
"Tumben lo ketawa ketiwi pas mau ulangan! udah over load tuh otak?" sindir Dariel.
"Kayak gak tahu aja pasti dia udah bingung banget tuh mau berekspresi seperti apa!" sahut Dino sambil menepuk punggung Nita.
"Slow aja Nit! kalau lo di coret dari KK, kan masih ada KK nya si Ririn, bisalah lo nyempil satu!"
"Yaelah si Ririn juga bakal di coret kalik! nilai mereka berdua kan sama hancurnya," kelakar Dariel.
"Udah gapapa..., lo berdua masih bisa buka warung pecel, gue bantu viralkan deh! kan lagi marak tuh anak muda goyang toktik sambil dagang!"
Nita dengan sengaja mengibaskan rambutnya ke hadapan tiga cowok yang tengah asik menjadikannya sebuah lelucon, "BACOT ANYIIIING!" umpat Nita, ia lalu melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas.
"Sialan lo Nit! kutu lo loncat tuh!" tuduh Dino.
"JAGA UCAPAN LO YA! rambut gue ini terawat! gak kayak lo DEKIL!" bentak Nita yang dengan sengaja lebih menekan perkataannya di akhir.
Ririn yang merasa terganggu dengan suara melengking Nita mulai membuka suara, "Apaan sih Nit teriak-teriak dalam kelas!" tegur nya.
Tanpa menjawab Nita justru balik bertanya, "Gimana udah di kirim jawaban sama si Sisil?"
"Udah dong liat aja nih!"
"MANTUL!" sahut Nita, pandangannya langsung melirik kearah Shasyania, "oh iya, gimana kalau kita ajak si Shasya satu kelompok?"
"Boleh juga!"
Dan proses pembelajaran pun dimulai
"Siang anak-anak hari ini Bapak mau mengadakan ulangan harian!" ucap Pak Damar selaku Guru Kimia kelas sebelas dan beliau juga merupakan Wali kelas XI IPA 1.
Sunyi tanpa adanya protes bahkan tidak ada satupun murid yang terkejut, kerena memang mereka sudah mengetahui informasi itu dari kelas sebelah.
"Kelihatannya kalian sudah sangat siap yaa? biasanya ada saja yang mengeluh dengan berbagai macam alasan, tapi baguslah Bapak suka! itu merupakan suatu peningkatan! tapi ulangan kali ini juga sedikit berbeda, Bapak ingin kalian membuat kelompok dan masing-masing kelompok beranggotakan tiga orang."
Berbeda dari respon sebelumnya saat ini beberapa murid terlihat bingung dan mulai bertanya-tanya. Lain halnya dengan Nita dan Ririn mereka malah terkesan bahagia dengan senyum menghiasi bibir.
"Waktu kalian membuat kelompok lima menit dari sekarang!" perintah Pak Damar.
"Shaa..., Shasyaa sini! kita satu kelompok yaa!" seru Nita sembari menggerakkan telapak tangannya memanggil Shasyania.
"Dalam satu kelompok hanya mengumpulkan satu jawaban! waktu kalian satu jam dimulai dari SEKARANG! kerjakan semua soal dengan tertib! Bapak keluar sebentar dan kalian jangan ribut! ingat CCTV memantau setiap pergerakan kalian!"
"Kenapa gak semua ulangan berkelompok kayak gini ya? kan seru gitu meningkatkan rasa gotong royong sesama pelajar!" ucap Dariel.
"Gotong royong pala lo! yang buat cuma gue sama Nevan!" cibir Eron.
"Ya salah satunya gini, memanfaatkan kecerdasan yang kalian miliki! dan tugas gue cuma ngumpul sama nitip nama!" senyum mengembang Dariel perlihatkan, namun itu justru memancing kekesalan Nevan.
"Diem lo! atau gue minta ke Pak Damar buat pisah kelompok!" ancam Nevan. Ia memang pintar namun juga terkenal sangat pelit dalam hal pelajaran. Tidak ada yang berani mencontek hasil karya seorang Geonevan.
Seketika Eron melirik kearah Dariel, ia memberi isyarat agar sahabatnya itu diam.
"Duhh! gak ngerti gue!" keluh Rissa, yang sudah menyerah saat melihat barisan angka yang tersusun di sebuah lampiran soal, "Jian lo bisa jawab gak?"
