
(Flashback on)
"Gak bisa nih! kalau terus begini aku akan benar-benar terlambat!" keluh Shasyania sepanjang menyusuri jalanan yang begitu sepi itu, dan ketika ia tengah sibuk mencari jalan keluar tiba-tiba.
"TOLOOONG...."
Sayup-sayup terdengar jeritan sendu meminta pertolongan, namun gadis itu berusaha untuk acuh tak acuh, pikirannya masih waras untuk merasa was-was apalagi di tempat seperti ini.
Namun belum sempat ia menjauh, suara tersebut kembali terdengar mengiba bahkan sekarang terkesan memaksa, "Heii... kau yang sedang berjalan! aku mendengar langkahmu! kau tuli atau bagaimana? di sini sedang ada seseorang terkapar yang tengah membutuhkan pertolongan, di mana hati nurani mu? Cepat menengok kearah kiri!" sejenak suara itu mengecil seperti sedang bergumam, "ehh mungkin kearah kanan! Aaaahh apapun arahnya yang terpenting mendekatlah ke sumber suara, cepat bantu aku!" lanjutnya dengan nada memerintah.
Sejenak Shasyania berpikir lalu ia mengikuti keinginan orang tersebut dengan menengok kearah belakang, namun.
Wuuuuussssshh!
Hanya ada tiupan angin berlalu tanpa terlihat sosok manusia, ingin rasanya ia langsung berlari namun saat akan mempersiapkan ancang-ancang suara itu kembali terdengar.
"HEIIIIIII... KAU ITU BENAR-BENAR YA! CEPAT TOLONG AKU! TERBUAT DARI APA HATIMU HAAAH?"
Ada rasa mengganjal di hati Shasyania ketika ia memutuskan untuk berhenti. Sepertinya secercah kebaikan yang tersimpan di relung hatinya kembali terketuk, hingga ia menuntun kepalanya untuk mengedar ke segala arah, namun hasilnya tetap sama, tidak ada siapapun di sana.
Sejenak ia berpikir kembali sembari mencengkram kuat tasnya, "Tidak-tidak... jangan bilang indra ke-enam ku mulai terbuka... Gawat!" seru gadis itu. Bulu kuduknya pun berdiri tegak desiran angin mulai menerpa halus wajahnya.
"Astaagaaaaa... kau pikir aku ini setan yang tersesat haah? Aku masih hidup... masih bernapas! dan saat ini aku membutuhkan pertolonganmu! Lain halnya jika kau tidak membantuku maka aku akan benar-benar menjadi hantu!" omelnya dengan nada yang semakin ditekan, "kau mau aku bergentayangan mencari mu yaa? menakut-nakuti mu setiap waktu? Itu mau mu? jika tidak, maka cepatlah ke sini! dari suaramu kau sepertinya seorang wanita, jadi dimana hati nurani mu heiii?" imbuhnya dengan suara kesal.
Sepuluh menit terbuang sia-sia hanya untuk berdebat, sampai akhirnya Shasyania memutuskan untuk lebih berani melangkahkan kakinya mendekat ke sumber suara. Dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang wanita lanjut usia tengah terkapar dengan keadaan kaki terluka.
"Yaampun! maafkan Shasya Nek, Shasya benar-benar tidak melihat Nenek!" sesalnya, lalu dengan lihainya ia mengobati luka tersebut menggunakan perlengkapan seadanya.
"Iyaa...iya kau memang tidak melihat ku! tapi kau mendengar suaraku kan? butuh waktu berapa lama lagi kau untuk menjadi seorang penolong?" gertak wanita tua tersebut.
Posisi jalanan di sisi kiri dan kanan memang menjorok ke bawah, jadi wajar saja jika penglihatan Shasyania tidak menjangkau keberadaan wanita tua yang terlihat cerewet itu.
"Maaf Nek," lirihnya.
"Tapi syukurlah kau masih memiliki hati nurani!" omel sang Nenek yang masih berpura-pura kesal, "yasudah, sekarang cepat bantu aku bangun!" imbuhnya sembari mendesis menahan sakit.
"Pelan-pelan Nek, mhhh jalanan di sini begitu sepi... akan sulit bagi kita untuk mendapatkan bantuan Nek," ungkapnya seraya memapah wanita tua itu.
"Kau bawa handphone kan gadis kecil?"
"Bawa Nek, tapi enggak ada sinyal, Shasya berulang kali mencobanya tadi."
"Hubungi 1.2!"
"Apa boleh Nek?" tanya Shasyania yang masih terlihat ragu-ragu.
"Tentu saja! kita membutuhkan pertolongan! kau ini pintar kan? Apa wajahmu tidak mendukung otakmu?" selidiknya tajam dengan netra mata menatap wajah Shasyania, "mmmhh tapi untuk pengobatan mu ini... aku akui kau cukup cekatan! ettssss... kenapa pembahasan kita jadi ngelantur, cepat telpon!"
Panggilan pun tersambung, dan bantuan siap meluncur, namun meskipun begitu mereka tetap saja harus menunggu.
