
Suara riuh penonton di tribun memenuhi sebuah gedung. Sorakan demi sorakan terdengar begitu nyaring diiringi suara tepuk tangan yang menggema ke seluruh ruangan, hal itu menandakan bagaimana antusiasnya orang-orang di dalam sana untuk menyambut gelaran turnamen Taekwondo, yang tengah berlangsung antar SMA tersebut.
Spanduk-spanduk dukungan terbentang lebar, dengan tulisan motivasi atau bahkan memperlihatkan gambar orang yang sedang mereka dukung.
Begitu meriahnya sambutan dari para suporter, karena memang turnamen ini sudah sangat dinanti-nantikan, bahkan tidak hanya untuk para penonton atau bahkan para suporter, namun ini juga untuk si petarung sendiri. Karena skor tertinggi tidak sebatas memenangkan gelar juara, namun ini juga sebagai predikat terkuat untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.
"ITU DIA!
"GEM LO PASTI JUARA!"
"PERTAHANKAN GELAR JUARA LO KETUA!"
"LIBAS TANPA AMPUN!"
"SMA GUARDIANS IS THE WINNER!"
"INI WAKTUNYA SMA ERLANGGA BERAKSI!"
"SMA ERLANGGA IS THE WINNER NOW!"
"DULU ATAU SEKARANG KITA TETAP SANG JUARA!"
"REBUT GELAR JUARA DAN PATAHKAN REKOR JUARA BERTAHAN!"
"KETUA PS IS NUMBER ONE!"
Para suporter terlihat beradu argumen dan saling berbalas teriakan, sahut menyahut memberi dukungan sepenuh hati demi sang kebanggaan sekolah, hingga mengakibatkan tensi semakin memanas saat kedua petarung sudah menampakkan diri ke area matras.
Dan seseorang di bawah sana yang menggunakan head guard berwarna biru terlihat begitu mencolok dari segi apapun. Auranya seakan memancarkan jika dialah sang aktor utama di laga tersebut. Riuh suara penonton kembali bersorak saat namanya di panggil oleh sang pembawa acara.
"MARI KITA SAMBUT PERWAKILAN DARI SMA GUARDIANS INI DIA....GEMDOMINIC ZAIL ETNER!!! SANG JUARA BERTAHAN YANG MEMILIKI TENDANGAN MAUT DAN MAMPU MELULUHLANTAKKAN LAWANNYA!"
"DAN DI SISI LAINNYA MERUPAKAN PERWAKILAN DARI SMA ERLANGGA, INI DIA...ARJUNA CAKRA SMITHEN, RUNNER UP YANG TERKENAL AKAN PUKULANNYA YANG BEGITU KERAS!"
Setelah sambutan selesai, terlihat seorang pengadil lapangan tengah mengintruksikan poin-poin penting kepada kedua petarung, hingga turnamen itu berlangsung sengit. Saling menjatuhkan, berbalas tendangan, menepis menangkis, dan juga beradu pukulan.
Gerakan lincah membalikkan badan lalu berputar mengayunkan kaki hingga menendang lawannya dengan keras adalah senjata mematikan dari seorang Gemdominic atau yang lebih sering di sapa dengan sebutan Gemmi, gelar juara kembali ia raih dengan hasil knock out.
Teriakan kemenangan menggema, bahkan beberapa suporter terlihat langsung menghampiri Gemmi dengan sambutan suka cita.
"Lo...lo...lo emang kebanggaan gue Gem!"
"SMA GUARDIANS bangga punya menteri pertahanan kayak lo!
Mereka saling berpelukan menepuk bahu, hingga mengeluarkan suara keras.
"Jelas! Ketua gue emang gak ada lawannya!" seru Wilkan.
"Gak bosen lo menang terus?" sentak Miko, dengan nada bercanda.
"Kalian gak bosen dukung gue sampek teriak-teriak gitu? urat leher kalian membesar tuh!"
Bersenda gurau adalah hal biasa di antara mereka bertiga, tanpa adanya rasa tersindir sedikitpun. Dan Gemmi, laki-laki itu banjir pujian dan juga ucapan selamat, hingga ia tak menyadari jika kedatangan beberapa orang dari arah depan.
"GEIIMEEEE!!! suara melengking terdengar, dan Gemmi sangat hafal dengan panggilan itu, hingga ia mengedarkan pandangan dan menangkap sosok yang sudah ia tunggu-tunggu.
Namun dahi laki-laki itu sedikit berkerut, ketika sosok itu kembali menyambutnya dengan sambutan meriah bersamaan dengan sebuah kalung bunga yang pastinya akan segera bertengger di lehernya.
"Sekalian saja Oma pasangkan karpet merah biar suasananya semakin meriah!" ujar Gemmi.
"Tentu... jika kamu mau Oma bisa pasangkan sekarang!" sahutnya sambil menepuk bahu cucunya, "tapi pertama-tama tundukkan dulu tubuhmu sebentar!" pinta Raimar, agar ia dapat mengalungkan bunga di leher cucu kesayangannya.
"Terimakasih Oma." Meskipun cara Omanya terkesan heboh, namun Gemmi tetap menghargai usaha tersebut, ia memeluk dan menciumi Raimar penuh kasih sayang.
"GEMMI Oma buka GEIME!" ralat nya penuh penekanan.
"Itu panggilan kesayangan Oma, jadi jangan mengeluh!" titah Raimar.
...****************...
"Geime..., besok kamu mulai sekolah lagi kan?" tanya Raimar, saat mereka sedang makan malam di sebuah Restoran berbintang lima yang terletak di batas Kota J.
