Mine ?

Mine ?
80: (POV NEVAN) : Ingin melindunginya



(Masih Mode flashback yaaa)


"Heeii monyet, bisa kau beritahu aku sesuatu? mmmhh bukan berarti kau lebih pintar dariku yaaa! hanya saja karena ini lingkungan baru untukku, jadi aku kurang paham bagaimana cara bertahan hidup di sini. Kenapa kau hanya diam saja monyet? Apa kau tidak mengerti ucapan ku? Cih bodoh!"


Aku mulai frustasi hingga kehabisan akal. Bayangkan saja, dari sebelum fajar menyingsing sampai matahari bersinar menyilaukan mata, aku tetap saja tidak tahu harus mencari apa, otakku tidak cukup bekerja, hingga kulihat seekor monyet membawa pisang, dan terbesit keinginan untuk bertanya padanya. Yaa seperti sekarang, aku berbicara dengan sosok berbulu hitam tersebut.


"Ayolah monyet! jika kau tidak cukup iba melihatku, maka lihatlah gadis itu! Tidakkah kau kasian melihatnya? dia masih terlelap dan aku pastikan saat dia terbangun nanti, dia pasti kelaparan monyet! Aku tidak sanggup melihat orang tersiksa..., jadi bantulah aku, beritahu aku di mana aku bisa mendapatkan makanan yang bisa aku makan---ehh maksudku dia makan!" aku menatap sang monyet, hingga pandangan kami bertemu, "oke-oke..., yang bisa kami makan, dan jika lebih pasti akan ku bagi denganmu!"


Bukannya menjawab monyet itu malah membelakangi ku, ingin rasanya ku rebut pisangnya, tapi sayang hati nurani lebih mendominasi. Yaa yaa aku berbohong, aku takut dia menyerang ku.


"Vanvan...," suara lirih Zia sukses membuatku bergerak cepat, dengan tergopoh-gopoh aku mulai mendekatinya.


"Ke...kenapa? apa ada yang sakit? mana?"


"Tidak Vanvan, aku hanya takut ditinggalkan."


Aku menghela nafas mendengar kejujurannya, "Tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu, itu janjiku!"


"Aaaa...Lucu...!"


"Aku...aku lucu? Tidak! Aku ini Vanvan si tampan, bukan Vanvan si lucu!" sungut ku tidak terima.


"Bukan-bukan kamu, maksudku itu, dia lucu! monyet dibelakang mu..., hahaha."


"Monyet?" pandanganku mengedar, dan ternyata monyet nakal itu mengikuti langkahku, malah kini ia duduk tepat di sebelahku, "ini...? Ohh ini...ya...ya jelas saja dia lucu! monyet ini temanku, namanya -------Nyitnyit!"


"Nyitnyit?"


"Yaaa, Nyitnyit!" tawa lepas kembali keluar dari mulut Zia, aku benar-benar merasa puas bisa membuatnya bahagia.


.


.


.


.


.


"Zia..., bisa tolong ambilkan ranting itu?"


"Turunlah Vanvan! jangan naik lagi. itu berbahaya!"


"Tidak Zia, tidak! di sini ada telur burung tahu, kita bisa memakannya," tolak ku, seraya kembali menggerakkan jari-jemari, "ambilkan aku ranting itu Zia!"


.


.


.


Brruuuggg!


Bisa ku lihat Zia menatap terkejut, saat aku melompat dari atas sana, tangannya mulai berayun untuk memukul lenganku.


Plak!


"Jangan ulangi lagi, aku bisa jantungan melihatmu seperti tadi!"


"Hahaha... maaf-maaf, tapi ini Zia, kita dapat banyak telur!"


"Bagaimana cara kita memasaknya Vanvan?"


Untunglah dalam saku celanaku ada korek api, jika tidak, maka aku tidak akan tahu bagaimana cara untuk menghidupkan api. Menggunakan batu? tidak semudah itu.


