Mine ?

Mine ?
95 : Terbuka?



"Buk... apa ada yang ingin Ibuk ceritain ke Shasya? ummhh... soalnya dari tadi Shasya perhatiin Ibuk kayaknya gelisah...," tanya Shasyania, saat ia dan juga Liliana tengah membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja.


"Shaa...."


"Iya Buk?"


"Mhhh, apa Zia... tinggal di Kota ini ya?" Shasyania tidak langsung menjawab, bahkan tangannya yang sedari tadi bergerak lincah kini terhenti, lalu pandangan matanya melirik wanita paruh baya yang berada tepat di sampingnya.


Sebisa mungkin Shasyania terlihat biasa saja meskipun ada rasa menyengat yang kini mulai menjalar hingga bersarang di hatinya, "Enggaklah Buk, mana mungkin.... Zia itukan tinggal diluar Negeri, yaa palingan dia ke sini buat liburan aja Buk."


"Tadi Ibuk liat dia di Toko, sendirian tanpa pengawal."


Deg!


Mulut Shasyania sedikit terbuka dengan alis di tekuk, ia heran dibalik alasan kenapa artis idola tersebut bisa berulang kali berlalu-lalang tanpa penjagaan, "Kenapa akhir-akhir ini Zia selalu jalan-jalan ke Mall, kemarin di Mall X dan seka__,"


Lamunan Shasyania terhenti, ketika Liliana kembali bersuara, "Ibu gak nyangka Sha, bisa melihat Zia kembali...."


"Ke...ketemu?"


"Ibu menghindar darinya Sha! Dia berhenti tepat di toko kita, bahkan membeli roti Ibuk, mhh... untungnya saat itu Yanti yang jagain Toko."


"Ibu yakin itu Zia?"


Liliana tersenyum tipis, dengan pandangan sedikit menerawang, "Tentu saja nak... dari kecil kalian selalu bersama, Ibu hafal betul sama tingkah dia, perawakannya sekarang juga hampir sama seperti kamu, cuma... mungkin kali ini dia sedikit lebih tinggi dari kamu Shaaa," tuturnya, namun senyum yang awalnya menghiasi wajahnya perlahan-lahan memudar, lalu tergantikan dengan raut kekhawatiran.


"Yanti bilang, dia suka sekali dengan rasa kue yang Ibu buat, bahkan langsung diborong semua, dan dia juga bilang kalau besok mau beli lagi. Bahkan ya... saat itupun Yanti ditanya banyak hal, tentang bagaimana mana ia membuat kue tersebut, Zia juga bercerita kalau kue yang ia beli di Toko kita rasanya sama persis seperti buatan Ibunya waktu kecil!" sejenak Liliana memejamkan matanya, lalu.


"Ibu takut Sha... kedatangan Zia tanpa adanya pengawalan... mungkin saja karena ia memang sengaja ingin mencari keberadaan kita. Tapi tetap, Ibu gak bisa bertemu dengannya! dan... Ibu juga gak mau jika dia sampai menemukanmu! ingat Shasya... Ayah mu selalu berpesan, jangan lagi terlibat dengan keluarga itu, Zia memang baik pada kita, tapi tidak dengan keluarganya! jadi, apapun yang berhubungan dengan Zia, sebaiknya kita hindari ya... kamu masih ingatkan Sha?"


"Iyaa Buk, tapi... bukan berarti Ibu punya pikiran untuk pergi dari sini kan Buk?"


Liliana mengelus pipi putrinya, dan saat itu pula Shasyania menggelengkan kepalanya, "Tidak Buk, tidak! Kita mau pergi kemana Buk? sekarang Shasya paham Buk, Ayah pindah dan memutuskan untuk bekerja di keluarga Eldione, karena Ayah tahu, di sana semua indentitas karyawannya terjamin kerahasiaannya kan, dan jika kita pergi, bukankah akan lebih mudah untuk Zia menemukan kita?" tanyanya dengan tatapan nanar.


"Tapi Shaa, jika besok Ibu ketemu Zia... Ibu harus bagaimana?"


"Ibu tidak ingin bertemu dengannya kan? maka besok biarin Bibik Yanti yang jagain Toko Buk...."


