
...(Flashback nyempil dikit)...
(Mode flashback)
"Aku mohon tolak Shasyania...aku mohon!!! jangan hancurkan kepercayaan ku..., penilaian ku tidak mungkin salah tentangmu. Jika kau menolaknya maka aku sendiri yang akan datang... jadi aku mohon tolak!" Aku terus membatin, dan sebisa mungkin memperlihatkan tatapan benci padanya.
Tapi yang terjadi justru berbanding terbalik, dia diam, seakan tidak keberatan dengan keputusan yang telah dibuat oleh Kakek. Hatiku benar-benar hancur.
Dan seketika itu ucapan Guilio dan ucapan ku mengenai sosok Shasyania bersaut-sautan di memori otak, ingin rasanya tak percaya namun kenyataannya memang benar, jika Shasyania seperti itu.
Aku berperang dengan hatiku, hanya karena harta mereka sukses membuatku kecewa.
"Sepenting itukah harta untukmu Shasyania? bahkan di saat aku menatapmu seperti ini? kau tetap bertahan? Cih!"
Aku benci mereka berdua, bagaimana tidak? tak cukup hak Daddy ku kini mereka juga mengincar posisi utama dengan menjadikanku miliknya.
Karena dua kali! dua kali aku merasa bodoh oleh penilaian ku sendiri, pengalaman masa kecil tak membuatku menjadi kuat, aku keliru, hingga ku biarkan hatiku kembali tak ternilai dan rasaku terbuang sia-sia.
Bahkan terpikir rencana untuk membuatnya jera hingga menyerah, dan menurunkannya dikala hujan adalah misi awal ku, namun ternyata dia tetap bertahan, malah kembali datang dengan sandiwaranya yang luar biasa.
Aku mencengkram rahangnya kuat, namun layaknya senjata makan Tuan, justru aku yang kalah, hingga teriakan putus asa dari mulutku menggema di ruangan.
Dan saat ku putuskan untuk membencinya, kini kelicikan Shasyania kian bermunculan, kulihat ia bersenang-senang dengan teman lelakinya, bahkan aku juga mendengar jika dia sampai bolos hanya untuk berdekatan dengan kakak kelas, hingga yang paling menyakitkan adalah saat ku lihat ia berboncengan mesra dengan laki-laki yang ku kenal bernama Gemmi.
"Lo bodoh Nevan! lo bodoh! Lo biarkan Zia menghancurkan kepercayaan diri lo... dan sekarang.... Shasyania pun sama! BA.GSAT KENAPA GUE SELEMAH INI? tidak-tidak... tidak akan lagi gue biarin..., lo juga harus merasakan luka yang sama Shasyania... iya lo harus merasakannya!!!"
.
.
.
Dan kembali aku merasa kalah, meskipun sudah sebenci ini, tapi ternyata rasa perduli ku masih ada, saat ku suruh salah satu ajudan andalan di keluarga Eldione untuk menjadi supirnya.
"Sial! kenapa sesulit ini untuk membencinya? kenapa sesakit ini? kenapa rasanya ingin terus melihatnya!!!"
Namun lagi-lagi Shasyania mengorek luka dalam hatiku, ia datang ke pesta Dariel bersama Gemmi, bahkan mereka berdansa bersama, aku yang tak sanggup melihatnya memilih melenggang keluar dan duduk di bangku taman sembari mendongakkan kepala menatap jutaan bintang di langit gelap, dan di malam itu juga kami kembali berdebat.
Sampai perasaan tak tenang menyelimuti hatiku ketika Shasyania pulang bersama laki-laki itu, hingga ku putuskan mengajak Eron untuk mengikuti mereka dari arah belakang, dan begitu terkejutnya aku saat melihat beberapa komplotan penjahat menabrak mobil Gemmi.
"NEVAN!!! LO GAK BOLEH GEGABAH, PENJAHAT-PENJAHAT ITU MEMBAWA SENJATA GOB.OK!!!"
"BUKA PINTUNYA BRE.GSEEKK!!! JIKA LO MASIH INGIN GUE HIDUP MAKA BIARKAN GUE MENOLONG SHASYANIA!!!"
