Mine ?

Mine ?
30 : Mendekat



"Hayy..., kenalin nama gue Jiana kita satu kelas loh!" sapa gadis itu ramah seraya menyibakkan rambut ke belakang telinga.


"Ohh ya," sahut Gemmi, sebenarnya ia sedikit kaget dengan kehadiran Jiana, "gue Gemmi salam kenal ya," imbuhnya dengan kedipan di mata.


Seketika reaksi itu membuat pipi Jiana merona merah, ia sangat yakin jika Gemmi tertarik kepadanya.


"Kita makan bareng yuk?"


"Maaf Jiana mungkin lain kali aja ya."


"Kalau gitu to__,"


Belum selesai Jiana berucap, Gemmi sudah terlihat memutar badan dan berjalan menjauh dengan sebuah earphone terpasang di kedua telingan.


Banyak murid berhamburan menuju tempat parkir, silih berganti suara alarm mobil mulai bersautan memenuhi area tersebut layaknya seperti sebuah showroom. mobil-mobil mewah terparkir rapi di sisi kanan dan kiri.


Tidak hanya suara mobil, hiruk-pikuk itu juga bercampur dengan suara deruman sepeda motor yang nampak terlebih dahulu berlalu lalang.


Tiiiiiin! Tiiiiiin! Tin!


"Kalau di panggil nyaut dong!" pandangan matanya melotot tidak percaya karena seseorang yang tengah ia ajak bicara justru mengabaikannya begitu saja dan memilih untuk mengayunkan kakinya lebih menjauh.


"Naik!" paksa nya, "gue bilang naik kenapa diem aja?" sekarang ia mulai berani menarik lengan Shasyania.


"Sebuah ayunan tas gandong membentur kepala Gemmi, pening seketika ia rasakan seperti ada beberapa malaikat kecil tanpa busana yang berputar-putar di atas kepalanya. Beruntung laki-laki itu memiliki keseimbangan yang kuat hingga tidak sampai membuatnya terkapar mencium kerasnya aspal beton.


"Tanggung jawab lo! Pala gue pusing ini!"


"Salah sendiri! makanya jadi orang itu harus punya sopan santun!"


"Gue udah minta baik-baik ya! dan lagian gue cuma pegang tangan lo, belum gue cium aja reaksi lo udah kayak gini!" sentak nya seraya memijit dahi.


Shasyania menatap Gemmi dengan tatapan jijik, gadis itu berpikir jika laki-laki di hadapannya ini sungguh aneh.


Takut melihat mimik wajah Shasyania yang seakan siap kabur membuat Gemmi bergerak cepat membuka tas gandong miliknya dan mencari sebuah buku tulis lalu merobek bagian belakang.


"Nih buat lo!"


Shasyania memang belum menerima robekan kertas tersebut namun matanya sudah melihat apa yang telah tergambar di dalam sana.


"Ambil jangan di liatin mulu!"


"Ini kamu yang bikin?"


"Pak Rivat!" jawaban itu kembali membuat Shasyania menatap tidak suka kearah Gemmi, " yaaa iyalah gue! Gimana bagus kan? udah jangan heran kayak gitu gue bisa buat yang lebih bagus!"


"Makasi ya," Shasyania masih terpaku menatap lukisan hitam putih yang sudah berada dalam genggamannya. Tampaknya laki-laki itu memiliki darah seni yang kental hingga hasil karyanya terlihat hampir sempurna.


"Gak cukup terimakasih! gue mau lo bantuin gue sekarang!"


"Ambil balik!" sodoran tangan Shasyania di tolak Gemmi.


"Lo kan pintar nih jadi lo pasti tahukan hubungan timbal balik kayak apa?" ujarnya seraya mencondongkan tubuhnya mendekat.


"Hubungan timbal balik terjadi karena adanya kesepakatan!"


"Dan sekarang kita sepakat! Gue cuma mau lo bantuin gue buat ngasih makan orang tua jompo."


"Jangan aneh-aneh!"


"Loh kok aneh? gue serius!"


"Memangnya kamu kerja di panti jompo?" setidaknya pertanyaan itu yang berada di dalam benak Shasyania.


"Gue melakukannya secara suka rela," Gemmi sengaja merubah intonasi bicaranya agar terdengar pilu, ia berencana menarik simpati Shasyania, "kali ini orang tua jompo itu sedikit cerewet dia hanya mau makan jika di suapi oleh gadis cantik yang masih perawan! dan sialnya gadis tercantik yang gue kenal saat ini ya lo! tapi lo masih perawan kan?"


Melihat ekspresi kekesalan mulai muncul di wajah Shasyania membuat Gemmi menyadari jika ia pasti sudah salah berucap, "Maaf..., gue yakin lo masih, ehh maksud gue gak gitu... yaa pokoknya gue bercanda soal itu... tapi gue serius soal menolong! buruan naik nanti orang tua itu keburu sekarat!"


Shasyania masih ragu hingga membuat Gemmi kembali melancarkan aksinya.


"Ini termasuk pahala! gue aja ikhlas menjalani setiap hari masak lo cuma sehari aja mikir-mikir!"


"Hmmm," Shasyania berdehem sebagai jawaban.


"Gue anggap itu jawaban ia, jadi buruan lo naik!" Gemmi menepuk-nepuk jok belakang motornya, "sebelum gue jalan lo pakek ini dulu, gue udah siapin helm pink buat lo!"


"Pink?"


"Iya lo kan suka warna pink!"


"Ngawur!"


