
Derap langkah kaki terdengar menyusuri koridor sekolah. Senyum tipis ia perlihatkan saat orang-orang mulai menyapanya.
"MENTERI PERTAHANAN SMA GUARDIANS AKHIRNYA KEMBALI!"
Teriakan itu membuat segerombolan murid mulai mencari sosoknya.
"SELAMAT DATANG KEMBALI PEJUANG!"
"SMA GUARDIANS KEMBALI AMAN!"
Wilkan terkesiap mendengar segala ucapan yang tertuju untuk sahabatnya, "Sial udah kayak artis aja lo Gem!" ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Gemmi.
"Woi kalian jangan hanya teriak-teriak aja napa! taburi bunga kek! kasih buket kek! ingat yang kalian sambut ini murid berprestasi! Hargai!"
"Lo kira si Gemmi mau syuting Bollywood isi tabur-tabur bunga segala!"
"Tau nih si Miko! entar jatuhnya malah kayak kuburan lagi!" protes Gemmi.
"Yaelah kalian mikirnya gitu banget!" sentak Miko. Pandangannya kembali mendongak ke atas, "woiii Desiii! lu kan Osis nih sambut kek apa kek! Jangan cengar-cengir mulu tuh mulut! gue tahu lo terpesona sama tampang gue!"
"Ehh ubin toilet GAJE banget sih LO!" bentak Desi menjulurkan lidah.
Namun belum sempat Gemmi mengayunkan kakinya menjauh tiba-tiba dari atas mulai bertaburan serpihan-serpihan kertas putih dengan ukuran kotak dan persegi, itu pasti hasil karya yang baru saja di sobek-sobek.
"MAAF YA GEMMI GAK ADA BUNGA JADI PAKAI INI AJA YA!"
"TERIMAKASIH ATAS KERJA KERASMU GEMMI! INI SAMBUTAN DARI KAMI!"
"TERSENYUMLAH GEMMI KARENA SENYUMAN LO MENGALIHKAN SARAF-SARAF OTAK GUE!"
"Kayak Nglangon kerbau aja gue !"
"Maksud lo Ko?" tanya Wilkan yang belum paham dengan perkataan yang di sampaikan Miko.
"Di pukul baru jalan!"
"Jirr otak gue masih belum bisa mencerna!" cetus Gemmi.
"Mana kalian ngerti kalau gak pernah Nglangon kerbau!"
"Makanya kalau mau jokes jangan make pengalaman pribadi lo! mana kita ngerti!"
"SEDANG APA KALIAN?" suara Pak Sadim menggema di seluruh koridor bahkan desiran angin pun menghantarkan suara itu sampai ke lantai Dua, "APA YANG KALIAN LAKUKAN?"
Miko terperanjat kaget, "Ka...kami tii...tidak ik__,"
"Bicara yang jelas!"
"Kami tidak tahu Pak, kami hanya lewat dan mereka yang berada di atas yang berinisiatif menabur kertas-kertas ini," elak Wilkan, ia malah melempar kesalahan.
"HEI KALIAN YANG DI ATAS SANA YANG MERASA BERTANGGUNG JAWAB CEPAT TURUN!" perintah Pak Sadim sambil menunjuk-nunjuk beberapa murid, "JANGAN LARI KALIAN! BAPAK TAHU SIAPA NAMA KALIAN! BAPAK TAHU DI MANA KELAS KALIAN BAHKAN BAPAK JUGA TAHU SIAPA ORANG TUA KALIAN!"
"Maaf Pak tapi semua ini atas perintah dari Miko, dia yang menyuruh kami."
"Miko? SIAPA MIKO?"
Wajah laki-laki itu langsung berubah pucat pasi. Mulutnya komat-kamit tidak jelas.
"Bukan seperti itu Pak, semua ini terjadi karena kesalahpahaman." Gemmi berkata pelan namun penuh penekanan.
Pak Sadim mengarahkan pandangannya ke Gemmi, "Ya apapun alasannya, kalian tetap harus membersihkan semua ini! Kalian sudah besar jadi tahu di mana meletakkan sampah!" Perkataan begitu tajam keluar dari mulut Guru Olahraga tersebut sembari kakinya mengayun melewati ketiga laki-laki itu.
"Thanks Gem!"
