Mine ?

Mine ?
03 : Penolakan



Derap langkah tergesa-gesa menaiki anak tangga, menerobos masuk hingga membuat beberapa pelayan melirik bingung.


Kini perasaan penuh amarah menyelimuti hati laki-laki itu, tatapan mendelik tergambar jelas di kedua sorot matanya.


BRAAAAK!


Pintu di buka dengan sangat keras hingga membuat sepasang suami-istri yang tengah menonton televisi terperanjat kaget.


"SAYANG! kamu bikin Mommy kaget saja! dan itu kenapa.... kamu bawa-bawa koper segala?"


Zivana mulai panik ketika melihat ekspresi wajah putranya yang begitu marah, "Kamu baik-baik saja kan sayang?" imbuhnya cemas. Nevan, laki-laki itu masih berdiri diam dengan tatapan menyelidik.


"Bicara Nevan! jangan buat Mommy dan Daddy bingung atas sikap diam mu itu!" pinta Deron.


"Sekarang juga aku mau Mommy dan Daddy turun! kita bicarakan semua di ruang tamu!"


Masih dengan raut heran, Deron dan Zivana saling bertatapan, mereka sama-sama bingung melihat tingkah laku putra semata wayangnya tersebut.


.


.


.


.


.


"Apa Mommy dan Daddy sengaja menyembunyikan semuanya dariku? kalian keterlaluan! Ini kejutan yang menyebalkan!!! Ingat, aku tidak suka! Pokoknya batalkan!"


"Kamu ngomong apasih Nevan? Mommy sungguh tidak mengerti!"


"Bicara yang jelas Nevan! jangan membuat kami semakin bingung atas pertanyaan yang belum kamu jelaskan sepenuhnya!" tegas Deron yang terlihat mulai kesal.


"Ini tentang perjodohan itu! apa kalian sekongkol dengan Kakek untuk merencanakan semuanya? dan apa-apaan ini Daddy? sebelumnya Daddy tidak pernah bersikap seperti ini, bukanya Daddy yang selalu mengatakan jika seseorang berhak atas jalan hidupnya sendiri, tapi kenapa sekarang seperti ini? Apa karena posisi Daddy yang ___ ah sudahlah... yang jelas aku tidak setuju! aku masih sangat muda! dan di jodohkan? haaah! kalian pikir aku mau?" Nevan terlihat mengatur deru nafasnya, sebelum ia kembali bersuara.


"TIDAK! aku mohon jangan mendikte hidupku bahkan sampai urusan pasangan! itu hal konyol! benar-benar konyol! Sampai kapanpun aku tidak bisa menerimanya!" cecar Nevan, tanpa memberi jeda untuk Deron dan Zivana menjelaskan, deru nafasnya memburu, ada lonjakan amarah yang menyelimuti hatinya saat ini.


"Haaaahh....di jodohkan?" dua orang itu berucap bersamaan, mereka masih mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut putranya.


"Iyaa! dan sebelumnya kalian harus tahu jika gadis itu pandai bersandiwara! kecantikannya hanya untuk hal-hal semacam ini, menjerat dan membodohi orang-orang dengan tipu muslihatnya! jadi jangan sampai diperdaya!"


"Honey, apa kita akan segera memiliki cucu?" celetuk Deron, yang langsung di balas injakan kaki dari Zivana, "aaww... sakit honey... aku cuma bertanya, lagian Nevan mengatakan hal yang tidak-tidak!"


"Sayang... dengar, Mommy dan Daddy tidak pernah menjodohkan mu karena memang benar itu hal yang konyol, dan kami tidak akan pernah melakukan itu! jadi jelaskan apa yang membuat mu sampai berpikir seperti itu?" ucap Zivana, ia berharap putranya percaya.


"Berarti semuanya hanya keputusan Kakek?" tanya Nevan yang masih terlihat ragu, "ahhh!!! Ck, tidak ku sangka Kakek lebih mempercayai mereka!"


"Kakek?" ulang Zivana, lalu ia melirik kearah suaminya, "honey... kenapa Papa tidak pernah membicarakan hal sepenting ini pada kita? kamu juga tidak tahukan? iyaa kan?" sambungnya dengan tatapan penuh tanya.


"Benar, aku juga tidak tahu honey..., Papa memang sering sekali membuat keputusan secara sepihak, tapi untuk urusan ini..., aku pun sama terkejutnya. Kalian tenang saja, sekarang juga akan aku tanyakan semua pada Papa!" ungkap Deron.


