Mine ?

Mine ?
70 : Sebab dan akibat



Kreeeeettt!


Shasyania membuka tas berwarna putih yang selalu ia jinjing ke sekolah, tangannya bergerak mencari buku untuk mata pelajaran fisika, namun kegiatan itu sempat terhenti ketika sebuah suara mengalihkan perhatiannya.


"Sha, Nevan mana?" tanya Dariel dengan mimik wajah bertanya.


"Nevan?"


Yaaa Shasyania jelas mengetahui di mana keberadaan laki-laki itu sekarang, namun saat ini ia hanya bingung kenapa Dariel memilih bertanya padanya. Apakah dia tahu jika tadi mereka bersama? atau itu hanya sekedar kebetulan semata? entahlah.


"Ohh sorry-sorry gue kira lo sama dia, soalnya kalian berdua gak masuk kelas pas habis dari kantin," jelasnya. Mungkin akibat dari ekspresi Shasyania, hingga kata maaf terlontar dari mulut Dariel, ia tak mau jika sampai Shasyania risih akan pertanyaannya tadi.


"Iya, aku gak tahu," dustanya, padahal satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan Nevan ya hanya Shasyania. Dan saat ini laki-laki itu tengah bertanggung jawab atas sesuatu yang telah ia rusak secara sengaja.


Suasana kelas yang sempat bising kini perlahan-lahan mulai sunyi, minim pergerakan di karenakan kedatangan sosok berwibawa dengan langkahnya yang begitu tegas, sembari menjepit satu paket buku tebal di antara tangan dan pinggangnya.


"Wahhh, kelihatannya hari ini pelajaran Bapak akan terasa menyenangkan ya? Buktinya kalian menyambut kedatangan Bapak dengan senyum ketulusan! Pertahankan ini! Kan jadinya Bapak santai memberi materi tanpa diselingi urat-urat di bagian leher, dan kalian pun akan sangat mudah menangkap rumus-rumus Bapak, betulkan?"


Wusssssssshhh!


Seperti berada ditengah-tengah laut, hanya angin berhembus tanpa suara menyahut. Mereka yang lebih tepatnya terlihat tertekan justru dianggap ceria oleh seorang guru yang tengah menatap satu-persatu anak didiknya.


"Saking senangnya kalian sampai tidak bisa menjawab ya?" tekan Pak Rivat, dengan suara yang begitu mendominasi ruangan.


"IYAAAA PAK!"


"Nah gitu dong BAGUS!!!" sahutnya sembari mengangkat jempol tangan, lalu bergerak membelakangi murid dan terlihat ia hendak memulai pelajaran dengan menulis di papan putih. Hanya beberapa jejeran angka dan romawi sebelum badan kokoh itu kembali berbalik menatap kumpulan anak remaja, "ohh iyaa, hampir saja Bapak lupa, di kelas ini ada pemenang dari kompetisi kemarin kan? Mana-mana coba angkat tangannya!"


Shasyania yang merasa terpanggil segera mengikuti instruksi dari Guru yang sudah menangkap keberadaannya.


"Bagus! Bapak bangga sama prestasi kamu! dan sebagai hadiahnya tolong kerjakan soal nomer satu!"


"Hadiah kok kayak hukuman!" cicit Nita.


"Bapaknya lagi ngetes mungkin!"


"Belum tahu aja kemampuan Shasya kek gimana!"


"Udah lo diem, yang jelas keberadaan Shasya membantu kita, setidaknya sekarang ada perwakilan siswi yang maju!"


"Bener juga lo Rin!"


"Bagus! jawaban kamu tepat! dan cara penyelesaiannya juga sangat mudah dipahami!" pujian demi pujian disampaikannya, sembari mempersilahkan Shasyania kembali duduk, "Kamu absen berapa Nak?"


"Tiga puluh dua Pak!"


"Din... din..., Diniselara sahania!" begitu sulitnya Pak Rivat mengeja nama Shasyania.


"Salah Pak!" seru murid yang lain, hingga Pak Rivat mengangguk paham.


"Sulit sekali nama kamu ya!" keluhnya, "orang tua kamu benar-benar sukses membuat saya mengerut alis ketika pertama kali menyebutkan nama kamu! Boleh saya tahu artinya?"


"Pertama-tama pelafalan nama saya adalah, Dinesclara Shasyania, bukan Sa, tapi Sha..., Shasyania, dan mengenai arti dari nama tersebut, saya juga kurang tahu Pak, karena saya belum pernah bertanya soal itu," jelasnya jujur, namun berhasil mengundang gelak tawa memecah ketegangan di ruangan kelas.


"Apanya yang susah sih? gue pertama denger aja langsung kecantol sama nama itu!" cibir Baru.


"Nanti pulang sekolah tanya ya, dan pertemuan berikutnya kasih tahu Bapak!" ujarnya, "dan ya, kamu mematahkan pemikiran Bapak, karena biasanya anak pindahan itu terkesan bandel, tapi ini justru memberi presentasi. Hebat-hebat! pertahankan itu dan kalau bisa tambah dicabang lainnya lagi, biar nanti setelah kamu tamat nama kamu akan selalu dikenang di sekolah ini!"