"Tapi kita gak tahu Sha, besok atau lagi dua hari... atau bahkan beberapa minggu ke depan, mungkin saja Zia kembali berusaha mencari kita!! Ibu tidak ingin bertemu dengannya...."


"Tapi kita juga gak bisa terus-terusan menghindar darinya Buk, mau sampai kapan? mau sampai kapan kita bersembunyi dari rasa takut itu? Hidup kita tidak akan tenang! Bukanya Ibu selalu memberi Shasyania nasehat, tapi sekarang kenapa justru Ibu yang seperti kehilangan harapan? dan kalaupun besok Shasya harus bertemu dengannya, maka akan Shasyania hadapi Buk!"


"Tidak! jangan!!! jangan lakukan itu Shasya!" dengan sedikit menaikkan nada bicaranya, Liliana mencengkram bahu Shasyania, "sampai kapanpun Ibu tidak ingin kamu bertemu dengannya! Ibu tidak mau kalau kamu kembali menuruti keinginan mereka! apalagi sampai harus menjadi bayangan Zia lagi!!!"


"Tidak akan seperti itu Buk! dulu dan sekarang berbeda... dan bukannya tadi Ibu yang bilang sendiri... bahkan tinggi ku tak lagi sama dengannya! mungkin saja wajah kami juga berbeda, tidak mungkin sama persis, dulu pun aku harus menutupi wajahku dengan poni agar terlihat sepertinya, dan sekarang, aku yakin... kita tidak mungkin semirip itu! sampai aku harus menjadi bayangannya lagi!"


Liliana terduduk, sembari mengusap-usap wajahnya, "Tidak Shasya! karena sampai sekarang pun setiap kali orang-orang melihatmu, maka mereka akan selalu mengatakan kalau kamu mirip dengannya! Ibu tidak mau jika kamu sampai diambil dari sisi Ibuk! Ibu tidak ingin di pisahkan denganmu! Ibu tidak sanggup Shasya!!!"


"Itu tidak akan terjadi Buk! enggak mungkin! Mereka tidak mungkin bisa memisahkan kita, dan... kenapa Ibu bisa berpikir sejauh itu? lagian untuk apa mereka ingin mengambilku Buk? itu tidak masuk akal! Tidak bahkan sedikitpun! dulu saat aku menjadi Zia, itupun karena Zia yang sering kabur dari rumahnya..., situasi sekarang berbeda Buk, sudah berbeda!!!"


Liliana berniat untuk bersimpuh, namun gerakannya itu terlebih dahulu dihentikan oleh Shasyania, "Jangan seperti ini Buk! Ibuuuk Shasya mohooon...."


"Ayahmu sangat menyayangimu Shasyania, bahkan melebihi kasih sayang yang mampu Ibu berikan padamu, sepahit apapun kenyataan yang harus ia terima, dia tetap mengutamakan mu! dia merawat mu begitu tulus, dia menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini, sosoknya tidak bisa digantikan, tidak ada yang bisa seperti dia! Tidak akan ada!!! dia terbaik untukmu! sebagai figur seorang Ayah dialah yang terbaik!!! siapapun tidak bisa menggantikannya, tidak seorang pun... bahkan termasuk Tuan Jazlan!!!"


Shasyania tersentak saat nama itu disebutkan Ibunya, "Tentu saja Buk! untuk apa Ibu menyebut nama Papinya Zia? jelas Ayahku tidak tergantikan!!!"


Liliana tak sengaja menyebutkan nama tersebut, hingga ia semakin diselimuti rasa menyedihkan, malu, dan juga jijik yang menjadi satu.


"Jangan lakukan ini Tuan, anda sedang mabuk!!! Stoppp Tuan! jangan! jangan... saya mohon sadarlah!!!"


Sekelebat ingatan membuatnya seperti kekurangan pasokan udara, hingga Liliana meminta sang anak untuk mengambil alat bantu pernapasannya.


"Buk... tenangkan diri Ibu, jangan seperti ini... Shasya mohooon...."


"Jangan bertemu dengan Zia nak...."


"Iyaa Buk, iyaa...."


.


.


.


.


.


Setelah semakin larut barulah ketegangan itu menghilang, dan kini Shasyania berada di kamar Ibunya, sembari memijat kaki Liliana.


