
"Sayang?"
"Enggak!"
Shasyania telah mengeluarkan segala cara agar Nevan mau melepas capitan tangannya, namun seakan sia-sia, karena segala bujuk rayu yang telah ia lontarkan selalu ditolak mentah-mentah bersama dengan gelengan kepala, bahkan dibarengi suara parau akibat tangisan.
Hingga kebisingan-kebisingan mulai terdengar dari atas sana, saat sebuah helikopter menyorot keberadaan mereka, Shasyania yang menyadari jika bantuan telah tiba maka langsung memberi isyarat agar regu penyelamat segera mengevakuasi mereka, terlebih lagi Nevan, yang kondisinya sudah bersimbah darah.
Namun di keadaan seperti itupun masih terdapat kendala, kerena Nevan terus saja memberontak dan terkesan enggan untuk melepas Shasyania, ia masih bergumam dengan suaranya yang perlahan-lahan melemah.
"Jangan pergi... jangan tinggalkan aku!!"
"Tuan... Tuan muda, harap anda tenang dan jangan banyak bergerak.... Kami pastikan Nona Shasyania akan selamat!! anda jangan khawatir!"
Akibat keadaannya yang semakin kritis, hingga di detik-detik berikutnya kesadaran Nevan perlahan menghilang, matanya kian terpejam namun tangan itu masih mencengkram erat jemari Shasyania.
Dan demi kelancaran proses evakuasi dan memastikan Tuannya segera mendapat pertolongan, maka regu penyelamat terpaksa bertindak untuk melepas tautan tangan tersebut.
...****************...
Rumah Sakit XXX....
Dari loby, tim medis sudah bersiap-siap menunggu kehadiran pewaris tunggal keluarga Eldione, mereka bergerak cepat untuk memindahkan tubuh Nevan ke bed dorong, lalu bergegas melarikannya keruangan IGD.
.
.
.
Hingga jarum waktu terus berlalu dan kini terlihat seorang gadis berdiri tegak dengan raut ketegangan yang menghiasi wajah, kepalanya mendongak menatap lampu di atas pintu, yang menandakan jika proses operasi tengah berlangsung di dalam sana.
Dan jika saja ia bisa mengikuti kata hati, maka ingin rasanya ia menerobos masuk untuk melihat langsung keadaan Nevan, namun itu hanyalah bentuk dari rasa kekhawatirannya saja, karena sekarang Shasyania masih setia menunggu di luar ruangan, bahkan beberapakali ia terlihat duduk lalu kembali berdiri, tangannya terus bergerak, untuk mengusap-usap wajahnya.
"Shasya!"
Sampai sejurus kemudian terdengar suara memanggil namanya, Shasyania tertegun akibat rasa takut yang mulai merangsek ke dalam diri. Ia memupuk rasa bersalah, karena merasa dirinyalah yang menjadi dalang di balik insiden tersebut, hingga mengakibatkan Nevan terbaring lemah di ruang operasi.
"Bagaimana aku menjelaskannya...."
Baru saja ia akan bersimpuh, namun Zivana terlebih dahulu meraih tubuh itu, lalu mendekapnya erat sembari mengelus punggung Shasyania.
"Tenang sayang tenang... Nevan, dia pasti akan baik-baik saja! dia anak yang kuat...."
"Maafin Shasya...."
"Hsssst... no! jangan minta maaf seperti itu! kamu tidak bersalah!! Berhenti menghukum dirimu atas kesalahan yang tidak kamu perbuat! oke? Mommy tidak suka jika kamu terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri!"
Shasyania mengangguk patuh, seraya membalas pelukan Zivana.
"Kita duduk yaa...," ajak Zivana, lalu wanita itu mulai mengecek keadaan Shasyania, "kamu baik-baik saja kan? enggak ada yang luka? atau... apa ada yang sakit? mana-mana kasih tahu Mommy!" imbuhnya bertanya, sampai tidak ada satupun area yang luput dari pengelihatannya.