"Gak usah lebay!" decak Gemmi.
"Sialan! baru juga gue terharu!"
"Gak usah terharu lo! mukak lo gak cocok!" cela Wilkan.
"Emang mukak yang cocok kayak gimana?"
"Udahlah gak usah di bahas lagi yang terpenting sekarang kita sambut suasana baru!" pungkas Gemmi, ia melempar kunci motornya ke udara lalu dengan gaya gravitasi ia kembali menangkap benda itu di tangannya.
BRAAAAK!
Pintu terbuka lebar hingga mengeluarkan suara yang begitu nyaring bahkan suara itu mampu membuat beberapa siswa di dalam ruangan tersebut terperanjat kaget sampai memaki-maki.
"Hayyy Girls, sambut kita dong!" seru Gemmi. Namun tidak ada satupun yang merespon ucapannya, semua masih terdiam menatap penuh tanya.
"Itu orang salah kelas ya?"
"Ehhh...ehh dia kan?"
"Woiii murid berprestasi lagi nyapa tuh kenapa diem aja? TULI kali ya!" cibir Miko, tangannya bergerak lincah menggali kuningan di telinganya.
"Tahu nih gak ada rasa nasionalismenya sama sekali!" timpal baru memperkeruh suasana.
Melihat kedatangan si biang onar ke dalam kelasnya membuat Andri bergegas mendekati mereka, "Kedatangan kalian kesini untuk apa ya?"
Gemmi menggaruk pangkal hidungnya yang tak gatal, "Ya mau belajarlah," dengan santainya ia menjawab sambil mengedarkan pandangan ke segala sisi untuk mencari sosok yang sedari tadi ia cari, "Ketemu!" serunya.
"Paling nyari gara-gara!"
"Heh lo berdua kenapa bisik-bisik tetangga? Sini kencengin bacotnya biar kita enak saling sahut menyahut!" tandas Wilkan dengan tatapan menyelidik.
"Keluar kalian dari sini!" suara itu keluar dari mulut seorang Geonevan tangannya juga mengarah ke pintu keluar.
Mengetahui reaksi Nevan seperti itu, membuat beberapa murid perempuan sontak bergidik ngeri.
"Alasannya?" dengan gaya pongahnya Gemmi bertanya dingin seolah ia tidak terima dengan ucapan Nevan.
"BODOH!" sahutnya sambil menyeringai, "ingatan kalian serendah itukah? sampai kelas sendiri lupa!" lanjut Nevan menegaskan setiap ucapannya kepada Tiga orang yang ia anggap sebagai perusuh.
Bola mata Gemmi melirik tajam, namun saat ia akan mendekat langkahnya di hentikan oleh Andri, "Tolong kalian keluar dari kelas kami," pintanya yang masih terdengar sopan.
"Bagaimana jika kelas ini juga kelas kami? apa kami tetap harus keluar? JAWAB!" ucap Wilkan sembari menyenderkan tubuhnya di papan tulis.
"Sialan! lagi ngelawak lo?" umpat Dariel yang mulai tersulut emosi.
"Mereka siapa Ris?" tanya Jiana.
"Mereka Geng PS, sekelompok laki-laki yang suka mencari keributan bahkan ikut aksi tawuran dengan sekolah lain hanya untuk meluaskan wilayah kekuasaan mereka! dan laki-laki yang bertubuh tegap dengan lesung pipi itu merupakan ketuanya. Gemdominic!"
Jiana mengangguk-angguk mengerti akan apa yang di jelaskan oleh Rissa, "Menarik!" lirihnya.
Wajah Gemmi berubah merah padam kedua tangannya mengepal keras, "Lo bilang kita ngelawak tapi kenapa justru wajah lo yang kayak BADUT?"
"Haii haii kenapa malah jadi panas gini sih suasananya? udah pada gede gak usah berantem segala! Malu tuh sama jakun!" sindir Nita, "Lo Gem! lo gak lagi mabuk kan? sejak kapan kelas IPA 1 berubah jadi kelas IPA 4? masak lo lupa sama tampang temen sekelas lo sendiri? dan kalian juga berdua kenapa ikut-ikutan salah masuk kelas?"
"Haaahhh!" Gemmi mendengus kesal ia malas untuk mengulang-ulang perkataan yang sama hingga mengisyaratkan Miko sebagi jubir.
