Mine ?

Mine ?
76 : Ini cinta



Cuaca yang panas ditambah rasa kantuk yang semakin menyerang, membuat Nevan terus memijat pangkal hidungnya. Bahkan beberapakali ia terlihat mengedip-ngedipkan mata agar terus terjaga saat masih memegang stir kemudi.


Ya, setelah menghabiskan malam bersama Shasyania, Nevan benar-benar tidak menyempatkan diri untuk tidur, karena sepanjang malam ia malah asik memperhatikan wajah gadis yang terlelap di dadanya. Bahkan sesekali ia menggunakan jari untuk mengelus wajah tersebut, sebelum akhirnya mencium-ciumnya penuh perasaan.


Hingga sampai di pengujung gelap ia sudah harus bersiap-siap, untuk menuju tempat di mana dirinya dan juga Shasyania harus menempa ilmu.


Dan setelah berjam-jam waktunya dihabiskan di sekolah, akhirnya sekarang ia sampai rumah, niatnya yang ingin langsung beristirahat nampaknya harus tertunda, ketika sebuah suara meneriaki namanya dari arah ruang tamu.


"Heeeiiii..., my bro Nevan!"


Guilio, laki-laki berpostur tinggi dengan rambut tak kalah tebal seperti Nevan, kini tengah menghampirinya, sembari memasukkan potongan kue yang sudah ia lahap habis.


Lima detik Nevan mengalihkan pandangannya, sebelum kembali menatap malas, ia benar-benar jenuh meladeni sepupunya yang ia anggap berisik tersebut.


Kaki yang perlahan mengayun anak tangga tiba-tiba berhenti, ketika Guilio melayangkan pertanyaan, "Ohh sekarang gue tahu kenapa lo mundur! Cukup berat! gue yakin itu keputusan paling sulit untuk lo, terlebih lagi mengenai hati! Tapi mau gimana lagi, tahta yang jadi pertimbangan kan?"


Nevan mengeluarkan tatapan tidak suka, bersamaan dengan kilatan amarah di netra matanya, "Apa mobil yang gue kasih belum cukup untuk lo tutup mulut?"


"Tentu! tentu sangat cukup. Bahkan lebih! tapi gue juga masih penasaran, dan jika lo gak keberatan gue mau dengar ceritanya!" seru Guilio, seraya menampakkan senyum ramah yang selalu ia gunakan untuk menaklukkan lawannya, "kalaupun tidak, gue juga bisa cari tahu sendiri. Mudah Van, sangat! setidaknya gue udah kasih tahu lo!" imbuhnya, dengan suara yang berhasil membuat Nevan jengkel.


Greb!


Dalam sekejap mata, Nevan sudah berada di depan Guilio, sambil mencengkram baju yang tadinya terlihat rapi, "Pergi! gue gak akan segan-segan buat lo berteriak ampun, jika lo berani mengusik sesuatu yang udah jadi miliki gue!"


"Woow woww...santai...santai...! Gue kesini membawa rasa penasaran bukan amarah, jadi lo gak perlu make tenaga buat ngusir gue..., dan apa? Milik lo. Heh menarik!" Guilio tersenyum tipis sembari mengusap-usap dagunya, lalu berkata.


"Jika lo lupa gue di sana Van! Gue liat lo, liat tingkah lo, ambisi, dan semua kata-kata itu masih gue ingat, jadi gak salahkan jika gue penasaran hingga perlu penjelasan? Kita taruhan dengan semua omongan lo yang selalu lo agung-agungkan! Tak pernah salah apalagi meleset, dan sekarang..., apa?" ujarnya, sembari menjauhkan cengkraman tangan Nevan.


Lalu dengan sebelah tangan ia menepuk pundak laki-laki di hadapannya, "Apa tebakan gue benar Van? dia pasti matre kan? sehingga lo menyerah, atau ini murni karena tahta, sehingga lo terpaksa menerima pertunangan ini? Ohh atau..., bisa juga karena cewek yang di tunangin sama lo itu lebih cantik? hingga lo berubah pikiran? sama halnya seperti waktu itu, lo terpesona karena kecantikan!" Guilio bak penyidik, yang bertubi-tubi melayangkan pertanyaan untuk sepupunya.


Melihat diamnya Nevan, membuat Guilio lebih terpancing untuk mengorek informasi, dengan penuh semangat ia terus mengompori Nevan.


"Dengar, untuk orang sekelas lo Van, kalau bisa dua-duanya kenapa harus satu? dan jika dia matre itupun wajar, jangan terlalu takut, memang kenapa kalau dia tertarik sama lo karena harta? Hati itu nomer dua! Karena jaman sekarang wanita berpikir realistis! Lo kaya juga untuk bersenang-senang kan? jadi nikmati Van! suka ya lo ambil, bosan pun tinggal pilih lagi!" Saran menyesatkan mulai terlontar dari mulut Guilio, sang laki-laki playboy lintas Negara, "gue yakin lo masih suka sama dia, jadi perjuangin! bila perlu kita ke Paris sekarang buat pembuktian! Buktikan jika lo terbaik! dan sampai sekarang gue masih yakin seratus persen, jika dia juga pasti nerima lo, terlepas itu karena harta atau apalah, yang penting lo datang bersama pembuktian! Lo tahu Van, wanita akan takluk jika seseorang lelaki bisa membuktikan, karena mereka menggunakan hati dan mata untuk menyaksikan!"


