
"Shasyaaaaaa...!"
Dengan keadaan mematung Shasyania berdiri di ujung pintu, manik matanya menyiratkan kebingungan ketika melihat sosok-sosok yang tengah menyambutnya penuh semangat.
"Kamu pasti kaget kan kenapa kita kesini lagi?" tebak Wiwin, dan perkataan tersebut merupakan kebenaran yang hakiki, "udah gak usah lama-lama, sekarang kamu siap-siap gih!" imbuhnya seraya mendorong bahu Shasyania agar gadis itu bergegas mempersiapkan diri.
"Tunggu-tunggu, ini jelasin dulu kenapa?"
Anggi berpura-pura kesal hingga berdecak pinggang, "Shasyaaa..., kita kesini mau ngajakin kamu jalan-jalan. Dan kamu tahu gak?" seperti sengaja memotong ucapan, Anggi penuh percaya diri yakin jika informasinya selanjutnya akan membuat Shasyania kegirangan, "kita mau di traktir Nanda di restoran mewah Shaa!" sambungnya sambil berjingkrak-jingkrak senang. Wajah Anggi berseri-seri layaknya baru memenangkan sebuah undian besar.
Bukannya senang Shasyania justru menautkan kedua alis dengan mulut sedikit terbuka, "Aaahhh?"
"Ahh eehh ahhh ehh! Jangan kelamaan mikir Sha..., buruan siap-siap!" sentak Wiwin.
"Maaf Ngi, Win, aku gak bisa ikut."
Terkejut, itulah ekspresi yang di perlihatkan kedua sahabatnya, "Lohh!!! kenapa gak bisa ikut? kamu sibuk?"
"Ayolah Shaa, masak gak ikut sih? ini Nanda mau ngajakin kita karena ada kamu nya loh! Please ikut yaa Sha..., yaaa...yaa!" timpal Wiwin, ia sampai memasang wajah memelas agar Shasyania merasa iba.
"Gak bisa Win..., tapi kalian tenang aja, biar aku yang jelasin ke Nanda agar kalian tetap jalan!"
Anggi mencegah niatan Shasyania sembari menggelengkan kepala, "Enggak-enggak..., Nanda gak mungkin setuju Sha! Emang kamu ada acara apa sih sampai gak bisa ikut?"
"Aku ada janji Ngi," sahutnya cepat, seraya kembali melangkahkan kaki menuju pintu luar untuk mencari keberadaan Nanda yang masih menunggu bersama Yoga.
Sehari meluluhkan besi hanya dengan setetes air itu mustahil, dan seperti itulah ketika membujuk Shasyania kembali, rasanya juga tidak mungkin, hingga dengan perasaan pasrah kedua gadis itu ikut mengekor. Wajahnya yang sedari tadi ia tekuk masam seketika berubah, saat kornea mata itu melihat sesuatu yang begitu bersinar di depan sana.
"EHHH BUSETT GANTENG BANGET!" celetuk Wiwin tanpa bisa ia kontrol. Pandangannya terkunci menatap laki-laki yang ia anggap sempurna. Kaos hitam dibalut jaket bomber yang dipadupadankan dengan bawahan celana jeans beralas sepatu kets, sungguh menawan. Dan itu saja cukup untuk membuat seorang Wiwin Bintang Kejora tak henti-hentinya terus berucap kata kagum.
Namun orang yang dipuji seakan tabu mendapat respon tersebut, hingga bersikap acuh tak acuh dan tetap berdiri pongah menatap dua laki-laki yang tampaknya seumuran dengannya, "Siapa?" tanyanya angkuh di selingi tatapan tajam.
Nanda menyadari pertanyaan tersebut di layangkan padanya dan Yoga, ia yang sedari tadi duduk mulai ikut berdiri mensejajarkan diri. Meskipun masih kalah tinggi namun ia tidak ingin kalah nyali, "Sahabat Shasyania!" tegasnya, dan tiba-tiba saja ingatan tentang sosok Gemmi laki-laki yang ia temui kemarin kembali menganggu pikirannya, apalagi saat laki-laki itu dengan lugasnya mengenalkan diri sebagai calon pacar Shasyania.
