
Berdiri dengan sebotol minuman keras yang tengah ia pegang. Mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berteriak-teriak senang.
"GUE...! GUE YAKIN KALI INI SI GEMMI AKAN TERTUNDUK LESU DI BAWAH KAKI INI!" pungkasnya tegas, sembari menyeringai lebar.
Sorak-sorai mulai memenuhi ruangan, bersamaan dengan suara musik yang ikut berdentum memeriahkan suasana.
Dan malam ini, orang-orang dengan balutan jaket hitam bertulisan Trigger tengah tertawan puas, ketika mereka memiliki celah untuk menjatuhkan lawannya.
Mereka larut dalam euforia, jeritan-jeritan kepuasan mulai menggema di setiap celah ruangan. Asik menikmati aktivitasnya, sampai salah satu di antara mereka mulai membuka suara.
"Jadi kapan nih kita mulainya?" tanya Lucky, kepada sang ketua yang masih sibuk bergoyang menikmati kegilaannya.
"Ahhhh..., besok! Gue gak mau lagiiih menundaaahh!" titahnya terengah-engah, "dan yaa! siapkan pasukan lebih banyaaak, gue gak mau lagi kitaaaah kalah jumlaaah..., apalagi besok kit...kitaaah yang menyerang aaahhhh!!!"
Belum usai dia memberi perintah, tiba-tiba dari arah luar terdengar sebuah ketukan, hingga aksinya juga ikut terhenti.
Hanya isyarat yang ia gunakan agar anggotanya bergegas membuka pintu.
Maxi, salah satu tangan kanan Geng Trigger mendekat kearah Javier, "Jav, gue rasa di klub ini gak hanya Geng kita yang lagi berpesta, tapi rival juga ada!"
Laki-laki itu berdiri, hingga memaksa orang di hadapannya menjauh, dan Javier langsung menyambar jaket kebesarannya, lalu dengan langkah sempoyongan ia berjalan ke depan seraya tersenyum licik di sudut bibirnya.
"Gue rasa kita perlu pemanasan!" seru Javier, dan ucapan itu di setujui oleh para anggotanya.
Blaaap....Tap...! Blaaap...Tap!
Derap langkah menelusuri lorong, mencari ruangan yang sudah mereka ketahui letaknya, hingga tanpa permisi tangan itu membuka penghalang yang tertempel di tembok.
CKLEK!
Gelak tawa yang tadinya terdengar ramah mulai sirna, tergantikan dengan tatapan menyelidik penuh amarah.
"Bangsat!" umpat Wilkan. Ia benar-benar tidak terima jika kesenangannya terganggu oleh para lalat yang selalu ingin ia singkirkan.
"Kumpulan para CEBONG yang gak tahu sopan santun mulai beraksi!" hardik Miko yang semakin memperkeruh situasi.
Mendengar kata-kata penyulut emosi, bukannya terpancing, Javier justru tertawa geli lalu mulai membuka suara, "Wah..., begini cara kalian menyambut tamu? Kami datang bersilaturahmi tapi kalian malah sibuk mencaci-maki! Jadi di sini siapa yang gak tahu sopan santun ahh?" sindirnya, sembari meletakkan sebotol minuman kosong di daerah teritorial Gemmi.
GREP!
Berlagak sok akrab, Javier mendaratkan pantat sambil merangkul bahu Gemmi.
"Cupu!" ketusnya, dibarengi dengan decakan bibir.
Gemmi yang tak terima dengan ungkapan tersebut mulai menatap tajam, lalu tangannya mencengkram kerah baju Javier.
KREEEEEP!
"Wooowww....woww, lepasin! Lama gak ketemu lo jadi semakin sensitif ya?" sahutnya, dibalut senyum menjengkelkan, lalu berusaha melepas paksa tangan Gemmi yang masih bertengger indah mencengkram kerah bajunya, "gue bilang cupu, karena segini doang cara Geng lo menikmati kesenangan? Mana nih cewek cantiknya? Oooo...ooohh jangan-jangan lo semua....," Javier sengaja menggantung ucapannya, ia ingin lebih memancing emosi sang rival.
Ketika Gemmi hendak melayangkan pukulan, Javier kembali berkilah, "Tenang bro, tenang! gue ke sini bukan cari ribut kok! Lo tahu kan cara kita mengakrabkan diri sedikit berbeda. Yang gue anggap biasa mungkin lo kira mencela, tapi yang jelas gue sekarang gak mau berkelahi! Tenangkan diri broo! mari berbincang santai mengenai masa depan!" jelasnya, yang semakin terdengar ngelantur di telinga Gemmi dan anggotanya.
