
"Maafin Ibu Shaaa," lirih Liliana sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Bu..., Ibu jangan seperti ini. Jangan minta maaf terus ke Shasya, kita ikhlasin saja."
"Kali ini Ibu benar-benar bersalah Shaa..., Ibu terlalu ceroboh sampai semua uang kita hilang. Maafkan Ibu."
"Sudah Buk sudah, kita masih bisa cari uang lagi."
"Tapi gimana Shaa, uang itu merupakan tabungan kita. Uang jerih payah Ayahmu, uang untuk masa depan kamu Shaa, dan semua hilang karena Ibu." Tangisan Liliana semakin pecah setiap mengingat musibah yang ia alami.
"Buk...Ibu tenang dulu, masalah pendidikan Shasya sudah di tanggung keluarga Eldione, dan untuk pengobatan Ibu juga sudah di tanggung keluarga itu. Jadi Ibu tidak perlu khawatir."
Meskipun sangat menyakitkan mengatakan itu semua, namun Shasyania tidak memiliki pilihan lain lagi. Ia berharap dengan itu bisa mengurangi kesedihan Ibunya.
"Ibu tidak ingin lagi bergantung dengan keluarga Eldione, Ibu mau kamu bebas, tidak lagi di bayang-bayangi rasa balas budi, tapi sekarang justru Ibu yang membuat kamu semakin terikat." Penyesalan begitu mendalam di rasakan Liliana.
"Tidak Bu! semua itu pantas kita dapatkan. Uang yang mereka keluarkan memang hak kita! dan Ibu tidak perlu khawatir, keluarga itu hanya membiayai pendidikanku dan juga pengobatan Ibu, tidak ada tambahan lain lagi yang bisa memaksa kita untuk menerima perjodohan itu, jadi Ibu gak perlu merasa khawatir jika Shasyania tertekan, Shasya baik-baik saja!"
Sekali lagi dia berbohong, Shasyania tidak mengatakan jika kedua biaya itu juga termasuk bagian yang harus ia balas dengan ikatan perjodohan. Begitu menyayat hati ketika merasakan kebohongan demi kebohongan harus ia ciptakan di hadapan Ibunya.
Shasyania belum siap untuk berkata jujur, lebih tepatnya ia belum menemukan jalan keluar untuk semua belenggu ini. Berbohong demi kebaikan mungkin itu yang sedang Shasyania lakukan.
"Sekarang uang kita hanya tersisa 300ribu," sesal Liliana, "tapi Ibu janji Ibu akan memperbaiki semua ini! ibu akan lebih giat mencari uang hingga kita tidak lagi bergantung dengan keluarga Eldione!"
Seperti tercabik-cabik saat mendengar ungkapan Ibunya, mata Shasyania terasa panas buliran demi buliran air mata menetes deras. Perih itu seakan menyiksa saraf-saraf di tubuhnya.
"Yasudah sekarang Ibu mau beli bahan-bahan kue mumpung ada yang pesan, benar kata kamu Sha..., kita masih bisa mencari uang, Shasya jaga rumah ya siapa tau ada yang datang untuk memesan lagi," ujar Liliana sambil berpamitan dengan putrinya.
Sedari awal Liliana memang tidak ingin keluarganya terlalu bergantung kepada keluarga Eldione. Meskipun putrinya mengatakan baik-baik saja tapi naluri seorang Ibu tidak bisa di anggap remeh, Liliana merasa ada yang janggal dari perkataan putrinya, hingga sebisa mungkin keperluan lain seperti kebutuhan sandang dan pangan selalu ia tanggung sendiri, namun situasi sekarang terasa lebih sulit lagi, setelah dirinya tertipu investasi bodong.
Shasyania memperhatikan langkah kaki Ibunya yang semakin menjauh dari balik pintu, "Aku tidak bisa terus berdiam seperti ini!" bantinnya.
Tekanan dalam hidup kadang mampu membuat seseorang menemukan perubahan.
...****************...
"Ehh Riaaa! lu kasih ni baju ke ruang ganti sebelah sana!" tunjuknya, dengan jemari lentik yang memegangi sebuah Angled Eyeliner Brush, "suruh mereka segera bersiap jangan lemot lagi!" imbuhnya.
"Marline! ini aksesoris untuk model yang mana?"
"Oh yang itu kasih ke Emeli!"
Suasana di ruangan itu tampak begitu sibuk, semua orang di dalam sama bergerak lincah sesuai Jobdesc mereka masing-masing.
"Prokk! Prokk!" suara tepukan tangan mengalihkan perhatian seluruh staf di sana.
"INGAT! INGAT! kali ini semua harus berjalan lancar! hindari kesalahan sekecil apapun! SEMANGAT SEMANGAT TEMKERKU!" (team kerja aku)
"Marline kita mendapat kendala!" Informasi tersebut berasal dari salah satu staf, "si Naura tiba-tiba muntah!"
"Adung rempong kali tu bocah, hamil kalik ya!" gerutu Marline, "suruh dia istirahat pastikan lagi dia bisa tampil apa enggak!"