"Jadi gini! mulai hari ini kelas kalian juga kelas kami! kalau ada yang protes silahkan langsung ke ruang Guru! tapi untuk saat ini ijinkan kami duduk! karena jam pelajaran udah mau mulai tuh!" tunjuknya kearah jam dinding, dan benar saja beberapa detik kemudian suara bel mulai terdengar.
"Heyy Shasyania...," tanpa permisi atau bertanya terlebih dahulu Gemmi langsung mendaratkan pantatnya di sebelah gadis yang tengah menatapnya heran, "kenapa ekspresinya kayak gitu? kita udah saling kenalkan? dan ini juga tempat duduk masih kosong kan?"
Shasyania terlebih dahulu menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan laki-laki yang ia anggap aneh, "Terserah."
Gemmi yang gemas langsung membelai rambut Shasyania, "Mohon kerjasamanya ya?" pintanya sambil mengedipkan mata.
Dengan gerakan kilat Shasyania menepis tangan Gemmi, "Jaga sikap kamu!" serunya, "dan satu lagi jangan pernah ulangi hal seperti ini!" lanjutnya dengan telunjuk mengarah ke muka Gemmi. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu berlalu pergi.
"Oke oke jangan ngambek gitu dong!" pinta Gemmi seraya mengerucutkan bibir, "mau kemana? jam pelajaran udah mau mulai woi!"
"WC!"
"Wah apa-apaan tuh tadi?" resah Dariel.
"Sekarang gue tahu alasan di balik semua ini," ucap Eron.
"Gatel banget sih tuh cewek!" kesal Jiana.
"Kok cewek? bukannya yang cowok yang gatal!" celetuk Megan.
Tidak hanya mereka saja bahkan seisi kelas juga ikut terkejut dengan interaksi Gemmi ke Shasyania.
"Jangan macam-macam lo sama sahabat gue!" bentak Nita yang tak terima jika Shasyania diganggu.
"Sahabat? di mana lo saat dia di bully?"
"Iya waktu itu kita emang salah!" sahut cepat Ririn, "makanya sekarang lo gak boleh gangguin di__,"
"Kenapa?"
"Karena kita bakal pasang badan buat dia!" tegas Nita dengan suara melengking.
"Yaelah!" Gemmi mendengus malas, lalu dari arah jendela terlihat Guru tengah menuju kelas mereka.
"Maju kalian bertiga dan langsung perkenalkan diri!" pinta Pak Rivat.
"Kita bukan murid pindahan sekolah lain Pak jadi gak perlu isi acara perkenalan segala! dan saya juga yakin mereka sudah tahu siapa kami," bantah Gemmi yang langsung di setujui oleh kedua sahabatnya.
"Artis kalian? dan kamu! tindakan kamu ini tidak benar ini sudah termasuk tindakan tidak sopan! berani sekali membantah ucapan Guru!" sungut Pak Rivat, "ohh..., kamu siswa peraih mendali itukan? kamu memang sudah menyumbangkan prestasi bagi sekolah ini tapi ingat! sekarang kamu berada di kelas Bapak jadi apapun yang Bapak minta maka sudah menjadi kewajiban kamu untuk menurutinya! Biasakan bertindak sesuai tempat!'
Ketiga murid itupun berjalan ke depan sembari merapikan pakaian mereka.
"Perkenalkan diri kalian dan jelaskan alasan mengapa kalian sampai pindah ke kelas ini!"
Kali ini Gemmi mengangguk paham, "Perkenalkan nama saya Gemdominic Zail Etner, saya pindahan dari kelas IPA 4 dan alasan saya pindah ke kelas ini adalah karena ingin satu kelas dengan Dinesclara Shasyania."
Penjelasan Gemmi di depan kelas kembali membuat semua murid menatap tidak percaya, bisikan-bisikan halus mulai terdengar.
"Kamu ini mau belajar atau mau pacaran?"
"Belajar Pak tapi dengan semangat baru!" jawabnya tegas sampai Pak Rivat hanya mampu menggelengkan kepala mendengar ucapan dari muridnya ini.
*Selamat Tahun Baru bagi yang baca🥳*
*Mohon like dan komen untuk cerita ini ya biar tambah semangat up-nya, terimakasih 😊*