Seperti dua kutub yang saling tarik-menarik, begitulah mereka, apalagi dibumbui dengan percikan-percikan amarah dari kedua pasang mata.
Jarinya bergerak memberi perintah, agar Lucky segera mengambilkan minuman. Dan ketika apa yang ia inginkan sudah di tangan, ia kembali beralih menatap Gemmi, "Gue masih heran kenapa lo di sini. Bukannya lo punya mainan bagus!" ucap Javier, sembari menuangkan minuman di gelas kosong.
Glek! Glek!
Tak!
"Ahhh nikmat!" serunya, saat berhasil meneguk habis air bening dengan sejuta fantasi tersebut, "kalau gue jadi lo, mungkin gue gak akan keluar sampai besok pagi. Gue akan sibuk bersenang-senang, buat dia lelah! apalagi bareng cewek macam dia, betah banget pasti!" sambung Javier, dengan bayangan yang masih melekat tentang sosok itu.
"Lo bicara apa?"
"Ck! Gue liat Gem! lo beraksi di atas panggung, dan gue akui kali ini selera lo benar-benar...."
Srruuppss!
Suara yang berasal dari mulut Javier, ketika ia menempelkan jempol dan telunjuknya hingga menghasilkan nada yang begitu menjijikkan di telinga Gemmi.
"Brengseeek bilang apa lo!!!"
BUG!
BUUUGG!
Pukulan demi pukulan Gemmi lesatkan, namun sang lawan malah semakin menyeringai puas.
"Lo masih ingat nama tengah gue? dan seperti itu juga, insting gue gak akan pernah meleset! Gue masih ingat jelas gambar pepohonan lebat dengan seorang gadis kecil berdiri menautkan jari, ekspresinya! dan entah kenapa meskipun bertahun-tahun lamanya gue seperti menemukan sosok nyata dari gambar tersebut. Gambar yang udah bikin gue kalah di hari itu! Kekalahan yang membuat gue dirundung kemalangan, hanya karena nilai yang udah lo dapatkan!"
"Gambar?" gumam Gemmi, karena cukup sulit untuknya mengingat kenangan lama, semua terjadi akibat kecelakaan di masa lampau.
"Yaaa lo lupa? dan sayangnya gue tidak! sampai kapanpun tidak! Lo bisa memenangkan lomba tersebut, tapi kali ini gue akan rebut inspirasi yang udah bikin gue malu!" tegas Javier, "Dinesclara Shasyania...," imbuhnya seraya menjilat bibir.
"Brengseeek!"
BUG!
BUG!
BUUGGS!
.
.
Pukulan.
BRAAAAK!
.
.
Tendangan.
BRUUAAAKKS!
.
.
Lemparan.
Beberapa Geng Trigger bergerak menahan amukan Gemmi, dan mereka berhasil menyerang balik.
"Lucky..., lo dapet bidikan yang pas? Gue mau semua jelas saat keparat ini membabi buta!" tukas Javier, sembari menyeka darah di pelipisnya.
"Sangat-sangat jelas Jav! bahkan dari jarak jauh pun semua bisa liat jika dialah pelakunya!"
"A.JIIIIIING!!!"
"Pukul Gem, pukul! Sekali lagi lo nyentuh kulit gue, maka video itu akan terkirim langsung ke Kakak tercinta lo, SEAAAAAN!" todong nya, "hubungan kalian akan semakin renggang, dan lo akan selamanya menjadi manusia sampah di mata Kakak lo! hahaha kenapa? lo takut? ciut? jika lo terlalu takut maka sekarang giliran gue yang BERAKSI!!!"
WUSSSSHHH! WUUUSSHH!
BUUGS!
BUUUUKGSS!
KEPLAAAKK!!!
Sampai ia mampu melumpuhkan tiga orang anggota Geng Trigger.
Hingga saat Gemmi mendapatkan celah, saat itulah ia gunakan untuk mengunci pergerakan Javier.
Tangannya mencengkram kuat, sampai mengeluarkan suara.
KREEEEK!
"AAAAAAARRGGGHHH!!!"
Javier menjerit-jerit begitu hebatnya.
"Sebegitu takutnya lo berhadapan langsung sama gue? Sampai lo ngelakuin cara rendahan seperti ini kampret! Jika lo cukup kuat maka lawan gue! jangan jadi PECUNDANG A.JING!"
BUUUUGG!
Saat Gemmi sibuk dengan Javier, tiba-tiba saja dari arah belakang ia kembali di pukul dengan cukup keras, oleh laki-laki yang bernama Maxi.
