Mine ?

Mine ?
33 : Hal yang tak terduga



"Hello hadirin sekalian kita tunda sebentar keseruan ini ya, kali ini mari kita beralih ke acara selanjutnya yaitu acara utama. Mohon sang pangeran acara agar segera maju ke atas panggung!" ucap salah satu MC yang sedang memandu acara sesuai runtutan yang sudah di tentukan.


Dengan gagahnya Dariel maju melangkahkan kaki, senyum selalu ia tebar kepada siapa saja yang tertangkap radar matanya. Elina dan Prayoga selaku orang tua juga ikut naik panggung, mereka bertiga berdiri sejajar di hadapan sebuah kue yang begitu megah.


Tepukan tangan menggema saat Dariel akan memejamkan mata, entah keinginan seperti apa yang ia harapkan saat usianya sudah menginjak 16 tahun.


"Potongan kue pertama harus di kasih ke orang sepesial nihh! Siapa ya kira-kira orang itu? ada yang tahu gak?" tanya MC yang sengaja memancing reaksi beragam dari para tamu undangan.


"PASTI BUAT YERON TUH!"


"BUAT AKU DARIEL KITA KAN TTM!"


"KASIH RISSA AJA! LO SAMA DIA KAN NINI OPANYA KELAS IPA 1!"


"BUAT MC NYA AJA RIEL! KELIHATANNYA DIA UDAH LAPAR BANGET TUH DARI TADI NGOMONG MULU!"


Dariel mengangkat tangan agar suara-suara sumbang itu terdiam, "Kue pertama ini untuk orang yang sangat sepesial dalam hidup gue! tanpa dia gue gak akan hidup. Detak jantung gue adalah buah cinta darinya, dia adalah Mama," jawaban Dariel membuat para wanita bersorak kagum. Dariel memang paling tahu cara meluluhkan hati wanita.


"Nyokap nya aja di sayang gitu apalagi calon pasangannya nanti, gue yakin bakal di jadiin ratu!"


"Korelasi macam apa itu? Bisa aja karena dia menyayangi nyokap nya malah pasangannya di jadiin babu!"


"Itu lebih enggak masuk akal!"


"Dan potongan kue kedua ini untuk seseorang yang memperlihatkan ke gue jika superhero benar ada di dunia nyata! Berkat kerja kerasnya siang dan malam hingga menghasilkan produk unggulan seperti gue, dia adalah Papa."


"Wah wah Dariel ini anaknya begitu cinta kasih ya! dia memberikan potongan kue untuk kedua orang tuanya terlebih dahulu, dan itu benar! karena apapun situasi yang kita hadapi orang tua tetap nomer satu!" Puji sang MC, "tapi belum seru rasanya jika Dariel tidak memberikan potongan kue sepesial kepada orang yang tengah bersemayam di hatinya, bener gak?"


"BETUL!"


"HEI MC KALAU LO NYURUH DARIEL NGASIH KE ORANG YANG SEPESIAL BISA-BISA POTONGAN KUE ITU ADA BERLIPAT-LIPAT GANDA! HATI DIAKAN PENUH SAMA RATUSAN WANITA!"


Dariel bergerak memotong kue bahkan potongan kali ini sengaja ia buat lebih besar. Pandangannya menyelidik memindai wajah yang sedang ia tuju.


"Kue ini untuk hubungan yang gue jalin sendiri tanpa ikatan darah namun sangat berarti dan ini gue persembahkan kepada kedua orang sahabat gue!" ucap Dariel, saat ia berdiri di depan Nevan dan Eron.


Bukannya terharu kedua sahabatnya justru menatap heran, ketika Dariel meminta seorang pelayan membawakan kotak yang sedari tadi sudah ia siapkan.


Kotak berwarna biru dengan coretan warna di berbagai sisinya itu terbuka memperlihatkan Tiga buah topeng power rangers lengkap dengan sabuk yang menjadi ikonik benda itu pada masanya, dan di depan sana sebuah layar besar sudah memperlihatkan sebuah foto lawas dengan Tiga bocah laki-laki yang bergaya layaknya superhero.


