak berselera dengan perempuan, namun sekarang ia mampu dibuat salah tingkah sampai menggerutu dalam hati bertanya-tanya tentang Liliana mengidam apa saat mengandung Shasyania.


"Shai..., lu beneran bukan model atau artis baru debut nih?"


"Bukan Kak," berulangkali Shasyania menjawab pertanyaan yang sama, ketika Marline selalu menanyakan hal yang serupa, entah karena pria itu terpesona, atau karena Marline seorang pelupa.


"Iiss....sayang banget tahu, lu itu udah tinggi! body bagus! gak kalah kalah amat lah sama tuh artis yang sering di sebut little angel nya Negeri ini! lu bisa kali sebanding sama dia, itupun jika lu mau sih," terang Marline, "atau gini aja..., lu mau gak jadi model gue? gue pastiin lu bakal HIIIIIITZ..., Shaaaii! percaya deh sama gue!" lanjut Marline meyakinkan Shasyania.


"Makasih Kak, tapi Shasya gak cocok jadi model, apalagi artis, enggak deh!"


"Ehh...eh...eeehh, di coba dulu lah Shaii, semua akan berhasil dengan usaha! yang penting lu udah punya modal tampang! pokoknya ya, kalau lu minat, nih...nih.. kartu nama gue! Gue tahu lu pasti banjir tawaran, tapi ingat! lu harus dibawah naungan gue! karna lu akan lebih bersinar bersama gue ngerti? jangan sia-siakan kesempatan ya Shaaii, Yang di atas menganugerahi lu muka gini biar orang-orang pada tahu... begitu dahsyatnya ciptaan-Nya lewat Ibu-Bapa lu Shaaiii!" bujuk Marline, yang terlihat begitu berharap. 


"Nah selesaaii.... Duh-duh benar-benar deh, kalau gue sering-sering liat lu ya..., bisa-bisa Atomku akan segera lengser dari singgasana hati gue..., Ihh...ihh bahaya!" celoteh Marline tiada henti, hingga meramaikan suasana ruangan. 


Beberapa orang yang bekerja dengannya juga setuju, jika Shasyania begitu cantik, dan bisa dikatakan, Shasyania adalah model kedua tercantik yang pernah mereka rias.


.


.


.


.


.


"Buk, apa ini enggak terlalu berlebihan ya?" tanya Shasyania kepada Ibunya, yang sudah selesai bersiap.


"Putri Ibu sangat cantik," puji Liliana, "apa Shasya gak nyaman? jika iya ganti saja, atau kalau Shasya enggak nyaman karena undangan ini, kita bisa membatalkannya Nak."


"Tapi buk, jika kita membatalkan ini apa semua akan baik-baik saja?"


Mendengar itu membuat Shasyania merasa terharu dan juga sedih, terlebih lagi ketika ia melihat raut wajah Ibunya, tenggorokannya terasa tercekat, ingin rasanya menangis, namun semampunya ia tahan.


"Mmhhh, mungkin ini memang aturannya Buk, sekali-kali kita juga harus merasakannya, jangan melewatkan kesempatan!" ucap Shasyania, dengan tangan mengepal seperti seorang anak yang terlihat begitu bersemangat. 


Walaupun hatinya menjerit, namun Shasyania tetap berusaha tersenyum, ia tidak ingin terlihat rapuh. Dia masih memiliki seorang Ibu, dan itu tidak terlalu buruk, setidaknya ia masih memiliki seseorang yang menyayanginya begitu tulus.


Tin!


.


.


.


Tin!


Sebuah mobil BMW berwarna hitam terparkir di halaman rumah. Kaca mobil yang terbuka memperlihatkan sosok Atom yang begitu gagah tengah memegang setir kemudi.


Kini Shasyania menarik nafas, lalu menghembuskan secara perlahan, ia memegangi jemari Ibunya erat, meyakinkan diri jika semua akan baik-baik saja.


...****************...


