
Tas gandong yang biasanya bertengger di punggung sekarang ia gunakan ke depan, untuk menutupi lekuk tubuhnya yang terpampang jelas akibat basah kuyup.
Hingga hawa dingin sampai perasaan gelisah juga semakin menyelimuti perasaan gadis itu, apalagi ketika ia semakin mendekat kearah pintu pagar.
Rona merah di bibirnya pun telah berubah warna menjadi pucat pasi, dan tampak tidak berhenti untuk menggigil.
"Sha..., kok basah kuyup begini? kamu kenapa nak? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Liliana, dengan raut kecemasan di wajahnya, saat menyadari keadaan putrinya yang terlihat seperti orang habis kecebur di empang.
Shasyania sedikit tertegun, dan memalingkan muka sembari memegang tengkuk lehernya, "Mhhh, Shasya enggak apa-apa kok Buk, ini basah karena... umhhh ya, tadi Shasya merayakan ulang tahun teman," sahutnya, yang berusaha menutupi kebohongan dari sang Ibu.
"Kok basah-basahan kayak gini? kamu gak lagi bohongin Ibu kan nak?" selidik Liliana, ia merasa alasan putrinya kurang dapat di percayai.
"Enggak kok Buk," elaknya kembali.
"Yasudah, kalau memang begitu kamu cepat masuk gih! Ibu buatin air hangat sebentar," pinta Liliana, kemudian ia bergegas menuju dapur.
Setelah memanaskan air sepanci, Liliana juga berinisiatif untuk membuatkan putrinya minuman yang sekiranya membantu menghangatkan badan, dan kemudian wanita paruh baya itu sudah terlihat menghampiri Shasyania, sembari membawa nampan berisikan segelas minuman.
"Ibu buatin teh jahe, diminum dulu, selagi hangat!"
"Terimakasih Buk."
...----------------...
Waktu semakin berlalu, langit sebagai atap Bumi yang bermil-mil di atas sana semakin menggelap, dan suara bising kendaraan yang berlalu-lalang semakin menghilang, tergantikan dengan desiran angin yang berhembus kencang, menerpa apapun yang berada di hadapannya.
Dan kini, tepat di jam sebelas malam, Shasyania terjaga dari tidurnya, akibat mimpi mencekam yang selalu menghampirinya dikala mata itu terpejam, hingga akhirnya ia terbangun, dan rasa dahaga dalam mulut memaksanya untuk berdiri menuju dapur, namun saat dirinya membuka pintu, langkahnya seketika terhenti ketika melihat lampu kamar Ibunya yang masih menyala.
"Ibu, kenapa Ibu belum tidur? bukannya ini sudah larut malam?" gumamnya.
Berbekal rasa penasaran, ia langsung membuka pintu kayu tanpa permisi terlebih dahulu, "Buk..., Ibu sedang apa?" tanyanya, saat melihat sang Ibu duduk di pinggir kasur, dengan kedua tangan memegangi sepatu yang ia yakini adalah miliknya.
"Lohh.. Shasya, kenapa kamu belum tidur nak? inikan sudah larut malam, besok kamu sekolah lohh...," ujar Liliana, tanpa menjawab pertanyaan putrinya.
"Shasya bangun karena haus Buk, terus pas lihat kamar Ibu lampunya masih menyala jadinya Shasya ke sini," jelas Shasyania, sembari mengayunkan kakinya lebih mendekat, hingga ia duduk di samping ibunya, "ngapain Ibu jahit ini?" imbuhnya bertanya, sambil menunjuk sebuah sepatu yang tengah di pegang Liliana.
Wanita paruh baya itu tersenyum, lalu sekilas mengusap pipi putrinya, "Tadi Shasya ngelem sepatu kan? coba lihat ini... lem yang kamu taruh kurang melekat nak, kalau kamu gunakan sepatu ini besok, alasnya pasti akan lepas lagi," sahutnya, seraya memperlihatkan alas sepatu yang memang terlihat sudah rusak tersebut, "makanya Ibu jahit, biar kuat!" sambungnya, sambil tetap berkutat dengan tangan yang bergerak lambat.