"Hhmmm"
"Jangan sampai ijin lagi, apalagi dengan alasan berlatih!"
Gemmi terdengar menghela nafas, "Oma, Gemmi ini siswa berprestasi jadi tidak masalah jika tidak masuk kelas," sahutnya dengan kedipan dimata.
"Iya di bidang olahraga! tapi Oma juga mau kamu berprestasi di akademik Geime!"
"Tidak boleh serakah Oma," sahut Gemmi seraya menggerakkan telunjuknya ke kenan dan ke kiri.
"Oma serius Geime! kamu harus rajin belajar karena nantinya kamu akan membantu Kakakmu Sean di perusahaan," jelas Raimar, "Oma bangga dengan prestasimu sekarang, tapi kamu juga tidak boleh hanya menekuni itu saja, ingat kamu masih memiliki tanggung jawab yang harus kamu laksanakan!"
Gemmi kembali memperlihatkan senyum termanisnya, "Oma tenang saja, otak Gemmi ini benar-benar sangat jenius, meskipun Gemmi tertinggal beberapa mata pelajaran tapi itu tidak akan berpengaruh Oma! dan apa Oma tahu? bahkan hanya dengan sekali melihat, semua akan tercerna di otakku ini, seriiuusss! Jadi Oma jangan khawatir, dan yang terpenting jangan carikan Guru les untukku lagi!" ujarnya, "Otakku ini seperti ototku Oma..., ia bekerja secara otodidak! jangan ragukan lagi jika ia sudah bertindak!" imbuhnya. Raimar hanya mampu menggelengkan kepala mendengar setiap penjelasan cucunya yang selalu memiliki celah untuk mengelak.
"Cucu Oma memang dasarnya pintar, Oma tidak ragu, tapi kepintaran juga perlu di asah."
Gemmi malah terlihat asik menikmati makanan yang tengah ia santap. Entah laki-laki itu mendengar nasehat sang Oma atau tidak.
"Sean Kakakmu tidak lagi tinggal di rumah, dia sudah tinggal sendiri di sebuah apartemen, jadi sebaiknya kamu kembali tidur di rumah! Oma kesepian Geime!"
Mendengar itu seketika membuat Gemmi menghentikan laju tangannya, yang hendak mengirim sesendok makanan ke dalam mulut.
"Kapan?" Pertanyaan yang tidak begitu jelas terlontarkan, namun Raimar mampu menangkap maksud dari yang di tanyakan Gemmi.
"Minggu lalu, katanya dia ingin suasana baru, mungkin itu suatu tindakan agar ia lebih mendapatkan ketenangan, karena memang, saat ini Kakakmu sedang memegang proyek besar."
Gemmi mengangguk-angguk mengerti, sambil sedikit memajukan bibir bagian bawahnya.
"Dan, ada satu hal lagi yang ingin Oma sampaikan," Raimar sengaja menjeda ucapannya, ia ingin melihat reaksi anak remaja yang tengah asik dengan makanannya itu, dan benar saja Gemmi langsung menatap dengan raut penasaran, "Oma sudah menemukan seseorang yang pas untukmu!" lanjutnya, dan hal itu sukses membuat Gemmi tersenyum mengejek.
"Pas untukku jadikan samsak?" cetusnya jail.
Raimar yang sedari tadi sudah nampak sebal dengan tingkah laku sang cucu langung berdiri menjulurkan tangan untuk mencubit gemas pipi Gemmi.
"Awww...!" pekik Gemmi, "siapapun tolong lindungi anak di bawah umur ini dari siksaan wanita berumur di hadapannya!" ucapannya itu langsung mengundang beberapa pasang mata untuk menatap ke arah meja mereka.
"Kamu benar-benar ya!" sentak Raimar, "Oma serius! dia bersekolah di tempatmu, Oma akan menjodohkan kalian berdua, karena Oma sangat menyukai gadis itu! Jika kamu melihatnya Oma yakin kamu juga pasti akan tertarik padanya. Dia begitu cantik dan baik hati! pesonanya begitu kuat! Pokoknya kamu tidak akan kecewa!" jelas Raimar, sambil membayangkan kembali sosok gadis yang tengah ia bicarakan itu.
"Iya Gemmi yakin Oma sangat menyukainya, itu tergambar jelas dari muka mesum Oma!" canda Gemmi yang langsung mendapat tatapan tajam.
"Oma serius Geime! meskipun kamu tidak bersedia Oma akan tetap memintanya untukmu!"
Sebelum ia menjawab, Gemmi terlebih dahulu memegang gelas berkali pajang di hadapannya dan langsung meminum semua isinya tanpa tersisa, "Apapun keputusan Oma Gemmi setuju tapi... Gemmi minta jangan hanya Satu Oma, minimal Lima lah!" sahutnya, hingga membuat Raimar seketika tersedak.
"Jangan bercanda kamu!"
"Gemmi serius Oma, lagian dengan latarbelakang keluarga kita, Gemmi rasa tidak akan sulit untuk mendapatkan Lima wanita bahkan sepuluh pun masih bisa!"
"Jangan perah kamu menyakiti perasaan wanita! Oma tidak suka dengan hal seperti itu!" tekan Raimar.
"Menyakiti? tidak Oma! Lebih dari apapun Gemmi memuja seorang wanita, makanya Gemmi tidak cukup hanya satu, dan Gemmi juga tidak mau merasa kesepian jika nantinya salah satu di antara mereka akan pergi."
Meskipun Gemmi berbicara dengan nada biasa, namun Raimar menangkap ada getaran kesedihan di sana. Tampaknya rasa kesepian di masa lalu masih menyelimuti hati sang cucu sampai saat ini.