"GUE PUNYA RENCANA JADI LO TENANG NEVAN!!!"
Malam itu menjadi titik balik untukku, dan setelah bermalam di rumah Shasyania aku mendapati sebuah fakta, jika Ibunya mengidap penyakit yang kapan saja bisa merenggut nyawanya, hingga biaya besar pasti mereka butuhkan untuk berobat.
"Ohh tidak, apa yang telah gue lakukan!"
Dan bayangan tentang para komplotan penjahat juga masih membuatku marah, dan saat aku memiliki kesempatan dan memenangkan sebuah game dari Mommy, maka hal yang aku minta adalah bisa mengerahkan pasukan BLACK AS, untuk melumpuhkan mereka tanpa ampun.
.
.
.
Shasyania seperti candu yang membuatku selalu tertarik untuk memikirkannya, bahkan saat pesta Mommy berlangsung aku malah berhalusinasi melihat sosoknya, namun lamunanku terhenti ketika Guilio datang dengan segala kecerewetan yang dia bawa. Aku tak perduli, sampai mataku terbelalak kaget menatap orang di depan sana yang memang benar adalah Shasyania.
Kini aku tak rela jika Guilio membongkar semua kegilaan ku padanya, bukan tanpa sebab, aku hanya ingin Shasyania tahu di waktu yang tepat, tentang bagaimana aku mendambanya, dan seberapa besar rasaku padanya. Namun aku juga tidak mau terburu-buru, apalagi rencana ku sempat gagal, mungkin itu isyarat agar aku lebih bersabar, dan pertimbangan lainnya adalah saat mengingat tatapan Shasyania kala di pantai sore itu, jelas sekali sorot matanya menggambarkan jika dia tengah memikirkan seseorang yang penting dalam hidupnya, entah siapa aku juga tidak tahu, tapi yang jelas aku bertekad untuk menggantikan posisinya, hingga perlahan namun pasti ku tawarkan hubungan dalam jangka waktu satu bulan, sebelum akhirnya ku jadikan Shasyania milikku selamanya.
(Flashback Pov Nevan end)
...****************...
Rintik hujan menerpa sebuah mobil sport, dan terlihat di dalam sana seorang laki-laki tengah tertidur pulas bersandar kepala di tuas kemudi.
Drrrrrrrrrtt!
.
.
Drrrrrrrrtttt!
Beberapakali getaran di dashboard mobil membuatnya bergerak gelisah, matanya perlahan-lahan terbuka, lalu tangan kirinya menjulur ke depan mengambil benda pipih tersebut.
"Iyaa?"
"Van, lo di mana?"
"Mau apa lo?"
"Gue sama Eron lagi di rumah lo nih, tapi katanya lo pergi sama Guilio, jadi posisi lo di mana sekarang? biar kita bisa nyusul!"
"Gak usah! gue ada urusan penting!"
"Urusan penting apa lo sama Guilio?"
"Bukan sama dia!"
Tut!
Seperti tidak memiliki niatan untuk menjelaskan lebih rinci, hingga Nevan mematikan sambungan telepon secara sepihak, lalu manik matanya melirik jam tangan yang baru saja menunjukkan pukul lima sore, dan seketika itu jarinya bergerak membentuk pola-pola abstrak di stir kemudi, "Mmhhh..., kira-kira urusan Shasyania udah selesai gak ya... apa gue telpon aja? gak---gak... bisa aja malah mengganggunya!"
.
.
"Iyaa halloo?"
"Kok bisa mainin handphone?"
"Meetingnya gak jadi, Kak Dofa tiba-tiba ada urusan sama Mrs Zivana."
"Kok gak ngabarin? aku kan bisa jemput!"
"Gak usah Geonevan..., kamu itu perlu istirahat! aku tahu kemarin kamu kurang tidur!"
"Aku mau ketemu sekarang! kamu di mana?"
"Lagi di alun-alun Kota, Anggi hari ini kerja, jadi aku bantu Wiwin sama yang lainnya di sini."
"Aku ke sana sekarang!"
