Mine ?

Mine ?
108 : Kemah?



"Iyaa sayang iyaaa, tapi jawab dulu pertanyaan aku.. kenapa handphonenya gak bisa dihubungi tadi?"


"Apa, gak bisa dihubungi?" Nevan mengulang kembali pertanyaan tersebut, sembari berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali ia memegang benda pipih miliknya, sampai sejurus kemudian, "ohh maaf sayang, aku gak sempat mengecek handphoneku, dan aku rasa dayanya juga pasti sudah habis."


"Memangnya sekarang gak bawa?"


"Enggak, karena selesai mandi.. Daddy langsung menyuruhku untuk segera bersiap-siap, katanya ada urusan bisnis urgensi."


Shasyania manggut-manggut paham, seraya menangkup kedua tangannya di pipi Nevan, hingga sentuhan tersebut perlahan bergerak menurun dan menyapu lembut bibir laki-laki dihadapannya.


"Kenapa yank? kangen yaa?" godanya, bahkan Nevan mengeluarkan tatapan jahil, sembari menggigit kecil jari tangan Shasyania.


"Ihhhh nakal!"


Mendapati aksi jahil tersebut, membuat Shasyania langsung melotot gemas dengan alis ditekuk, sampai sejurus kemudian ia juga tidak ingin kalah usil, hingga dengan sengaja menyentil ringan bibir Nevan, yang terlihat begitu menggoda akibat belahan tipis di bagian bawah bibirnya.


"Ck! bukannya dicium malah disentil!" omelnya, lalu Nevan bergerak cepat meraih tengkuk leher Shasyania menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri ia kaitkan di pinggang gadis itu.


Greb!


Dari mata turun ke bawah, Nevan menatap lekat bentuk ranum bibir merah nan bervolume tersebut, kian lama kian mendekat, hingga jarak diantara mereka semakin terkikis, yang membuat Nevan menjadi pihak paling diuntungkan, ketika ia bisa dengan leluasa untuk mengecap setiap inci bibir Shasyania.


"Sayaaang."


"Hmms?" sahut Nevan, dengan gerakan yang masih mengulum lembut bibir Shasyania.


"Hppps.. tunggu dulu...."


Dorongan di sela-sela ciuman mereka membuat Nevan menghentikan aksinya, lalu ia melirik pembatas jarak dari telapak tangan yang dibuat Shasyania, yang kini masih menahan di bagian dadanya.


"Aku belum selesai bicara, Geonevan sayang...," ucapnya, pada laki-laki yang terlihat tengah mengecap bibirnya sendiri, ia mengerti jika kekasihnya itu tengah menahan diri, "sabar yaa...," imbuhnya, beserta kecupan ringan di bibir Nevan.


Cup!


"Belum? Mmhhh baiklah yank... sekarang tanyakan apapun yang ingin kamu tanyakan," sahut Nevan, sambil menggenggam tangan Shasyania, lalu menuntun tangan itu agar dikalungkan pada lehernya.


"Waktu kamu gak ikut nonton... kamu bilang, kamu lagi sibukkan?"


Nevan mengangguk membenarkan pertanyaan tersebut, sembari mulai mencondongkan kepalanya untuk bersandar di ceruk leher Shasyania. Memeluk gadisnya begitu erat, matanya juga terpejam ketika ia kembali merasakan sandaran ternyaman yang sudah beberapa hari ini tidak ia rasakan.


Shasyania pun paham bila Nevan ingin dimanja, makanya ia bertanya sambil mengelus-elus kepala kekasihnya itu, "Memangnya sibuk apa?"


"Hari itu aku ke Kota B, sayang... berkunjung ke kediaman keluarga Zeiqueen."


Sejenak Shasyania terdiam, hingga ia kembali bertanya, "Apa itu untuk urusan bisnis?" ucapnya ragu, yang membuat dirinya semakin gelisah menanti jawaban Nevan.


"Bukan, lebih tepatnya untuk memastikan sesuatu...."


"Memastikan apa?"


"Tentang kamu yank."


"Aku?"


"Iyaa... tentang kamu, aku mendapat informasi.. katanya kamu pernah tinggal di rumah itu," jawab Nevan, yang sekilas mendongak menatap Shasyania.


