Mine ?

Mine ?
69 : Bersembunyi



Shasyania terdiam sejenak di depan pintu kayu, yang bertulisan Ruang laboratorium di pojok kanan atas, lalu jari-jemarinya mengepal mengetuk pintu memberi pertanda jika dirinya sudah berada di luar.


Cukup lama ia menunggu, sampai akhirnya memutuskan untuk silih berganti mengayunkan kaki memasuki ruangan.


Grrreeeb!


Sepasang tangan memeluknya erat, belum sempat ia melayangkan protes, orang dibelakangnya sudah membalikkan badan Shasyania, lalu kembali memeluknya posesif.


Cup!


Sebuah kecupan berhasil mendarat di pipi, mendapati serangan mendadak tersebut membuat Shasyania melebarkan mata menatap sang pelaku.


"Geonevan!"


"Aku sudah menahannya sayang! di sini sepi, tidak ada siapapun. Masak sepajang hari aku harus berpura-pura jika kamu bukan milikku?"


"Cctv?"


"Aku merusaknya," tanpa rasa bersalah Nevan menjelaskan tindakannya yang sudah dengan sengaja merusak properti sekolah.


"Apa?"


"Jangan khawatir sayang, nanti aku perbaiki," ucapnya, sembari menyusupkan kepala di pundak Shasyania, lalu mengendusnya secara perlahan.


"Selalu nyaman jika kamu berada dalam jangkauanku."


"Geonevan, ada yang ingin aku tanyakan."


"Iya tanyakanlah."


"Kamu mengenal Zia?"


Hembusan nafas terasa menerpa kulit leher Shasyania, begitu hangat dan menggelitik, "Aku tahu dia, tapi tidak mengenalnya," kejujuran terdengar dari setiap kata yang dilontarkan Nevan, namun entah kenapa Shasyania merasa jika masih ada yang mengganjal di sana.


"Kamu mengatakan jika dia memiliki ingatan yang buruk kan? bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu jika kamu tidak mengenalnya? tebakan? aku rasa tidak."


"Ini cukup rumit untuk dijelaskan, dan aku rasa itu tidak penting."


"Aku mau mendengarnya, itupun jika kamu tidak keberatan, karena aku ingin tahu Geonevan."


Nevan tersenyum simpul, "Mmhhh..., tapi balas dulu pelukanku sayang!" pintanya dengan suara yang begitu menyejukkan, hingga Shasyania menurut patuh, "jika aku katakan aku dan dia berteman, aku rasa itu kurang tepat! hubungan kami tidak sedekat itu! ini seperti aku mengetahuinya namun saat itu kami masih sangat muda, kira-kira jaman SD dulu, dan setelah dewasa beberapa kali kami sempat berada di acara yang sama, tapi tidak pernah saling menyapa. Yaa..., seperti itulah hubungan kami," sambungnya.


Mendapat anggukan kepala dari Shasyania, hingga terbesit lah tingkah jahil seorang Geonevan, "usstt...usstt!" ia mulai mendengus-dengus, layaknya mencari sesuatu mengunakan indera penciuman, "sepertinya ada aroma yang aneh di sini!" sambungnya seraya tersenyum simpul.


Shasyania refleks mendorong tubuh Nevan, ia menyalah artikan maksud dari perkataan laki-laki itu, "Jangan dekat-dekat lagi!" tegasnya.


"Yahh kenapa?" sahut Nevan tidak terima, sembari memangkas jarak dan berusaha meraih tangan Shasyania.


"Diam di sana Geonevan!"


"Sayang kamu kenapa?"


"Aku mohon diam di sana!"


"Ck!" Nevan berdecak kesal, dan terlihat jelas jika saat ini ia tengah merajuk dengan suasana hati tak karuan, layaknya senjata makan Tuan.


"Kenapa menghentakkan kaki? itu hanya akan mengundang orang lain untuk memasuki ruangan ini Geonevan," ujar Shasyania.


Bukannya menjawab ia malah kembali mengulang hal yang sama, bahkan kali ini terdengar lebih keras.


"Jika kamu tetap begitu maka aku akan keluar!" ancam Shasyania.


"Ini tidak adil!"


"Apanya yang tidak adil?"


"Aku menuruti keinginanmu, tapi kamu malah mengabaikan ku!"


"Aku mengabaikan mu Geonevan? bahkan saat kamu menyuruhku datang aku langsung ke sini."


"Tapi sekarang kamu memiliki niat untuk meninggalkanku!"


"Semua karena perkataan mu tadi!"


"Memangnya apa yang salah?" bantah Nevan, sampai detik kemudian ia mulai menyadari sesuatu, "sayang bukan maksudku mengatakan aroma aneh itu kamu, maksudku aroma tersebut berasal dari instingku," jelasnya, yang semakin membuat Shasyania bingung.