Mendapat perhatian yang begitu tulus dari Ibunya membuat Shasyania semakin diliputi rasa bersalah, "Jika saja sepatuku tidak hilang, maka Ibu tidak perlu begadang seperti ini!" batinnya menyalahkan diri.
Gadis itu merasa begitu bersalah, hingga buliran air mata mulai menetas membasahi pipi, Shasyania hanya mampu menggelengkan kepala dengan segala pikiran yang semakin membuatnya tercekat.
"Loh... kenapa kamu nangis Sha?"
"Maaf Buk..., maaf, Ibu jadi semakin susah karena Shasya."
"Hussttt! ngomong apa kamu nak! gak boleh bilang gitu Shasya! Kamu itu putri ibu, dan setiap ibu akan melakukan hal terbaik untuk anaknya!" protes Liliana.
"Maaf Buk, sepatu baru yang Ibu kasih... hilang," ucapnya lirih, sambil menyeka air mata.
"Iya, enggak apa-apa, besok ibu belikan lagi, Shasya enggak boleh nangis! Masak udah remaja gini cengeng hanya karena sepatu sih," bujuk Liliana, memperbaiki suasana hati putrinya.
Shasyania mengangguk, seraya melirik tangan Ibunya yang sudah terlihat menua, namun tangan itu masih kuat untuk menancapkan sebuah jarum lalu menariknya kembali, "Tangan Ibu gak sakit?" tanyanya.
"Enggak Shasya... kegiatan seperti ini sudah biasa ibu lakukan. Mmmh... apa kamu tahu? dulu jaman Ibu sekolah, punya sepatu saja, itu sudah merupakan hal yang paling mewah, jadi untuk menjaganya biar awet, Ibu akan menjahit alasnya seperti ini," tuturnya, menceritakan sepenggal kisah masa lalu, "tapi yaa..., jaman sekarang semua sudah berbeda, dan Ibu janji, ibu akan belikan sepatu yang lebih bagus lagi, seperti yang sering ayahmu bilang dulu, apapun harus terbaik untuk Shasyania! Karena kamu... adalah hadiah terindah dalam hidup kami!" ujarnya, dengan tatapan penuh kasih sayang.
.
.
.
Setengah jam waktu yang di butuhkan Liliana untuk memperbaiki sepatu putrinya, namun dia tidak sendiri, karena Shasyania masih setia menemaninya. Beberapa kali ia memaksa putrinya untuk meninggalkannya tidur, namun Shasyania terus menolak dengan alasan belum mengantuk.
Suatu barang memang terlihat mewah kerena harganya, namun suatu barang juga bisa terasa lebih bermakna karena sebuah usaha.
...****************...
Pagi hari di ruangan XI IPA 1....
"Pak, perkenalkan nama saya Dinesclara Shasyania, saya murid baru di SMA GUARDIANS, jadi maaf Pak, kalau saya tidak mengetahui tentang pemberitahuan untuk membawa buku gambar," ucapnya jujur sambil berdiri.
"Ohh murid baru toh, baiklah pasti Bapak memaklumi. Dan untuk murid lainnya.. Bapak harap salah satu diantara kalian bersedia memberikan Shasyania selembar buku gambar! Jangan pelit! Dan jangan segan-segan untuk memberi... karena berbagi itu indah, dan itu juga merupakan salah satu wujud dari seni rasa!" ujarnya, seraya menggerakkan tangan menyerupai gerakan King Of Bollywood.
"Ahh, Pak Dewa ini.. selalu bilangnya jangan-jangan mulu! habis itu selalu aja menyangkut-pautkan nya ke seni," seru Nita.
"Harus dong! kan selaku Guru Seni harus selalu melibatkan apapun dengan kesenian...," selorohnya.
Semua tertawa dan tampaknya para murid sudah terbiasa untuk bersenda gurau dengan Guru Seni Budaya tersebut.
Dan di sana, seorang siswa seperti tidak ingin kecolongan start, hingga ia langsung bergerak cepat merobek selembar buku gambar dan menyerahkannya langsung kepada Shasyania.
"Shasya ini...."
"Makasih ya...." Ucapan itu membuat seorang Baru seketika terdiam, ia mematung akibat terpesona.