Seakan tidak mau kalah ia juga mulai menggunakan taktik itu untuk menyerang kepercayaan diri dari orang di hadapannya ini sampai, "Dan aku...., aku adalah calon pacarnya Shasyania!" tegas Nanda, sembari sedikit mengangkat dagu.
"Kamu bilang apa sih Nan!" tegur Shasyania. Ia sampai memperlihatkan mimik wajah heran dengan ungkapan Nanda.
"Kenapa Sha? emang salah? salahnya di mana cobak? Aku suka sama kamu udah dari dulu Sha! dan kenapa reaksi kamu kayak gak terima? dan kenapa aku gak boleh bilang hal itu padahal kemarin laki-laki bernama Gemmi juga mengatakan hal sama!" dengan nafas memburu Nanda melayangkan protes, ia ingin mencari pembenaran di setiap perkataannya.
Nanda benar-benar terbawa suasana, rasa bersaing membuatnya semakin kalut apalagi mengetahui lawannya saat ini sungguh jauh di atas levelnya.
"Nan maaf, tapi hubungan kita hanya sebatas sahabat, aku tidak pernah memikirkan lebih dari itu. Jadi kumohon mengertilah!"
"Kasih aku kesempatan Sha!"
Bukannya menjawab Shasyania justru menarik tangan laki-laki yang juga mulai tersulut emosi, tak ingin adanya pertengkaran hingga ia berusaha menjauhkan salah satunya.
Cukup jauh ia menuntun tangan itu, sampai akhirnya tiba di salah satu taman mini yang terdapat di gang rumahnya.
"Geonevan," ucap Shasyania, namun orang yang ia panggil masih terlihat diam dengan deru nafas tak beraturan, lonjakan amarah masih bersarang di dalam diri Nevan. Berulangkali Shasyania menatap namun laki-laki itu terus menghindar.
Cukup lama sunyi menjadi benteng mereka, sampai akhirnya Geonevan yang mulai bicara, "Pulanglah, gue juga mau balik."
"Tunggu!" cegah Shasyania sambil menarik jaket Geonevan, "kita ngobrol sebentar," ajaknya.
Setuju atau tidak, yang jelas Shasyania mulai melangkahkan kakinya mencari kursi taman, dan saat ia menemukan apa yang ia cari, matanya kembali menatap Geonevan.
"Ke sana ya?" ucapnya yang lagi-lagi tidak mendapat jawaban. Sebenarnya Shasyania enggan untuk mengingat kembali, tapi yang jelas hanya saat kejadian itu Nevan ramah padanya, dan sekarang sikapnya kembali lagi seperti Nevan yang ia temui saat baru bangun tidur kemarin, begitu dingin dan irit bicara.
"Sungguh aku gak tahu, mereka tiba-tiba datang dan ngajak makan di luar."
"Jadi?"
"Jadi...?" Shasyania mengulang pertanyaan Nevan, ia benar-benar tidak mengerti arah dari pembicaraan ini. Pertanyaan yang seharusnya sangat mudah ia jawab sekarang malah membuatnya bingung.
"Bukan, bukan seperti itu..., aku kan lebih dulu punya janji sama kamu jadi aku gak mungkin bareng mereka."
"Baiklah." Nevan kembali berdiri dan sekali lagi langkahnya di hentikan Shasyania.
"Duduk dulu, masih ada yang ingin aku bicarakan Geonevan," ujar Shasyania dengan raut wajah bersalah. Dan sebelum melanjutkan ucapannya terlebih dulu ia melirik Nevan, "jadi..., sebenarnya kemarin aku sama Gemmi gak ke rumah sakit," ucapan Shasyania terhenti, ketika Nevan tiba-tiba berbalik menatapnya.
"Lanjutin" pinta Nevan yang entah kenapa mulai mendekatkan diri.
