Mine ?

Mine ?
91 : Ego



"Kak, Kakak gak usah tungguin aku ya...."


"Tapi Non, sebelum Tuan Muda benar-benar di sini, saya gak bisa pergi begitu saja Non."


"Umh, nanti biar Shasya aja yang jelasin ke Geonevan...."


"Gak apa-apa Non, ini sudah menjadi tugas saya! dan setau saya ya Non... kalau klien dari Singapura mereka datang secara mendadak, dan ketidak hadiran Tuan Toreno dalam pertemuan ini, sampai membuat Tuan Deron harus mengikut sertakan Tuan Muda, jadi... itu pasti akan memakan waktu yang lama, dan saya tidak mungkin meninggalkan Nona."


Shasyania merasa tidak enak jika harus ditunggu dalam rentan waktu yang tak menentu, ditambah lagi saat sebelum Ningrum mengantarnya ke sini, ia sempat mendengar pembicaraan wanita itu lewat telepon, "Kak, maaf sebelumnya, tadi aku gak sengaja dengar Kakak lagi nelpon... aku tahu, sekarang Ayah Kakak lagi dilarikan ke Rumah sakit kan? dan aku rasa lebih baik Kakak ke sana, nanti biar aku yang jelasin ke Geonevan! Kakak tenang saja...."


Ningrum tidak merespon, namun dari raut wajahnya terlihat jelas betapa resahnya ia saat ini, sampai lima menit berlalu barulah ia bersuara, "Terimakasih Non...."


"Sama-sama Kak, dan... aku juga mau cara bicara kita sama seperti dulu Kak, jangan lagi memanggilku Nona, rasanya agak gimana gitu..., bisa kan?"


...****************...


Seseorang terlihat tengah berdecak pinggang, dengan ekspresi kesal, "Nah! apa gue bilang? terbukti kan! mesen tiket kayak gini berujung ngantri!!! Belum lagi film yang mau kita tonton itu sedang booming-booming nya.... Aaarrghhh!!!" Ririn begitu frustasi, sampai memijit-mijit keningnya.


"Ck! tungguin aja bisa kali! lagian lo gak sibukkan hari ini?" seloroh Nita, "yasudah... ketimbang makin panas, mending sekarang lo antar gue beli pop corn, mau gak? lo juga boleh mesan apapun yang lo mau! Gue traktir!"


"Oke setuju!"


"Shaa... lo tungguin di sini ya? umh, dan lo mau nitip sesuatu gak? Gue bayarin kalian sepuasnya!"


"Boleh tuh... aku mau hot dog sama kentang goreng Nit!"


"Siap Shasyania!!!" seru Nita, "Oh ya Sha, si Gemmi, Wilkan, sama Miko, katanya udah sampai tempat parkir, tapi jangan bilang sama mereka kalau kita belum dapat tiket ya? takutnya tuh para kecubung pada kabur!"


"Okee!"


.


.


.


Meninggalkan Shasyania sendiri, kini Nita dan Ririn beranjak menjauh, dan suasana yang sudah tampak ramai di sekitaran mereka akan semakin ramai lagi, karena dari arah bawah beberapa orang terlihat berlari berdesak-desakan sembari meneriaki sebuah nama.


Bruggh!


Bahkan yang lebih parahnya lagi orang-orang yang berada di lantai atas juga ikut gaduh, hingga salah satu di antara mereka menabrak bahu Ririn, "Heeei!! kalau jalan pakek mata dong!" bentaknya kesal.


"Tuh orang-orang pada kenapa sih?"


"Nyari diskon paling!"


"Gak mungkin! karena sejauh mata gue memandang gak ada tuh tanda-tanda diskon! OMG... jangan-jangan gempa nih!"


"Kalau emang ada gempa, kenapa kita gak ngerasain bego!! lo mah aneh-aneh aja Nit!" sungut Ririn, lalu ia menjadi semakin sebal ketika Nita justru berjalan ke arah yang melenceng dari tujuan awal mereka, "woi, ngapain lo ke situ?"


"Liat keadaan dibawah! Kepo nih gue!!!"


Sekarang dengan lirikan tajam Nita memfokuskan pandangannya ke bawah, ia dapat melihat dan juga mendengar ketika orang-orang berlarian mengejar satu sosok sembari berteriak histeris.


"Rin kita harus nyari Shasyania!"


Tubuh Nita seketika menghadap Ririn, lalu dengan langkah tergesa-gesa ia menarik tangan sahabatnya dan mengajaknya berlari.


"Nit! kenapa? yang jual makanan di sebelah sana! kenapa kita malah balik dan nyari Shasyania sih? Ohh... jangan bilang ini cuma akal-akalan lo biar gak jadi traktir kita nih? yaakan?"


"Bukan! keselamatan Shasyania lebih penting sekarang! Lo gak denger tuh di bawah sana orang-orang lagi teriak-teriak manggil nama Zia?"


"Terus hubungannya dengan Shasyania apa?"


"Ck! kok lo jadi lemot sih?" cela nya, "denger ya! sekarang di tempat ini lagi ada artis idola itu! Entah dia mau syuting atau apalah gue gak tahu.... Tapi yang jelas para fansnya lagi ngejar-ngejar dia tuh! Dan lo nanya apa hubungannya dengan Shasyania? lo lupa, mereka kan cukup mirip kalau di lihat-lihat! jadi gue yakin jika fans barbar itu liat Shasyania mereka mungkin ngira kalau dia itu Zia!! berabe Rin! bisa remuk Shasya sama mereka semua!"


Dan ketakutan Nita semakin terbukti, ketika beberapa orang sudah melihat keberadaan Shasyania.


"I...ITU ZIA!!!"


