
Di temani secangkir coklat panas, Nevan memangku sebuah gitar di atas pahanya. Jari-jemarinya bergerak lincah memetik senar compound, hingga menciptakan alunan nada yang begitu merdu bagi telinganya sendiri.
Terkadang temponya melambat bahkan sampai terhenti, ketika ia lupa akan kunci dari lagu yang tengah ia mainkan, hal itu membuat matanya yang tadinya terpejam terpaksa terbuka, untuk melirik kertas yang berada tepat di hadapannya.
Sampai akhirnya dengan penuh percaya diri ia mulai bersenandung,
...Ooh it's something about...
...Just something about the way she move...
...I can't figure it out...
...It's something about her...
Mulutnya berucap kata demi kata penuh penghayatan, sampai ia tak menyadari jika dua sosok anak manusia sudah memasuki area teritorialnya tanpa permisi.
Dan di sana, orang dengan hoodie berwarna hitam tiba-tiba berhenti, hingga niatnya untuk memanggil sang empunya kamar seketika sirna. saat gendang telinganya tak sengaja mendengar sayup-sayup suara yang berasal dari arah balkon.
Eron yang berada tepat di belakang Dariel, mulai bersuara "Ngapain lo di__,"
"Pffftt...." Belum sempat Eron melayangkan protes, Dariel sudah membalikkan badan, lalu menutup mulut Eron menggunakan telapak tangan. Tatapan matanya mengisyaratkan agar sahabatnya itu diam.
Dengan alis naik turun Eron meminta penjelasan. Kebingungan jelas tergambar dari raut wajahnya. Dariel yang melihat itu tersenyum sumringah, lalu menggunakan dagu ia mengarahkan pandangan Eron untuk mengikuti arah yang ia tuju.
"Kenapa? ada apa?" cicit Eron, yang masih terlihat tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Ck!"
Dariel berdecak kesal. Namun sepersekian detik kemudian ia baru menyadari jika pantas saja sahabatnya itu tidak menyadari apapun, karena memang di telinga Eron sedang terpasang sebuah benda yang menutupi akses pendengarannya, dan dengan gerakan cepat Dariel mencabut paksa handset berwarna putih tersebut.
"Itu suara nevan?" tanya Eron, yang di balas anggukan kepala.
Layaknya komplotan pencuri, mereka berjalan mengendap-endap mendekati sumber suara, hingga sebuah punggung terlihat jelas bersandar di sebuah kursi.
...And she move like a boss...
...Do what a boss do...
...She got me thinking about getting involved...
...That's the kinda girl I need, oh...
Meskipun dalam keadaan terpejam, namun Nevan bisa merasakan jika ada suara langkah kaki yang mendekat, hingga ia mengedarkan pandangan ke arah samping.
"Van, itu suara lo?" pertanyaan nyeleneh itu berasal dari mulut Dariel, hingga membuat Nevan seketika membuang muka.
"Sumpah Van! suara lo it__,"
"Hancur parah!" sela Eron, dan sepertinya kalimat itu juga yang hendak di lontarkan oleh Dariel.
"Ini...ini, yang gue takutkan dari dulu!" lirih Dariel, laki-laki itu mulai memasang wajah sendu, dan merebut gitar yang berada di paha Nevan, "dulu pas kita masih SMP, saat gue ngajak lo buat bentuk band, lo nya gak mau! isi bilang gak penting lah, gak guna lah, membuang-buang waktu lah! Dan ini lah hasilnya! di saat lo memerlukan musik untuk menyampaikan suasana hati, tapi tidak sedikitpun bakat yang lo miliki!" pungkasnya yang terkesan mengejek.
"Bahkan tuning senarnya juga hmm...," timpal Eron, seraya menggelengkan kepala. Laki-laki itu meraih gitar tersebut, lalu dengan mahir nya ia memutar-mutar besi yang berada di kepala gitar, "lo tahu Van, berlatih tuner adalah teknik paling dasar yang harus lo ketahui, karena kencang dan kendurnya senar mempengaruhi nada yang akan lo hasilkan! dan kalau lo sudah terbiasa dengan ini, maka lama-kelamaan lo akan terbiasa untuk mengetahui nada yang tepat, sesuai yang lo butuhkan" imbuhnya mengajari.
Dariel masih belum selesai dengan dramanya, ia mengayunkan kaki ke depan, lalu menekuk lengan di pembatas balkon, "Jika lo perlu bantuan, lo bisa bilang! gue akan ajarin! jangan malu untuk bertanya Van, karena gak semua hal bisa lo selesaikan sendiri," godanya dengan menaikkan satu alis.
"Ambil yang kalian butuhkan lalu pulang!" tegas Nevan, yang melenceng dari tawaran Dariel.
"Yah...! lo ngusir kita nih?" sentak Eron tidak terima.
"Bukanya gitu! Kakek sebentar lagi mau mengadakan pertemuan, jadi sebaiknya kalian pulang sebelum Kakek sendiri yang mengusir!" jelas Nevan.