"Enak?"


"Iyaa enak, bahkan enak sekali! ini pertamakali aku memakan telur burung!"


"Aku juga, dan semoga ini benar telur burung, jangan sampai ini telur ular atau binatang menyeramkan lainnya, aku tidak ingin jika kami mati konyol Tuhan!" batinku, yang tetap mempertahankan senyum agar Zia tidak curiga.


"Bajumu kotor Zia, mmmhh pakai saja bajuku," tanpa pikir panjang aku mulai melepas kaos hitam yang aku kenakan dan memberinya pada Zia.


"Tapi kamu?"


"Aku bisa memakai jaket ini."


"Itu juga kotor Vanvan!"


"Tenang Zia, aku sudah terbiasa dengan hal kotor, sedangkan kamu tidak kan? jadi pakailah! Ooohh aku tahu, aku tahu...kamu pasti malu kan? baiklah-baiklah aku akan membalikkan badan!"


"Sudah?"


"Yaapps!"


"Aku balik badan nih!"


"Iyaaa."


"Vanvan, hidup bebas seperti ini pasti menyenangkan ya?"


"Benarkah? kamu menilainya seperti itu?"


"Yaa..., aku selalu tertawa saat bersamamu, padahal kita baru kenal, dan kamu hebat!"


Ada getaran dalam diriku saat Zia mengatakan itu, rasanya seperti ingin selalu terlihat hebat dihadapannya, aku akan selalu berusaha untuk mempertahankan ucapan Zia, dan tidak akan pernah merubahnya. Aku akan menjadi hebat dan selalu seperti itu, untukmu Zia.


"Kerasnya hidup selalu bisa membuatku menangis, tapi aku selalu berusaha untuk tertawa, karena jika aku terus menangis maka aku tidak mungkin menjadi Vanvan si tampan!" aku bergurau dibaluti kebohongan, setidaknya masih dalam tahap wajar kan?


"Bagaimana denganmu Zia? aku malah tertarik mendengar kisah hidupmu! Seorang idola yang memiliki banyak penggemar, kamu pasti senang kan memiliki banyak teman?"


"Mungkin?"


"Iyaa seperti itu, tidak menarik untuk diceritakan."


"Pasti merepotkan ya?" aku mulai menggodanya, "ohh yaa..., bernyanyi lah satu lagu untukku Zia, aku hanya mendengar suaramu di tv, bisa membeli tiket hanya mimpi untukku, jadi bagaimana?"


"Aku tidak bisa bernyanyi----mmhh maksudku sekarang ini..., kondisiku...mmhh lagi kurang baik, yaa kondisi tenggorokanku!"


"Benarkah?"


"Iyaa tentu saja!"


"Sayang sekali, tapi kenapa aku curiga ya___,"


"Curiga apa?" Zia memotong ucapan ku, mungkin karena dia tersinggung, tapi sialnya aku malah semakin ingin menggodanya. Tidak perduli jika dia hanya lipsing, mau suaranya bagus atau tidak sekarang itu tidak penting.


"Curiga kalau-----hahaha jangan menggelitik ku Zia, berhenti..., ya...yaa aku percaya, percaya padamu..., hahaha!"


"Baiklah-baiklah jika kamu tidak bisa bernyanyi...," sejenak aku terdiam, sebelum kembali bersuara, "maksudku jika tenggorokan mu tidak memungkinkan untukmu bernyanyi, maka aku ingin hal yang lainnya, yaitu melihatmu bergaya seperti model! ya seperti model yang sering ku lihat di tv, saat kamu memakai pakaian bagus!"


"Itu gampang!"


"Okee!!!" aku berdiri tegap seperti pasukan, dan mulai mempersiapkan tempat untuk Zia beraksi.


"INI DIA BRALINZHEA...," seruku diiringi tepuk tangan, Nyitnyit pun ikut menggerak-gerakkan tangannya, sembari menjulurkan lidah.