"LAH! BUKANNYA TADI DI INFO GROUP DIA PAKEK BAJU HITAM? TAPI KOK SEKARANG BAJUNYA JADI PUTIH?"


"MUNGKIN UDAH DI GANTI BIAR PADA ENGGAK NGEH KALI!"


"BURUAN SAMPERIN!"


"ZIIIIAAAAAAAA!!!"


"SHASYAAAAAA!!!"


Greb!


Shasyania tersentak ketika lengannya di tarik, "Kenapa Nit?"


Kaburnya Shasyania dari tempat itu semakin membuat orang-orang yakin jika dia memanglah Zia, hingga aksi kejar-kejaran pun berlangsung gaduh di dalam mall tersebut.


"Nit, berhenti! kalau kita kabur kayak gini yang ada mereka malah semakin salah paham!"


"Terus lo mau diem dan jelasin ke mereka kalau lo bukan Zia gitu? Mereka gak akan dengar Sha! karena sebelum lo buka mulut, gue yakin lo pasti udah dikerubungi duluan!!!"


Kini mereka berada di persimpangan dan sekarang terlihat dua kubu yang berlarian dengan satu tujuan, yakni ingin berjumpa dengan idola mereka. Ada yang meyakini jika Zia melangkah kearah kiri, namun ada juga yang beranggapan jika Zia berlari kearah kanan.


Dan di sebelah kiri adalah jalan yang di pilih oleh Shasyania, ia terus di kawal oleh Ririn dan juga Nita, mereka selalu memantau kondisi layaknya seorang bodyguard sungguhan.


"Mukjizat!" seru Nita, ketika ia melihat sosok Gemmi beberapa meter di depan mereka, "GEM! GEMMIIIIIIIII! BANTUIN KITA GEM!"


Laki-laki yang dipanggil namanya hanya mengernyit heran, tapi saat melihat di belakang tiga orang yang ia kenal terdapat sekumpulan manusia yang tengah mengejar, Gemmi pun dengan insting penyelamat mulai beraksi.


"Gem! lo bawa Shasyania kabur, gue sama Nita bakal menghalau orang-orang itu, dan untuk lo Wilkan, Miko! bantuin kita!!!"


Gemmi mengangguk mengerti, lalu tangannya menjulur menangkap jari Shasyania, dan menuntut gadis itu keluar dari dalam mall tersebut.


Tap!


Tap!


.


.


.


Tap!


Kini dengan deru nafas tak beraturan Gemmi menarik tubuh Shasyania, mengajaknya untuk bersembunyi di balik tembok.


"Kalian bertiga habis nyuri atau ngapain sih? sampai dikejar-kejar kayak gitu?"


Bukannya menjawab Shasyania malah teringat akan handphone miliknya, "Hp ku! ohhh tidak!!!"


"Mau kemana lo?" cegah Gemmi, saat Shasyania ingin beranjak pergi, "mau babak belur lo sama mereka?"


"Hp aku ketinggalan di meja Gem!"


"Benda kayak gitu masih bisa lo beli! tapi kalau nyawa lo yang melayang... gimana? masih bisa di ganti? Enggak!" cetusnya, seraya melirik ke setiap arah, dan saat memastikan situasi aman, laki-laki itupun kembali menarik tangan Shasyania.


"Jangan banyak bantah! lo ikut gue sekarang!" titahnya, sembari tersenyum.



"Untung aja gue bawa motor!" sambungnya, dengan tangan menjulur memberi Shasyania pelindung kepala.


Dan setelah menyalahkan mesin kendaraan, motor Ninja itupun langsung meluncur keluar, hingga di depan sana mereka harus terhenti karena sebuah lampu merah.


Tepat dua puluh meter dari tempat Gemmi berhenti, kini keberadaan mereka juga tengah di perhatikan oleh seseorang yang masih setia memegang stir kemudi, matanya terus menelisik, hingga suara klakson dari arah belakang memaksanya untuk bergerak maju.


Nevan, laki-laki itu mulai digerogoti dengan berbagai macam prasangka, namun ia juga tidak ingin gegabah, hingga kembali kakinya menginjak gas, sembari meraih smartphone miliknya dan segera menghubungi seseorang.


Panggilan pertama dan kedua masih belum tersambung, lalu yang ketiga justru sengaja dimatikan. Perasaan tak nyaman semakin menguasai diri, sampai-sampai pergerakan di depan sana membuatnya terkejut lalu bergegas menginjak rem.


Krrrrrrrrrt!


Mobil yang ia kendarai hampir saja memakan korban, bukan karena ia yang salah, melainkan orang itu, yang tiba-tiba saja muncul hingga berniat memotong jalan.


"Woi!!!" bentaknya sembari menurunkan kaca mobil, Nevan benar-benar tak habis pikir dengan gadis yang justru masih terdiam mematung, "minggir! mau mati lo?"


Sejurus kemudian gadis itu menepi, dan mobil Nevan kembali bergerak untuk mencari tempat parkir.


Bahkan setelah turun pun benda pipih miliknya itu masih setia menempel di telinga sebelah kanan, Nevan benar-benar tak tenang dengan segala pemikirannya.


Greeeeb!


Namun sebuah tangan mencengkram erat lengannya, hingga mata elang itu kembali menatap sinis sembari menepis kasar.



"Bantuin gue...."


Bukannya menyahut, Nevan malah terlihat akan beranjak pergi, dan menyadari hal tersebut membuat tangan itupun kembali menahan laju Nevan, sambil sedikit menarik topi yang ia kenakan.


"Lo dari keluarga Eldione kan? yaa... muka ini... muka yang ada di majalah itu! Lo harus bantuin gue! Gue Zia, Bralinzhea!!!"


"Zi... zia?"