"Mhhh baguslah," ujar Zivana, kini mata itu beralih melirik pintu di hadapannya, "rasanya seperti dejavu, ketika Mommy menunggu Nevan sambil berharap-harap cemas, sampai akhirnya Dokter memberi kabar jika Nevan berhasil melewati masa-masa kritisnya. Tapi memang... dulu keadaannya lebih mencekam lagi, karena selain kekurangan darah dia juga mengalami dehidrasi akut, hingga membutuhkan waktu berhari-hari untuknya pulih dan kembali tersadar!"
Mendengar penuturan Zivana membuat kerutan di bagian alis Shasyania terpampang jelas, dan kini gadis itu kembali menatap lawan bicaranya penuh tanda tanya.
"Iyaaa sayang, itu terjadi setelah insiden penculikan kalian, kondisi Nevan kritis, sampai dia harus dilarikan ke rumah sakit."
"Akibat tembakan?" tebak Shasyania, sembari membayangkan kembali peristiwa kelam yang sempat terjadi di masalalunya, "aku bersyukur Geonevan selamat setelah mengalami tembakan itu, aku juga sangat bahagia mendengar sahabat kecilku baik-baik saja, dan sekarang... aku pun berharap hal yang sama, semoga dia segera pulih!" sambungnya, sampai beberapa detik kemudian Shasyania sadar akan sesuatu.
"Berarti, Mommy tahu? jika aku ini gadis yang bersama Geonevan di hutan?"
"Mmhh, Mommy tahu, tepat setelah Nevan mengenalkan mu sebagai tunangannya! Apa kamu ingat sayang... sebelum kita memulai jamuan makan, di sana tanpa sengaja kita berpapasan dengan dua orang Dokter, awalnya Mommy penasaran kenapa seorang Dokter psikiater bisa mengenalmu, terlebih lagi dia sempat keliru mengatakan namamu, dan Mommy tebak kalian saling mengenal sebelumnya! tapi reaksi mu waktu itu kentara sekali... jika kamu ingin menghindarinya. Dan dari sanalah Mommy mulai berpikir, mencocok-cocokkan dengan apa yang Mommy ketahui! terlebih lagi, salah satu dari Dokter itu juga merupakan Dokternya Nevan. Jadi... kurang lebih Mommy bisa menebak jika dulunya kamu juga memiliki sebuah trauma!"
"Dokternya Nevan? Psikiater?"
"Iyaa sayang, dan sekarang juga akan Mommy ceritakan semuanya.... Saat itu, saat setelah Nevan siuman, orang pertama yang ia cari adalah dirimu, keberadaan mu! dia ingin sekali melihatmu, memastikan keadaanmu! Nevan mengatakan jika kamu memanggil-manggilnya! hingga membuatnya terus-menerus membicarakan nama Zia," tutur Zivana yang terkesan sengaja menjeda ucapannya, ia bermaksud untuk melihat respon Shasyania ketika nama itu disebutkan.
"Itu nama yang aku ucapkan pada Geonevan, aku memperkenalkan diriku sebagai Zia...."
"Hei... jangan menunduk Shasyania! tidak ada yang patut disalahkan untuk itu! Mommy paham... alasanmu memperkenalkan diri sebagai Zia, karena kamu takut, dan menganggap jika kamu jujur maka itu bisa saja berdampak lebih buruk lagi, bukan? dan siapa yang menyangka... jika semuanya akan berakhir seperti ini, iyakan?"
"Iyaa Mommy...."
"Maka dari itu, stop menyalahkan dirimu! Terlebih lagi sekarang kalian sudah bertemu! Masa lalu tetaplah masa lalu, tidak ada yang bisa diubah di sana! Masa lalu hanya bisa dikenang, bukan untuk mengekang! jadi berhentilah membebani dirimu sendiri atas sesuatu yang sudah lewat! Kita hidup untuk bahagia, bukan malah tertekan Shasya!" tegas Zivana, sambil mengelus kepala Shasyania.
"Iyaa Mommy, tapi Shasya masih ingin mendengar cerita tentang Geonevan."