"Stop Riel stop mempermalukan diri!" gerutu penuh penekanan itu berasal dari Nevan.


Tanpa mendengar peringatan dari sahabatnya, Dariel justru terlihat menuju panggung dan meminta sebuah microphone.


"Apa kalian tahu siapa saja bocah laki-laki yang berada di foto ini?" tanya Dariel seraya menunjuk layar tersebut.


"Aaa lucu banget!"


"Imut banget pengen cubit!"


"Cute...!"


"DARIEL LO PASTI SEBELAH KANAN KAN?"


"Bocah laki-laki di tengah itu rambutnya lebat banget!"


"GUE YAKIN YANG DI TENGAH-TENGAH ITU PASTI GEONEVAN! SUMPAH DIA UDAH GLOW UP SEDARI KECIL!"


"Itu sebelah kiri Yeron kan? buset dari kecil udah tinggi banget!"


"Geonevan, Freyeron silahkan maju! mari kita bernostalgia!" ucap lantang Dariel mengundang kedua sahabatnya untuk mendekat.


"Sekarang kita harus bergaya seperti di dalam foto itu!"


Mata Nevan dan Eron terbelalak kaget, bagaimana bisa mereka mengulang gaya itu, bukankah itu sangat memalukan? memperagakan kembali gerakan superhero dengan salah satu kaki terbuka lebar dan tangan bergerak seperti aktor drama kolosal.


"Sayangnya baju kita gak sama-sama biru dongker kayak di foto..., mmhh tapi gak apa-apa yang penting personil kita lengkap!" seru Dariel, "kenapa diem aja? AYO!" imbuhnya yang terdengar memaksa.


"Wah kelihatannya kalian sudah akrab dari dulu ya? sosweet banget!" ucap MC hingga membuat para tamu undangan kembali bersorak dengan kamera terangkat keatas. Mereka beramai-ramai mengabadikan momen tersebut.


"KALIAN TETAP IMUT!"


"A*jaiii gue udah kebayang gimana nantinya muka anak gue sama Nevan!"


Saat turun panggung pandangan Nevan bertemu dengan Shasyania, gadis itu berniat menghindar tapi justru Nevan yang sengaja mendekat.


"Handphone!" ucapnya sambil menjulurkan tangan.


"Handphone siapa?"


"Lo lah!"


Matanya menelisik galeri handphone tersebut, "Oh gue kira lo ikut moto tadi," dengan entengnya ia mengembalikan benda pipih itu.


Sebenarnya Shasyania sedikit heran kenapa Nevan tiba-tiba memulai obrolan apalagi dengan alasan yang kurang jelas, dan benar saja saat ia menerima kembali handphone miliknya ia merasa ada sesuatu yang menempel di bawah sana, hingga membuatnya membalikan benda tersebut.


"Aaaaaaaaaaa!" teriakan histeris Shasyania mengundang seisi ruangan menatapnya heran, bahkan saking kagetnya ia sampai melempar handphone miliknya ke udara hingga berakhir terpelanting keras di lantai.


Berjarak Tujuh meter dari kejadian itu seseorang laki-laki malah terlihat terpingkal-pingkal, begitu senangnya ia sampai memukul-mukul seorang pelayan yang tengah bertugas. Yaaa dia adalah Geonevan sang pelaku yang dengan sengaja menempelkan mainan cicak kenyel.


"Lo kenapa Sha...?" tanya Nita dan Ririn, mereka sampai berlari kearah Shasyania.


"Ada cicak!"


"Mana?"


Butuh beberapa menit sampai kegaduhan itu mereda. Dariel tahu betul siapa dalang dibalik semua ini, karena ia melihat sendiri jika Nevan yang mengambil mainan cicak yang tengah di bawa sepupu kecilnya.


Acara meriah itu berlangsung beberapa jam hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam, dan beberapa tamu undangan terlihat silih berganti berpamitan.


"Ehh Ron lo belum ngasih gue kado! Nevan aja ngasih game terbaru!


"Butuh banget lo kado? kayak bocil!"


"Sialan miskin banget lo sampai bawa tangan kosong!" decak Dariel.


"Nih!"