Dan ya, selayaknya seorang profesional, Zia benar-benar membuatku takjub, ini bukan pertama kali aku melihatnya berlenggak-lenggok dengan gayanya yang menawan, tapi ini untuk kesekian kali aku melihatnya secara langsung, namun baru kali ini aku tersipu malu dan memandangnya kagum.


Ini sangat jauh berbeda, dulu saat Mommy mengajakku menghadiri acara, Zia selalu menjadi bintang utama, berpakaian bak princess, dengan panggung megah yang selalu menjadi ciri khasnya, aku yakin saat itu dia juga menawan, tapi entah kenapa aku tidak bisa menikmati acara, lain hal dengan sekarang, rasanya mataku tak bisa lepas darinya.


"Kamu hebat Zia..., kamu hebat!"


Aku bahagia bisa langsung menghampirinya, meluapkan segala rasa yang mulai membuncah, dan menyalami tangannya yang lembut.


.


.


.


"Apa itu bakat alami Zia? maksudku apa kamu juga berlatih untuk itu, menguasai panggung maksudnya...."


"Iyaaa, itu karena kami sering berlatih, seperti cara duduk, berdiri, berjalan, bahkan berbicara pun dilatih, terbiasa dengan kamera juga berkat latihan. Seminggu bisa tiga sampai empat kali. Kami belajar bersama, dia selalu mengajakku untuk ikut, dia memperlakukan ku seperti keluarga!"


"Latihan vokalnya bagaimana?"


"Kalau itu aku tidak ikut."


"Haaahhh?"


"Mak...mak...maksudku..., itu...i...itu aku sering bolos, yaa sering tidak ikut!"


"Ohhh, tapi kamu mengatakan kami? kami siapa?"


Zia tertegun, ada sesuatu yang tengah ia pikirkan sebelum menjawab pertanyaan ku, "Ka...kami..., ya aku dan Guruku! Guru les ku, Guru yang dibayar khusus untuk mengajariku tentang dunia entertainment, atau Guru yang di panggil khusus untuk kembali mengajari ku tentang pelajaran sekolah, pokoknya para Guru seperi itu, mmmhh karena lebih gampang, jadi aku sebut kami!"


"Ohh begitu___," niatku untuk kembali berbicara dengan Zia seketika terhenti, ketika dari kejauhan terdengar sebuah tembakan menggelegar, hingga membuat para penghuni hutan termasuk Nyitnyit bergerak gaduh, dengan gestur panik.


DOOOOOORRR!


.


.


.


DOOOOOORRR!


DOOOOOORRR!


.


.


.


Aku menarik tangan Zia, saat melihat kumpulan penjahat itu semakin mendekat, gerakan ku cukup cepat untuk menghancurkan apapun yang bisa meninggalkan jejak. Aku tidak ingin mereka sampai menyadari jika kami masih di sini.


"Kita harus naik Zia!"


"Ta...tapi bukannya itu akan semakin jauh untuk kita pulang."


"Iya memang, tapi tidak ada pilihan lain lagi Zia, kita tidak bisa turun, para penjahat ada di bawah! jadi naiklah!"


Aku mulai menyadari jika ini bukan hanya hutan biasa, bisa saja saat ini kami tengah berada di kaki gunung. Entahlah aku bingung. Aku menggerutui kenapa saat perjalanan menuju tempat ini (bersama Paman Charlee) aku malah tertidur, hingga aku tidak tahu menahu tentang seluk beluk tempat ini.


"Sial! Sial! Sial! kenapa bantuan dari keluargaku belum juga datang? Apa jangan-jangan Paman Charlee belum memberitahu kabar kehilanganku?" segala pikiran buruk mulai merangsek ke dalam otakku, "Daddy, Mommy aku mohon bantu kami!" aku berharap-harap cemas, sembari menopang tubuh Zia dari arah belakang.


.


.


.


.


.


*🙏🙏🙏*