"Oma mau buat kejutan makanya dia berbohong agar aku sama Gemmi langsung menemuinya, tapi tiba-tiba di perjalanan kami dihadang dan ternyata mereka adalah orang-orang suruhan Oma, dan kami pun diminta untuk pindah mobil sampai akhirnya malah di antar ke sebuah restoran," Niat hati ingin menjelaskan lebih rinci seketika tertunda, karena saat ini Nevan langsung memeluknya erat.
"Jadi kalian makan bersama?"
"Iyaa...."
"Janjian sama siapa makannya sama siapa," keluh Nevan sambil menggerak-gerakkan kepalanya di bahu Shasyania.
"Tapi malamnya kita ma__,"
"Itu beda sayaaang! Yaaa meskipun kemarin gagal tapi sekarang masih bisa di ulangi. Janji gak nolak lagi kan?" imbuhnya seraya mengendorkan pelukannya, namun masih dengan tangan melingkar indah di pinggang Shasyania.
"Iyaa...."
Shasyania terpaku menatap senyum yang baru pertama kali ia lihat di wajah Nevan. Masih dengan orang yang sama, yang beberapa minggu lalu terus saja menatapnya penuh sinis, namun kini berubah menjadi sangat teduh, mulut yang biasa hanya mengucapkan kata-kata menyayat hati kini juga telah berubah menjadi begitu manis, semanis senyumnya saat ini, apalagi jika dilihat dalam jarak kurang dari sejengkal jari, hingga tanpa sadar jari-jemarinya sudah menerpa halus kulit wajah Geonevan.
Bukannya menjauh Nevan justru lebih mendekat, "Kenapa cuma diliatin yank? dicium juga boleh kalau gak tahan," godanya, dan ucapan itu sontak membuat Shasyania salah tingkah, beberapakali ia berusaha beranjak menjauh, namun seakan percuma karena tenaga Nevan lebih besar untuk tetap menahannya.
"Liat sini yank!" pintanya sembari terus menggoda Shasyania bersama senyumnya yang jahil, "sayang liat sini! Masak di tegur sekali langsung malu-malu kucing, haha..haha!" Nevan tertawa puas, dan Shasyania justru sibuk menghindar dari tatapannya.
"Tadi itu siapanya Shasya ya?" tanya Wiwin dengan rasa penasaran yang terus menggebu-gebu dalam dirinya.
Bukannya menjawab, Anggi justru mengetuk-ngetuk dagu menggunakan telunjuk, ia berusaha untuk mengingat, "Di mana ya?"
"Di mana apanya?"
"Tadi.... cowok tadi...!!! aku kayak pernah liat tapi di mana gitu...., Aduh di mana yaa? Lupa!" bibir bawahnya bahkan terus ia gigit. Seperti ada rasa tidak puas hingga gadis itu mulai berdiri dan bergerak layaknya setrika.
"Artis atau model gak?" tebak Wiwin.
"Sumpah bikin gak tenang!" ketus Anggi, yang tak kunjung mendapat pencerahan dari ingatannya.
"Bisa duduk aja gak? Pusing nih pala liat kamu mondar-mandir gak jelas gitu!" geram Yoga, ia mulai terganggu dengan tingkah laku Anggi.
"Iya Ngi, mending kamu duduk, lagian bisa aja kan kamu lagi ngalamin...apa ya namanya, pokoknya kita di tempatkan di situasi di mana kayak pernah liat sesuatu tapi lupa, semacam gak asing gitu," jelas Wiwin yang mencoba memberi pengertian pada sahabatnya.
"Iyaa sih..., tapi ini beda tahu! aku ngerasa emang pernah ketemu tuh cowok, pernah berinteraksi gitu, suaranya juga gak asing. Tadi kamu denger sendiri kan suara tuh cowok kek gimana? Suaranya bukan tipe yang di miliki kebanyakan orang, jadi aku yakin emang pernah ketemu dia!"
"Elehhh..., bilang aja kamu mau kenalan! Gak usah banyak alasan juga kali!" sindir Yoga.
"Tapi ngomong-ngomong kita gimana nih?"
"Tetap tungguin Shasya sampek dia balik ke sini lagi!" tegas Nanda.
.
.
.
.
.
*Bantu semangat dengan dukungan kalian yaaa😊. terimakasih....*