"EROOOOOOON!" teriak Dariel hingga membuat Nevan tak bergeming, "INI ASLI KAN? GAK BOHONGAN? ORI GAK IMITASI?"


Anggukan kepala Eron membuat Dariel gembira bukan kepalang, ia meloncat-loncat kegirangan bahkan ia tak memperdulikan beberapa pasang mata yang tengah menatapnya heran.


"Gi...gimana lo bisa? i...ini?" tanyanya sembari mengguncang bahu Eron, "tunggu-tunggu jangan bilang lo ketemu sama my angel gue! Kenapa gak ngajak-ngajak?"


"Bukannya berterimakasih malah ngelunjak lo!" sentak Eron, "gue gak ketemu, ini bantuan dari nyokap gue!"


"Wah asliii gue bahagia banget! Makasi Ron! lo emang tahu kesukaan gue!"


Hadiah dari Eron hanyalah selembar foto yang berisikan tanda tangan dari publik figur kesukaan Dariel. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya, tatapan mata laki-laki itu terus tertuju pada foto tersebut.


"Gue berharap bisa bertemu langsung dengan Zia," lirihnya.


"Lo hubungi aja manajernya buat kesepakatan! dengan uang lo bisa mendapatkan apapun!" pungkas Nevan.


"Dia bukan tipe orang yang mudah di ajak ketemu Van! kalau dengan uang gue bisa bertemu dengannya mungkin udah dari dulu!"


"Bukannya dia udah gak aktif di dunia hiburan ya? kenapa lo masih suka aja?" tanya Eron penasaran.


"Meskipun dia gak aktif tapi karyanya gak pernah termakan jaman dan belum ada yang menyaingi! dan satu lagi gue denger dia bakalan debut lagi!"


"Nanti jangan ngajak-ngajak kita buat nontonin dia!" pungkas Nevan.


"Yaelah lo belum tahu aja pesona dia kayak apa! gue yakin sekali liat aja lo berdua bakal sama kayak gue!"


"Gak akan!" jawab Nevan dan Eron bersamaan.


"Gue jelasin ya selain di__,"


"Udahlah gue gak bisa debat sama fanboy garis keras!" sindir Eron menyela penjelasan Dariel.


Saat tengah asik berbincang dua orang terlihat menghampiri mereka.


"Sekali lagi selamat ulang tahun ya Dariel," ucap ramah Shasyania. Gemmi yang berada di sampingnya hanya tersenyum tanpa ikut mengucap sepatah katapun.


"Makasih ya Sha..., lo mau balik sekarang?"


"Iyaa...."


"Lo balik sama dia?"


"Iya bareng Gemmi."


"Oh gitu," ada nada kecewa yang terdengar dari ucapan Dariel, "yasudah hati-hati ya," imbuhnya.


Saat punggung gadis itu semakin menjauh, pandangan Dariel berganti kearah Nevan, "Tadi lo kan yang ngerjain Shasya pakek cicak?"


Nevan berpura-pura tidak mendengar, ia malah asik meneguk minuman.


...****************...


Kondisi tengah malam membuat suasana jalanan itu terasa sangat sepi apalagi di tambah cuaca yang mendung berisikan kabut hingga membuat jarak pandang Gemmi sedikit terganggu, ia pun mengemudi dengan sangat hati-hati. Namun dari sisi kanan tiba-tiba sebuah mobil membentur keras mobil Gemmi dan membuat keseimbangan mobil itu tidak terkendali.


Dengan sekuat tenaga Gemmi mengendalikan stir kemudi sampai akhirnya mobil yang ia kendarai membentur pembatas jalan. Benturan-benturan itu membuat kaki dan tangan Gemmi terluka, banyak luka sobek di sekujur tubuhnya.


"Shaa lo baik-baik aja kan?"


"Iyaa Gemmi tapi ka__,"


Suara Shasyania terpotong ketika beberapa motor mengepung mobil mereka.


BRAK! BRAK!


Pukulan benda tumpul terus membentur kaca mobil.


"TURUN!"


"HEI KELUAR LO SEKARANG! SEBELUM KITA BAKAR HIDUP-HIDUP KALIAN DALAM MOBIL!"