"Kau... mau berangkat sekolah ya gadis kecil? tapi sepertinya ini sudah sangat terlambat," ucapnya, dan setelah mengungkapkan hal tersebut ia membaca raut kecemasan di wajah Shasyania, "ck tenang saja... karena kau sudah membantuku, maka aku juga akan membantu mu! Pokonya santai, dan percaya padaku tidak akan ada yang berani menghukum mu!" hiburnya.
"Terimakasih Nek."
Wanita tua itu terlihat memikirkan sesuatu saat pandangan matanya masih menelisik ke wajah Shasyania, "Wajahmu sepetinya tidak asing... Kau artis ya?"
"Bukan Nek...."
"Aaahhh! kau pasti artis! Wajah ini pernah ku lihat di layar kaca ehhh mungkin saja di majalah! Sudah kau jujur saja... lagian aku tidak akan meminta foto apalagi tandatangan mu!"
"Bukan Nek, Shasya bukan artis, kalau tidak percaya ini kartu pelajar Shasya."
"Apa-apaan ini? memangnya seorang artis tidak memiliki ini? sampai harus kau tunjukkan agar membuatku percaya!"
"Bukan begitu Nek, maksudnya biar Nenek bisa lihat namaku di sana."
Wanita itu manggut-manggut, seraya memegang kartu pengenal tersebut, "Dinesclara Shasyania... mmmhh benar juga, aku tidak pernah mendengar nama artis seperti ini!" sahutnya, sembari tersenyum datar, "tapi aku masih yakin.... Kau ini artis kan?" selidiknya dengan tatapan detektif.
"Arrrrgghh bukan Nenek...."
"Ehhh...ehh, kau memanggilku dengan sebutan Nenek? apa kau cucuku?" Sindirnya, dan suara itu terdengar mencekam di telinga Shasyania.
Mendapat reaksi tersebut membuat Shasyania tidak enak hati, ia merasa lancang sudah memberi panggilan itu untuk seseorang yang baru saja ia kenal, belum sempat ia mengucap maaf, malah sejurus kemudian terdengar suara gelak tawa.
"Aku hanya bercanda gadis kecil! kau ini masih sangat muda tapi kenapa wajahmu serius sekali!" celotehnya menyindir, "ya...yaa panggil saja aku Nenek, ehh jangan-jangan! panggil aku Oma, aku akan mempertimbangkan mu sebagai cucu cantikku!"
Shasyania tersenyum simpul menanggapi ocehan itu, ia juga menganggap jika wanita di sebelahnya ini lucu, "Oh iya, kenapa kaki Oma bisa terluka?" tanyanya, sembari menunjuk ke arah luka yang terlihat mulai membiru di pergelangan kaki wanita tua yang sekarang ia sebut sebagai Oma.
"Uhm... aku sering jalan-jalan pagi, rutinitas orang tua yang tidak tergolong dalam kelompok malas, dan aku juga termasuk wanita tua baik hati karena selalu memberi kucing liar makanan, namun sepertinya hari ini adalah hari tersial ku," ungkapnya yang kembali menahan rasa sakit hingga membuatnya mendesis.
Sejenak terdiam menunggu rasa sakit itu mereda sampai ia kembali bersuara, "Seekor anjing tiba-tiba datang dan merebut makanan yang aku bawa, dan dengan sok kuatnya aku berusaha untuk mengusirnya tapi anjing nakal itu malah berbalik menyerang ku hingga memaksaku berlari... dan kau tau sendiri gadis kecil, usiaku sudah tidak muda lagi, begitupun tubuh ini yang sudah mulai renta, aku tersungkur sampai terguling-guling jatuh ke bawah sana, tapi untung saja hidungku ini masih sanggup untuk menghirup oksigen... kalau tidak mungkin sekarang adalah hari di mana aku berkenalan dengan tanah!" tuturnya menjelaskan.
.
.
.
Asik bercerita sampai akhirnya dari arah depan sudah terdengar sirine bantuan.
"Gadis kecil sekarang kau ikut dulu dengan a__" wanita tersebut terlihat berpikir dengan alis bertautan, "eehh... bukan kau dan aku lagi! sekarang harus bilang Oma!" ralat nya mencoba mengubah panggilan diantara mereka.
"Sekarang kamu ikut sama Oma dulu ya, pokoknya tenang saja kamu tidak akan di hukum!" titahnya yang seakan tidak ingin menerima penolakan.
...----------------...
"Nyonya maafkan saya, ini semua karena kelalaian saya! ketidakhadiran saya membuat keadaan Nyonya menjadi seperti ini," Seorang wanita dewasa terlihat menyesal seraya menunduk kepala.
"Tidak perlu merasa bersalah Rara, ini semua atas keinginanku sendiri, lagipula keadaanku tidak terlalu parah dan semua berkat gadis kecilku...," tunjuk nya kearah Shasyania.
"Dan yaa... siapkan supir Rara, aku akan mengantar gadis kecilku ke sekolah, untukmu kau urus administrasinya saja!"