"Penjelasan mu mengada-ada Geonevan!"


"Aku akan keluar!"


"Iyaa..iya, maksudku aroma..., cemburu...," di bagian terakhir Nevan sengaja mengecilkan volume suaranya, bahkan nyaris tak terdengar jika saja Shasyania tidak memperhatikan dengan jelas bibir laki-laki itu.


Diamnya Shasyania memberi celah untuk Nevan kembali mendekat, seakan tidak ingin kehilangan kesempatan, hingga ia bergerak cepat meraih kedua tangan itu lalu mengaitkannya di lehernya.


"Aku tidak cemburu!"


"Benarkah? lalu kenapa kamu terkesan begitu penasaran dengan hubunganku bersama Zia?"


"Aku cuma bertanya, karena aku rasa setiap orang pasti akan menyukainya."


"Mmmhh mungkin. Meskipun orang-orang mengatakan dia lebih cantik darimu, tapi satu hal yang pasti, di mataku kamu jauh lebih sempurna! dan aku tidak pernah berkhianat dengan apa yang sudah aku ucapkan! Percaya, dan tolong jangan rusak keyakinan ku ini!" tegasnya penuh penekanan.


Shasyania memundurkan kepala, ketika Nevan mulai mendekat, tampaknya ia berusaha agar tidak lagi terlibat kontak mata dengan laki-laki yang terus saja menatapnya lekat, "Rambutmu bagus," elaknya mencari pembahasan baru.


"Suka?"


"Tentu! tapi aku rasa ini terlalu panjang, perlu dipotong."


"Style seperti apa?"


"Aku tidak tahu, tapi yang jelas akan terlihat lebih bagus jika bagian samping-sampingnya di potong lebih pendek lagi, terus membiarkan bagian atasnya saja yang sedikit panjang."


"Kalau begitu pulang sekolah antar ke barbershop, aku akan memilih style sesuai keinginanmu."


"Pulang sekolah? ta...tapi sore nanti aku sedikit sibuk," jelasnya sembari menunduk kepala.


"Sibuk?"


"Hhmmm..., iyaa, Oma menyuruhku untuk mengajari Gemmi, dan hari ini jadwal pertamanya. Aku tidak mungkin tidak datang karena jadwalnya aku yang buat."


"Okee baiklah, terus pulangnya jam berapa?"


"Jam enam sore."


"Aku jemput ya? lalu kita makan diluar."


"Baiklah."


"Ohh yaa..., dan persiapkan dirimu sayang, aku akan sangat tampan setelah potong rambut," serunya penuh percaya diri.


"Alis mu juga bagus Geonevan."


"Ohh tidak! jangan menyarankan untuk dicukur, karena itu akan terlihat sangat aneh! kecualiiii....,"


"Kecuali apa?"


"Kecuali kamu juga ikut mencukur habis, maka kita akan terlihat seperti pelaku pesugihan, mungkin akan menarik, menjadi pusat perhatian dengan kondisi yang berbeda," kelakarnya.


Sibuk bersenda gurau, tiba-tiba dari arah luar mulai terdengar derap langkah semakin mendekat, dan hal itu menyebabkan Shasyania diserang rasa panik, hingga menarik Nevan untuk bersembunyi di bawah meja yang berada di barisan paling belakang.


"Hati-ha__,"


Mulut Nevan dibekap, "Ssssst!" dengan telunjuk menempel di bibir Shasyania memberi isyarat agar Nevan diam.


"Kalian ambil beberapa tabung reaksi, ingat berhati-hati! Gue gak mau sampai kita disuruh ganti rugi!"


Shasyania pikir orang-orang itu akan mendekat, dan tanpa sengaja ia menarik baju Nevan lalu menyembunyikan wajahnya di dada laki-laki yang terus menahan tawa melihat reaksi ketakutannya tersebut.


Sampai akhirnya Nevan kembali memanfaatkan situasi, "Aduh mereka semakin mendekat! gimana nih!" bohongnya.


"Gimana ini? padahal bel masuk udah bunyi! kita gak mungkin terus disini!"


"Kenapa tidak? kita bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi, lagian kita sudah cukup pintar untuk terus belajar!"


"Aaaiiissss gak bisa gitu!" protesnya, dan Shasyania mulai mengintip suasana di ruangan tersebut, "mereka sudah keluar?"


"Iyaa," jawabnya enteng.


"Jadi dari tadi kamu mengerjai ku Geonevan?"


"Lagian kenapa kita harus bersembunyi? kita tidak sedang melakukan hal yang enggak-enggak kan?"


Pipi Shasyania bersemu merah, ia ingin sekali menutup tubuh Nevan menggunakan karung beras lalu melemparnya keluar.