"Dan dari awal gue udah wanti-wanti kalau dia bisa aja mandang harta, tapi waktu itu lo kekeh, yakin bisa dapetin dia pakek hati, dan ternyata analisa lo salah. Sekarang jangan terlalu berpatokan dengan segala pikiran lo Van, manusia salah itu biasa! Apa lo malu mengakui kalau gue benar dan lo salah? udah lupakan, sekarang kejar dia!"


"Setidaknya gue berani berjuang, beraksi, dan menghasilkan, gak cuma diam dan menyerah!"


Getaran di netra Nevan memperlihatkan jika dia sedang memikirkan sesuatu, tampaknya telah terjadi lonjakan perasaan di dalam dirinya, dan seakan tak ingin membuang kesempatan, Guilio kembali mencecar Nevan dengan segala pemikirannya.


"Gini aja, sambil lo menimang-nimang rencana, gimana kalau kita nyantai sambil makan? kebetulan gue dapet rekomendasi tempat makan bakso yang lagi viral! Lama banget gue gak makan bakso!" tanpa menunggu persetujuan Nevan, ia sudah merangkul bahu sepupunya itu, "udah gak usah banyak mikir, sekali-kali lo yang nganterin gue!"


"Gue ganti baju dulu."


"Siap Tuan Muda!" guraunya, seraya membentangkan telapak tangan layaknya pasukan yang memberi hormat.


Sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, dan hanya dengan menggunakan nama besarnya mereka langsung di persiapan tempat ternyaman, dengan pelayanan terbaik.


Sembari menunggu Guilio kembali melancarkan aksinya, "Gue jadi ingat, saat kita ketemu di pesta. Kalau di pikir-pikir sikap lo saat itu sedikit mencurigakan, begitu kekehnya lo nyuruh gue pergi, bahkan tanpa pikir panjang lo langsung ngasih gue koleksi mobil yang paling lo sayang. Mmhh...gue tebak yaa, apa mungkin saat itu ada sesuatu yang gak boleh gue lihat?"


Diamnya Nevan membuat senyum tersungging di ujung bibir Guilio.


"Ohhh..., di sana ada tunangan lo juga?" pancingnya, "kenapa Van? kenapa harus ditutupi? gue gak bakal gangguin kalian dengan kisah masa lalu, itu hanya kita yang tahu, jangan takut Van, lo bisa belajar mengendalikan perempuan sama gue! Atau jangan-jangan malah dia kalah cantik sama cewek itu, makanya lo malu!" Guilio terkekeh sendiri dengan ucapannya, bahkan ia sampai memijit alisnya.


"Susah ya kalau merembet ke tahta, meskipun perasaan yang jadi korbannya!"


"Bisa diem gak?"


"Tidak! sangat tidak bisa! ini sama seperti lo yang waktu itu terus ngoceh tentang dia! kuping gue juga sama panasnya. Dan kenapa sekarang lo diam? padahal gue udah siap mendengar cerita lo tentang dia, bahkan kali ini, gue duluan yang mulai obrolan! Kenapa Van? kenapa lo kembali menjadi Geonevan yang gak suka bahas perempuan. Ini nih, yang bikin gue yakin kalau lo masih menyimpan perasaan sama dia! waktu itu lo bisa berubah drastis hanya karena ngomongin dia. Banyak omong, cerewet, dan senyum-senyum gak jelas! dan sekarang, setelah semuanya berubah lo malah kembali ke setelan awal! Ingat Van, lo masih punya waktu buat memperbaiki semuanya, kejar dia, atau..., dia buat gue aja!"


Nevan mengepalkan tangan, terlihat rahangnya mengeras saat mendengar kalimat terakhir Guilio, matanya pun tak lagi memperlihatkan aura ramah, bahkan sekarang terkesan bisa meluluhlantahkan siapapun di hadapannya.


"Lihat! lihat, bahkan sampai sekarang lo masih sangat menginginkannya! Ini cinta!" pungkas Guilio, dan reaksi Nevan seperti menyetujui ungkapan tersebut.


"Wanita seperti dia kalau gak lo perjuangin keburu direbut orang Van! masa bodo mau dia matre atau apapun, laki-laki pantas memanjakan wanitanya! dan untuk standar kayak dia ya wajar-wajar aja, karena perawatan butuh modal. Manjakan wanitamu jika kamu menginginkan seorang ratu."


Dan di batas pintu, seseorang pelayan yang hendak memasuki ruangan tiba-tiba saja tersendat-sendat dengan langkahnya, ia seperti ragu untuk mengayunkan kaki kembali, namun rekannya yang lain sudah menginstruksikan agar ia segera maju.


Nevan yang masih sibuk dengan pikirannya tampak tak menyadari kebisingan tersebut, namun lain hal dengan Guilio, laki-laki itu langsung menoleh, dan saat menatap salah satu pelayan tersebut memori dalam ingatannya kembali berputar, lalu senyum kemenangan tersaji ketika ia merasa seakan takdir ikut memudahkan rencananya kali ini.