"Naura udah oke! dia bisa lanjut!" sela staf lainnnya dari arah belakang.
"Drrrttttt drrrtttttt" terdengar getaran telepon seluler dari atas meja rias.
"Kak Marline ada yang nelpon tuh!"
"Duh saposeeee!" sentak Marline, ia bejalan lunglai namun sedetik kemudian ia menutup mulutnya yang terlihat menganga, "aduh jangan-jangan Mrs Zivana lagi, gimana nih gimana nih" Laki-laki itu sedikit panik, suasana tubuhnya panas seketika.
"Kenapa?" tegur Ria.
"Semua udah siapkan?" pertanyaan di balas pertanyaan.
"Belum lah lin, emang kenapa sih lo kayak panik gitu?"
Ria mengedarkan pandangan ke arah tatapan mata Marline, "Udah lo angkat aja, daripada di diemin makin parah loh!" Ria memperingati.
Penuh perasaan takut Marline meraih smartphone miliknya, alis buatan itu langsung tertekuk turun, dengan pandangan menatap layar pipih tersebut, "Siapa nih yang manggil?" keluhnya melihat tiga belas digit nomor tanpa nama, meskipun begitu ia tetap menggeser tombol berwarna hijau.
"Hallo dengan Marline Boza di sini, ada yang bisa di bantu?" sapa nya ramah.
"Hallo Kak ini aku Shasyania," jelas suara dari seberang sana.
"Sha...sya...nia?" ulang Marline masih ragu.
"Ia Kak, apa Kakak masih mengingatku, beberapa waktu lalu Kakak pernah ke rumahku untuk merias!"
Sambil berusaha mengingat-ingat Marline menggigiti kuku tangannya, "Ohhh lu Shaiiii! si cantik paripurna itu kan?" ungkapnya sambil menjentikkan jari.
Suara di seberang sana terdiam, entah karena tersipu malu atau merasa geli di puji.
Hingga Marline yang kembali bersuara memecah keheningan, "Kenapa Shai?"
"Kak aku mau menanyakan pekerjaan."
Seakan mendapat durian runtuh senyum mengembang langsung terukir dari wajah Marline.
"Shaaii..., lu kesini aja cari alamat yang sudah tertera di kartu nama gue! Kita langsung tanda tangan kontrak!" seru Marline penuh antusias, ia begitu senang hingga tanpa berpikir panjang langsung menawarkan sebuah kontrak.
"Tapi Kak aku cuma mau ja__,"
"Udah lu kesini aja langsung dan kita bahas semua secara menyeluruh!" potongnya, "kapan lu ada waktu Shaii?" sambungnya.
"Sekarang juga aku bisa Kak!"
"Bagus semakin cepat semakin bagus! nanti sore jam lima lu kesini ya, kalau udah sampai di lobby langsung hubungi gue ya shaiii?"
"Iyaaa Kak terimakasiiih."
"Belum juga kerjaan selesai udah dapet bonus aja nih ben*ong!" kelakar Mirna, ketika ia mendapati rekan setimnya meloncat-loncat kegirangan setelah menerima panggilan telepon.
"Gue bakal menghasilkan sebuah MASTERPIECE!" seru Marline dengan gaya sombongnya, "Ehh Riaa lu siapin satu busana girly yang ruffle dress! taruh di atas meja gue!" titahnya.
"Wah lu mau kencan sama si Atom ya? akhirnya Atom khilaf juga!" sindir Mirna.
"Cincong banget tuh congor! lu bakal memuji gue nanti pokoknya liat aja!" pungkasnya yakin.
Sore hari
"APAAAAA?" teriak Marline saat ia dan Shasyania tengah duduk di sebuah ruangan.
"Iya Kak aku cuma mau jadi model pakaian tanpa memperlihatkan wajah," jelas Shasyania kembali.
"Kenapa gitu Shaii? lu masih kurang pede? kita bisa latihan, lu itu cantik paripurna jadi harus di perlihatkan dong!"
"Aku hanya mencari pekerjaan di posisi itu, apa di tempat Kakak ada lowongan?"
"Mmmhh jika gue bilang gak ada rugi bandar namanya! sama aja kayak menelantarkan sebongkah berlian!" batin Marline, sambil kembali menatap gadis yang tengah duduk di hadapannya.
"Ada tapi gajinya minimum," ucapnya, ia bermaksud ingin merubah keputusan Shasyania.
"Gak apa-apa aku terima!" sahutnya yakin.
Dengan tatapan tidak percaya Marline melebarkan pandangannya, "Sabar...sabar, yang terpenting sekarang dia udah tanda tangan kontrak."
Marline terus membantin sambil mencari rencana baru untuk membuat Shasyania benar-benar menjadi modelnya, ia sangat berharap bisa mempublikasikan gadis itu ke hadapan khalayak luas. Marline yakin dengan menggaet Shasyania sebagi model maka karirnya di dunia fashion designer akan segera bersinar. Shasyania bagaikan ledakan besar untuk membangun citra brandnya sendiri yang akan Marline launching suatu saat nanti.