Rumah atau Istana? entahlah yang jelas Shasyania dan Ibunya terlihat begitu takjub melihat megahnya interior bangunan itu, bahkan tamannya juga terlihat begitu memanjakan mata. Sudah lama sekali kesan kemewahan ini tidak ia lihat.


Shasyania masih terhipnotis dengan suasana di area tersebut, sampai ia tidak menyadari sebuah suara tengah mengajaknya berbicara, hingga Atom kembali mengulangi ucapannya dan Liliana yang berada di samping Shasyania langsung menyenggol lengan putrinya.


"Silahkan masuk," ucap Atom kembali.


Dan dari arah dalam, terlihat seseorang pria tengah di dorong menggunakan kursi roda mulai mendekat, meskipun Shasyania tidak pernah melihat sosok Tuan besar di Kota J, namun ia meyakini, jika pria paruh baya itu merupakan Tuan Toreno Cavan Eldione.


"Selamat datang di kediaman Eldione, semoga kalian merasa nyaman, dan silahkan duduk, mari kita makan malam bersama," sambutan ramah dari Toreno, pada kedua tamunya yang begitu spesial di malam hari ini.


"Nevan di mana?" bisik Toreno ke salah satu pelayan.


"Tuan muda sedang bersiap Tuan,"


"Atom!"


"Iya Tuan?"


"Pastikan Nevan segera turun, dan jika dia tidak mau, maka paksa!"


"Baik Tuan," sahut Atom, sembari membungkuk badan.


...----------------...


Tok!


.


.


.


Tok!


Ceklek!


"Selamat malam Tuan Muda, Tuan Besar menyuruh anda segera turun, karena kedua tamu sudah berada di meja makan."


"Aku tidak sudi!"


"Maaf Tuan Muda, saya diperintahkan untuk menjemput anda, dan jika anda melawan maka saya akan membawa anda secara paksa!"


"Apa lagi yang mereka inginkan hah? apa harta dan hak Daddy ku belum cukup juga? BRE.GSEK! Dan kau tahu sendiri kan, mereka juga menghancurkan rencana ku!!! jika saja gadisku tak menjadi milikku maka mereka akan ku buat hancur!!!"


"Saya mohon tenang Tuan Muda, lebih baik anda bersiap, saya akan menunggu anda di sini!"


BRAAAAKK!


Dengan perasaan kesal Nevan akhirnya menurut, dan sekarang satu-persatu kakinya berayun menuruni anak tangga, bersama dengan tatapan yang sulit diartikan. 


Dan jamuan makan malam itupun berlangsung. Nevan terus saja mengunci pandangannya pada Shasyania, ada rasa amarah, benci, dan juga kecewa, ketika menyadari sosok seperti itu bisa juga berakal bulus.


Lalu di sini lainnya Shasyania juga tidak bodoh, ia menyadari jika kehadirannya dan juga Ibunya tidak di harapkan oleh laki-laki di hadapannya itu, namun ia juga tak bisa memungkiri jika pandangan pertama ketika melihat Nevan, hatinya mampu dibuat berdegup kencang.


Pesona mematikan seorang Geonevan, memang tidak dapat di hindari.


"Buk," ucap Shasyania, ketika melihat Ibunya sedang kesusahan menggunakan pisau dan garpu secara bersamaan, "biar Shasya yang potongin."


"Sok polos!" sindir Nevan, dan perkataannya itu terdengar jelas di telinga sang Kakek. 


"Jaga ucapanmu Nevan!" bentak Toreno.


"Kakek, aku ingin bertanya!"


Tanpa menjawab Toreno memandangi cucunya, mengisyaratkan jika ia telah memberi izin.


"Apa kepulangan ku secara mendadak hanya untuk makan malam ini?"


"Iyaa! dan sekarang bersikaplah lebih sopan pada Ibu Liliana, karena putrinya yang berada di hadapanmu itu akan menjadi calon tunangan mu Nevan!" pungkas Toreno.


Tidak hanya Nevan, bahkan Shasyania dan juga Ibunya pun sama terkejutnya, ketika mendengar perkataan Toreno yang mampu membuat mereka terdiam kaku.