Zivana mengangguk, lalu kembali menceritakan sepenggal kisah masa lalu putranya, semua yang ia ketahui ia katakan, bahkan waktu di mana Nevan selalu menghabiskan hari-harinya di hutan, "Nevan bermain sendiri, dan kami hanya bisa mengawasinya dari kejauhan, karena jika ada yang mendekat maka Nevan akan marah, sampai pada hari di mana ia berlari menuju ke bibir jurang, tempat di mana kamu tergelincir, dan saat itu Mommy benar-benar ketakutan Shasya."
"Vanvan...," lirih Shasyania.
"Sama sepertimu, pasca kejadian itu ia terus dihantui rasa bersalah, ia menganggap apa yang menimpamu adalah kesalahannya, ia merasa jika dirinya adalah seseorang yang gagal, Mommy prihatin melihat kondisi Nevan, bahkan beberapakali Mommy sengaja mengatur pertemuannya dengan Zia, tapi Nevan seakan enggan, ia mengatakan jika Zia bukan lagi Zia yang ia kenal, Nevan terus berasumsi jika ingatan Zia masih tertinggal di hutan, Nevan ingin menebus semuanya, dan malah berakhir menyalahkan dirinya sendiri! Mommy takut Nevan semakin tidak terkendali, hingga Mommy memutuskan untuk membawa Nevan pindah ke kota J, dan tinggal bersama Kakeknya."
Menyadari Shasyania menangis, membuat Zivana terlebih dahulu menyeka air mata gadis itu, sebelum ia kembali melanjutkan ceritanya, "Segala terapi juga sudah kami coba, untuk menghilangkan rasa cemas dan rasa bersalah dari dalam diri Nevan. Bahkan Kakek kalian... beliau sampai mendekor kamar Nevan layaknya hutan, itu dilakukan untuk menciptakan suasana tenang, dan terbukti.... Nevan menjadi lebih nyaman, tidak lagi sering menghilang di kegelapan malam hingga ditemukan keesokan harinya di dalam hutan."
Dengan sorot matanya yang teduh, Zivana menatap Shasyania, sambil berkata, "Kini kalian sudah saling mengenal, Mommy bahagia akan hal itu... dan sekarang tugasmu juga bertambah Shasya, karena kamu akan ikut andil untuk mengendalikan emosi tunanganmu itu! dia mudah meledak-ledak...," gurau Zivana, ia berniat menghilangkan suasana haru diantara mereka berdua, "ohh yaaa, sebelum Mommy lupa, ini... ada sesuatu yang ingin Mommy tunjukkan...," sambungnya, sembari menjulurkan benda pipih tersebut.
"Imut bukan? pipinya tembem seperti kue mochi ahahah, kalau Nevan tahu Mommy memperlihatkan foto ini pada orang-orang... terlebih lagi padamu maka dia akan sangat marah! karena memang saat diambilnya gambar itu.. dia lagi berisi berisi nya, gembul ahahaha!"
Shasyania langsung menelusuri setiap jengkal wajah yang tertera di layar tersebut menggunakan jemari tangannya, "Dia Vanvan Mommy, laki-laki tampan yang aku kenal, meskipun dulu.. saat kita bertemu dia memakai topeng, tapi di foto ini jelas memanglah dirinya! Aku rindu suaranya, suara yang selalu terngiang-ngiang di pikiranku, dan aku juga ingin sekali mencubit pipinya ini...."
"Cubit saja nanti, sepuas yang kamu mau... meskipun pipi Nevan sekarang tidak seelastis dulu ahahah, tapi... masih ada yang sama, yaitu rambut singanya, masih tebal seperti dulu! Bahkan Mommy selalu ingin menggunduli nya ahahah!"
"Ekspresinya juga sama Mommy, ternyata dari dulu dia selalu terlihat sepeti itu, tidak ramah lingkungan ahahha!"
"Dingin seperti penghuni kutub utara yaaa? hahaha!"
Asik bergurau hingga tak ada yang menyadari kehadiran seseorang diantara mereka, sampai orang itu bersuara.
"Aunty!"