"Aku mohon Dad... bantu aku agar Kakek tidak bersungguh-sungguh atas keputusannya ini, jangan sampai dia menyesal suatu hari nanti! Gadis itu licik... dia penuh tipu daya!"


"Mhhh... kamu tahu siapa yang ingin di jodohkan denganmu?" tanya Deron.


"Aku baru sekali bertemu dengannya, dan itupun tadi saat makan malam di rumah," jelas Nevan, "tapi aku ingat nama ibunya, Liliana! Yaaa Liliana!"


Begitu lugas ia menjawab, namun sepertinya ada sesuatu yang juga ia sembunyikan.


"Liliana?" ulang Deron.


"Iyaa," Nevan menjawab seraya menghempaskan bokongnya ke sofa, kepalanya terus menggeleng-geleng, dan sesekali tawa hambar lolos dalam mulutnya.


"Kamu tahu siapa itu honey? apa dia salah satu rekan bisnis di perusahaan kita?" Zivana bertanya, sembari menyibakkan rambut panjangnya kebelakang.


Belum sempat Deron menjawab tiba-tiba....


"NEVAAAAN!" sebuah teriakan lantang terdengar dari arah luar, meskipun setelahnya di susul dengan suara terbatuk-batuk.


Roda-roda kecil berdecit ketika benda bulat itu menyentuh lantai pijakan di bawah sana. Dan sepersekian detik kemudian terlihat Atom tengah mendorong kursi roda, hingga menerobos masuk ke dalam ruang tamu tersebut.


"SEKARANG JUGA PULANG KE RUMAH KAKEK!"


"TIDAK! selama Kakek masih bersikeras untuk menjodohkan ku maka selama itu aku tidak akan pernah ke sana lagi!" ancam Nevan tak kalah serius, dan ia mengeluarkan suaranya yang semakin meninggi.


"Atom bawa dia!"


"Baik Tuan."


"Kakek ini apa-apa sih! Kakek tahu..., memaksa suatu hubungan adalah hal yang tidak benar! jangan selalu bertindak sesuka hati hanya karena Kakek memiliki kuasa! pikirkanlah! semua orang memiliki perasaan, setidaknya tanya dulu apakah aku mau atau tidak, dan yaaa..., tanyakan juga pada gadis itu apa dia setuju atau tidak! Jangan karena dia diam Kakek pikir ia mau! Ingat Kek, mempertimbangkan pendapat dari kedua belah pihak adalah hal yang paling penting! apalagi ketika mengambil sebuah keputusan!" jelasnya panjang lebar, ketika dirinya merasa terancam saat Atom sudah bersiap untuk menangkapnya secara paksa.


"Kamu benar Nevan!" sahut Toreno.


"Jelas! karena aku ini pintar dan juga bijaksana!" ujarnya begitu percaya diri.


Semua orang bisa menjadi bijak dalam ucapan, namun tidak dengan tindakan.


"Tapi ucapan mu itu tidak akan bisa mempengaruhi keputusan yang sudah Kakek buat! Dan simpan saja kata-kata mutiaramu untuk orang-orang yang lebih membutuhkan!" cela Toreno.


"Atom!!! cepat tangkap dia!"


"Pa...Papa..., jangan seperti ini! Nevan masih sangat mu__,"


"Kau Deron! tidak usah menjelaskan jika cucuku masih muda! Karena aku masih bisa melihat dan masih sanggup untuk mengingat umur cucuku sendiri!"


"Maka dari itu jangan jodohkan dia Pa...." Zivana sampai mengatupkan tangan, agar mertuanya itu mau merubah keputusannya.


"Kalian ini yaaa, bersikap seolah-olah aku akan menikahkannya besok, aku hanya mencarikannya pasangan yang tepat! Tenang saja, mereka akan sama-sama mengejar pendidikan dan juga karir, hingga waktunya tiba baru akan aku nikahkan mereka berdua!" tegas Toreno.


Nevan yang masih tidak terima atas keputusan tersebut terus berusaha untuk menghindar dari tangkapan Atom. Seperti tikus dan kucing, mereka asik saling kejar-mengejar.


"Kenapa Papa menjodohkan Nevan dengan putrinya Danes? bukankah dia mantan supir Papa?" tanya Deron, "dan seingat ku dia baru beberapa tahun bekerja dengan kita, jadi kenapa Papa bisa memutuskan hal seperti ini? Bahkan terkesan mendadak?"