Setelah ucapan itu Nevan benar-benar menghampiri Shasyania, dan seperti biasa penampilannya berhasil menjadi objek hidup untuk mata-mata yang menatapnya kagum.
"Widiiiiihhhh... ganteng banget!!!"
"Aaaaaaa...mau yang kayak gitu!!!"
"Maooo mampussss!!!"
"Malaikat gue lewat!!!"
"Artis bukan?"
"Mmmhhh.... kelihatannya ada yang lagi di jemput ayang nihh...."
Tanpa menebar senyum atas segala pujian yang ia terima, Nevan malah acuh tak acuh dan mendaratkan pantatnya di samping Shasyania.
"Udah-udah.... mundur!!! temboknya terlalu kokoh buat di geser!" seru para kaum yang kini merasa kecewa.
"Sampai jam berapa?" tanya Nevan.
"Udah makan?"
"Udah kok tad__,"
"Ohh iyaa... kalau ngomongin makanan jadi keinget dulu gak? waktu kita sering dapet makanan gratis daaaaaarr... AAWWWWW SAKIT YOGA!" sentak Wiwin, saat dirinya mendapat cubitan dari laki-laki di sampingnya.
"Kamu bisa diem gak? ini kamu lagi lupa apa gimana, cowok di samping Shasya itu kan pewaris keluarga Eldione! malu tahu!" bisik Yoga penuh penekanan.
"Ehh...eh maksudnya jadi keinget si Aa gak sih? iyaa bener gak sih? kan waktu dia ada, kita sering banget tuh dapet makanan enak i....iyaa...iya kan? Kek pembawa keberuntungan gitu... hahaha!" paparnya penuh kecanggungan.
"Mmhhh... di mana ya dia sekarang? kok gak pernah kelihatan ya? apa udah pindah haluan jadi pesulap?"
"Tahu nih, tiap hari ngintilin Shasyaniaaaaaa... mulu!" seru Wiwin, "sama sih... kayak si Nanda, cuma bedanya sekarang dia kayak menjauh! liat aja tuh sekarang... gak lagi ngumpul sama kita!"
"Kayak gak ngerti aja, Nanda kan lagi ada masalah hati hahaha! Oh ya Sha... tentang Aa, kamu juga gak tahu ya?"
"Enggak tahu Ga, terakhir kali liat kayaknya pas... pas apa ya? lupa aku!" sahut Shasyania, sembari menengok ke kiri, saat Nevan menyandarkan dagu di pundaknya.
"Kenapa? kepalanya sakit?" tanyanya lembut, seraya menyentuh wajah Nevan, lalu mengusapnya perlahan.
Nevan menjawab dengan gelengan kepala, namun tangannya langsung bergerak merangkul pinggang Shasyania, dan sekilas mencium pundak gadis itu.
Melihat adegan yang tak bersahabat dengan jantung, hingga Yoga dan Wiwin serempak saling menatap, seakan mereka memiliki pikiran yang sama.
"Yasudah Sha, kamu pulang aja! lagian ini udah mau selesai kok.... Kamu loh udah banyak bantu kita!"
"Kalau mau di sini juga gak papa yank, asal jangan pindah posisi!" belum sempat Shasyania menjawab, karena terlebih dahulu Nevan yang mengeluarkan suara.
.
.
.
Dan kini Shasyania bersama Geonevan sudah berada di dalam mobil, namun bukannya beranjak pergi, Nevan justru membawa Shasyania di jok penumpang dan mereka bercerita banyak hal.
"Udah lama jadi model?"
"Baru kok... itung-itung ngabisin waktu luang...hahaha!"
"Wow..., Nona tampak sombong yaaaa?"
"Hahaha... harus!!!"
Nevan terkekeh mendengar jawaban Shasyania, hingga ia mencubit gemas hidung mancung milik gadis itu, lalu matanya kembali menatap hasil foto dari smartphone Shasyania.
"Kenal sama pemiliknya?"
"Ng.... aku tahu Mrs Zivana, tapi beliau tidak mengenalku, selain karena aku bukan model utama, kami juga jarang berada di acara yang sama, paling sekedar ketemu saja."
"Kalau... dia ngajak bicara gimana?"