"Shaa... kamu masih ingat kampung halaman Ibu sama Ayahmu?"


"Tentu saja Buk! sangat asri... Shasyania suka!! umhh... nanti kita ke sana lagi yaa Buk?"


"Iyaa... Ibu juga maunya begitu... sudah lama sekali sejak terakhir kita mengunjungi mereka!" ujarnya, seraya tersenyum, "bagaimana ya... kabar Pakde sama Bukde mu di sana, ohh iya... kedua anak mereka pasti sudah remaja juga yaa...."


"Shasya lupa sama wajah mereka, tapi yang Shasya ingat itu, saat anak Bukde yang pertama, Kak Nuras, ia setiap sore selalu boncengin Shasya mengelilingi kampung...." serunya, "oh yaa Buk, berarti Ibuk dan Ayah ketemu di kampung dong?"


"Iyaa..., waktu itu kami menikah muda, tapi Tuhan belum mengirimkan malaikat kecil diantara kami berdua, sampai Ayah dan Ibu memutuskan untuk merantau, membuat diri semakin pantas untuk mengemban tugas sebagai orang tua dengan memperbaiki keuangan keluarga, dan siapa sangka... setelah penantian tujuh tahun lamanya kamu akhirnya hadir," tutur Liliana, namun raut wajahnya tiba-tiba saja berubah sendu,


"Waktu kamu lahir Sha, kami memutuskan untuk balik ke kampung, tapi di suatu malam kamu tiba-tiba saja sakit, Ayahmu begitu khawatir hingga tanpa alas kaki ia langsung melarikan kamu ke rumah sakit, dan di sana kami tidak sengaja kembali bertemu dengan keluarga Tuan Jazlan, yang kebetulan juga anaknya sedang sakit, dia adalah Zia...."


"Dan selama menunggu, Zia yang awalnya rewel menjadi anteng, dan itu terjadi karena kamu di sampingnya, dan semenjak hari itu, kami di paksa untuk kembali bekerja di sana, dengan alasan keselamatan Zia. Memang benar... sedetik saja kalian dipisahkan maka dia akan kembali rewel hingga berujung sakit, dan lama-kelamaan kamu juga seperti itu, susah dipisahkan dengannya, penuh pertimbangan akhirnya kami setuju, lalu kalian selalu di tempatkan di ruangan yang sama, tumbuh menjadi dua anak yang menggemaskan, tapi... kedekatan itu mulai memantik rasa iri dari kerabat Tuan Jazlan, hingga perlahan-lahan kalian pun mulai di pisahkan, dan mereka mulai menganggap kita sebagai benalu...."


Shasyania merasa terenyuh mendengar cerita masa lalunya, hingga ia menyesali tindakannya sewaktu kecil, ketika dirinya di pisahkan dengan Zia, maka ia akan kesal dengan Ayah dan Ibunya, sampai menangis tersedu-sedu dan mencoba untuk kembali ke rumah utama, begitupun juga Zia, ia akan selalu memiliki rencana jitu agar bisa bermain bersama Shasyania lagi.


......................


Tok!


Tok!


.


.


Tok!


Senyumnya tersungging, ketika mengintip siapa gerangan yang tengah berada di luar, sampai tangan itu meraih ganggang pintu.


Ceklek!


Brrrrrrrp!


Tanpa sepatah kata Nevan langsung menarik tubuh Shasyania untuk berada dalam dekapannya. Pelukan begitu erat ia berikan, seperti takut jika terjadi sesuatu dengan gadisnya itu.


Semua berawal dari pesan singkat yang ia terima dari ajudan yang khusus ia perintahkan untuk berjaga di area rumah Shasyania, bahkan menjadi tetangga baru untuk kekasihnya itu.


Isi pesannya hanya mengatakan jika tadi sempat terdengar suara tangisan, namun semua masih aman terkendali, tapi sekaan tidak puas, Nevan sesegera mungkin menyelesaikan tugas yang diberikan Kakeknya, dan langsung menuju rumah Shasyania.


"Kamu baik-baik aja kan yank?"


"Tentu, tapi... berada di luar dengan cuaca berangin seperti ini.... itu sungguh-sungguh sangat dingin Geonevan...," keluh Shasyania.


