Mine ?

Mine ?
04 : Mainan



"Sayang..., untuk sementara waktu turuti saja dulu keinginan Kakek, nanti kita pikirkan cara lain untuk melepaskan mu dari perjodohan itu," bujuk Zivana, ia merasa tidak tega melihat putranya yang seakan tertekan dalam keadaan seperti ini.


"Tidak Mom! lebih baik kita keluar saja dari sini, lagian Mommy memiliki beberapa butik kan? aku rasa kita masih bisa mencukupi gaya hidup dengan itu, terus untuk Daddy.... Daddy juga bisa mendirikan perusahaan baru... jadi kita tidak usah menuruti kemauan Kakek yang tidak masuk akal itu!!!" ajak Nevan, ketika ia merasa memiliki jalan keluar untuk masalah yang tengah membelenggu pikirannya kini.


Deron yang mendengar ucapan putranya langsung berjalan mendekat, ia ingin memberi pengertian agar Nevan mengerti situasi mereka, "Tidak semudah itu Nevan, kamu tahu? semua aset yang kita miliki berada dalam kekuasaan Dione crop, jadi sekarang yang bisa kita lakukan hanya menuruti kemauan Kakek mu saja!" jelas Deron.


"Semuanya?" dengan mimik tidak percaya Nevan mengulang pertanyaan tersebut, dan anggukan kepala Deron membuatnya memalingkan wajah.


Mulutnya terbuka lalu kembali menutup, tak ada kata namun ekspresi wajahnya jelas menggambarkan kekecewaan. Kenyataan itu benar-benar menghancurkan secercah harapan di pikiran Nevan, hingga rasanya seperti hangus dan berubah menjadi uap yang ia keluarkan dari hembusan nafasnya.


"Haaaahh!"


Kepalanya kembali berdenyut memikirkan solusi, jika ia memilih pergi tanpa pegangan harta, maka itu sama saja seperti menjatuhkan harga dirinya sendiri.


Krrrrrtttt!


Tangannya yang bertumpu di paha mengepal keras, lalu dengan gerakan kasar ia juga menarik rambut hitamnya ke atas. 


"Dua perempuan itu bagaikan bencana dalam hidupku! mereka harus mendapat balasan! tunggu saja sampai aku bertindak!!! akan ku buat mereka tidak berani lagi berurusan dengan keluarga Eldione!" ketusnya tajam, dengan rasa percaya diri tinggi. 


"Tenangkan dirimu Nevan! jangan berbuat yang tidak-tidak! biarkan Daddy yang bertindak! Kamu cukup diam!" cetus Deron.


"Iya sayang... Daddy mu benar, kamu tidak perlu memikirkannya lagi, biarkan itu menjadi urusan kami!" pinta Zivana.


"Tapi Mom, dia mempermainkan ku! Dia meremehkan ku! Dia pikir dia bisa menjebak ku dengan wajahnya itu! Cihh!!! Hal tersebut tidak bisa ku biarkan!"


"Nevan tenang! Percaya pada Daddy! dan dengar... tidak akan Daddy biarkan orang memaksamu dalam urusan seperti ini! Jadi tenanglah!!!"


"Baiklah! kalau begitu aku akan beristirahat!" pamit Nevan, yang di balas anggukan kepala, lalu ucapan selamat tidur dari kedua orang tuanya.


Namun semudah itu Nevan setuju? tentu saja tidak! dia bukan tipe orang yang mudah menyerah, apalagi ketika hal tersebut sudah berhasil menyulut emosinya.


"Ck!!! Dia pikir dengan tampangnya itu maka dia bisa menjeratku dalam perangkap busuknya? cihhh! tidak semudah itu parasit!!! Tidak akan lagi! kau akan segera mendapat serangan telak! Kau sudah berani mengusik keluargaku maka akan aku buat kau menyesal!!!" gumam Nevan.


Ia menaiki anak tangga dengan perasaan kesal, di kepalanya terus terlintas berbagai macam rencana untuk menghancurkan Shasyania dan juga Ibunya, sampai sebuah seringai menakutkan terlihat dari wajah Nevan.


Kesan pertama sering kali salah, hingga membuat kita menyesal pada akhirnya.


                          


...****************...


Sayup-sayup terdengar suara angin bertiup merdu, arahnya yang tak menentu perlahan-lahan mulai memasuki celah kamar yang terlihat sedikit terbuka itu.


"Shasya..., tidur gih... kamu enggak capek apa dari tadi pijitin Ibu terus?"