"Sorry Riss gue gak ngerti soal Kimia!"
"Ehh kalian liat deh si Nita! tumben tumbenan banget tuh anak santai pas ulangan!" ucap Megan sambil memperhatikan tingkah laku Nita yang terlihat bergurau bersama Ririn.
"Bener juga! mmhh ada yang gak beres nih!" sahut Rissa, tapi sedetik kemudian ia kembali melirik soal yang berada di genggamannya, "terus kita gimana nih? mau nyontek di mana?"
"Kelas sebelah! mereka kan dapet pelajaran Kimia di jam pertama! siapa tahu soalnya sama!" Megan memberi ide.
"Bener juga! kenapa gue gak kepikiran kesitu ya! Wah jangan-jangan si Nita juga kayak gitu!" seru Rissa. Gadis itu kembali menatap ke arah samping.
"Lo aja yang nyalin jawabannya Nit! tulisan lo kan lebih rapi dari gue," suruh Ririn.
"Rapi kalau sebaris!" bantah Nita.
"Gimana kalau aku aja?" kali ini Shasyania menawarkan diri.
"Oh boleh-boleh, lo tenang aja Sha..., cuma nyalin doang kok!" ujar Nita seraya menaik turunkan alisnya, "jangan bingung gitu, ini jawaban udah gue dapet dari kelas sebelah. Meskipun gak betul semua yang jelas nilainya gak hancur-hancuran banget lah!"
Selesai menjelaskan pada Shasyania, Nita dan Ririn terlihat kembali mengobrol. Suara tawa selalu lolos dari mulut mereka berdua.
"Megan lo kenapa? salin dong biar cepat selesai!"
"Gak bisa Riss, soalnya lain nih!"
"Mana cobak gue liat!"
"Iya beda! soalnya emang hampir mirip, untung lo teliti!" tandas Jiana.
"Terus ini gimana? waktunya udah mepet!"
"Nyontek ke temen lain! tuh tuh tanya si Eron!" cetus Megan.
"Lo gila? lo gak ingat ini ulangan berkelompok, dan si Eron bareng si Nevan! gue mah ogah nyari masalah!"
"Yasudah nyontek sama si Dino aja! dia satu kelompok tuh sama si Andri!"
"Kumpul-kumpul! waktunya udah habis!"
"Kita mah udah selesai dari tadi!" seru Nita menyombongkan diri. Ia lalu mengambil lembar jawaban dan berdiri paling pertama.
Rissa yang melihat tingkah laku Nita menatap tidak suka, ia merasa jengkel hingga mengambil jawaban kelompoknya dan mengayunkan kaki ke depan.
"Ehh Nita tumben-tumbenan lo ulangan seneng banget! dapet bocoran dari kelas sebelah ya? mmhh gue juga dapet tapi gak gue salin tuh! mata gue masih teliti buat bedain angka di soal itu berbeda!" sindir Rissa, ia kembali menyodorkan tubuhnya mendekat hingga berbisik, "siap-siap jadi maskot kelas lu bertiga!"
Jantung Nita seperti di remas, tatapannya tiba-tiba kosong, buliran keringat mengalir dari dahi menuju leher. Nasi sudah menjadi bubur, ingin rasanya mengambil kembali lembaran yang sudah terkumpul namun rasanya itu tidak mungkin. Hingga langkah putus asa ia perlihatkan ketika menuju tempat duduknya.
"Lo kenapa Nit?" tanya Ririn.
"Lo tahu gak hadiah buat nyenengin orang tua?"
"Ortu lo ulang tahun? Sialan mikirin gitu aja sampek segitunya. Gue pikir lo kenapa!"
"Gue lagi OTW kenapa-kenapa nih!"
"Apaan sih gak jelas banget ucapan lo!"
"Kira-kira Pak Damar sama kayak Pak Gunar gak ya? yang ngasih hasil ulangan ke orang tua kita?"
Shasyania yang masih belum terlalu akrab dengan mereka berdua memilih untuk diam tanpa ikut bersuara.
"Kenapa? lo mau jadiin hasil ulangan ini sebagai kado ulang tahun?"
"Ehh Rin..., sebaiknya lo juga mikirin cara buat nyenengin hati orang tua! karena jawaban yang kita kumpul tadi sangat keliru! Betul-betul memalukan Rin! posisi kita bakal terancam dari KK!" bisik Nita di telinga Ririn.