Mendengar kata bakar dan membayangkan kobaran api membuat Gemmi bergidik, "Shaa telpon siapapun dan minta pertolongan!"


"Handphone aku rusak Gem!"


"Sial handphone gue mati lagi!" seru Gemmi, "lo tetep di dalam dan jangan keluar gue bakal urus semua ini!"


"Jangan keluar!" lirih Shasyania, ia melihat orang-orang di luar sana membawa beberapa balok kayu, "kabur Gem! injak gas!"


"Kita gak bisa kabur Shaa..., mobil gue udah gak bisa hidup lagi, mau gak mau gue harus hadapi ini! Lo tenang aja gue pastiin lo aman!"


Gemmi keluar dengan kondisi terpincang-pincang. Ini seperti laga hidup dan mati. Di keadaan ini jelas Gemmi tidak beruntung, selain dia telah kalah fisik dia juga kalah jumlah.


"PARA PECUNDANG BERKERUMUN SEPERTI LALAT! MAU APA KALIAN AHH?" teriakan Gemmi semakin mematik emosi orang-orang itu.


"KEPARAAAAT! BOCAH KEMARIN SORE UDAH CACAT MASIH BELAGU LO YA!"


Tanpa basa-basi beberapa orang mulai menyerang Gemmi, tangkisan hingga pukulan berhasil Gemmi lesatkan namun banyaknya orang yang menyerang membuatnya kewalahan, apalagi efek tubuhnya yang sudah terluka parah.


BUUKK!


Pukulan benda tumpul dari arah belakang sukses membuat darah dalam mulut Gemmi muncrat keluar, lalu pukulan itu kembali menghantam paha belakangnya hingga memaksa Gemmi tertunduk seketika.


"BOS! di dalam mobil masih ada cewek!" kata salah satu dari orang-orang tersebut.


"Manarik!" pungkasnya sambil memperhatikan seringai menakutkan kearah Shasyania.


"BERANI LO DEKETIN DIA MATI LO!" ancam Gemmi, tangannya mencengkram kuat kaki pria yang berusaha mendekati Shasyania.


"CUIIHH MASIH NAFAS JUGA LO!" injakan kaki mengenai lengan Gemmi, beberapa orang kembali melayangkan pukulan benda tumpul.


Shasyania menatap tidak percaya saat Gemmi di keroyok secara membabi buta, puluhan orang tanpa ampun menghajarnya dan sialnya lagi salah satu di antara mereka terlihat semakin mendekat. Pria menyeramkan dengan tato menutupi tubuh sedang tertawa berusaha membuka pintu mobil.


"Hayy cantik buka mobilnya dong!" ucapnya lembut namun terdengar begitu menyeramkan, "gak mau buka abang paksa nih!"


BRAK! BRAK!


Pukulan demi pukulan dilayangkan agar kaca itu pecah. Shasyania yang sudah sangat ketakutan hanya mampu tertunduk dengan kedua tangan menutupi kuping. Gadis itu tidak memiliki kekuatan untuk menatap ke depan. Hingga suara sirine polisi membuat para komplotan itu berhenti beraksi dan memilih kabur.


"Lo urus Gemmi!"


Tubuh Shasyania bergetar hebat suara ketukan di kaca itu semakin membuatnya tertekuk ngeri. Laki-laki di luar sana merasa jika Shasyania tidak merespon ucapannya, hingga ia berlari mendekat ke tubuh Gemmi yang sudah tidak sadarkan diri.


"Cari kunci di saku celana dia!"


Mendapat apa yang ia cari, laki-laki itu kembali berlari mendekati mobil dan berusaha membukanya.


Ceklek!


Suara pintu terbuka semakin membuat Shasyania berteriak histeris, ia masih tak berani untuk melihat hingga sebuah rangkulan membuatnya semakin memberontak.


"LEPASKAAAANNN!"


"Tenang gue Nevan dan lo aman!"


*like dan komen jika suka, dukungan kalian sangat berati di cerita ini😄 -part kali ini sedikit panjang karena hampir 2000kata-*