"Jika kau lupa Deron maka akan aku ingatkan kembali! dialah yang telah menyelamatkan nyawaku! jadi sudah kewajiban ku untuk bertanggung jawab atas keluarganya!"


"Iyaa, tapi tidak dengan menjodohkan putraku dengan putrinya Paa.... Ini tidak bisa ku terima!" tegas Deron, "aku bisa memenuhi kebutuhannya! dan aku juga akan mengurus semuanya Pa, bahkan menyekolahkan gadis itu sampai perguruan tinggi!" sambung Deron meyakinkan Toreno.


"Punya uang berapa kau hingga begitu percaya diri mampu menyekolahkannya sampai perguruan tinggi?" kali ini Toreno menatap putranya dengan tatapan remeh. Pria paruh baya itu memencet tombol di kursi rodanya, hingga ia semakin mendekat dengan pria yang masih menentang keputusannya.


"Apa kau mau menggunakan uang yang kau hasilkan dari perusahaan ku Deron? Ck! kau sebut itu uangmu? TIDAK...!!! sepeserpun kau tidak memiliki uang! semua itu milikku! jadi selama kalian masih menggunakan segala fasilitas atas nama besar ku, maka jangan pernah menentang keputusan yang sudah ku buat! kalian MENGERTI?" tegas Toreno penuh penekanan. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan.


"Dan untuk mu Nevan! jika kau masih bersikeras menentang keputusan Kakek, maka kau akan bernasib sama seperti Ayahmu, tercoret dari ahli waris keluarga Eldione! dan semua harta ini akan Kakek berikan pada Liliana dan juga putrinya! Kakek serius akan itu! Moral kalian semakin rusak karena harta... jadi Aku mau membersihkannya!" ancam Toreno, dan ia tidak pernah bermain-main atas ucapannya.


"Wah!!! aku tidak habis pikir.... Apa saja yang sudah kedua wanita itu katakan pada Kakek hingga Kakek bisa bersikap kejam terhadap keluarga Kakek sendiri? Kakek bahkan mencoret Daddy dari ahli warisnya... itupun hanya karena mereka yang statusnya tidak jelas!!! Mereka bukan siapa-siapa Kakek! dan... dan sekarang aku pun terancam? Heeehhh!!!" ungkapnya, dengan tatapan tidak percaya.


"Tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk Kakek percayai Nevan!"


Nevan yang masih menghindar dari kejaran Atom kini terlihat semakin mendekat kearah Toreno.


"Kakek belum lama mengenal mereka! bisa saja kan semua ini hanya jebakan yang sudah mereka susun dengan begitu cerdiknya! jangan mengambil keputusan secara gegabah Kek! Aku tidak mau Kakek menyesali itu nantinya!!!" seru Nevan.


"Kamu Nevan! jangan pernah mengajari Kakek soal taktik dan strategi! perusahaan Kakek bisa melesat dan berada di puncak bisnis karena otak ini!" ujar Toreno sambil menunjuk-nunjuk kepalanya, "bermain dalam bisnis sudah menjadi santapan untuk Kakek! Kakek tahu mana yang benar dan mana yang tidak! bahkan sampai siapa yang bisa di percayai atau tidak! jadi tugasmu cukup mengikuti semua yang sudah Kakek putuskan, dan ingat Nevan! jika kamu masih menginginkan harta ini, maka pulanglah ke rumah Kakek sekarang!" tegas Toreno.


Suana seketika hening, tidak ada lagi bantahan atau sanggahan atas pernyataan Toreno.


"Baiklah!!! mungkin kamu masih memerlukan waktu untuk berpikir, Kakek akan menunggumu sampai besok malam, dan jika sampai saat itu kamu masih belum datang juga, maka Kakek anggap kamu tidak setuju, dan lihatlah apa yang bisa Kakek lakukan!!!"


Dan di sudut lain, Atom kembali bergidik ngeri ketika kalimat itu terlontarkan lagi dari mulut tuannya, karena ia sangat hafal bagaimana jika tuannya sudah marah.


"Atom!!!"


"Nggggg...i...ya Tuan!"


Atom terkejut saat namanya di sebut hingga tanpa sengaja ia mengangkat kedua tangannya ke atas. Dan Nevan yang melihat itu menatap remeh, ada senyum mengejek di wajahnya.


Dan setelah kepergian Toreno, Nevan kembali duduk di sofa dengan salah satu tangan mencengkeram kuat rambutnya yang tebal.