Wilkan dan Miko juga tidak kalah sibuk, karena mereka tengah melawan anggota Geng Trigger yang sudah berkerumun memenuhi seisi ruangan.
BRAAK!
BRAAAK!
WUSSSSSHH!
Baku hantam terjadi, namun karena efek dari minuman yang mereka teguk, hingga lama-kelamaan pukulan mereka semakin meleset, dan melenceng jauh dari sasaran.
AAARRGGGHHHHH!
Gemmi mencengkram kuat kepalanya, ia ingin lebih fokus, tetapi yang terjadi malah konsentrasinya semakin buyar.
Javier dan anggotanya juga tidak kalah kelabakan, ketika mereka tergopoh-gopoh untuk berdiri dan kembali menyerang, namun seakan sehati, merekapun tak luput dari pengaruh miras.
Suara bising yang berasal dari ruangan tersebut memancing reaksi dari pengunjung lainnya, hingga mereka memanggil pihak keamanan untuk mengecek situasi. dan,
CKLEK!
"APA-APAAN INI!"
Mereka terkaget-kaget, ketika menyaksikan beberapa anak remaja bergulat, ada yang memukul angin, sofa, hingga berpelukan dengan tangan bergerak untuk saling menyakiti.
"SUNGGUH PRIHATIN MELIHAT GENERASI MUDA SEPERTI INI!" Bentak salah satu pengunjung klub, sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Bawa mereka keluar! dan segera hubungi keluarganya!" perintah pria berpenampilan rapi, dan sepertinya ia merupakan manajer dari tempat tersebut.
...****************...
Meninggalkan kenakalan remaja dengan emosi meletup-letup, mari kita beralih pada dua pasang remaja lainnya, yang juga terlihat berdebat dengan argumen masing-masing.
"Ini sudah sangat malam Geonevan jadi kamu pulanglah!"
"Tidak! tidak! karena aku akan menginap di sini!"
Shasyania menganga tidak percaya dengan keteguhan yang terus-menerus Nevan ucapkan, "Jangan Geonevan, aku sudah biasa di rumah sendiri, jadi kamu tidak perlu sampai begini."
Nevan kembali duduk, sembari menopang dagu mendengar Shasyania berceramah.
"Geonevan..., aku mohon pulanglah! aku sudah sangat lelah, aku ingin istirahat!"
"Kalau begitu kenapa kita tidak langsung tidur? bukankah itu solusinya."
Lagi-lagi Shasyania menggeleng tidak percaya, "Kalau warga sini sampai tahu, dan kita di grebek, maka sesuatu yang tidak pernah kamu pikirkan akan terjadi!"
"Sesuatu seperti apa?"
"Yaa seperti itu!"
"Yaa seperti itu apa?"
"Kita akan di tuduh yang tidak-tidak Geonevan!"
"Warga sini kurang kerjaan ya? sampai memiliki tuduhan tak berdasar untuk seseorang yang sedang tidur!"
"Geonevan aku tahu kamu tidak bodoh, jadi jangan berlagak seakan kamu tidak tahu!"
"Terimakasih atas pengakuannya, tapi aku memang tidak tahu Shasyania."
"Orang-orang sini akan mikir jika kita kumpul kebo!" Akhirnya Shasyania lugas dengan penjelasannya, dan ia sukses mempermalukan dirinya sendiri.
"Kumpul kebo? apa-apaan itu!" cibir Nevan.
"Aaaarrrrrrrhhh Geonevaaaaaaaan!"
"Sayang..., kenapa kamu berteriak seperti itu, bukannya itu yang akan mengundang warga sini untuk berpikir yang tidak-tidak!"
"Nah itu... itu kamu tahukan! Dan sama seperti itu, jika warga sini melihat kita menghabiskan malam bersama, maka mereka juga akan memiliki pikiran yang tidak-tidak!"
"Kotor sekali pikiran mereka!"
"Maka pulanglah sekarang!"
"Tidak!"
"Pulang Geonevan, jangan sampai sesuatu yang aku takutkan terjadi!"
"Sekarang apa lagi yang kamu takutkan?"
"Mereka berasumsi sendiri, dan mendesak kita untuk menikah muda!" jelas Shasyania sedikit gusar.
"Maka aku akan menikahi mu!"
.
.
.
.
.
*jangan lupa tinggalkan jejaknya yaa, dan lagi-lagi aku jelaskan jika, LIKE, KOMEN, hingga VOTE kalian sangat berarti untuk keberlangsungan cerita ini..., pokoknya terimakasih😂*