"Maaf Nyonya, jika anda mengizinkan maka biarkan saya saja yang mengantarnya. Saya harap Nyonya kembali beristirahat."
"Tidak perlu Rara, aku sudah berjanji padanya, dan keadaanku baik-baik saja, jadi tak usah khawatir!"
"Apa saya boleh ikut Nyonya? urusan administrasi biar pengawal lainnya yang mengurus."
Terlihat Rara masih kekeh untuk menjaga majikannya, ia tidak ingin lagi lalai dalam menjalankan tugas. Alhasil permintaanya pun di setujui Raimar.
.
.
.
Kini sebuah mobil sedan sudah menunggu di lobi. Rara berjalan kearah depan mengambil alih kemudi, "Maaf Nona, bisa saya tahu alamat sekolah anda?" tanya Rara, ketika ia akan melaju mendekati jalan raya.
"SMA GUARDIANS," sahut Shasyania ramah.
"Wahhh gadis kecil ternyata kamu sekolah di sana yaa? kelas berapa? dan jurusan apa?" tanya Raimar penuh antusias.
"Kelas sebelas, jurusan IPA Oma."
"Hmm... tapi seragam yang kamu pakai tampaknya berbeda, sama sekali tidak mencerminkan jika kamu bersekolah di sana," ungkap Raimar. Ia tahu betul seragam milik SMA GUARDIANS.
"Aku murid baru Oma, sebenarnya aku sudah mendapat seragam baru, tapi karena lupa dan terburu-buru aku malah memakai ini...."
Sekarang tidak hanya Raimar, Rara pun yang tengah mengemudi ikut terkejut mendengar ucapan polos Shasyania.
"Kamu murid baru gadis kecil? tapi di hari pertamamu bersekolah justru kamu terlambat? wah...wah kalau begitu kamu pasti akan di hukum! dan bisa saja yaa kamu itu langsung diluluskan!" gurau Raimar sambil menahan tawa, namun di sisi lain Shasyania justru semakin merasa gelisah.
"Hahaha Oma hanya bercanda gadis kecil, kamu pasti baik-baik saja apalagi alasan kamu terlambat karena menolong seorang Nenek-nenek tua seperti ku!" ujarnya, berusaha menenangkan Shasyania.
"Siapa namamu ya? Oma lupa."
"Namaku Shasyania Oma."
"Mmhhh... nama yang bagus, sebenarnya dari pertama melihatmu Oma sudah ingin memuji kecantikan mu... dan ternyata selain cantik kamu juga baik, pertahankan itu!" puji Raimar, tapi hal tersebut malah membuat Shasyania merasa canggung.
"Kenapa? risih di bilang cantik terus ya? atau kamu sebenarnya takut kalau Oma kembali bertanya apa kamu artis? ahaha" kelakar Raimar.
Mobil sedan itupun memasuki gerbang SMA GUARDIANS. Shasyania yang baru pertama kali melihat keadaan secara langsung seketika terpukau dengan jejeran bangunan yang begitu megah di sekeliling area, benar-benar berkelas.
Karena keadaan kakinya yang cidera hingga membuat Raimar terpaksa di dorong menggunakan kursi roda.
Dan sepanjang koridor, setiap petugas maupun Guru yang berpapasan dengan Raimar maka mereka akan langsung menunduk hormat. Tampaknya wanita tua itu cukup berpengaruh di sana.
Hingga segala urusan berjalan lancar, Shasyania pun langsung di ajak menuju ruangan kelasnya, namun saat akan berpisah Raimar memegang tangan gadis itu.
"Belajar yang rajin yaa gadis kecilku... ingat! jangan hanya modal tampang!" nasehatnya.
"Siap Oma...," sahut Shasyania dengan seutas senyum di bibir.
Saat Shasyania semakin menjauh, Raimar mengisyaratkan agar Rara mendekat.
"Iya Nyonya?"
"Apa dia terlihat cocok untuk Geime ku?"
...****************...
Bugh!
Bugh!
.
.
Buugh!
Brrrruuuuak!
"Ngerriiii Gem ngeeeriiii!!! tendangan lo makin hari makin kenceng aja!!!"
"Jelas, karena gue harus memenangkan kompetisi itu!"
"Gak bosen apa lo menang terus? sekali-kali kasih yang lain buat ngerasain gelar juara!"
Seorang laki-laki dengan bandana di kelapa langsung tersenyum tipis, lesung pipitnya terlihat begitu manis, namun sorot matanya memperlihatkan jika ia sedang mengintai musuh untuk dibuat takluk, "Boleh! asal mereka berhasil ngalahin gue!" tegasnya, sembari membuka botol minuman lalu mengangkatnya tinggi keatas, hingga semua air itu tumpah membasahi rambut hitam legamnya.
Lalu sejurus kemudian ia melayangkan satu kakinya ke udara dan menendang keras sebuah samsak hingga terpental jauh.
Braaaaaak!
(Flashback off)