"Terus?"


"Dan aku juga mendapatkan informasi, jika nama kamu dulu sempat diubah. Aku cuma khawatir yank, aku takut dan berpikir... mungkin saja sesuatu pernah terjadi padamu, makanya aku memutuskan untuk mencari tahunya sendiri."


Setelah mendengar penuturan tersebut, Shasyania mulai mengalihkan kegelisahan dalam dirinya dengan kembali mengelus kepala Nevan, yang masih bersandar nyaman itu, "Lalu.. apa saja yang kamu dapatkan di sana?"


"Tidak ada, dan itu sungguh mengecewakan! karena maminya Zia, dia memergoki ku... menegurku dan menyarankan agar aku tidak lagi mencari informasi tentang riwayat pegawai di rumah mereka!"


"Nekat sihhh!"


"Terus aku harus bagaimana sayang? jika aku menyuruh seseorang, itu malah lebih berbahaya lagi!"


"Berjanjilah untuk tidak mengulangi hal semacam itu lagi!"


"Mhhh... bisa aku pertimbangkan, tapi sebagai gantinya, maka kamu yang harus menjawab rasa penasaranku! Jadi, apa alasan kalian pergi dari rumah Zeiqueen, hingga memutuskan pindah ke Kota ini?"


"Semua itu berdasarkan keputusan Ayah, aku dan Ibu hanya menurutinya saja...."


"Benarkan? e'mm oke-oke! tapi alasan dibalik nama kamu yang sempat diubah itu, apa?"


Posisi mereka begitu dekat, hingga hembusan nafas Nevan menerpa halus wajah Shasyania, dan manik mata laki-laki itu terus mengunci pandangannya, "Itu termasuk rahasia keluarga Zeiqueen, aku tidak bisa mengatakannya, dan jika Geonevan tahu.. maka bisa dipastikan dia tidak akan tinggal diam. Terlalu berbahaya dan beresiko untuk memicu sebuah konflik, aku tidak ingin menyeret Geonevan dalam permasalahan yang sudah ditutup rapat tersebut!" batin Shasyania, karena ia sadar dengan tingkat emosi yang dimiliki Nevan, ia juga tidak ingin mengungkit masa lalu yang sudah susah payah ia kubur.


"Karena alasan kesehatan sayang, apalagi ada mitos yang mengatakan, jika seseorang mengalami sakit tak berkesudahan.. maka pergantian nama perlu dilakukan, makanya Ayah dan Ibu mengganti namaku."


"Memangnya ada mitos seperti itu?"


"Ada, dan terbukti... semenjak namaku diganti, kondisi kesehatanku pun berangsur-angsur membaik."


Nevan mencoba untuk percaya, meskipun masih ada keraguan di benaknya, namun ia juga tidak ingin memaksa, dan memilih untuk mengetahui semua dengan rencana yang sudah ia susun sendiri.


"Bagaimana dengan Zia? kamu pasti sudah bertemu dengannya, kan?"


"Iyaa, ketemu."


"Lalu pendapatmu tentang dia apa?"


"Pendapatku tentang dia?" Nevan balik bertanya, dan di saat itu juga ia telah menyadari jika sorot mata Shasyania tidak lagi teduh, malah kini terkesan siap melahapnya hidup-hidup, jika saja ia kedapatan ambigu dalam merangkai kata.


Analisa Nevan sangat tepat, meskipun ia belum pernah menjalin hubungan dengan gadis manapun, namun ia sudah paham betul dan tentunya sangat mengerti, jika pembahasan seperti ini sangatlah sensitif. Sedikit salah, ia bisa saja langsung kena kick.


"Sebelum aku menjawabnya, aku tanya dulu... kamu percaya padaku kan yank?"


"Tentu!"


"Baiklah, jadi pendapatku tentang Zia, dia adalah orang yang susah diatur!"


"Kamu enggak tertarik sama dia?"


Nevan merenggut, "Enggak sama sekali! Bahkan saat aku bicara dengannya, pikiranku selalu saja tertuju padamu yank! Katakanlah aku gombal, tapi itulah sebenarnya!" tegasnya meyakinkan.