Melihat ekspresi sahabatnya yang masih bingung, Nita pun mengambil lampiran soal dan menyuruh Ririn mencocokkannya dengan apa yang telah di kirimkan oleh Sisil.
"ASTAGAAA!!!" jerit Ririn tanpa mengontrol volume suaranya, hingga membuat Pak Damar yang sedang memeriksa ulangan bersiap untuk melayangkan protes.
"Heii heii kamu ini kenapa?"
"Maaf...maaf Pak, tadi ada kecoak lewat," elaknya.
"Gimana nih? gimana nih?" lirih Ririn.
Nita tampak sangat lesu untuk menjawab pertanyaan sahabatnya, ia hanya memperlihatkan sebuah pesan yang telah ia kirimkan kepada kedua orang tuanya.
Pesan terkirim ke Mama
Nita : Ma apapun yang terjadi percayalah Nita sangat menyayangi Mama. ILY A Thousand Years🌈
Pesan terkirim ke Papa
Nita : Pa, Nita sangat menghargai kerja keras Papa untuk menyekolahkan Nita di sekolah elit, tapi jangan jadikan hasil ulangan Kimia untuk menjadi tolak ukur rasa sayang Nita ke Papa. pokoknya ILY 4ever🌱
.
.
.
Dengan tatapan tak percaya Ririn menatap sahabatnya, "Gak guna lo Nit!" bentaknya.
"Kalian berdua kenapa sih?" akhirnya Shasyania bertanya, ia sudah sangat penasaran dengan tingkah laku kedua orang itu.
"Lo santai aja Sha..., posisi lo masih aman, kerena lo masih siswi baru," jelas Nita. Bukannya mengerti Shasyania malah semakin terlihat bingung. Hingga Pak Damar sudah selesai dengan tugasnya lalu,
"Hasil ulangan kali ini terdapat lima kelompok dengan hasil nilai yang sama, kenapa bisa seperti itu? bahkan letak kesalahannya pun juga sama! apa kalian bekerja sama?" selidik Pak Damar, "terus sekarang ada dua kelompok dengan hasil nilai paling hancur dan dua lainnya justru dengan nilai paling tinggi bahkan salah satunya memiliki hasil sempurna!"
"Setiap ada Nevan nilai kita pasti sempurna!" puji Dariel.
"Lo jangan hanya muji Nevan! Ingat, gue juga ambil bagian buat jawab soal!" cetus Eron.
"Terlebih dahulu Bapak akan memanggil dua kelompok, yaitu kelompok Satu dan kelompok Tujuh!"
Kelompok Satu beranggotakan Geonevan cs dan kelompok Tujuh berisikan Shasyania.
"Gue yakin Seratus persen itu pasti kelompok dengan hasil nilai terbaik dan terburuk!" tebak Rissa dengan senyum mengejek.
"Kenapa si Nita sama si Ririn nunduk gitu!" ujar Dino.
"Dan untuk kelompok Tujuh kalian sungguh membuat Bapak TERCENGANG! hasil ulangan kalian sempurna dengan penyelesaian yang begitu sederhana! sungguh luar biasa!" puji Pak Damar.
Semua murid terkejut mendengar pernyataan Pak Damar, Nita dan Ririn bahkan sampai menatap Shasyania tidak percaya.
Bermacam-macam ekspresi terdapat di dalam kelas itu, dan pengumuman dari Pak Damar mampu membuat beberapa murid menjadi bahan ejekan bahkan sampai pujian.
Hingga beberapa jam kemudian suara bel istirahat pun berbunyi, Pak Damar yang sudah selesai membaca dan membagikan hasil ulangan mulai meninggalkan ruangan kelas.
"Van, maaf gue kurang teliti pas jawab soal," sesal Eron. Ini kali pertama Nevan merasa terkalahkan dalam hal nilai, meskipun selisihnya tipis tapi tetap saja membuat Eron merasa sangat menyesal.
"Shasyaaaaa...," teriak Nita. Ia sampai memeluk tubuh Shasyania hingga mengguncangnya, "makasih lo udah menyelamatkan nama gue dari KK, makasi juga atas nilai yang udah lo sumbangkan untuk kelompok kita! gue sangat bersyukur karena lo gak nyalin jawaban yang gue kasih!"