"Kok ngawur? kemarin waktu lo berkunjung ke mimpi gue, gue yakin betul lo bilang suka warna pink!"


Aksi Gemmi sukses membuat senyum di bibir shasyania lolos. Gemmi yang melihat itu dari pantulan kaca spion ikut tersenyum.


"Sini kasih KTP kamu!"


"Jaga-jaga jika kamu berniat jahat!"


"Laaah niat jahat gimana cobak? lo udah kenal gue bahkan kita satu kelas!"


"Apapun bisa terjadi!"


"Kebanyakan nonton sinetron nih! mulai sekarang kurangi biar kepintaran lo gak terkikis!" sindir Gemmi.


"Gak ada hubungannya!"


Bahkan tidak hanya KTP Gemmi juga sampai memberikan dompetnya untuk Shasyania.


"Jangan di cek isinya! takut buat lo takabur!"


Mendengar itu Shasyania berdecak bibir, "Yasudah cepetan jalan!"


Motor Ninja itu langsung keluar dari area parkir, mereka melaju lurus melewati beberapa kendaraan.


"Turun sebentar di sini ya," tawar Gemmi.


"Ngapain ke sini?"


"Lo pilih jenis dan warna helm yang lo suka, gue gak mau salah lagi, karena menurut gue kesenangan penumpang adalah harga mati!"


"GoJek kali!"


"Apapun asal lo seneng!"


Sebenarnya Shasyania sangat malas untuk memilih namun laki-laki itu tetap kekeh untuk terus memaksanya. Lima belas menit waktu yang mereka habiskan di sana sampai akhirnya pilihan Shasyania jatuh pada jenis helm Zeus Half berwarna hitam.


Kembali duduk manis di jok belakang, tangan Shasyania berpegangan erat di tas laki-laki itu hingga mereka tiba di kawasan yang sangat elit. Ini kali kedua Shasyania menginjakkan kaki di sebuah rumah yang ia anggap seperti istana.


"Bagus ya?"


"Iya bagus."


"Tapi sayangnya yang punya nenek-nenek jompo mana cerewet lagi!" bisik Gemmi.


"Gadiiiiiiiis kecilkuu...!" teriakan lantang itu menggema di seluruh ruangan, "akhirnya kamu kesini juga... Oma kangeennn!" Raimar langsung memeluk erat tubuh Shasyania.


"Kebetulan cuaca hari ini panas, gimana kalau kita berenang bersama?"


Hening sejenak kerena Shasyania masih belum mengeluarkan sepatah katapun, ia masih mencerna semua yang terjadi. Apa memang hanya sebuah kebetulan atau sesuatu yang sudah di rencanakan?


"Tolong kondisikan bentuk tubuh Oma dengan pakaian yang sedang Oma kenakan!" cela Gemmi saat melihat Raimar memakai baju renang yang ia anggap sedikit vulgar.


"Dasar cerewet!"


"Mata beningku tercemar Oma!"


"Dasar bocah tengil!" tangan Raimar menjewer telinga Gemmi, "kalau gadis kecilku yang memakainya apa matamu juga tercemari?"


Senyum jail mulai terpancar dari sudut bibirnya, "Kalau itu malah menjadi asupan gizi Oma!"


"Kau ini benar-benar yaa! Shasyania bantu Oma menghukum dia!"


Anggukan di kepala Shasyania membuat Gemmi menggeleng cepat. Mereka silih berganti menggelitik tubuh Gemmi hingga membuat laki-laki itu lemas menahan geli.


"Cuu...cukup ak..aku menyerah ampuuuunn!"


Laki-laki itu benar-benar mengiba pasrah hingga Raimar mengehentikan aksinya sampai akhirnya mereka benar-benar berenang bersama. Saat ini Shasyania sudah mengetahui jika Gemmi adalah cucu seorang Raimar, sosok Oma yang baru beberapa hari ia kenal.


"Jusnya nona," ucap seorang pelayan.


"Makasih," sahutnya yang masih setia duduk di tangga kolam renang karena hanya satu gaya yang sering Shasyania peragakan ketika berenang yaitu gaya batu.


"Siniii!" tarikan tangan Gemmi membuat Shasyania menuju ke tengah kolam, rasa pengap mulai merangsek di tenggorokannya hingga memberi efek sesak di dada.


"Rileks," bujuk Gemmi, "gue pikir bakalan liat bentuk tubuh lo lagi kayak waktu kita hujan-hujanan waktu itu, tapi apa ini lo malah renang make baju gue, mana kebesaran lagi," goda Gemmi.


Hal itu sukses membuat Shasyania langsung mencubit perut kotak-kotak Gemmi.


Dari atas kolam Raimar menyaksikan interaksi cucunya dengan Shasyania, ada banyak harapan yang ia panjatkan untuk mereka berdua.


"Gadis kecil selamat ya, Oma sudah mendapat pemberitahuan jika kamu mendapat nilai tertinggi di kelas, Oma sangat bangga dan Oma akan memberimu hadiah!"


Menyadari jika Shasyania akan menolak keinginannya membuat Raimar terlebih dahulu berucap, "Tidak ada penolakan sekarang kalian bersihkan diri! kita akan jalan-jalan."


Gemmi menepuk air kolam hingga air itu muncrat ke permukaan, "Yeesss aku suka gaya Oma! dan ia Oma nanti malam aku dan Shasya akan menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman kelas, jadi apa kami bisa membeli setelan dengan uang Oma?"


"Tentuuu! kalian wajib menjadi pusat perhatian!"


*jika suka like dan komen yaa biar tambah semangat up nya, terimakasih 😊*