Shasyania memicingkan matanya, "Beneran gak tertarik nih? enggak pernah tertarik sedikitpun gitu?"


Nevan menghela nafasnya gusar, ketika ia berusaha untuk tidak menutupi apapun dari Shasyania, "Jujur, kalau dulu memang iya, aku pernah menaruh rasa padanya, tapi itu sudah sangat lama sekali sayang... saat masih kecil. Kami sempat bersahabat...," sejenak Nevan menimang kembali ucapannya, lalu, "ya anggap saja seperti itu, kami pernah bersahabat dulu! tapi dia melupakanku begitu saja, mungkin akibat benturan di kepalanya."


"Benturan?"


"Dan kamu kecewa, karena dia telah melupakanmu?"


"Saat itu iyaa... aku sangat-sangat kecewa! dia sudah membuatku menangis! Meskipun waktu itu aku masih kecil, tapi rasanya sangat menyakitkan!! dia menghancurkan harga diriku!"


"Apa yang terjadi?"


"Dia pernah bilang kalau aku ini adalah sahabatnya, berjanji tidak akan melupakanku, tapi nyatanya berbanding terbalik, dia mengusirku, mengatakan kata-kata yang sangat menyakitkan! memperlakukan ku seperti sampah yang tak ternilai, bahkan membandingkan ku dengan kedua sahabatnya!" sahut Nevan, namun entah kenapa rasa amarahnya langsung menguap, setelah usapan beserta ciuman dari Shasyania yang mendarat di ujung kepalanya, "kamu enggak marah kan yank?"


"Enggak, kenapa aku harus marah? lagian itu dulukan? Masa lalu, dan setiap orang pasti memilikinya."


"Tentu! tentu saja itu dulu!! Sekarang hanya ada kamu, dan selamanya hanya akan ada kamu!! Bahkan sekarang aku ragu pernah memiliki perasaan itu pada Zia, karena aku merasa jika hatiku hanya untukmu!"


"Mulai deh gombalnya!"


"Aku serius sayang!" tekan Nevan, "tapi kamu beneran gak marah kan? takutnya bilang enggak, tapi entar malah diemin aku lagi!"


"Enggaklah sayang! Lagian itu sudah berlalu, aku pun pernah merasakannya dulu."


"Sama siapa?"


"Sama seseorang yang telah membuat ku tertawa riang.. padahal saat itu, kami tengah berada di situasi yang seharusnya tidak memungkinkan untuk kami tertawa...."


Nevan berasumsi jika situasi yang dimaksud Shasyania adalah saat ujian, hingga tidak membuatnya lebih bertanya, dan ia lebih tertarik untuk memastikan sesuatu yang kini mengusik pikirannya, "Berarti... aku ini bukan cinta pertama kamu dong?"


"Bukan ahahaha...."


"Lah!"


"Ihh kok marah?"


"Ck! gak marah, cuma kesal saja! Ada di mana dia sekarang?"


"Di tempat yang sangat jauh."


"Negara mana?"


Shasyania menangkup wajah Nevan, dan menciumnya sekilas, "Itu masa lalu sayang...."


"Baiklah! meskipun aku ini bukanlah cinta pertama untukmu, tapi aku yakinkan jika aku ini yang terakhir! Karena jika ada laki-laki lain yang sampai berani mendekatimu, maka akan aku cincang mereka untuk makanan herder ku!"


Shasyania tertawa menanggapi ucapan Nevan, ia begitu menikmati ekspresi marah dari wajah kekasihnya itu.


"Aku serius yank!"


Kini Shasyania melingkarkan tangannya dileher Nevan, lalu ia mengecup bibir itu penuh perasaan, "Sekarang ataupun nanti, hanya ada kamu di hatiku Geonevan, aku mencintaimu sayang...."


Merasa begitu disayangi, membuat Nevan tidak ingin tinggal diam, ia kembali menyatukan bibir mereka, dan merasakan getaran kasih sayang yang teramat mendalam dari setiap gerakan di bibir mereka, sambil berucap, "Aku juga mencintaimu sayangku.... Dan aku berjanji, aku akan selalu menyayangimu seumur hidupku!"