"Mmmh, baru juga mau main!" pungkas Dariel.
"Van...Van! sebelum itu pinjem toilet lo bentaran ya? Ada kode alam nih!" ujar Eron, dan rasa sakit di bagian belakangnya semakin terasa setelah ia meminta izin.
"ENGGAKLAH! LO KIRA GUE SEJOROK DARIEL!" tukas Eron sembari berlari menjauh.
Di saat Eron sudah tenang di tempat ternyaman. Dariel dan Nevan masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Nevan merapikan lembaran kertas berisikan kunci gitar, dan Dariel sibuk menggali lobang emas yang tertempel di dalam tubuhnya.
"Van gue tahu, hati lo lagi berbunga-bunga kan?"
Tidak ada jawaban dari sang lawan bicara, hingga membuat Dariel kembali mencari celah untuk mengorek informasi.
"Udahlah Van, gak usah nahan gitu! gue kenal lo dari kecil, perubahan kayak gini udah tercium dari lobang hidung gue yang mancung ini!" sombongnya, seraya menunjuk pangkal hidung yang memang terlihat mancung layaknya bule Eropa.
"Lo butuh ke THT!"
"Ck! Lo tahu, ini sama persis ketika lo ngajak gue dan Eron liburan ke Paris, meskipun lo gak maksa tapi dari gerak-gerik lo itu udah menjelaskan, jika lo ingin kita setuju! Dan tujuan utama lo bukanlah konser! ada hal lain di sana!" selidiknya sembari tersenyum jail, "Lo bukan tipe orang yang tiba-tiba menyukai sesuatu dalam waktu yang singkat. Konser, gitar, dan bernyanyi! Gue yakin di balik itu pasti ada pemicunya!" imbuhnya penuh keyakinan.
Pandangan Nevan sedikit melebar. Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Namun yang jelas rasa getir menyelimuti hatinya.
"Dalam hal pelajaran gue emang jauh di bawah lo, Van! tapi dalam urusan ini lo bisa mengandalkan gue!" Lagi-lagi ucapan Dariel terasa menyentil hatinya.
"Van, gue tahu lo memiliki segalanya, tapi bukan berarti dengan itu lo bisa mendapatkan apapun yang lo mau, terutama pasangan! karena gak semua wanita menginginkan itu! jika lo masih kaku, percayalah, gak akan ada yang bisa bertahan. Coolboy menang keren, tapi jika lo terlalu cool, bahkan obrolan santai pun gak akan nyambung! dan satu lagi, perasaan itu untuk di sampaikan Van, bukan untuk di tahan! Jadi, jangan batasi diri lo untuk merasakan hal yang baru!" tutur Dariel seraya menepuk bahu Nevan.
"A.jir badan gue lemes gila! ini coklat panas gue minum ya? gue butuh nutrisi nih!" ujar Eron, saat langkahnya semakin mendekati kedua sahabatnya.
"Pup lo cair ya?" ejek Dariel seraya tertawa terbahak-bahak.
"Ini semua gara-gara lidi yang lo kasih kampret! lain kali gue gak mau jajan sembarang lagi!"
"Lemah lo!"
Kletak!
Suara benturan alas cangkir dan meja terdengar, saat tangan Eron menaruh cangkir yang sudah tak berisi tersebut.
"Yasudah kita balik sekarang aja, gue mau ke Dokter buat priksa ini perut! takutnya ada bakteri yang nyangkut!" ujar eron.
Sepeninggal kedua sahabatnya itu, Nevan terlihat berdiri mematung di depan pintu toilet. Sesuatu sedang ia pikirkan, hingga otaknya tidak dapat bekerja dengan baik.
"Sialan kenapa gue jadi begini!" monolognya.
.......................
Langit semakin menggelap dan waktu sudah menunjukkan pukul Tujuh malam, dan di sebuah taman, terlihat Nevan tengah sibuk memanggang beberapa irisan daging.
"Bau masakan mu memang terbaik Nevan," puji Toreno, yang tampak sudah berada di belakang Nevan, "oh yaa, itu panggung mini, kamu yang mempersiapkannya?"
Nevan tidak melirik, pandangannya masih tertuju pada daging yang mengeluarkan asap tersebut, "Ini acara Kakek, aku tidak ikut campur," sahutnya.
"Mmhhh..., tapi Kakek yakin, Kakek tidak menyuruh siapapun untuk mempersiapkan itu!" ujarnya, lalu beberapa detik kemudian ia memanggil sebuah nama, "Atom!"
"Iya Tuan?"
"Apa kau yang mempersiapkan itu?"
"Tidak Tuan!"
"Lalu?"
"Sudahlah Kek, biarkan saja, lagipula itu tidak penting."
"Benar juga, dan yaa, kenapa cucuku yang lagi satu belum sampai juga?"
"Saya akan mengeceknya Tuan," ujar Atom, bahkan sebelum di perintahkan ia sudah mengetahui tugasnya.