"Lalat bisa masuk tuh ke mulut lo!" sentak Dino, sambil menyiku lengan Baru.
Bukannya terganggu, ia justru kembali bergumam, "Sempurna banget gak sih!" pujinya, "lo liat tadi kan? dia senyum ke gue! Senyumannya itu lohh... ezzzzt manis banget njirrr!" imbuhnya, dengan perasaan senang seperti terjadi ledakan kembang api di atas kepalanya.
"Awas... nanti kena masalah sama Geonevan... baru lo tahu rasa!" pungkas Dino.
Dan ucapan tersebut seketika membuat Baru langsung membalikkan badan menghadap ke depan, ia kembali memperhatikan Pak Dewa yang masih setia menjelaskan tugas.
"Pertama-tama kalian buat dulu garis kotak sebanyak enam bagian di selembar buku gambar, lalu setelah itu dengarkan ucapan Bapak ini dengan cermat!! Untuk tiga kotak pertama kalian buat sesuai arahan Bapak, satu kotak kalian buat garis lurus horizontal, bagian kedua kalian buat garis putus-putus, dan bagian ketiga kalian buat garis bergelombang! nah... seperti contoh yang Bapak buat di papan! dan untuk tiga bagian lainnya, buatlah garis dengan tema kalian sendiri, pokoknya bebas! berkreasi seinovatif mungkin! mengerti?" pinta Pak Dewa, "dan ingat! jangan menggunakan alat bantu penggaris! Buat manual dari tangan kalian sendiri! Paham?" imbuhnya kembali bertanya.
"Paham Pak!" ucap serempak para siswa dan siswi di ruangan itu.
Seperti biasa, saat sudah memberikan tugas maka Pak Dewa akan meninggalkan kelas untuk urusan pribadi. Dan di kesempatan itulah para murid juga meninggalkan meja mereka, untuk membuat perkumpulan bersama kelompoknya masing-masing.
Pak Dewa tidak akan mempermasalahkan hal tersebut, asal mereka tidak sampai ribut hingga mengundang Guru lain memasuki kelas.
"Wah... tumben-tumbenan nih wajah Nita berseri-seri pas belajar!" Nada yang terkesan menyindir keluar dari mulut Dino.
"Bacot lo!" ketus Nita, seraya memperlihatkan jari tengahnya, dan itu jelas tidak ramah.
"Enggak sopan lo! Gue kasih bintang satu!!!"
"Ron, ini kenapa garis yang gue buat gak ada yang lurus ya! Lengkung banget kayak lekuk tubuh si Marline!!!" keluh Dariel.
"Wajarlah... orang otak lo juga miring! Jadi, apapun yang lo bikin yaaa hasilnya gak akan pernah lurus!" ejek Eron.
Dariel mendesis sebal, "Sok si paling lurus aja lo! tuh-tuh liat!! bagian yang lo bikin ini juga udah gak seimbang lagi! Gak ada bedanya sama punya gue nih!!!"
"Punya gue juga gak lurus-lurus banget, malahan lebih rapi punya lo Riel!" timpal Nevan, dan seketika itu Dariel menyelidik melihat hasil karya sahabatnya.
"Wah iyaa!! meskipun lo terkenal pintar... tapi gak semua karya yang lo bikin berakhir sempurna ya!!" celoteh Dariel, ia baru sadar, jika ternyata seorang Geonevan tidaklah sesempurna itu.
"Kalau semua bidang gue bisa.. itu namanya superior!"
"Dan kalau Nevan superior, gue yakin dia gak bakal ada di kelas ini!" sahut Eron.
"Terus ada dimana dong?" tanya Dariel penasaran.
"Di jajah Negara lain, terus dia disuruh buat penemuan-penemuan mencengangkan!" kelakar Eron.
"Yap!! dan kalaupun gue superior, maka gue juga gak mungkin mau bergaul sama dua orang kayak kalian!" sergah Nevan, namun semua itu hanyalah ungkapan candaan di antara mereka bertiga.
.
.
.
*Jangan lupa tinggalkan jejak untuk mendukung cerita ini yaa, terimakasih 🤗*