Hingga menit terus berlalu, kedua remaja itu masih menikmati waktu bersama dipenuhi canda tawa, sampai di belahan Bumi bagian barat sang fajar mulai menampakkan sinarnya yang agung.


"Sayang, mau nonton gak?"


"Mau! dan kebetulan banget Nita sempat rekomendasiin film romantis, seharusnya kemarin kami nonton itu sih, tapi karena enggak kebagian tiket jadinya ditunda dulu. Mhhh... gimana kalau kita nonton yang itu aja?"


"Boleh sayang! tapi kamu udah tahukan nama filmnya apa?"


Shasyania tersenyum kikuk, seraya menggeleng pelan, "Hehe... aku telpon Nita dulu yaa...."


Nevan tersenyum, memberi waktu bagi Shasyania berbicara dibalik telepon.



Dan tak perlu menunggu lama, hingga Nita menerima panggilan online dari Shasyania.


"Hallo Sha, kenapa? tumben-tumbenan lo nelpon gue duluan! Oh yaaa.... Lo pasti mau nanya soal ekstrakurikuler Pramuka, iyakan?"


"Pramuka? enggak Nit, aku nelpon mau nanya soal film yang sempat kamu ceritain itu, kebetulan aku mau nonton sekarang."


"Wahh, nonton sama siapa tuh? Geonevan yaaa.... Ciyeee ciyeeee baikan nih yeee! Udah jangan marahan lagi! kalian pasangan terserasi menurut gue! Dan gue jamin nihh yaaa... setelah kalian nontonin tuh film, kalian akan semakin baper, adegan unyu-unyu nya banyak! bisalah sambil belajar wkwkwk!"


Nita terus saja menggoda Shasyania, hingga bermenit-menit lamanya panggilan itupun berakhir, dan kini Shasyania tengah duduk manis menunggu Geonevan, yang pergi sebentar untuk membeli cemilan.


"Jadi gimana? udah tahu judul filmnya?"


"Iyaa udah, ee'mmm...."


"Ada apa sayang?"


"Minggu depan aku ikut kemah ya?"


"Ahh kemah? kemana? kok tiba-tiba?"


"Bukan tiba-tiba sayang, sebenarnya informasinya udah dari lama, cuma kerena aku baru gabung di ekstrakurikuler Pramuka jadinya baru tahu...."


"Ekstra Pramuka?"


"Iyaa, aku gabung setelah Nita mengatakan jika ekstra Pramuka di SMA GUARDIANS seru, ada banyak kegiatan sosialnya, termasuk weekend ini, Panitia ngadain acara kemah bakti, sebagai bentuk refleksi dari sifat-sifat Pramuka, seperti bersih-bersih lingkungan. Hanya dua hari satu malam.... Sayang?"


"Asal kamu nyaman dan suka dengan kegiatan itu, aku gak masalah sayang. Memang kemahnya di mana?"


"Di Kota B, daerah hutan di kaki gunung X."


Manik mata Nevan langsung melebar, ia terkejut bukan karena daerah itu sangat familiar untuknya, tapi ketika mengingat jika Shasyania yang tak suka dengan alam bebas, hingga membuatnya khawatir, "Yank, kamu yakin ikut? kamu kan gak suka sama hal-hal berbau alam. Tadinya aku kira bakal kemah di sekitaran sekolah, atau lapangan mana gitu."


"Umhh, aku yakin sih mau ikut, lagian gak ada kegiatan mendaki, cuma kemah dan bersih-bersih lingkungan sekitar, jadi aku rasa.. itu gak masalah. Izinin yaaa?"


"Kamu tanya sama Ibu juga, kalau aku pasti izinin sayang, asal kamu beneran pengen gabung! bahkan aku berniat untuk ikut menemani kamu ke sana!"


Shasyania tersenyum sumringah, Geonevan selalu mengerti apa yang ia inginkan, baru saja akan mengajak laki-laki itu untuk ikut serta, ternyata Nevan sudah berinisiatif sendiri, "Makasi yaa sayang...," ucap Shasyania, seraya menggenggam tangan Nevan.


.


.


.


🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA! SALAM MERDEKA UNTUK KITA SEMUA🇮🇩