"Siap Pak!"


"Baiklah seperti biasa, karena satu perwakilan siswi sudah maju, berarti sekarang harus ada perwakilan dari siswanya, jadi ayo siapa yang mau maju sebelum Bapak tunjuk!" selidik Pak Rivat, seraya mengintai sasaran barunya, "ehhh itu kalian yang di sana kenapa mukak bantal sekali?"


"Kalian bertiga sakit?"


"Tidak Pak! kami hanya memanfaatkan waktu istirahat untuk tidur!" jawab Gemmi.


"Ohh! Ya sudah kalau begitu kamu maju dan kerjakan soal nomer dua!"


"Tidak bisa Pak!"


"Kenapa tidak bisa? kamu tidak mengerti?"


"Iya Pak!"


"Jujur sekali! tapi tindakan kamu tetap salah! Maju kamu dan berdiri di depan sini!"


Gemmi beranjak dengan langkah sempoyongan, lalu ketika jaraknya semakin dekat dengan meja Guru, aroma tak asing mulai menari-nari di rongga hidung Pak Rivat.


"Kamu habis minum alkohol?"


"Iya Pak kemarin!"


Pak Rivat menggeleng-geleng kepala, "Memang bukan kewajiban saya saat kamu berada di luar sekolah! Tetapi ketika apa yang kamu lakukan berdampak saat mata pelajaran saya maka itu akan menjadi masalah! Dan saya memiliki wewenang penuh untuk menghukum kamu! mengerti?"


"Mengerti Pak."


"Bersihkan diri kamu! dan setelah itu tulis surat permintaan maaf sebanyak dua lembar di kertas double folio! setelah itu setor ke Bapak! jika keadaan kamu masih seperti ini maka Bapak akan panggil walimu!" tegasnya penuh ancaman.


Sebelum Gemmi menyetujui perintah Pak Rivat, terlebih dahulu ia mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan, "Maaf Pak, sebelumnya saya minta Bapak agar menyuruh Shasyania untuk kembali ke tempat duduknya. Di denah sudah tertulis jelas bahwa dia seharusnya duduk di samping saya, dan itu merupakan salah satu dari peraturan yang harus dituruti kan?" jelasnya, dan terlihat Guru tersebut mengikuti arah pandang Gemini pada papan yang berisi tentang tata letak kelas XI IPA 1.


"Benar! Shasyania kembali ke tempat duduk kamu!" titahnya, "dan untuk kamu..., siapa nama kamu dan absen berapa?"


Gemmi lupa, hingga ia mengayunkan kaki satu langkah lebih mendekat, "Pak izinkan saya membuka buku absen."


"Nomer absen kok lupa? kamu ini benar-benar ya!"


"Sebelumnya saya absen Tujuh Pak, tapi jika Bapak mencari diabsen ini jelas bukan nama saya yang tercantum di sana. Karena itu absen saya dikelas sebelah, dan sekarang saya murid pindahan di sini, jadi saya lupa absen yang baru Pak," elaknya mencari pembenaran.


"Yasudah-sudah kamu cari sekarang, dan kamu tahu kenapa teman sebelah kamu sampai pindah tempat duduk? itu karena bau kamu! besok-besok jangan ulangi hal seperti ini lagi!"


"Iyaa Pak saya menyesal, dan ini nama saya," sahutnya, seraya menunjuk sebuah nama.


Belum sempat pak Rivat menandai anak laki-laki itu, dua orang lainnya juga terlihat mendekat.


"Kalian mau mengerjakan soal di depan?"


"Bukan Pak, kami mau mengikuti Gemmi, karena kondisi kami juga sama."


"Hal buruk memang cepat mendarah daging ya!" sindir Guru tersebut, sembari menyerahkan buku absen pada dua orang lainnya, "mau jadi apa kalian ini? besok-besok di jam pelajaran saya kalian berulah kembali, maka saya akan mempersiapkan hukuman yang akan membuat kalian jera!"


Dan saat ketiganya hendak keluar, seseorang dari balik pintu mulai memperlihatkan diri dan bersuara, "Maaf Pak saya terlambat."


"Kamu dari mana saja Geonevan?"


Memang, sebagian besar Guru sudah sangat hafal siapa itu Geonevan, bukan hanya kerena latarbelakang keluarganya, tetapi dia juga selalu berprestasi di hampir semua mata pelajaran, hingga tak heran para staf SMA GUARDIANS mengenalnya.


"Kantin Pak," dustanya. Dua pasang anak remaja hari ini kompak berbohong, akibat aksi mereka diruang laboratorium.


"Ini sudah sangat terlambat Geonevan! sebagai hukumannya kamu harus di luar dan buat permintaan maaf di kertas double folio! lalu segera setor ke Bapak!"


"Baik Pak."