Nevan terkekeh, lalu ia mulai memberi jarak antara dirinya dan Shasyania, dan dua jari tangannya bergerak menurunkan besi yang berada di bagian depan jaketnya, hingga baju tebal itu terbuka dan ia kembali menarik tangan Shasyania untuk menyelinap masuk.


"Udah gak dinginkan?"


"Mhhh... lumayan," gurau Shasyania, "kenapa sayang? kenapa malam-malam ke sini? kamu baik-baik aja kan?"


"Sangat baik! cuma rindu!"


"Heh!!"


"Kenapa? itu hal yang wajar kan?"


"Iyaa..., tapi enggak seperti ini juga Geonevan, kan masih bisa telpon, besok juga kita ketemu," omel Shasyania, bahkan ia dengan jahilnya mencubit-cubit pinggang Nevan.


Bukan tanpa alasan, hanya saja ketika berhubungan dengan Shasyania maka Nevan akan selalu khawatir, ada rasa takut yang selalu membangkitkan nya untuk segera memastikan keadaan gadis itu, bahkan terselip rasa trauma jika saja Shasyania tidak lagi dalam pandangannya.


"Tadi udah makan kan?"


"Udah, ummhhh... tapi, berhubung ada kamu di sini nih, aku jadi pengen makan mie hehe...."


"Ketawanya gak usah ditahan-tahan juga kali, lepasin aja! Aku tahu kok kamu lagi seneng karena mikir bakalan makan mie instan!"


"Emangnya enggak?"


"Enggak! dan enggak!"


"Ihhh kok gitu? kan mie buatan kamu!"


"Buatan siapa?"


"Buatan kamu!"


Nevan diam dan terkesan menunggu untuk Shasyania memperbaiki ucapannya.


"Buatan Geonevan Akhilenzyn Eldione, pacar ku!"


"Pacar?"


Shasyania merasa tersinggung atas intonasi bicara Nevan, hingga ia berusaha melepaskan diri.


"Heeii... hei, jangan gitu sayang! iyaaa, tapi lebih dari pacar kamu itu tunangan aku! posisinya jauh di atas, meskipun masih dibawah istri ahahaha...."


"Iiissssssh!"


Merasa puas mengerjai Shasyania hingga akhirnya Nevan kembali menanyakan keinginan gadisnya itu, "Bahan-bahan untuk buat mienya ada di dapur kan?"


"Adaaaa dong!"


.


.


.


Suara pisau yang tengah mengiris bahan makanan terdengar, dan dengan lincahnya tangan Nevan mempersiapkan segalanya.


"Kamu kok bisa jago masak gini? belajar atau coba-coba aja?"


"Belajar waktu kecil!"


"Ohhh yaa? mhhh, terdengar asing sih, karena gak biasanya laki-laki belajar masak, apalagi waktu kecil...."


"Bukan hanya masak, aku juga berlatih bela diri! gak percaya?" tantang Nevan.


Shasyania tersenyum kaku, karena ia tahu betul bagaimana Geonevan meluluh lantahkan lawannya, "Enggak-enggak...," gumamnya, "apa ada alasan lain lagi, atau memang sekedar mengisi waktu luang?"


"Aku ingin terlihat hebat," sahut Nevan, seraya menghidupkan kompor gas di depannya.


"Untukku kamu sangat hebat Geonevan, meskipun awalnya kamu membuatku takut, tapi sekarang kamu selalu bisa membuat ku tersenyum bahkan sampai tertawa! Kamu hebat, dan tidak hanya itu, kamu juga mengagumkan!!!" tegas Shasyania, sembari memperlihatkan jempol tangannya.


Ada perasaan berdesir ketika Shasyania mengatakan kata-kata tersebut, seperti mendapat pengakuan dari apa yang selama ini ingin ia dengar, entah kenapa Nevan merasa familiar dengan rasa ini, ia seperti mendapat kembali rasa percaya diri, yang dulu sempat diruntuhkan oleh seseorang yang ia anggap berarti.


.


.


.



?


.


.


.


*untuk yang baca cerita halu ku ini, yang sabar yaaa... semua pasti terungkap kok! Intinya yaa... orang sabar di sayang Tuhan, okeehh? salam online. 🤗*