"Enggak Buk..., lagian inikan udah jadi kewajiban Shasya," sahutnya sembari tersenyum hangat, "Buk... Ibuk udah minum obatnya kan? jangan tunggu sakit baru Ibu meminumnya.... Ingat pesan Dokter Buk!" selidik Shasyania, ia begitu khawatir dengan kondisi kesehatan Ibunya.


"Sudah Shasya..., dan kamu jangan hanya memikirkan kesehatan Ibu, pikirkan juga kesehatanmu nak! kamu tidak boleh terlalu memaksakan diri, itu tidak baik! sekarang giliran Shasya yang jujur ke Ibu... Shasya sedang memikirkan sesuatu kan? mungkin tentang perjodohan itu? Ibu benar kan Shaa?" melihat putrinya diam, membuat Liliana paham, lalu ia memegang kepala Shasyania, "Ibu akan menolaknya Sha..., jadi jangan pikirkan lagi ya?" tutur Liliana lembut, sembari mengusap-usap ujung kepala Shasyania.


"Iya Buk...makasih."


Meskipun begitu, tetap saja di dalam hati Shasyania merasa cemas, apalagi ketika mengingat tatapan Nevan yang tertuju padanya, ia yakin tersimpan kebencian yang teramat mendalam di sana, dan beberapa menit kemudian Shasyania juga teringat sosok Toreno.


"Apa mungkin Tuan Toreno menerima penolakan ini begitu saja? Beliau begitu teguh atas keputusannya, bagaimana ini..." batinnya terus bergejolak tiada henti, hingga ketakutan demi ketakutan mulai hadir memenuhi pikirannya sendiri.


Karena sebisa mungkin Shasyania ingin menghindar dari yang namanya masalah, terlebih lagi jika hal tersebut sampai melibatkan Ibunya.


"Tuhan..., lindungi aku dan juga Ibuku, jangan biarkan Ibuku merasakan kesedihan lagi, izinkan aku membuatnya bahagia..., aku mohon berkati lah kami..., dan untukmu Ayah, lindungi kami selalu dari atas sana." Shasyania berdoa dalam diam, hingga tanpa terasa buliran air mata sudah menetes membasahi pipi, lalu dengan gerakan cepat ia mengusap-usap untuk menghilangkan jejak tersebut dari pandangan Liliana.


                              


...----------------...


Di pagi hari.......


Drrrt!


Sebuah panggilan dari nomer tidak di kenal memenuhi layar handphone Shasyania. Ia yang berada di ruang tamu segera berlari ke dalam kamar.


"Halloo...."


"Selamat pagi Shasyania..., cucu Kakek rajin sekali ya pagi-pagi sudah bangun, oh iyaa..., Shasya ke rumah Kakek nanti siang ya?" pinta seseorang dari seberang telepon.


Bukannya menjawab Shasyania justru kembali menatap layar telepon itu, ia masih heran, siapa gerangan yang tengah berbicara dengannya saat ini, apalagi suara itu sempat mengatakan jika dia adalah Kakek, lalu sejurus kemudian Shasyania mengingat sosok Kakek yang pernah ada di dalam hidupnya.


"Kakek? bukannya Kakek sudah meninggal! jadi bagaimana mungkin dia bisa menghubungiku? apalagi sampai menyuruhku berkunjung, ohh tidak-tidak aku belum siap!" gadis itu bergumam sendiri, hingga mengabaikan suara dari seberang sana.


"Hallo Shasyania, kamu masih di sana kan? Kamu masih mendengar ucapan Kakek kan?"


"Atom...Atom! segera cek jaringannya!!! kenapa suara cucuku bisa menghilang?"


"Ha...hallo...hallo maaf..., tapi ini Kakek yang mana ya?"


Mulut Shasyania langsung membentuk huruf O, ia masih tidak percaya siapa yang tengah mengaku sebagai Kakeknya.


"Ma...maaf Tuan..., maaf kare__,"


"Tuan? panggil aku Kakek!" potongnya, "jadi bagaimana Shasyania... kamu bisa ke rumah Kakek, kan? nanti Atom akan menjemputmu!" imbuhnya.


Ajakan atau perintah? karena Shasyania tidak memiliki celah untuk menolak.


"I...iya Kek, biiiisa," Shasyania menggerutui ucapannya sendiri, seakan tidak sinkron dengan isi hatinya saat ini. Ia menggigit bibir bagian bawah lalu tangannya memegang kepala, seolah-olah telah memutuskan sesuatu yang akan sangat ia sesali.


"Bagus!!! Kakek tunggu di rumah."