"Aku akan sangat senang! sosoknya begitu aku kagumi!!"
"Mhhh iyaaa...iya sayang! tapi... ini kenapa muka kamu gak kelihatan semua?"
"Maluu...hahaha"
"Wahh... benar-benar sombong sekali yaa Nona satu iniii!!!"
"Hahaha... sudah cukup Geonevan...cukup! geliii tahuuuuu!!!"
"Cium dulu!"
Cup!
Bukannya senang Nevan justru memasang wajah malas.
"Ihhh... kenapa mukanya kayak gitu?"
"Ck! di bibir sayang! di bibiiiiir!!!" keluhnya, seraya menunjuk-nunjuk benda kenyal yang terlihat merah alami tersebut.
"Tinggal bilang aja kenapa..., jangan ngambek gitu Geonevan...," sahut Shasyania, sembari memperlihatkan senyum yang membuat Nevan tak bisa berhenti untuk menatapnya.
"Cium yank!"
"Iyaa... ini lagi on the way hahaha!!!"
Kedua tangan Shasyania langsung memegang wajah Nevan, hingga semakin lama semakin mendekat, namun belum sempat kedua benda itu bersentuhan, Shasyania kembali berucap sesuatu, "Ini matanya di tutup dulu...."
"Jangan bohong ya!"
Tanpa jawaban Shasyania sudah memiringkan kepalanya ke kiri, dan kini bibir mereka pun menempel cukup lama, sebelum akhirnya Nevan bergerak dan mengambil alih keadaan.
Sesekali mata Nevan terbuka menatap gadis di hadapannya, ia sangat bahagia bisa sedekat ini dengan Shasyania, hingga selembut mungkin ia menggerakkan bibir, untuk menikmati setiap momen yang mereka ciptakan.
"Aku merindukanmu!" ucap Nevan, di sela-sela ciuman mereka.
"Hhhfff...gombal!"
Nevan memberi jarak dan mengunci padangan mereka, "Aku serius!!!" serunya, dan perlahan matanya turun menatap bibir lembab Shasyania.
"Semalaman kita menghabiskan waktu bersama, dan tadi pagi sampai pulang sekolah juga masih sama-sama. Cuma berpisah beberapa jam udah bilang kangen, apalagi kalau bukan gombal cobak?"
"Ck!"
"Geonevan...? heeiii!"
"Apa?"
"Dengar ini deh," Shasyania menyodorkan handphone miliknya, hingga benda pipih itu mengeluarkan suara dari salah satu aplikasi yang tengah hit sekarang, "Adik...cinta tak selamanya indah dek...!!!"
Shasyania menahan senyum, dan Nevan yang menyadari jika keseriusannya tengah di permainkan langsung menghempaskan punggungnya kasar, lalu merogoh kantong celana dan mulai sibuk dengan benda canggih tersebut.
Selain suka marah-marah kini Shasyania tahu lebih banyak tentang sifat Nevan, yaitu mudah kesal hingga berakhir merajuk, bahkan ia bisa diam tanpa sepatah katapun.
"Kamu marah?" tanyanya, namun tak kunjung mendapat respon, "Geonevan...."
Nevan melirik dengan sorot matanya yang tajam, lalu mengisyaratkan agar Shasyania duduk di pangkuannya.
"Sudaaaah, mmhh masih marah juga?"
"Enggak."
"Jawabnya enggak, tapi nadanya kayak gitu!"
"Enggak, sayaaaang...enggak!"
"Baguslah," sahut Shasyania, sembari membenarkan posisi duduk, lalu menyelipkan tangannya di pinggang Nevan, hingga memeluknya begitu erat sebelum akhirnya merebahkan kepala di dada Geonevan, yang semakin hari membuatnya merasa nyaman.
"Mau makan sesuatu gak?"
"Mhhh tidak, malah rasanya aku ingin tidur."
"Kalau gitu tidur aja yank!"
"Kamu?"
"Aku main game."
"Nanti kalau kesemutan bangunin aku ya?"
"Gak akan!" sahut Nevan, seraya mencium kening, pipi dan sekilas bibir Shasyania.