.


.


.


Panggilan pun berakhir dengan posisi Shasyania yang masih berdiri kaku, syaraf dalam tubuhnya tidak bekerja. Karena kini diam adalah pilihan yang paling tepat untuknya.


"Shasya... heii... kamu kenapa nak? siapa yang tadi menelpon?" tanya Liliana.


Tidak ada jawaban dari putrinya membuat Liliana berjalan lebih mendekat.


"Shasya..., jangan bikin Ibu takut! kamu kenapa?" ujar Liliana sembari mengguncang pelan bahu putrinya.


"Ehhh... eh maaf Buk, tadi itu Tuan Toreno yang menelepon, dan siang ini Shasya di suruh ke rumahnya."


"Memangnya ada keperluan apa Shaa? sampai Tuan Toreno menelpon mu segala?" tanya Liliana memasang wajah heran.


"Shasya juga enggak tahu Buk."


"Yasudah datang saja, jika kamu tidak nyaman hubungi Ibu!"


"Baik buk!"


"Oh iya Shaa, kamu jadi ikut Ibu ke pasar nak? ini Ibu udah mau berangkat."


"Jadi Buk, kita jalan sekarang!" ucap Shasyania penuh semangat.


...****************...


Pukul 09:07 pagi......


Di tempat lain, kini terlihat seorang remaja laki-laki tengah terlentang di pinggir lapangan basket dengan sekujur tubuh dibasahi keringat, namun hal itu justru menambah kadar ketampanan dari raut wajahnya yang rupawan. Kilatan basah membuatnya kian bersinar.


"Sial! harusnya gue bersenang-senang di sana. Ya... niatan gue cuma buat nonton konser! bukan yang lainnya... bukan!!!! Aahhhhhh! semua karena gadis itu, dia benar-benar menyebalkan! Akal busuk lo sudah terbongkar Shasyania! Gak akan lagi gue biarin lo bermain-main... Lo Parasit!" ketusnya.


Satu meter dari tempatnya terbaring, mulai terdengar derap langkah kaki mendekat, "Lo kenapa sih Van? kayak punya beban hidup berat aja! lo itu putra Mahkota... jadi masalah apa yang bikin lo sampai uring-uringan kayak gini? Dan lo lihat tuh si Bagas, kakinya sampek memar karena lo mainnya kasar!" cibir Haikal.


"Berisik lo! dasar dianya aja yang lemah! dan lo kasih tahu tuh anggota lainnya, kalau mainnya masih lemah maka mereka akan di coret dari Bakteri klub!" tegasnya, yang langsung berdiri menjauh menuju mobil Lamborghini Aventador miliknya.


Dengan perasaan kesal ia membuka pintu mobil lalu melaju begitu kencang, hingga deruman itu terdengar memasuki area rumah berdesain klasik modern yang terdapat di perumahan elit yang terletak di pusat Kota J. Roda-roda itu berderit ketika sang pengemudi menghentikan laju kendaraan tersebut tepat di depan rumah.


"Selamat pagi Tuan Muda," sapa beberapa pelayan yang kebetulan berpapasan dengan Nevan.


"Buatkan jus!" titahnya.


Berjalan menaiki anak tangga, hingga sebuah deringan telepon menghentikan langkahnya.


"Nev__," belum sempat orang di seberang sana melanjutkan ucapannya, kini Nevan terlebih dahulu memotong pembicaraan tersebut.


"Kapan kalian balik?"


"Woow...woowww! tampaknya seorang Geonevan sedang merindukan kehadiran kami nih!" nada itu terdengar begitu mengejek, hingga membuat Nevan berdecak kesal.


"Gue punya mainan baru!" ucapnya dengan seringai di wajah.


"Mainan baru? terdengar menyenangkan! tapi sebelum itu gue mau bil__,"


"Gue gak tertarik! yang gue mau kalian cepat balik!" setelah kalimat itu Nevan segera memutuskan panggilan.


Dan berjuta-juta kilo meter dari sana Dariel sedang menggerutui kelakukan sahabatnya itu. Ia bahkan sampai menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Nevan bilang apa tadi? dan apa yang menyenangkan?" tanya Eron penasaran, sembari menyeruput kembali secangkir kopi dalam genggaman tangannya.


Dariel melirik dengan senyum di ujung bibir, "Dia bilang punya mainan baru! Terdengar menyenangkan kan?" sambungnya.


"Mainan? mmhh jarang-jarang Nevan bilang hal kayak gitu, gue jadi gak sabar buat balik!" ungkap Eron.